
Setelah berbincang-bincang sebentar dengan ibu mertuanya, Meilinda pun pamit pulang. Menjalankan kewajiban ibu rumah tangga, setelah itu baru lah dia mengambil air wudhu. Melaksanakan shalat dhuha, memohon rezeki kepada Sang Khalik, dia tak juga beranjak dari tempatnya sampai tengah hari. Mengisi hari-hari nya seperti biasa, sebisa mungkin menyempatkan waktunya untuk mengaji sampai menjelang shalat Dhuhur.
Seperti sebuah jawaban atas doa-doanya, sebuah notifikasi chat berbunyi di HP nya. Naura, sahabat dan rekan kerjanya dulu.
Naura: Lagi sibuk ga, Lin?
Linda: Enggak kok, kan Ical juga lagi di sekolah.
Naura: Pulang kerja aku mampir kerumah boleh,ya? Ada yang mau aku omongin nih.
Linda: Oke.
Linda kemudian memeriksa isi kulkasnya, memikirkan apa yang bisa dia olah untuk sore hari dan juga makan malam nanti. Linda memang tidak memasak untuk makan siang karna Haikal mendapatkan layanan katering di sekolah, lagian biar ngirit juga jadi dia terbiasa tidak makan siang. Hanya saja, Haikal suka minta camilan sepulang sekolah. Tidak heran badannya menjadi tambun, Hamdan juga tidak segan-segan membelikan makanan untuk putranya itu. Makanan apa yang diminta putranya, selama itu sehat dan halal pasti dia turuti. Lain halnya jika Haikal minta mainan, biasanya akan berujung dengan nasihat panjang.
Akhirnya Linda memutuskan untuk membuat brownies kukus sederhana hanya dengan bahan yang ada dirumahnya, sekalian untuk menjamu kedatangan Naura nanti.
Malam harinya, selepas shalat Maghrib Naura muncul didepan rumahnya bersama Haikal yang baru saja pulang dari Masjid.
"Assalamualaikum, bunda... Tante Naura nya udah dateng nih..." Ucap Haikal.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Ical didalem aja gih makan dulu." Jawab Linda. "Kamu sekalian makan malam yuk, Ra." sambungnya.
"Gak usah deh, Lin. Tadi habis makan dulu sebelum kesini." Mereka pun masuk kedalam rumah.
"Kamu gimana sekarang?" Tanya Naura membuka pembicaraan.
"Baik, Alhamdulillah. Ya, begini lah." Linda tersenyum canggung.
"Sebetulnya aku kesini tuh mau minta tolong, Lin. Tapi aku gak enak ini ngomongnya, kamu jangan tersinggung ya." Ucap Naura hati-hati. "Kamu tau kan tante ku punya usaha katering, nah ini tuh orderannya lagi banyak nih dan dia butuh orang buat bantu-bantu. Kemarin aku udah cariin orang, eh si tante ngomel-ngomel yang dibilang dia ga becus kerja lah, ga bisa kupas bawang lah, yang lelet lah. Pusing lah aku, tau sendiri kan tante ku tuh cerewetnya kayak apa." Naura diam memberi jeda.
"Kira-kira kamu tertarik ga,Lin? Aku kan tau kamu tuh pinter masak, jadi tante pasti ga bakal protes deh. Kamu juga bisa datang setelah mengantar Haikal sekolah dan selesai sebelum Haikal pulang." Tambahnya.
"Maaf, Lin. Kamu jangan tersinggung karna aku menawarkan pekerjaan seperti ini." Naura terlihat agak was-was.
"Pekerjaan seperti apa maksudnya?" Tanya Linda tidak mengerti.
"Ya kamu tau lah, hanya bantu-bantu di dapur. Padahal dulu jabatan kamu di kantor kan senior gitu, Lin." Naura sedikit gemes karna Linda kurang paham maksudnya.
"MasyaaAllah Ra, aku pikir apa. Ya ampun, itu kan dulu Ra. Sekarang semua sudah berubah, memang saat ini aku butuh pekerjaan. Selama pekerjaan itu halal dan tidak membuatku menelantarkan Ical, aku tidak keberatan. Malah aku terimakasih banget, kamu masih perduli padaku." Mereka pun berpelukan. Jujur saja Naura merindukan Linda, partner kerjanya ini. Setelah mendengar kematian suami Linda, Naura semakin memikirkan sahabat nya itu.
