
"Rencana InsyaaAllah Haikal sekolah di kota T, sempat ragu karena jauhnya itu loh tante. Eh kemarin pas survey dan ketemu sama pemiliknya malah ada tawaran dari pemilik pondok, saya bisa gabung disana tante. Emang ga bisa sering ketemu juga sama Haikal karena kami berbeda area, area putri dan area putra, tapi jadi nya deket gitu, tante." Papar Meilinda.
"Yang nawarin itu yang punya pondoknya? Ustadz nya gitu? Jangan-jangan dia punya maksud lain, Ndok. Kan banyak tuh ustadz-ustadz yang poligami."
"Istrinya, tante, yang nawarin. Saya malah jarang ketemu sama ustadz, cuma sesekali aja kirim chat. Seringnya ngobrol sama Ummi." Tante Ivone sudah menyayangi Meilinda seperti putrinya.
"Tante akan mendukung keputusanmu karena tante tahu kamu sudah mempertimbangkan semua dengan matang, kamu ndak pernah ambil tindakan gegabah. Kami semua sayang kamu, Ndok, kalau kamu pergi pasti kami akan rindu." Tante Ivone memeluk Meilinda serasa akan ditinggal saat itu juga.
"Perginya masih sekitar 3 bulan lagi, Tante. Saya belum memutuskan, setidaknya saya akan tanyakan pendapat orang terdekat dulu." Meilinda merasa terharu pada wanita paruh baya dalam pelukannya, bos berasa keluarga.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Meilinda meluncur menuju rumah ibu mertuanya. Semalam sudah dia putuskan hari ini akan dia tanyakan pendapat orang-orang terdekatnya.
Setelah berada diruang tengah rumah Ibu, toko juga tidak ada pembeli, Meilinda mengajak ibu berbicara.
Suasana hening sejenak, kelihatannya ibu sedang berpikir.
"Harusnya itu lebih baik buat kamu dan Ical, rasanya ibu lebih tenang kalau tahu ada kamu yang bisa jagain didekatnya. Gimana sama rumah kamu, motor kamu? Barang-barang mau dibawa?"
"Tidak bu, semua Linda tinggal. Kita cuma bawa pakaian ganti saja, liburan sekolah kami pulang. Paling tidak 6 bulan sekali pulang, bu. Nanti Linda minta tolong mbak Ning buat cek rumah, motor mungkin Linda titip disini ya, bu biar Gendis rawat." Paparnya.
Alhamdulillah pembicaraan lancar tanpa perdebatan, jujur Meilinda sempat khawatir ibu akan menentang keputusannya. Sepertinya mood ibu sedang bagus hari ini. *Hehe
Sebelum ashar dia sudah pamit dan beranjak menuju rumahnya, seperti biasa dia berbenah. Memeriksa pembukuan harian, tabungan, biaya-biaya. Tidak terasa waktunya menjemput Haikal, segera dia keluar dan mengendarai motornya.
Malam itu setelah shalat Isya dan Haikal juga selesai dengan latihan soal nya, dia sudah siap diatas tempat tidurnya.
"Cal... Kalau bunda ikut tinggal di Babussalam gimana?"
"Emang bisa, bund? Kan cuma buat SMP sama SMA aja itu." Dia merasa geli mendengar bunda nya mau ikut masuk ke pondok pesantren, pasti bunda lagi bercanda karena akan dia tinggal benaknya.
"Bukan jadi murid dong, sayang. Bunda ditawari Ummi buat kerja disana, jadi bisa lebih dekat sama Ical."
"Jadi kita tinggal bareng gitu?"
"Ya enggak, mana boleh. Kamu tetap di asrama, bunda di rumah tamu, atau mungkin di kamar asrama putri. Tapi setiap Jum'at kita bisa ketemu, hari-hari bisa liat-liatan juga kayaknya ya xixixixixi." Mereka bersama membayangkan saling curi-curi kesempatan bertemu.
Berbagai ide cerita mengalir dari mulut mereka, semakin lama semakin berfantasi. Gelak tawa mengiringi kebersamaan mereka.
"Sudah, sudah malam nanti gak bisa bangun subuh. Ayo baca dulu surat Al-Fatihah dan tiga Qul, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-nas tiupkan keseluruh badan lalu baca doa sebelum tidur. Jangan lupa berdzikir yah, selamat istirahat." Titah Meilinda kemudian mengecup kepala Haikal dan keluar dari kamar putranya itu.
__ADS_1
****
Meilinda: Assalamualaikum mas dan mbak...sepi amat nih, udah pada tidur kah?
