Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
47.


__ADS_3

Assalamualaikum temans,


Sekali lagi Author minta maaf di episode ini masih terdapat adegan yang agak gimana gitu... Bagi pembaca yang masih single dimohon untuk lebih bijaksana ya...


Terimakasih dan Happy reading,


♡♡♡


Mereka sudah sampai di pondok saat malam, belum terlalu larut tapi suasana pondok sudah hening karena penghuninya sudah beristirahat. Menjelang ujian semester, jam istirahat malam dipercepat agar pagi-pagi santri dan santriwati bisa bangun dengan fit dan belajar.


"Besok saja Mey dibereskannya, sudah malam, istirahat saja."


Meilinda mengangguk karena memang merasa lelah, dia masuk ke kamarnya mengambil baju ganti dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Abdul membersihkan diri di kamar utama, selesai lebih cepat dan menunggu di sofa ruang tengah sambil tilawah.


Dia melihat istrinya telah selesai maka ditutupnya dengan doa dan meletakkan Al-Qur'an. Dia berjalan mendekati Meilinda, yang berjalan menuju kamarnya.


"Mau kemana, Mey?"


"Istirahat..." Dia berkata sambil menunjuk kamarnya.


"Enggak disana aja?" Abdul menggeser jari telunjuk Meilinda kearah kamar utama.


"Maaf, disini aja deh." Jari Mey kembali menunjuk ketempat asal, lalu melangkah. Abdul berjalan mengiringinya, bersandar pada tembok dan terus memperhatikan istrinya dengan mata berkedip-kedip seperti adegan film kartun saat tokohnya sedang memohon. Meilinda terkekeh melihat kelakuan suaminya.


Cup


Dia segera masuk kedalam kamar dan menutup pintunya setelah mencuri kecupan dibibir suaminya.


***


Abdul mendengar salam dijawab dari arah dapur, istrinya pasti sedang mempersiapkan sarapan. Dia beranjak mendekatinya, dan dilihat Mey baru selesai mematikan kompor. Dia mengalungkan lengan di pinggang istrinya, dan mengunci diperut dengan erat hingga tubuh mereka menempel rapat. Hidungnya menyusuri ceruk leher istrinya, tempat favoritnya.


"Kak Bas iiihh, geliii..."


"Ini bund, jeruk purutnya... Ups, ga liat kok..." Aisyah yang sejak tadi sudah mampir berkunjung dan keluar ke kebun belakang mengambilkan jeruk purut untuk tambahan sambal yang Mey buat langsung saja masuk lewat pintu belakang, penghubung rumah dengan area asrama akhwat.


"Kak Bas, lepas! Malu..."


Abdul memang mengangkat kepalanya, melonggarkan pegangannya tapi tidak melepas ikatannya. Dia memperhatikan adik semata wayangnya itu sedang meracik sambal, Mey bergerak-gerak gelisah dalam kungkungannya.


"Tahu gak, dek. Akang sudah dapat restu dari keluarganya Mey."

__ADS_1


"Tahu, bunda sudah cerita. Tapi apa sudah gol..."


"Aish iiihhh...mulutnya itu..." Meilinda merengut.


"Tunggu aja, bentar lagi juga." Abdul mengecup pipi Meilinda dan beranjak kedalam, Meilinda menghembuskan nafas lega.


"Bund, emang masih belum bisa ya? Kasihan tahu kang Abdul." Meilinda termenung mendengarnya.


"Laki-laki kan tidak seperti perempuan, kelamaan menahan itu bikin sakit, bisa jadi penyakit juga. Diluar sana banyak laki-laki yang tidak bisa menahan, lalu menyalurkannya ditempat lain. Sudah banyak korbannya, atau terjadi penyimpangan. Kang Abdul bisa bertahan seperti itu sudah luar biasa, padahal punya istri cantik dan sehat. Ustadz juga manusia loh xixixixi. Udah ah, Aish pulang dulu menemui kakanda tercintah dirumah hahaha."


