Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
36.


__ADS_3

Pagi menjelang siang, dia sampai dirumah sakit. Ustadz Arief yang sudah terlebih dahulu sampai telah menunggu mereka dan menunjukkan jalan menuju kamar Ummi. Meilinda disambut Haikal yang juga mengenakan pakaian putih, jubah putih baru karena Meilinda belum pernah melihatnya sebelum itu. Ummi berbaring ditempat tidur dengan alat bantu pernafasan menutupi setengah dari wajahnya, ustadz Abdul setia duduk disampingnya sambil berdzikir. Dia mengenakan pakaian yang sama dengan Haikal.


Meilinda dibimbing untuk mendekati Ummi, duduk dikursi yang diberikan ustadz Abdul.


"Terimakasih, bund. Tolong jaga Abah, dampingi Abah, bukalah pintu hatimu untuknya. Pasti disudut hati disana sebenarnya sudah ada nama Abah kan. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Kalau kalian sudah siap, jemput lah Khansa. Sayangi dia seperti menyayangi putri sendiri, bimbing dia hingga memiliki akhlak yang baik."


Semua dipersiapkan dengan baik, sudah ada penghulu dan saksi, bahkan dari rumah sakit juga ada yang mewakili. Dihadapan Ummi yang terus menggenggam tangan Meilinda, Abdul Basyir mengucap janji suci ikrar pernikahan.


Ummi meneteskan air mata haru, saatnya dokumentasi diabadikan. Tidak untuk dipigura dan dipajang, karena ustadz Abdul tidak membiarkan ada gambar atau patung makhluk hidup sebagai hiasan dalam rumahnya. Ada foto Meilinda bersama Ummi dan Abdul, kemudian Arief dan Aisyah juga mendapat giliran bergabung bersama mereka. Ditempat lain, Abdul berfoto dengan Meilinda dan Haikal. Dan terakhir mereka berfoto berdua saja. Dokumentasi disimpan dalam memori HP dan komputer, sebagai bukti otentik jika suatu saat dibutuhkan.


Ustadz Arief sudah pulang duluan sambil pengantar penghulu bersama Haikal dan Aisyah, langsung kembali ke pondok. Kabar baik pun sudah disampaikan disana, ucapan selamat berdatangan dari kerabat dan kenalan. Meilinda sedang duduk dikursi sofa, rasanya lelah walau tidak melakukan aktivitas berat. Ummi baru saja mendapatkan obat, sekarang sedang beristirahat.


Abdul duduk disamping Meilinda, sofa itu tidak terlalu besar sehingga mereka jadi duduk bersebelahan. Meilinda sadar tidak mengapa dia duduk berdekatan dengan ustadz Abdul karena mereka sudah sah sebagai suami istri, tapi tetap saja dia merasa canggung.


"Gak usah khawatir, Mey. Kak Bas akan turuti permintaan Mey, kak Bas akan berusaha untuk bersikap adil. Permintaan Ummi dan juga permintaan Mey akan coba kak Bas penuhi."


"Setelah menjemput Khansa, ustadz bisa melepaskan saya. Saya akan tetap memegang amanah untuk merawatnya, dia tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ibu. Semoga ustadz bisa menemukan ibu yang lebih baik untuknya."


"Kamu tuh, baru beberapa saat yang lalu resmi masak sudah disuruh cari lagi yang baru. Nasib kak Bas kali ya punya istri dua-duanya minta suami nikah lagi hahahaha" Abdul tertawa sendiri, bukan tertawa karena lelucon lucu, tapi lebih ke menertawakan diri sendiri. Mei menundukkan kepalanya.


Abdul menyandarkan kepala di sofa, lelah rasanya. Tidak lama kemudian nafasnya mulai teratur naik turun, Meilinda menatap wajah itu lebih intens. 'Tidurkah dia?' Pikirnya. Dia selidik wajah lelaki yang kini sudah menjadi mahramnya itu, kan tidak berdosa memandangnya lama-lama sekarang.

__ADS_1


"Nanti cepat jatuh cinta loh, Mey kalau terus dipandang begitu. Tapi jujur, Mey cantik sekali hari ini, kata Ais tadi Mey berdandan sendiri." Tiba-tiba Abdul membuka matanya dan menatap wajah Meilinda lamat-lamat, jarak mereka hanya sekitar dua jengkal saja.


Meilinda kaget mendapati tiba-tiba ustadz Abdul membuka mata dan menatapnya. Mata teduh itu, membuatnya ingin berenang disana. Segera dia bangun dan berjalan kearah jendela, sedikit menjauh menghilangkan kegugupannya. Abdul hanya tersenyum dan kembali merebahkan kepalanya, kali ini dia benar-benar tertidur.


