Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
43.


__ADS_3

Semalaman Meilinda tidak dapat menutup matanya, air matanya sudah kering, tidak ada lagi yang mengalir. Fisiknya lemah, bathinnya lelah. Mata terbuka, yang tersisa isak sesekali. Meilinda mendengar suara pintu kamar terbuka, gemericik air dan beberapa kegiatan diluar kamarnya. Bahkan sampai suara adzan subuh menggema dari masjid, dia tetap bergeming. Tenaganya habis bahkan hanya untuk berkedip sekalipun. [lebay ga sih hehe]


Aisyah mengedarkan pandangan menyapu jama'ah pagi itu, dia tidak bisa menemukan Meilinda. Sepertinya ini bukan jadwalnya berhalangan, karena beberapa bulan belakangan ini selalu bareng. 'Semoga tidak terjadi apa-apa sama bunda.' bathinnya. Setelah tausiah pagi selesai, Aisyah bergegas pamit menuju rumah Abdul untuk melihat keadaan Meilinda.


"Assalamualaikum, bunda dimana?" Tidak ada jawaban dari dalam rumah, Aisyah tahu kakaknya tidak dirumah maka dia mencoba masuk tapi pintunya terkunci. Dia kembali ke masjid, ke area ikhwan.


"Soleh...sini, nak. Ust minta tolong panggilkan ustadz Abdul di dalam masjid yah? Makasih, nak."


"Kenapa, dek?" Tanya Abdul.


"Bunda dimana, kang? Kok gak ke masjid? Tadi Ais ke rumah, diketok-ketok ga ada yang jawab. Pintu juga dikunci." Abdul langsung pucat mendengarnya, setelah kejadian semalam semoga tidak terjadi apa-apa. Segera dia berlari menuju rumah, tanpa mau bersusah payah mencari sandalnya.


Aisyah mengikuti dari belakang sampai didepan kamar yang ditempati Mey. Abdul langsung bersimpuh dibawah lantai, agar bisa melihat wajah istrinya dengan jelas. Disentuhnya wajah Mey, panas. Dia memandang kearah Aisyah bingung harus bagaimana.


"Akang tunggu diluar saja, biar Ais yang urus bunda. Tolong masakin air, kang, buat seka badan bunda sepertinya dari kemarin tidak ganti baju ya?"


Abdul menuruti perintah Aisyah dan segera ke dapur, merebus air dan memasukkannya kedalam tempat yang sudah terlebih dulu dimasukkan air dingin. Mengecek suhunya dengan tangan, setelah dirasa cukup hangat dia membawanya menuju kamar Mey. Loh kok ditutup, dikunci lagi.


"Dek, buka pintu, ini air nya."


"Sini..." Setelah menerima air hangat dengan membuka sedikit pintu, Aisyah bermaksud menutup kembali pintunya tapi ditahan oleh Abdul.


"Kok ditutup sih, dek?"


"Mau seka sama gantiin baju, kang!"


"Kan istrinya akang, ga papa kalo lihat."


"Setahu Ais yah, bunda masih belum bolehin akang kan? Akang belum apa-apain kan? Udah ah gak usah modus!" Wah adik yang gak pengertian sekali nih...


Pintu kamar terbuka, Aisyah keluar dari kamar. "Ais beli bubur sama obat dulu, jangan dibikin nangis lagi, ntar anaknya ngamuk tuh kalo tahu!"


Abdul masuk kedalam kamar dan duduk ditepi tempat tidur, Meilinda tidur miring memunggunginya. Tidak ada kata yang terucap, bibir kelu tak dapat bicara. Dia hanya bisa memandangi wanita yang dicintainya.


Aisyah memandangi kakaknya dari pintu, benar kata Ummi, memang terlihat sekali dia begitu mendamba wanita itu. Kemarin Aisyah hanya melihatnya sekilas, kini begitu jelas dan telah tumbuh.


"Kang, disuapi dulu bundanya terus minum obat. Aish pulang dulu, nanti Aish bilang kang Arief."


"Mey, makan dulu. Please jangan gini. Atau kamu mau kak Bas panggilin Haikal buat nemenin kamu?" Mey tetap diam tak bergerak.


Abdul keluar mengambil HP Mey dari kamarnya, semalam dia ambil dari tas Mey dan melihat beberapa chat yang dirasa penting. Bisa dibilang dia belum mengenal sosok istrinya itu, dengan membaca isi pesan mungkin bisa membuatnya tahu sedikit. Tidak terlalu banyak pesan yang masuk, di grup juga tidak terlalu aktif.