__ADS_1
Mereka memang bertemu atau jalan bareng, tapi selalu intens berkirim kabar via chat. Linda adalah tempat Naura curhat, dari sejak dulu. Bedanya kalau dulu mereka bisa gila bareng, nongkrong, nge mall. Sekarang Naura yang lebih banyak curhat soal keluarganya, Linda selalu saja bisa memberi pendapat tanpa terkesan menasihati. Memang setelah menikah, Linda berubah menjadi lebih dewasa dalam hal berfikir dan lebìh menutup auratnya.
...****************...
Setelah mengantarkan Haikal ke sekolah, Meilinda memulai pekerjaannya di rumah tante Ivone. Awalnya pekerjaan-pekerjaan ringan yang Linda kerjakan, lama kelamaan tante Ivone yang melihat Linda melakukan pekerjaan dengan baik pun mulai memberi kepercayaan untuk mengolah makanan. Hasil yang didapatkan memang tidak terlalu besar, tapi dia selalu bersyukur untuk semua rezeki yang Allah berikan kepadanya. Tak jarang tante Ivone membawakannya makanan untuk dibawa pulang, sehingga dia tidak perlu memasak lagi untuk makan malam mereka.
Katering tante Ivone biasanya untuk memenuhi kebutuhan karyawan di perkantoran, beberapa karyawan yang disibukkan dengan pekerjaan dan malas keluar kantor biasanya order tempat mereka dan sudah menjadi langganan tetap. Karena kantor lebih banyak libur di hari Sabtu, maka dia pun hanya bekerja pada hari Senin-Jumat sehingga akhir pekan bisa dia habiskan bersama keluarga.
Kedua orangtua Meilinda sudah meninggal sejak dia masih kuliah, dia anak paling kecil dari empat bersaudara dan anak perempuan satu-satunya, dan memang sejak kecil Mama selalu melibatkannya di dapur. Setelah kedua orangtuanya meninggal, Linda lah menggantikan tugas Mama di dapur. Ketiga abang nya sudah berkeluarga dan tinggal di kota yang berbeda. Dulu dia pernah berfikir untuk pindah dan ikut salah satu abang nya, tapi setelah memikirkan Haikal yang akan ujian maka diurungkannya niat itu.
Seperti biasa, siang itu Linda telah bersiap dengan sepeda motornya untuk mengantarkan pesanan ke kantor XX. Linda masuk lewat belakang kantor, langsung masuk menuju pantry dan meletakkan rangkaian rantang berisi makanan diatas meja. Masing-masing rantang telah diberi nama sesuai dengan nama pelanggan. Dia tak pernah tau siapa saja pelanggannya, karena itu tugas mba Dina sang operator sekaligus marketingnya.
Baru saja dia akan beranjak meninggalkan pantry, karena tergesa-gesa dia langsung membalikkan badannya dan tidak memperhatikan jika ada orang lain yang akan masuk kedalam pantry juga dan membuat dia menabrak seseorang.
"Astaghfirullah...maaf" Ucapnya refleks sambil menundukkan kepalanya karena dia tahu bahwa orang didepannya adalah laki-laki.
"Sstttt...jangan berisik!" Ucap laki-laki itu sambil menarik tangannya untuk berjongkok bersamanya dibawah meja.
Satu detik...dua detik...Linda akhirnya tersadar dan menepis tangannya yg masih dipegang oleh lelaki itu dan keluar dari bawah meja. "Astaghfirullah al'adzim..."
__ADS_1
"Revan...Revan...Kamu dimana sih?!" Tiba-tiba muncul seorang wanita cantik dengan dandanan modis didepannya "Kamu siapa?" Tanyanya menyelidiki sambil melihat Meilinda dari bawah ke atas. Dia refleks ikut melihat penampilannya, rasanya tidak ada yang salah. Saat itu dia mengenakan rok panjang kotak-kotak planel dengan kemeja polos yang longgar dan hijab warna senada yang menutupi hingga dadanya, dia juga mengenakan flat shoes dan kaos kaki. Rasanya pakaiannya tetap pantas dikenakan walau dengan model yang sederhana.