Tiar&Ayu(Jakarta): Waalaikumsalam
Bima&Ningrum(Solo): Waalaikumsalam
Seno&Laura(Solo): Waalaikumsalam
Seno: Wah tumben nih putri tidur kita tiba-tiba berkabar, sudah ketemu pangeran kah?
Ningrum: Iya ya, No. Kesambet apa nih, wah medeni ki malem-malem bangkit dari tidurnya.
Bima: Kalian berdua yah, seneng banget deh gangguin orang. Gak ketemu gak di chat, wes paling kompak.
Seno: Waahhh auranya cemburu ki, Ning. Jatah bulanan mu bisa dipotong, kena pajek.
Meilinda: Yo wes, ta metu wae ne ra oleh (ya udah saya keluar aja kalau gak boleh)
Ayu: Ojo mutung to, dek.(Jangan ngambek dong, dek.) Apa kabarmu? Lama ga ikut komen-komen. Grup ini ramenya ya cuma ocehan Seno sama Ningrum itu.
Bima: Haikal jadi masuk mana, dek?
Seno: Tetep pengen masuk pondok? mbo disini aja, bagus disini, nanti kan bisa kita tengokin kalo disini.
Meilinda: InsyaaAllah jadi pondok, mas. Tapi ga di Solo, Haikal dapet beasiswa masuk pondok pesantren di kota T.
Ayu, Bima, Ningrum, Seno: Jauh sekali!
Meilinda: Justru ini yang pengen aku bicarain sama mas dan mbak. Gimana? Liburan kami udah survey kesana diantar guru dan keluarganya, Haikal suka. Tempatnya bagus, lingkungannya juga bagus kok.
Seno: Dan gratis toh?
Bima: Lha ne jauh gitu terus gimana, dek. Apa ya gak malah repot?
Ayu: Kota T dari sini ga jauh loh, dek. Apa kamu ikut kita aja disini #colek @Tiarmyhubby
Ningrum: Emang mas Tiar lagi dimana, mbak?
__ADS_1
Ayu: Disebelahku, lagi bikin laporan😁
Seno: Lha ne ada disebelah kok coleknya via chat, mbak...colek aja langsung, terus ngamar deh jam segini anak-anak udah tidur kan, kesempatan tuh, sikaaattt.
Ningrum: Kode keras tuh, Ra... Wah paling ini lagi pisahan nih, kamu lagi di cafe ya No?😂
Ayu: Udah dong kita dengerin Linda dulu nih! Gimana, dek?
Meilinda: Rencana aku mau ikut pindah ke pondok juga, ditawari Ummi buat bantu kelola pondok disana.
Bima: Nah bagus tuh, jadi deket sama Ical, kamu juga ndak sndiri nanti, banyak temennya di pondok, bisa memperdalam ilmu juga kan.
Seno: Bener tuh, jadi ustadzah nanti kamu.
Ningrum: Atau jadi istri ustadz hahahahaha
Ayu: Aku sm mas Tiar sih seneng-seneng aja, dek. Nanti kita bisa tengokin kalian disana.
Meilinda tersenyum-senyum sendiri dikamarnya, sudah larut chat pun berakhir, masing-masing pamit untuk istirahat.
Hanya mendengar cerita dari saudara-saudara nya adalah mood booster untuknya, apalagi celetukan dari mas Seno dan mba Ningrum yang memeriahkan dunia maya mereka. Walau jarang kumpul karena kesibukan kesibukan mereka, tapi mereka bisa bertukar kabar lewat grup chat. Mungkin hanya dua kakaknya saja yang terkadang bisa saling berkunjung karena ada di kota yang sama.
Tiar adalah kakak pertama Meilinda, menikah dengan Ayu kemudian pindah ke ibukota. Mereka berdua sama-sama bekerja di perusahaan swasta.
Bima anak kedua, pegawai negri yang menikah dengan Ningrum, teman kuliah Seno tapi beda jurusan. Ningrum memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan jualan online kecil-kecilan dari rumah.
Seno anak ketiga, bisnisman alias wirausaha, dia mempunyai toko batik yang dikelola oleh Laura, adik angkatannya asal lampung yang dinikahinya, dia juga mulai merintis membuka cafe.
Sebagai anak perempuan satu-satunya, Meilinda mendapat perhatian atau lebih tepatnya pengawasan dari semua kakak-kakaknya. Memang dia paling dekat dengan mas Bima yang mempunyai sifat ngemong dan kebapakan, menggantikan posisi papa setelah beliau tiada. Sedangkan figur mama, dia dapat dari mbak Ayu yang selalu memberinya nasihat.
InsyaaAllah keputusan sudah dibuat, mulai besok dia akan memulai persiapan. Segera dipejamkannya mata agar bisa menyongsong hari esok dengan semangat baru.
.
.
.
.
__ADS_1