Meilinda menata makanan diatas nampan, menggelar alas makan diatas karpet dan meletakkan nampan diatasnya. Dia siapkan dua gelas air putih dan meletakkan teko berisi air putih di sampingnya, ada potongan buah dan sejumput garam. Hidangan yang disediakan sederhana saja, tapi terasa nikmat ketika mereka makan berdua dalam satu alas makan. Abdul tidak segan menyuapinya, tidak pernah mengeluh tentang masakannya bahkan selalu memuji.


Jika Meilinda pikir-pikir lagi, apa kekurangan lelaki yang sudah menjadi suaminya dan sangat mencintainya itu. Dia tidak pernah membentak apa lagi memaki, jika Mey punya salah akan ditegurnya. Kak Bas juga tidak pernah mengeluhkan atau memaksanya, selalu lembut dan sayang. Perasaannya terasa tulus, apa mungkin sikapnya akan berubah acuh setelah mereka melakukannya?


Tapi lihat Aisyah dan juga pengasuh di rumah singgah, mereka nampak bahagia menceritakan kehidupan rumah tangga mereka. Dari hari ke hari katanya suami semakin mesra...


"Kumat lagi ini penyakitnya, melamun. Jadi makan gak nih, makanan kok cuma dipelototin sampe ga sadar suami sudah duduk ganteng disebelah." Ucap Abdul mencubit hidung dan menyadarkan Mey dari lamunannya.


Ish ini gara-gara Aisyah nih, pagi-pagi ngajak ngobrol begituan. Mereka pun memulai dengan makan buah setelah berdoa. Hari-hari dilanjutkan dengan kegiatan seperti biasa.


Ningrum: Pengantin baru jadi yah, ke Solo liburan sekolah?


Abdul: InsyaaAllah mbak, sudah pesan tiket tapi pulang kerumah Mey dulu silaturahmi.


Meilinda: Ndak mau, habis lah nanti kita malah gak tidur diajakin bergadang terus.


Seno: Lha iya dong, mumpung kumpul. Kalo mau ngamar ya di hotel hahaha


Tiar: Mau diagendakan kapan ini ijab qobulnya? Apa mau sekalian di Solo aja? Jadi bisa disiapkan berkas-berkas dari sana.


Bima: Bisa banget, mas. Nanti ta uruske neng kantor, aku punya temen orang dalam, gampang lah urusannya itu.


Ayu: Kita coba cari tiket ke Solo juga secepatnya, kabari tanggal tepatnya dek, buat ajukan cuti juga, cari tiket pas liburan angel je.[susah]


Percakapan ditutup karena hari sudah malam, malam di kota T sangat pekat. Sesekali petir dikejauhan menampakkan kilatnya disusul gemuruh, tidak berapa lama hujan turun dengan lebatnya. Pondok sudah terlelap walau suara hujan menderu disertai petir. Meilinda tidur dengan gelisah, akhir-akhir ini ada yang terasa kurang dalam tidurnya. Dia merindukan dekapan hangat Abdul, suaminya. Detak jantung Abdul seperti nyanyian pengantar tidur untuknya, tapi untuk berpindah kamar Mey masih takut dan malu.


Petir menyambar dengan keras, meninggalkan kegelapan. Mey berusaha mencari HP nya mencari sedikit cahaya dari layarnya, apa penjaga tertidur sehingga genset belum juga dinyalakan. Meilinda keluar kamar, rasanya sesak berada didalam ruangan gelap. Ruang tengah lebih terlihat nyaman, ada cahaya sedikit masuk dari lampu-lampu darurat yang terpasang diluar rumah. Suara genset berderu disela- sela hujan, sebagian lampu pondok sudah menyala.


"Mey, gak bisa tidur?" Meilinda mengangguk, Abdul duduk disampingnya memeluknya dari samping dan mendekapnya. Meilinda mencari posisi nyaman, mendesak masuk menempelkan telinganya di dada sang suami. Abdul tersenyum bahagia, dia mengecup puncak kepala istrinya.


Mengapa masih sulit matanya untuk terpejam, kantuknya hilang gara-gara petir yang mengagetkannya tadi. Jarinya bermain membuat lingkaran-lingkaran kecil di dada Abdul, sepertinya Abdul sudah terlelap pikirnya. Lama dia melakukannya, kadang jarinya dibuat seperti mainan berjalan melangkah. Disela keasyikannya dia mendengar suara menggeram, dia melihat keatas wajah suaminya tampak tegang.