Mey: Assalamualaikum


Bima: Waalaikumsalam, kenapa dek, tumben?


Mey: Maaf mas, saya dari pondok pesantren tempat Mey tinggal sekarang. Maaf lancang pakai HP punya Mey, ini Mey demam tinggi tapi tidak mau makan. Saya bingung bujuknya.


Panggilan telfon berbunyi.

__ADS_1


"Mey, ini ada telfon." Abdul meletakkan HP dihadapan Mey.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, kamu kenapa ndok? Barusan ada yang kirim pesan dari pondok katanya kamu sakit ndak mau ma'em, sakit apa toh?"


"Aku ora opo-opo kok mas, ming rodo kesel wae." [Aku gak apa-apa kok mas, cuma agak capek]


"Yo ma'em no..." [Ya makan dong]


"Hhmmm"


"Tenan loh, ne ora ta' susul ta' kon bali wae opo neng Solo ben ono sing jagani."[Beneran loh, kalau enggak disusul kesana dibawa pulang atau ke Solo saja biar ada yang jagain]


Setelah mengucap salam Meilinda menutup sambungan telfonnya, lalu mencoba untuk duduk tapi kepalanya terasa pening. Abdul mengambil bantal dan menumpuknya, membimbing kepala Mey tetap rebahan dan mulai menyuapinya. Dia makan dalam diam, sambil menunduk. Dia sangat yakin ustadz yang katanya mencintainya itu sedang menatapnya.


"Gak usah dipikirin dulu ya, ayo minum obatnya terus istirahat lagi. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan, kak Bas disini." Dia memberikan gelas dan obat, setelah Mey selesai meminum obatnya lalu dia mengambil gelas, meletakkan diatas meja. Dia tata lagi bantalñya agar Mey bisa nyaman tidur.


Abdul keluar kamar, tidak lama kemudian sudah masuk lagi dengan membawa kursi dan Al- Qur'an. Abdul membaca dengan perlahan agar tidak mengganggu istirahay Mey.


"Jangan curi-curi cium lagi, saya masih belum tahu harus bersikap bagaimana." Ucap Meilinda membuat Abdul sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum malu.


Siang harinya Mey sudah bisa turun dari tempat tidur untuk ke kamar mandi dan berwudhu, dia shalat dirumah saja. Abdul datang segera setelah selesai shalat di masjid.


"Mey mau makan apa? Nanti kak Bas carikan, atau mau kak Bas masakin? Bilang aja, nanti dedek nya ngeces loh." Heran deh ini orang, masih saja bisa bercanda. Hampir saja dia terpancing, namun syukur bisa bertahan dengan mode jutek.


"Waalaikumsalam, masih betah aksi tutup mulut. Harus diapain enaknya ya, dek?"


"Dibawa ke KUA kali..."


"Boleh, yuukk."


"Kalian ini apaan sih?!"


"Tuh kan akhirnya bunyi..." Aisyah tertawa karena berhasil menggoda kakak ipar barunya. "Udah sana, akang keluar. Sekarang waktunya girls talk." Aisyah mengeluarkan makanan yang tadi dimasaknya dirumah dan berniat makan bersama Meilinda.


"Bagi dong, dek. Akang lapar nih, dari pagi belum ada yang kasih makan. Boro-boro makan, minum aja gak ada."


"Iiihhh udah sana keluar aahh, bikin aja in**mie didapur." Usir Aisyah lalu menutup pintu kamar.


"Kasihan loh, teh, belum makan katanya."


"Cie cie jadi mulai perhatian nih ceritanya..." Aisyah menggoda. "Udah biarin aja, sekali-kali emang harus digituin, gak dosa kok tenang aja."


Meilinda menceritakan apa yang dia terjadi semalam, tapi melewatkan bagian dia dibopong sampai kamar. Bisa habis dia terus diledekin kalau adik iparnya ini tahu.


"Bagus dong, kalo sekarang bunda tahu perasaan kang Abdul. Jadi semua yang bunda pikirkan dan bayangkan kemarin itu salah, Ais kan udah bilang tanya langsung aja sama kang Abdul biar bisa diobrolin dari akarnya."


"Jadi sebenernya teh Ais udah tahu dari sebelumnya? Kok bisa?"

__ADS_1


"Ummi yang kasih tahu. Ummi tuh nemu catatan waktu kang Abdul sekolah dulu, ternyata ada tulisan tentang Mey. Emang norak ya tuh kang Abdul, laki tapi punya kayak buku harian gitu hahahaha."


