Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
61.


__ADS_3

Sambil meminum teh nya di meja makan, Meilinda berfikir. 'Tadi siang Tiyah sudah berbohong soal jemuran, lalu dia juga membiarkan Khansa tidur dengannya tanpa bantahan, ini juga tumben membuatkan teh untuknya.' Batinnya.


Beberapa saat setelah dia menghabiskan tehnya, Meilinda merasa kepalanya pusing dan pandangannya berputar-putar. Dia melihat bayangan seseorang menghampirinya, entah lah ada satu atau lebih yang mendekatinya. Sepertinya seorang lelaki, tapi bukan suaminya karena cara berpakaian lelaki itu tidak sama dengan suaminya.


Meilinda memegangi kepalanya yang terasa berat, 'astaghfirullah' dia tidak memakai hijab. Dia berusaha untuk berdiri, auratnya saat itu terlihat oleh yang bukan mahramnya, dia harus segera bersembunyi. Keseimbangannya hilang, dia hampir terjatuh kelantai jika saja lengan itu tidak memegangi tubuhnya.


Ingin Meilinda berteriak dan berkata lebih baik dia terjatuh daripada lelaki itu memegang tubuhnya, tapi tidak dapat dia lakukan karena dia sudah merasa sangat lemah. Perlahan tubuhnya melayang, lelaki itu menggendongnya. Diberanikannya untuk melihat wajah lelaki itu.


"Revan?!" Ucapnya lirih.


"Kamu akan menjadi milikku sekarang, Linda. Ustadz itu pasti akan membuangmu, dia tidak akan mau mempunyai seorang istri yang kotor." Revan tersenyum licik, dia menggendong Meilinda dan membawanya masuk kedalam kamar utama.


Samar-samar Meilinda mendengar ucapan Revan sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.


Mutiyah gelisah saat bermain dengan Khansa, sesekali dia melihat dalam rumah utama. Aisyah yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya kemudian mendekatinya.


"Mutiyah, ada apa? Apa ada yang mengganggumu?" Didekati seperti itu, Mutiyah malah terisak dalam pelukan Aisyah.


"Ayuk, aku telah berbuat salah, aku telah berdosa. Apa nanti bunda dan ustadz Abdul akan membenciku? Aku menyesal, aku telah dibutakan oleh setan. Bunda dan ustadz Abdul sangat baik, mereka saling mencintai, tidak sepantasnya aku merasa iri." Mutiyah berkata sambil terisak.


"Bunda dan ustadz Abdul sangat baik, mereka tidak akan membencimu, mereka menyayangimu seperti adik."


"Tidak, dosa ini tidak mungkin dimaafkan. Aku menjadi perusak rumahtangga mereka, aku berdosa ayuk."


"Apa yang terjadi, Tiyah? Katakan?!" Aisyah merasa tidak enak hati, sepertinya sesuatu terjadi.


"Lelaki itu, dia ingin merebut bunda dari ustadz, sekarang dia ada didalam rumah. Tolong bunda, ayuk. Maafkan Tiyah..."


Aisyah yang mendengar cerita Mutiyah segera berlari menuju rumah utama. Betapa kagetnya dia melihat seorang laki-laki berdiri membelakangi pintu didalam kamar utama, Aisyah berlari kedepan berteriak memanggil kepala keamanan yang sedang berbincang dengan seorang ustadz disana. Melihat Aisyah berteriak meminta tolong, mereka berdua menghampirinya.


"Tolong bunda ustadz, ada lelaki didalam mau jahatin bunda!" Papar Aisyah.


Para ustadz segera memasuki rumah mengikuti Aisyah menuju kamar utama, melihat seorang lelaki sedang menindih tubuh istri sang ustadz diatas kasur.


"Astaghfirullah al'Azhim..." Semua orang berteriak melihat pemandangan itu membuat Revan terkejut dan menghentikan aksinya untuk melihat siapa yang membuat keributan.

__ADS_1


Tanpa sempat melakukan perlawanan, Revan telah ditarik oleh kedua ustadz itu keluar dari kamar. Tentu saja Revan tidak dapat melakukan perlawanan karena kedua ustadz itu memegangnya dan mengunci tubuhnya hingga dia tidak berkutik.


