
"Loh, motornya kan di bengkel. Apa ga sebaiknya aku antar kalian saja, Lin kasihan Haikal capek kan." Senyumnya sambil melirik Haikal. Yang dilirik hanya memandangnya penuh selidik.
"Ndak apa-apa, pasti sekarang motornya udah selesai di perbaiki, kalau ditinggal besok repot kami mau berangkat. Kalau pun belum selesai, kami tunggu di bengkel saja." Jawab Linda.
"Jangan gitu dong, Lin. Kasihan Haikal kalau nunggu di bengkel, gimana kalau kita makan siang dulu?" Tawar Revan.
"Haikal sudah dapat katering di sekolah, jadi tidak usah repot-repot ya kan, Cal?" Linda meminta dukungan putranya. Haikal mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Om belum makan siang nih, Haikal mau kan temenin ok makan? Nanti Haikal pesen snack aja, ada sosis, kentang goreng, es krim juga boleh. Mau ya?" Bujuk Revan.
Haikal memutar badannya sehingga dia bisa melihat bundanya dikursi belakang. "Boleh ya, bund, boleh ya? Tadi Ical makan siang nya cuma sedikit, sibuk ngerjain UTS Matematika... Susah loh, bund." Mata Haikal berkaca-kaca penuh harap. Kayak film-film kartun Jepang atau Korea saat tokohnya menginginkan sesuatu.
"Tapi..." Meilinda tidak bisa melanjutkan kata-katanya demi melihat Haikal penuh harap.
"Oke... Kalo diam berarti bunda ga keberatan tuh... Kita belok didepan ya, ada cafe tuh." Revan melajukan mobilnya menuju sebuah cafe.
Dan tiba lah mereka disebuah meja, makanan sudah tersaji didepan mereka. Linda menolak untuk ikut pesan, dia sudah merasa senang hanya dengan melihat Haikal makan dengan lahap. Memang sudah lama mereka tidak menikmati makan di restoran, kalau pun jalan pada saat akhir pekan, biasanya Linda akan membawa bekal makanan atau mereka berangkat setelah makan siang. Sesekali mereka makan diluar, tapi hanya mampir di tempat makan pinggir jalan.
"Lin, gimana kalau Haikal biar aku jemput sepulang sekolah, kalian bisa bertemu di kantor saat kamu antar katering." Revan menawarkan diri disela-sela mereka menikmati makanan.
"Ndak lah, jangan. Nanti merepotkan." Elak Linda.
"Gak repot, Lin... Malah aku seneng banget, beneran. Boleh ya?" Linda heran dengan laki-laki didepannya itu, tiba-tiba saja nada bicara nya berubah santai saat bersama Haikal. Tidak kaku.
"Sebaiknya tidak, nanti malah menimbulkan masalah." Meilinda betul-betul harus menghindar, perasaannya tidak enak.
"Jadi masalah gimana, kita kan temenan. Wajar dong seorang teman membantu teman yang lain, kamu kan ga dirugikan malah diuntungkan dan aku senang. Jadi kita sama-sama untung disini." Jawab Revan.
"Boleh saya tahu alasannya?" Nada bicara Linda berubah tegas, sekejap dia menatap tajam pada Revan tapi kemudian dia menundukkan pandangannya.
"Karena aku pengen mengenal kamu lebih dekat." Revan menatap lekat Linda.
__ADS_1
Adzan berkumandang dari masjid belakang cafe, Linda meminta waktu untuk melaksanakan shalat bersama Haikal. Karena mereka sudah selesai makan, Revan pun membayar di kasir dan mengatakan akan menunggu mereka di mobil.
"Om ndak ikut shalat di masjid?" Tanya Haikal polos. Dijawab dengan gelengan kepala oleh Revan.
"Kenapa om Revan gak ikut shalat, bund?" Haikal bertanya pada bundanya dalam perjalanan ke masjid.
"Bunda juga ndak tau, nak. Sudah lah, sebaiknya kita cepat. Gak enak ditungguin." Ajak Linda.
Setelah mereka sudah berada didalam mobil, Revan pun melajukan mobil menuju kantornya. Dia tadi mendapat laporan kalau motor Linda sudah siap di kantor. Pak Rahmat tadi hanya memompa ban motor itu dikantor, lumayan upahnya bisa untuk tambahan uang belanja istrinya dari pada dia bawa ke bengkel.
"Haikal pamit dulu, om. Makasih ya udah diajak makan sama jalan-jalan naik mobil tadi, kereeenn om hehe." Haikal mencium punggung tangan Revan. "Assalamualaikum..." Lanjutnya berpamitan, tak ada jawaban dari Revan.
Esok harinya, Linda kembali dengan aktivitasnya. Dia pun tetap mengantar katering untuk kantor Revan sebelum dia menjemput Haikal.
