Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
20.


__ADS_3

"Pesantren itu mahal, Lin. Duit dari mana coba!" Ibu mulai menceramahinya.


"Atau apa kamu mau menikah lagi, ada yang bakal jamin sekolah Ical ya?" Tiba-tiba ibu bertanya.


Linda terkejut dengan pertanyaan Ibu, sekejap dia menghentikan aktifitasnya. Menarik nafas pelan, entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya. Dia menangkap nada menuduh dari pertanyaan Ibu.


"Tidak, bu. Linda belum terpikirkan untuk menikah lagi, InsyaaAllah kalau memang rezekinya pasti gak memana, Haikal bisa sekolah di pesantren." Jawabnya tetap tenang.


"Jadi janda apalagi masih muda itu kan ndak gampang, banyak godaannya. Ibu yo waktu ditinggal bapak juga begitu, kalo ndak inget Hamdan sama Gendis sih...mungkin hidup Ibu ndak susah kayak gini, ada yang nyangoni tiap bulannya." Ibu malah membayangkan sendiri. Meilinda hanya tersenyum kecil menanggapinya, kalau dibantah nanti akan lebih panjang lagi urusannya.


Menjelang Ashar Meilinda pamit pulang, memang Ibu tahunya Haikal pulang ba'da Ashar jadi seperti sudah otomatis saja dia pamit. Padahal Haikal baru akan selesai jam 5 sore, jadi masih ada waktu buatnya untuk pulang dan berbenah.


"Bunda, besok Ical kesekolah pagi. Mau setoran lagi sama ustadz Abdul, gak lama kok cuma 1jam. Tadi ya, ustadz baiiiikkkk banget. Rasanya Ical ga sabar deh pengen ke pesantrennya." Ucap Haikal disela-sela mengerjakan soal latihan, setelah melaksanakan shalat Isya. Meilinda tertegun, mencoba menahan gemuruh dihatinya.


"Iya, sayang. Besok bunda juga kan libur, jadi bunda temani saja ya." Jawabnya.


Malam itu, sudah terdengar dengkuran halus dari kamar menandakan putranya sudah terlelap setelah seharian beraktifitas di sekolah. Meilinda bersimpuh, menengadahkan kedua tangannya terbuka keatas.


'Ya Allah, Engkau yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hambaMu ini. Hamba pasrah padaMu ya Allah, jika memang Engkau inginkan putraku satu-satunya menjadi prajurit dijalanMu, menjadikan nya jauh dariku, InsyaaAllah aku ikhlas, ya Allah. Berkahilah setiap jalan, setiap langkah kami ya Allah. Aamiin Allahuma Aamiin...'


Itulah sepenggal doa yang Meilinda panjatkan sebelym akhirnya dia beristirahat.


○•○


Ditatapnya punggung Haikal yang berjalan menjauhinya menuju masjid sekolah. Belum-belum Meilinda sudah membayangkan Haikal yang akan pergi sekolah di pesantren, jauh darinya. Ditepisnya perasaan itu, dia sudah memantapkan hati. InsyaaAllah dia kuat, mereka kuat. *author: pas nih pake soundtrack lagu 'Manusia kuat' nya Tulus hehe


"Alhamdulillah, ustadz puas dengan hasil belajar Haikal. Waktu yang ustadz berikan pada awalnya akan 3hari kita setoran, tapi dua hari ini rasanya sudah cukup. Ustadz tunggu di pesantren ya..." Abdul menepuk pundak Haikal dengan bangga.


"Beneran, ustadz?!" Jawab Haikal dengan mata bersinar-sinar. Mata itu...


"Iya, InsyaaAllah. Nanti kamu minta tolong ustadz Fajar saja ya. Ini mau langsung pulang atau gimana?" Tanyanya.

__ADS_1


"Langsung pulang, tadz. Bunda nunggu diluar." Jawabnya, setelah mencium punggung tangan ustadz Abdul, dia bergegas keluar dari masjid menghampiri bunda yang duduk menunggu dibawah pohon dengan bacaannya.


Abdul memperhatikan Haikal dari kejauhan, dia menatap jauh seorang wanita menyambut kedatangan Haikal. Wanita itu...


"Tadz...Ustadz?!" Panggil Saeful, anak didik Abdul yang ikut dengannya selama kunjungan di kota itu.


"Eh iya, pul. Gimana?" Gelagapan Abdul menjawab.


"Akhi baik-baik saja? Dari tadi ana panggil tidak menjawab." Tanya Saeful, dia pun mengalihkan pandangan pada wanita yang sedari tadi ditatap ustadz nya itu.


"Cantik ya, Tadz." Candanya.


"Hush...nanti jadi zina mata kalau memandang lama-lama. Ayok, nanti kita terlambat mengisi acara." Abdul meninggalkan Saeful yang hanya bisa bengong.