Aisyah masuk kedalam kamar, melihat kondisi Meilinda. Bunda terkulai lemas tidak sadarkan diri tanpa menggunakan hijab, kancing depan gamisnya terbuka dibagian atas, bagian bawah tersingkap hingga menampilkan pahanya yang kuning langsat dan mulus. Aisyah terisak melihat keadaan kakak iparnya itu, segera dia merapikan keadaan Meilinda. Menekan-nekan pipinya sambil memanggil namanya agar tersadar, namun tidak juga mendapatkan respon.


Kepala keamanan dan juga ustadz membawa Revan ke kantor, menghadap ustadz Arief yang saat itu menggantikan posisi ustadz Abdul yang ada acara di kota. Revan masuk kedalam kantor dalam kondisi terikat tangannya dibelakang, terpaksa mereka melakukannya karena Revan selalu berusaha memberontak dan melarikan diri.


Segera setelah ustadz Arief mendengar laporan dari mereka, dia menghubungi ustadz Abdul jika sekiranya bisa segera pulang. Untung saja acara tausiah sudah selesai, tinggal ramah tamah dan silaturahmi saja. Mendengar kabar singkat telah terjadi sesuatu di pondok pesantren yang menyangkut istrinya, Abdul bergegas mengundurkan diri dari acara dan pamit segera kembali.


Ketika tersadar Meilinda ketakutan dan menangis histeris, dia kembali teringat masa lalunya yang pernah hampir menjadi korban perkosaan dengan cara yang hampir sama. Aisyah memeluknya menenangkan, dia mengajak Meilinda untuk berwudhu dan shalat maghrib dirumah. Setelah itu, dia lebih bisa tenang walau masih tersisa isak tangis.


Mutiyah mengasingkan diri dipojok bersama Khansa, dia juga merasa ketakutan karena dia terlibat dalam insiden itu.


Tangan Revan sudah tidak terikat, tapi dia terkunci dalam ruang kantor yang dijaga oleh seorang petugas polisi kenalan ustadz Arief yang selalu mendukung kegiatan di pondok pesantren. Dia hanya bisa mondar-mandir, ponselnya telah dirampas sehingga dia tidak bisa menghubungi siapa pun.


Abdul yang baru saja sampai segera masuk kedalam rumah, menuju kamar utama mencari istrinya, Aisyah menghadang kakaknya.


"Nanti saja, kang, bunda masih shock, biarkan istirahat dulu."


"Ada apa ini, dek? Arief cuma bilang terjadi sesuatu pada bunda, apa yang terjadi?"


Niatnya Abdul akan segera ke kantor menemui lelaki itu, tapi karena mendengar suara adzan maka ditundanya dan segera melangkahkan kakinya ke masjid.


Aisyah mendekati Mutiyah dibelakang. "Khansa sudah makan, dek?" Tanyanya yang dijawab dengan anggukkan kepala. "Sedang halangan kan? Coba tidurkan Khansa dikamar, setelah isya kita bicarakan baik-baik." Titahnya.


Abdul kembali kedalam rumah, menunggu di ruang tamu depan. Setelah dibicarakan selepas shalat isya tadi di masjid, mereka memutuskan untuk membicarakan semua di rumah utama. Revan dibawa kedalam rumah dengan pengawalan dari petugas polisi dan juga kepala keamanan, diikuti Arief.


Abdul mendengarkan penjelasan dari kepala keamanan, keterangannya sama dengan yang dijelaskan Aisyah tadi. Hanya dalam penjelasan Aisyah melibatkan nama Mutiyah disana, maka segera lah Mutiyah dipanggil untuk menghadap mereka. Mutiyah duduk menundukkan kepalanya, dia terisak.


"Ayok, dek, jelaskan semuanya pada mereka biar mereka mengerti. Semua pasti akan terlambat kalau saja kamu tidak memberitahu teteh kan, jadi kejadian yang tidak diinginkan bisa terhindari. Jangan takut, dek." Aisyah berusaha membujuk Mutiyah.


Akhirnya Mutiyah menjelaskan dari awal dia bertemu dengan Revan, bahwa dia telah terhasut tipu daya setan disaat hatinya sedang gundah.


"Maaf ustadz, saya mengaku khilaf. Saya tidak berfikir panjang karena saat itu hati saya sudah tertutup, saya menyesal. Tidak sepantasnya saya memiliki perasaan seperti itu, tidak seharusnya saya melakukan perbuatan itu."