Meilinda sudah tidak berani memastikan benar tidaknya lelaki itu tidur, biarlah mau tidur atau tidak juga yang penting dia diam tidak mengganggunya pikir Mey. Tanpa mereka sadari, ternyata Ummi saat itu tidak tidur. Dia mendengarkan percakapan mereka, merasa sedih dengan penolakan Mey, tapi dia pun mengerti Mey membutuhkan waktu. Sayangnya dia tidak punya itu.


"Kalian berdua pulang saja dulu, biar malam ini Ais yang menemani Ummi." Ucap Aisyah ketika sore itu dia kembali ke rumah sakit. Abdul menatap wajah Meilinda yang menggeleng kecil.


"Tidak usah dek, biar akang tetap disini saja."


"Tapi, kang masa kalian baru saja..."


"Dek..."


Sampai di rumah menjelang Maghrib, Meilinda membersihkan diri terlebih dahulu kemudian bersiap untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Ada yang berbeda saat dia berada di masjid petang itu, ustadzah dan santriwati menyapanya dan menyalaminya. Dia yang merasa tadi pagi masih bukan siapa-siapa di pondok itu, sekarang diakui keberadaannya. Mata mulai tertuju padanya, pasti kabar pernikahannya dengan ustadz sudah terdengar disini.


Maunya Mei mereka tidak perlu tahu soal ini, cukup orang-orang terdekat saja. Mei hanya bisa menundukkan kepala, merasa malu dan tidak pantas dihadapan mereka. Mereka memiliki ilmu jauh lebih tinggi dibandingkan dengannya, bagaimana mungkin dia mendapatkan perlakuan penuh hormat dari mereka. Mei merasa tidak pantas, air mata menetes setitik.


Walau bagaimanapun semua sudah terjadi, dia harus menerima takdir yang digariskan oleh Sang Pencipta. Sekeras apa pun dia berusaha merancang alur kehidupannya, tetap Allah yang menentukan. Hati Mei memang belum bisa menerima ustadz Abdul sebagai suaminya, tapi dia tetap berkewajiban menjaga nama baik. Apa kata mereka jika melihatnya menangis dan bersedih, akhirnya dia seka air mata yang sudah terlanjur jatuh dengan sembunyi-sembunyi dan berusaha untuk tersenyum.


"Abah, pinjam HP nya." Ucap Ummi pada Abdul ketika dia pamit untuk shalat di masjid rumah sakit. Setelah memberikan HP itu, dia mampir ke ruang perawat dan menitipkan Ummi pada mereka.

__ADS_1


Biasanya Abdul akan menunggu di masjid sampai selesai Isya baru kembali ke kamar, dia mengatakan dia tidak membawa HP dan minta tolong dikabari ke masjid jika terjadi sesuatu. Setelah semua dirasa cukup, Abdul bisa sedikit tenang meninggalkan Ummi.


Ummi mengirim pesan pada kerabatnya di kampung halaman, paman Sanuri. Beliau lah yang sekarang menjaga amanahnya, mengasuh Khansa. Setelah selesai, dia bersiap untuk melaksanakan shalat karena adzan sudah berkumandang. Lamat-lamat dia meresapi alunan suaranya, mungkin tidak lama lagi tidak akan dia dengar suara merdunya. Abdul Basyir, suami yang mendampinginya sekian tahun dengan sabar, pemilik suara itu.


Ketika membuka pintu kamar perawatan setelah kembali dari masjid, Abdul mendengar Ummi sedang berbicara. Ummi sedang video call rupanya, Abdul segera mendekatinya.


"Nah itu Abi mu datang, nak... Lihat..."


Seorang gadis cilik terlihat dilayar, matanya bulat seperti Umminya, bibirnya tipis dan hidungnya mancung sepertinya. Abdul meneteskan air mata, sudah besar sekarang putrinya. Sudah mulai mengucapkan satu dua kata. Miris rasanya hati, lama sudah tidak dipeluknya sosok mungil itu.


"Hey Abdul, aku dengar kau sudah temukan ibu untuk putrimu ini. Cepat lah kau jemput agar bisa lah dia merasakan pelukan Abinya, paman sangat menyayangi Khansa tapi tak akan lah paman merenggut dia darimu. Jangan lupa bawalah serta buku nikah kalian agar mudah segala urusan administrasinya, tak payah bolak balik didepan." Papar Sanuri. Abdul terdiam mendengarnya.


"Paman tolong maafkan segala kesalahanku dimasa lampau, terimakasih banyak atas semua bantuan paman pada kami." Ummi berkata lirih.


"Iya lah, nak. Engkau macam putriku juga, semoga amal ibadahmu diterima oleh Allah. Sudah dulu ya, nak. Sudah malam lah disini, kau juga istirahat lah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2