"Kak Bas belum tidur? Maaf geli ya, kirain udah tidur tadi hehe."

__ADS_1


"Boro-boro tidur, Mey, malah bangun ini."


"Hah?!"


"Itu dibawah..." Dagu Abdul menunjuk bagian bawah tubuhnya. Meilinda mengikuti arah yang ditunjuk dan melihat tonjolan besar dibalik sarung suaminya, seketika Meilinda duduk menegakkan tubuhnya tapi tidak beranjak.


Abdul ikut duduk, mereka berhadapan dan saling mendekat. Tangan Abdul memegang rahang Meilinda, bergerak ke belakang leherny, bibir mereka bertemu dan menyatu. Ciuman, ******* awalnya berlangsung lembut namun lama kelamaan menjadi semakin panas. Abdul melepaskan tautan itu, kening mereka menempel dengan nafas terengah-engah.


"Kak Bas pengen, Mey, gak kuat..." Ucapnya serak, dada Meilinda naik turun, ditatapnya mata Abdul. Lama sampai akhirnya dia menganggukan kepalanya, mata Abdul berubah cerah. Digenggamnya tangan Meilinda.


"Kita wudhu dulu." Ajaknya menuju kamar mandi dalam kamar utama, Abdul membimbing Meilinda masuk kamar mandi terlebih dahulu dan dia mendapat giliran setelah Meilinda keluar.


Meilinda berdiri dengan gugup, dia menggosok-gosok tangannya. Abdul sudah memeluknya dari belakang, menghirup udara dileher Meilinda, mencium dan menghisapnya menimbulkan desahan yang keluar tanpa disadari.


Meilinda membalikkan badannya menghadap Abdul, mengalungkan tangan dilehernya dan kembali mulut mereka saling *******. Semua terjadi secara naluriah, sampai akhirnya Meilinda sudah terlentang diatas tempat tidur dengan tubuh Abdul menindihnya. Abdul membimbing Mey melafadzkan doa, dan mereka pun melakukan apa yang memang seharusnya terjadi.


Keduanya terenggah setelah olahraga malam, hujan diluar sudah berganti dengan gemericik gerimis. Listrik sudah sedari tadi kembali menyala, suasana hening syahdu diluar. Meilinda merebahkan diri dengan posisi miring membelakangi suaminya, dadanya masih turun naik sedang pikiran menerawang. Abdul mendekatinya dan memeluknya dari belakang, menyelimuti tubuh polos mereka berdua. Dia mencium pundak Mey dan berbisik.


"Terimakasih istriku, Ana uhibuka fillah." Ucapnya sambil terus mengecup sang istri berkali-kali. "Kak Bas siapkan air panas buat mandi ya, tidak baik tidur dalam keadaan junub" Lanjutnya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Meilinda termenung, ini pertama kalinya dia mengalaminya. Perlakuan suaminya lembut, setelah selesai pun tidak berubah bahkan bertambah. Tidak terasa dia menitikkan air mata, Abdul yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk sebatas perut sampai betis melihatnya terisak langsung berhambur.


"Mey sayang, kenapa menangis, apa ada yang sakit? Maafkan kak Bas, sayang." Abdul panik sekali berkata sambil memegang pipi Meilinda dan berusaha menghentikan tangisnya. Meilinda tersenyum sambil terus terisak dan menggelengkan kepalanya, tidak ada yang bisa dia ucapkan.


Dia rengkuh tubuh suaminya, hingga membuat Abdul kebingungan.


"Mey, ada apa...jangan begini, maaf kalo kak Bas salah..." Mereka terdiam sambil tetap berpelukan.


"Mey, yang bawah bangun lagi ini..." Abdul gelagapan. Meilinda melepaskan pelukannya, menatap Abdul dan ******* bibir suaminya itu. Mereka lupa air yang sudah disiapkan kini sudah menjadi dingin lagi menunggu aktifitas kedua mereka.


Keduanya kelelahan dan terlelap dengan berpelukan.


.


.


.


.


[Malu sendiri tulis beginian, ikut dek-dek an ini🙈]


...


...

__ADS_1


__ADS_2