Akhirnya Abdul menyerahkan Revan pada pihak berwajib karena tidak ada itikad baik darinya untuk mengaku salah atas perbuatannya, yang lain pamit pulang meninggalkan rumah utama. Mutiyah masuk kedalam kamar tamu, merebahkan diri disamping Khansa yang sudah terlelap. Besok pagi dia harus melapor ke kantor polisi.

__ADS_1


Abdul menghela panjang, yang dia khawatirkan sekarang adalah Meilinda. Sampai saat ini dia belum bisa menemuinya, Meilinda masih mengurung diri di kamar.


"Mey, buka pintunya, kak Bas tahu Mey belum tidur." Ada isak tangis dalam ucapan Abdul karena begitu mengkhawatirkan keadaan istrinya.


Ceklek...


Pintu terbuka, Meilinda kembali naik keatas kasur dan merebahkan diri dengan posisi bergelung memunggungi pintu masuk. Setelah menutup pintu, Abdul mendekati istrinya. Ingin dia langsung memeluk sang istri tapi dia menahan diri, dia mendekati Meilinda, menatap wajah istri tercintanya. Matanya sembab, hidungnya merah, sesekali isak tangis masih terdengar mengguncangkan tubuhnya.


"Mey, my zaujaty..." Panggilnya lirih, perlahan tangannya mendekati pipi untuk menghapus sisa air mata yang jatuh.


"Mey kotor, tidak bisa melindungi amanah suami untuk menjaga aurat dari lelaki lain. Dia sudah menyentuh Mey, dan entah apa yang sudah dia lakukan lagi, Mey tidak pantas untuk seorang ustadz." Isaknya.


"Semua itu bukan salah Mey, justru Allah masih sayang sama Mey, semua terungkap sebelum hal yang lebih jauh terjadi. Mey seorang wanita yang selalu menjaga kesuciannya, seorang yang selalu menjaga auratnya adalah wanita yang sangat kak Bas inginkan untuk mendampingi."


"Kak Bas tidak mau kehilangan Mey, tetaplah ada disisi kak Bas, mendampingi kak Bas, selalu menjadi kekuatan kak Bas. Jadikan kak Bas sebagai sandaran segala kesedihan, keluh kesah Mey. Dimata kak Bas, May tetap sama seperti dulu ketika kak Bas pertama kali bertemu."


"Bukan hanya itu saja, Khansa juga membutuhkan bundanya, seorang ibu yang bisa mendidiknya menjadi anak yang baik akhlak nya."


Meilinda tertegun mendengar ucapan Abdul, seperti tertarik dari dunia lain dan terhempas kembali ke bumi mendengar nama putrinya, walau bukan putri kandungnya tapi dia sudah sangat menyayanginya seperti putrinya sendiri.


"Khansa...dimana dia? Sudah malam, apa dia sudah makan, apa dia sudah mandi? Ini sudah lewat waktu tidurnya, dimana dia?" Meilinda terduduk ditepi kasur.


"Khansa sudah tidur, Mutiyah sudah mengurus semuanya." Abdul merengkuh tubuh istrinya perlahan, khawatir akan penolakan. Meilinda ambruk dalam pelukan suaminya, tangisnya kembali pecah. "Maaf karena kak Bas tidak ada disamping Mey saat itu, maaf karena tidak bisa melindungi Mey." Akhirnya Abdul mengungkapkan apa yang dipendamnya saat itu.


Meilinda mendengar Abdul terisak dalam ucapannya, merengkuhnya erat seakan tidak mau melepaskannya. 'Ternyata bukan dia saja yang terluka, suaminya pun terluka.' Batin Meilinda, mensyukuri karena telah diberi seorang suami yanh begitu mencintainya.


"Mutiyah, apa dia... Seharian itu sikapnya aneh, tidak mungkin dia bisa masuk kedalam rumah tanpa ada orang yang membantunya, apa Tiyah..." Meilinda bahkan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, menolak untuk mempercayai ucapannya sendiri.


"Sudah, tidak usah dipikirkan. Sebaiknya istirahat saja, sudah malam, kita sudah lelah hari ini." Abdul membimbing istrinya untuk berbaring dan membaringkan diri disamping istrinya, merengkuhnya dalam pelukan tidak rela melepaskannya. Meilinda menikmati degup jantung suami hingga akhirnya terlelap.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2