'Bukannya tadi ustadz ya yang menatap wanita itu sampai-sampai tidak mendengar panggilan ana, kok malah ana yang melakukan zina mata ini...' Benaknya sambil mengikuti ustadz dari belakang.


"Bunda...Ical lolos, kata ustadz Abdul bisa masuk pesantrennya." Antusias Haikal bercerita setelah dia berada dihadapan bundanya.


"MasyaaAllah Tabarakallah, kamu memang hebat, nak. Kebanggaan ayah sama bunda. Terus gimana?" Meilinda berusaha mengimbangi semangat putranya.


"Ical maunya kemana?" Meilinda bertanya balik.


"Haus, bund. pengen yang senger-seger nih, capek abis setoran." Pintanya.


"Kita beli es o***n aja gimana?" Ajaknya disambut anggukkan kepala Haikal.


☆•☆


Abdul: Bisa minta data-data Haikal, Jar?


Fajar: Boleh, gimana hasilnya?

__ADS_1


Abdul: Alhamdulillah memuaskan, selanjutnya minta tolong kamu yang urus ya. Data Haikal kirim saja via email, ahad pagi aku sudah harus balik. Maaf tidak bisa pamitan, aku tunggu lah di kota T.


Fajar: Alhamdulillah. InsyaaAllah, Bas, semoga ada rezekinya. Ini langsung aku kirim ya, mumpung masih ada di sekolah.


Abdul menatap data yang dikirimkan Fajar padanya.


Subhanallah, Allahu Akbar, Maha Besar Allah. Batinnya.


"Bunda...nanti kalo Ical udah masuk pondok, terus bunda gimana?" Tanya Haikal sambil menunggu es pesanan mereka datang.


"Ya bunda senang lah apa yang dipengenin Haikal sm ayah bisa terwujud." Jawabnya, lalu mengucapkan terimakasih pada pedagang yang membawakan dua mangkuk pesanan mereka.


"Maksud Ical, nanti siapa yang nemenin bunda dirumah?" Tanya nya lagi.


"Xixixixixi kamu itu, emang bunda anak kecil harus ditemenin. Bunda berani kok sendiri, udah ayo keburu meleleh es nya." sruuupp Meilinda menyendokkan cairan berwana putih dengan dilengkapi kelapa muda dan alpukat kedalam mulutnya. Aaahhh segaaarrr.


"Bunda gak mau cari orang yang bisa nemenin bunda? Temen Ical punya papa baru, katanya biar mama nya ada yang nemenin, padahal dia ga akan ke pondok tuh. Cuma katanya, kalo Ibnu sekolah, mama nya suka ga ada temen gitu."


Uhuk uhuk uhuk... Meilinda sampai tersedak mendengar penuturan Haikal, dilihatnya Haikal tetap tenang saat bercerita. Entah apa dia mengerti maksud dari kalimatnya, tapi anak itu sudah 12 tahun, sudah bukan bocah lagi, usia menuju remaja.


"Enggak lah, Cal. Bunda kan gak sendirian, ada eyang sama bulek Gendis. Ada Oma Ivone, ada pakde Tejo, tante Dina, tante Naura... Banyak lah yang nemenin bunda." Jawabnya.


"Kalau ada ayah yang nemenin bunda, pasti Ical ga bingung kayak gini. Semoga aja Allah kirim orang yang bisa gantiin Ical nemenin bunda,ya. Kata bunda, kalo kita ada kepengen yang ga bisa dikabulkan orang lain, mintanya sama Allah. Ya kan, bund?" Haikal menatap mata bundanya yang kebingungan menjawab pertanyaannya, akhirnya bundanya itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia pun kembali menikmati cairan berwarna putih dengan buah dalam mangkok dihadapannya.


Sudah beberapa hari ini Meilinda selalu mendapat pertanyaan soal menikah lagi. Kalau orang lain yang bicara dan bertanya, dia sudah biasa, sudah kebal. Tapi kenapa Haikal juga jadi ikut-ikutan. Baginya Haikal selalu jadi putra kecilnya, apa benar yang dihadapannya ini putra yang dia lahirkan... Rasanya baru kemarin dia berjuang demi memberikan kehidupan untuk seorang bayi mungil itu, kenapa dihadapannya dia merasa sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang ingin melindunginya.


Apa tadi dia bilang, akan minta sama Allah orang yang akan menggantikannya menemani... Sudut bibirnya sempat tertarik melukiskan sebuah senyuman. MasyaaAllah banyak yang sayang padanya, banyak yang memperhatikan dan mencemaskan dirinya. Bukan kah ucapan adalah doa, Meilinda memasrahkan jalan hidupnya hanya kepada Sang Khalik, yang telah menciptakannya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2