Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
31.


__ADS_3

"Mey...namanya Mey ya?" Laki-laki itu menghampirinya dan memberinya lembaran kertas, yang diatasnya ada beberapa pertanyaan yang telah dia jawab sebelumnya. Semacam ujian test masuk untuk menentukan kelompok mana yang akan dia ikuti.


"Meilinda, panggilan Linda." Jawabnya ketus, dengan mata melotot sambil menerima lembar itu. Banyak sekali coretannya. Wajar saja sih, dia juga menjawab dengan asal-asalan. Sungguh dia terpaksa mengikuti kegiatan itu karena ancaman Mama.


"Lebih enak dipanggil Mey." Jawab laki-laki itu sambil tersenyum manis. Dia cakep juga, kulitnya putih, matanya kecil meneduhkan, hidungnya mancung dengan bibir mungil. Iiihhh tapi apa dia bilang, enak saja mengganti panggilan orang suka hati!


"Mey... Mey... Mey..." Suara panggilan itu terus bergema dalam pikirannya sampai akhirnya dia terbangun. Ternyata hanya mimpi, dia bermimpi kejadian yang sudah lama sekali. Jam menunjukkan pukul setengah empat dini hari, sebaiknya dia bangun dan shalat tahajud agar hatinya lebih tenang.


Dia keluar hendak ke kamar mandi, dari ujung matanya di melihat pintu kamar Ummi terbuka lebar, sepertinya ustadz Abdul sudah pergi ke masjid. Memang sedari dia bangun sayup-sayup dia mendengar alunan suara orang mengaji dari arah masjid, dia kira itu suara rekaman seperti yang biasa ada di masjid sekitar rumahnya dulu. Sepertinya ini suara ustadz Abdul langsung, merdu sekali.


Segera dia sadar dari lamunan dan melanjutkan niatnya. Meilinda shalat di kamar tamu, menjelang adzan subuh dia bangunkan putranya agar segera ke masjid.


Seperti janji mereka kemarin, Ummi sudah menunggunya selepas shalat subuh. Subuh itu Ummi tidak shalat berjamaah di masjid, biasanya badan terasa lemah saat bangun tidur.


****


Seminggu sudah mereka menjalani hari masa adaptasi di pondok pesantren Babussalam, Haikal sudah masuk dalam asrama dan menjalani rutinitas. Penerimaan santri baru dilalui dengan lancar, Haikal senang mendapat banyak teman baru seangkatan. Meilinda juga sudah lebih mengenal banyak ustadzah dibantu oleh teh Ais, dikenalkan sebagai bimbingan Ummi jadi dia diminta untuk tetap tinggal bersama Ummi dirumah. Apalagi sekarang bik Ais juga lebih sering pulang kerumahnya, mengurus keluarga jika malam.


Bacaan Meilinda semakin baik dibawah bimbingan Ummi, surat-surat pendek sudah lumayan banyak yang dihafalkan dan disetorkan pada Ummi. Hanya saja kondisi Ummi semakin hari sepertinya kembali semakin lemah, sering Mei merasa tidak enak jika menyita waktu Ummi untuk nyimak bacaan dan hafalannya. Tapi Ummi selalu meyakinkannya untuk tetap istiqomah, memintanya terus sebagai ladang amal untuknya.


Dini hari itu, tidak seperti biasanya, Meilinda terbangun mendengar sayup-sayup suara orang mengaji. Suara ustadz Abdul, hampir waktunya adzan subuh, tapi ustadz masih dirumah. Meilinda keluar kamar berniat ke kamar mandi dan bersuci, dilihatnya pintu kamar Ummi masih tertutup, artinya ustadz Abdul masih ada didalam kamar.


Sampai suara adzan terdengar dan Meilinda beranjak menuju masjid, pintu kamar Ummi masih tertutup walau sudah tidak terdengar suara mengaji. Perasaan tidak enak mulai menyerbu hati Meilinda, tapi dia tidak berani mengetuk pintu itu. Sebaiknya dia segera ke masjid dan berdoa, semoga saja tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Abdul bergegas melangkahkan kaki menuju masjid, hanya sesaat sebelum iqomah. Wajahnya menyiratkan kesedihan, nampak jejak air mata disana. Dalam shalatnya pun kembali dia menangis dalam diam, sesekali terdengar isak pilu dan pundaknya bergetar.


Tidak ada yang berani mengganggunya setelah usai shalat, ustadz Arief berinisiatif maju ke mimbar untuk menyampaikan tausiah melihat kakak iparnya yang dirundung duka, dia sudah terbiasa menggantikannya saat pemimpin yayasan itu ada acara diluar kota. Jamaah pun beberapa mulai bertanya-tanya, termasuk Mei, yang mengetahui keberadaan ustadz Abdul di pondok tetapi yang naik mimbar adalah ustadz Arief.