Linda naik ke lantai 3 tempat ruangan Revan berada dengan membawa kotak makan katering.
"Pak Revan baru saja keluar, mbak. Makanannya taruh dimeja sofa aja ya, makasih mbak." Setelah melakukan pekerjaannya, segera Linda melaju menuju sekolah Haikal. Walau masih awal, dia tetap menepikan motornya di masjid biasa. Sedikit repot kalau dia shalat di masjid sekolah, karena biasanya dipakai para siswa jadi sedikit sesak. Sambil menunggu, dia gunakan untuk mengaji.
Linda mencari-cari Haikal diantara sedikit siswa yang belum dijemput, tumben anak itu tidak menunggunya di depan masjid. Tidak lama kemudian seorang satpam mendekatinya.
"Bapak yang mana? Biasanya kan cuma saya yang jemput, pak. Kenapa bapak biarkan Haikal dijemput tanpa konfirmasi dulu!" Linda mulai panik.
"Tadi sudah telpon ibu, bahkan bapak tadi juga bantu telpon tp tidak ada jawaban. Nak Haikal bilang kenal sama bapak tadi, bilangnya om Revan. Beliau juga meninggalkan KTP nya bu, karena awalnya kami tidak mengizinkan beliau menjemput. Ini, bu KTP nya." Satpam itu menyerahkan sebuah kartu pada Linda.
Revan Wibowo
Belum menikah
Katolik
Meilinda pamit setelah mengatakan bahwa dia mengenal laki-laki yang menjemput putranya. Dia melajukan motornya segera kembali ke kantor XX.
__ADS_1
"Haikal, kita pulang!" Perintahnya setelah melihat putra satu-satunya itu sedang makan camilan di ruangan Revan.
"Tapi, bunda... Iya, bunda." Awalnya dia akan menolak karena masih belum menghabiskan makanannya, tapi melihat muka Linda yang terlihat menahan marah dia pun menurut dan membereskan perlengkapannya.
"Tunggu, Lin. Haikal kan belum selesai, kita masih mau main dulu ya kan?" Cegah Revan.
"Maaf, pak Revan yang terhormat. Saya rasa cukup anda melakukan semua ini, apa pun tujuan anda, tapi maaf sekali lagi sebaiknya anda batalkan. Kami bukan siapa-siapa, dan tidak akan menjadi siapa-siapa dalam kehidupan anda. Ini Kartu anda, tolong jangan mempersulit kami." Linda menahan amarahnya.
"Kamu yang mempersulit diri kamu sendiri, Lin. Aku ingin membantu..." Bantah Revan
"Saya tidak pernah meminta bantuan anda dan kami baik-baik saja." Jawab Linda. Dia menarik tangan Haikal beranjak dari sana tidak ingin menjadi tontonan lebih lanjut karena diluar mulai terdengar bisik-bisik beberapa karyawan yang mendengar mereka, karena saat itu Linda memang tidak menutup pintu ruangan Revan.
"Bunda marah? Maafin Haikal ya, bund." Ucap Haikal ketika mereka sudah sampai dirumah dan sudah membersihkan diri.
"Kenapa tadi Icalikut om Revan, bunda kan ga bilang Ical boleh dijemput orang lain, harusnya tadi Ical nunggu bunda. Kalau ada apa-apa pasti bunda kabari lewat ustadz kan biasanya." Linda memberondongi Haikal.
"Maaf bund, Ical salah. Tadi om Revan maksa, om Revan juga udah coba telfon bunda tapi ga diangkat. Terus om Revan bilang kalo bunda antar makan siang om Revan ke kantor, jadi Ical bisa ketemu bunda disana. Biar bunda ga usah capek jemput ke sekolah, kasihan gitu katanya. Jadi Ical ikut. Besok-besok enggak lagi, bund Ical cuma bakal pulang sama bunda aja." Haikal memberi dua jari didepan mukanya ✌, Linda dibuat gemas jadinya.
Meilinda memberanikan diri kembali meminta Tejo yang mengantar katering ke kantor XX, dia berkata bahwa urusannya dengan pak Revan sudah selesai dan beliau tidak akan menuntut katering itu lagi. Dia berjanji jika ada masalah tetap akan bertanggung jawab.
Ketika Revan melihat Tejo yang mengantarkan kateringnya, dia langsung meraih HP nya dan membuka aplikasi chat.
Revan: Kok gak nganter katering lagi? Kamu marah?
Linda yang sedang menunggu Haikal menyelesaikan shalat Jumatnya di sekolah membaca chat yang baru saja masuk, nomor tanpa nama. Tapi dia mengenali nomor itu, nomor yang kemarin berkali-kali misscalled saat menjemput Haikal, yang diyakininya adalah nomor Revan.
Linda mengacuhkannya.
.
.
__ADS_1
.
.