"Jadi Ummi juga sudah tahu?" Meilinda merasa jadi orang paling b*** sedunia padahal dia objeknya.


"Diobrolin berdua ya, bund, dari hati ke hati. Ais pergi dulu mau ngajar."


Meilinda ikut keluar dari kamar, duduk di ruang depan, bosan dikamar terus. Alhamdulillah badannya sudah lebih ringan.


"Mey, sudah baikan?" Abdul muncul dari belakang, sepertinya baru selesai makan. Meilinda mengangguk.


"Alhamdulillah. Masih ada yang pengen dimakan?" Sekarang dia menggeleng. Abdul mengangguk-anggukan kepala, setelah dia duduk dikursi yang tidak jauh dari istrinya itu. Meilinda menatapnya intens, menyelidik.


Abdul sudah biasa jika harus berbicara didepan orang, tidak hanya satu atau dua orang, bahkan didepan ratusan orang dia sudah pernah dan bisa menyampaikan tausiah dengan baik dan lugas. Tapi didepan seorang wanita ini, sejak dulu lidahnya selalu kelu.


"Jadi..." Meilinda akhirnya buka suara.


"Jadi?" Gemas rasanya Meilinda, lelaki didekatnya ini malah membeo.


"Kok bisa kak Bas punya perasaan itu sama Mey? Sejak kapan? Yang Mey ingat tidak ada sama sekali kenangan kita yang bisa dibilang romantis atau apa lah saat itu."


"Kak Bas tidak tahu tepatnya kapan, entah apa waktu hari pertama lihat Mey sudah menarik perhatian. Seorang gadis yang selalu tampak gelisah celingukan, atau saat kak Bas mulai bertatapan muka dan memanggil nama Mey, wajah cantik yang selalu cemberut. Atau saat kak Bas tidak sengaja melihat Mey bersembunyi dibelakang masjid menangis tersedu tapi kemudian memprotes dengan berani semua kegiatan kami..."


Meilinda menatap Abdul tidak percaya, dia bisa mengingat semua moment itu selama ini. Meilinda bahkan tidak ingat sedetail itu.


"Pokoknya sejak saat itu, bayangan Mey tidak dapat hapus dari ingatan kak Bas. Kak Bas memilih repot bolak balik ke rumah Mey daripada melihat Mey menangis karena terpaksa mengikuti kegiatan kami, tapi tidak rela jika harus tidak melihat wajah cantik Mey sehari saja." Abdul tersenyum mengingatnya.


"Kak Bas mengingat itu terus selama ini?"


"Tentu tidak..., maaf kalau sedikit mengecewakan." Abdul beranjak dari duduknya, berjalan kearah meja kerjanya dan kembali membawa sebuah buku agenda kecil bersampul kulit berwarna hitam yang kelihatannya sudah lama.


"Kak Bas tulis semua kenangan itu disini, Mey boleh membacanya." Ucapnya sambil menyerahkan buku itu.


"Mey pengen dengar langsung dari kak Bas."


"Oke, sampai mana tadi? Oh ya, menjelang acara selesai kak Bas mendapatkan nomor telfon rumah Mey. Jaman itu belum ada HP atau internet ya, Mey. Lama baru kak Bas berani telfon dari telfon umum di sekolah, dengan menyisihkan uang bulanan kiriman Kiayi hehe Hanya mendengar suara Mey saja sudah membuat kak Bas bahagia saat itu, sempat hati ini kecewa mendengar Mey menyukai laki-laki lain. Tapi rindu mendengar suara Mey membuat kak Bas rela merasakan sakit dihati, mungkin itu yang disebut dengan cemburu ya, Mey."


"Waktu itu kak Bas kelas 3 SMA dan Mey kelas 3 SMP kan, lucu rasanya kak Bas menjadikan Mey sebagai penyemangat kak Bas meraih nilai tertinggi di sekolah dan berkhayal Mey pun begitu. Setelah lolos tes beasiswa ke Cairo, rasanya bangga sekali ingin segera menjadi orang sukses dan menemui Mey. Maka dari itu kemudian kak Bas meminta alamat Mey."


Abdul menjeda ceritanya dan melirik jam.


"Ceritanya dilanjut malam ya, sebentar lagi ashar, kak Bas siap-siap ke masjid." Ucapnya lalu beranjak. Sebentar Mey membuka lembar-lembar buku yang ada dipangkuannya, semua yang diceritakan kak Bas tertera disana, dan Ummi sudah membacanya, bagaimana perasaannya saat itu?


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2