Teh Ais yang duduk didepan Mei sampai membalikkan badan dan bertanya dengan pandangan mata, Mei hanya menggeleng lemah, karena dia pun tidak mengetahui ada apa. Setelah tausiah berakhir, santri dan santriwati mulai membentuk kelompok untuk memulai murojaah mereka. Biasanya ustadz Abdul akan menyertai salah satu atau beberapa kelompok bergantian, melihat perkembangan anak didiknya. Namun saat itu, dia segera keluar dari masjid.


Meilinda pagi itu benar-benar tidak sabar ingin segera bertemu Ummi, dia segerakan langkahnya. Mengucapkan salam ketika masuk rumah, lega rasanya mendengar Ummi menjawab salamnya. Segera dia duduk di kursi samping tempat tidur Ummi, menatap Ummi yang semakin lemah.


"Ummi, Mei mohon bertahan lah. Mei masih membutuhkan bimbingan Ummi, hafalan Mei bahkan belum sampai 1 juz." Meilinda mulai berderai air mata.


"Terimakasih bund, sudah hadir saat ini. Sekali lagi Ummi mohon, untuk kedua kalinya Ummi mohon, tolong jaga Abah, jadilah pendamping untuk Abah, menikahlah dengan Abah." Lirih Ummi.


Meilinda shock mendengar permintaan Ummi, ternyata malam itu Ummi dalam keadaan sadar, tidak mengigau. Ummi kembali mengucapkan permintaan itu. Meilinda merasa ada yang memperhatikan mereka, dia membalikkan badannya dan melihat ustadz Abdul berdiri dipintu dengan air mata mengalir. Meilinda segera keluar dari kamar, menghindari pasangan suami istri itu, memberi mereka ruang dan waktu untuk bersama.


"Assalamualaikum..." Sepertinya suara teh Ais.


"Waalaikumsalam..." Meilinda menjawab salam dan melihat teh Ais masuk dari pintu yang menghubungkan rumah dan asrama putri.


"Bagaimana Ummi?" Tanya nya.


Meilinda bingung harus menjawab apa, dia hanya terdiam sambil melihat kearah pintu kamar Ummi yang terbuka. Aisya beranjak menuju kamar, terjadi dialog sesaat dengan kakaknya kemudian dia melangkah kedepan dimana ustadz Arief, suaminya sudah menunggu. Setelah memberi kabar pada suaminya, dia kembali masuk membantu Abdul menggotong Ummi kedepan. Ustadz Arief sudah siap membukakan pintu mobil dan ustadz Saiful menunggu dibalik kemudi.


"Titip rumah sebentar ya, Bund. Kami akan kerumah sakit, nanti kami akan kabari. Tolong standby dekat HP." Titah Aisyah sambil menggenggam tangan Meilinda yang bergetar.

__ADS_1


Drama itu terjadi begitu cepat didepan matanya, dan Meilinda benar-benar berdiri terpaku ditempat tanpa bisa melakukan apa-apa, hanya derai air mata yang mengalir dan dia menangis tanpa suara.


"Bund, duduk dulu. Ini bibik buatkan teh jahe, ayok." Bik Asih membimbing Meilinda yang hanya menurut saja untuk duduk, dia meminum seteguk minuman hangat itu. Seketika kesadarannya kembali hadir, dia menatap bik Asih dan pecah lah tangisannya sambil memeluk tubuh paruh baya itu.


"Ummi, bik...Ummi...itu tadi Ummi, ke rumah sakit...Semoga Ummi baik-baik saja, bik. Ummi pasti baik-baik saja kan, bik... Ummi pasti sembuh kan, bik... Sebentar lagi Ummi pulang kan, bik?" Suara Meilinda terputus-putus disela tangisannya.


Bik Asih hanya mengangguk-angguk sambil mengusap punggung Meilinda.


"Istighfar bund, kita doakan sama-sama ya, bund." Ucapnya berkali-kali.


Tidak lama kemudian Meilinda sudah tenang, bik Asih pamit kebelakang membantu pekerjaan di dapur memasak. Meilinda beranjak ke kamar mengambil HP nya, teringat akan pesan teh Ais tadi. Belum ada notifikasi, digenggamnya benda pipih itu didada. Seharian dia gelisah menunggu kabar dari teh Ais, hari menjelang siang bahkan dia sudah melewatkan sarapannya.


"Assalamualaikum..." Suara Aisyah dari depan disambut Meilinda dengan setengah berlari.


"Waalaikumsalam, Ummi mana? Ummi gimana?" Meilinda memberondong pertanyaan dengan tidak sabar, matanya mencari-cari keluar sambil tetap mengikuti langkah Aisya menuju kamar utama, kamar Ummi dan ustadz Abdul.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2