Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
37.


__ADS_3

Abdul merebahkan diri diatas sofa yang sandarannya kini sudah diturunkan agar lebih leluasa untuknya tidur. Pikirannya masih menerawang, banyak hal sudah terjadi hari ini. Masih terbayang dipelupuk mata, wajah cantik putrinya. Matanya yang bulat tampak menahan kantuk, wajarlah tadi mungkin sudah lewat waktu tidurnya.


Lalu teringat kejadian pagi tadi, kini dia memiliki tanggung jawab lain. Dia membuka galeri di HP nya, membuka-buka moment yang tadi sempat diabadikan. Ada video saat dia mengucap janji suci, beralih pada foto-foto dan berhenti di fotonya yang bersanding dengan Meilinda. Dipandanginya lama wajah itu, bahkan sampai dia zoom wajah ayu wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Abdul mengirim foto itu, terkirim..., dibaca...


Abdul: Belum tidur, Mey?


Mey: Belum.


Diam lama.... Banyak yang ingin dia bicarakan, tapi sikap dingin Mey membuatnya ragu. Dia sangat khawatir telah membuat wanita itu tertekan. Mey masih online...


Abdul: Mey cantik sekali difoto itu, kak Bas suka. Tapi memang dasarnya Mey sudah cantik kok walau tanpa make up, alami cantiknya.


Mey: Terimakasih.


Abdul: Akhirnya kita menikah, Mey.


Terkirim..., dibaca. Lama tidak ada balasan.


Abdul: Mey menyesal?


Mey: Tidak.


Abdul: Ya sudah, istirahat lah. Selamat tidur, istriku...


Meilinda menatap layar HP lama... Akhirnya dia tutup aplikasi chat itu, dan memeluk gulingnya. Abdul yang masih menunggu dengan harap harap cemas akhirnya meletakkan benda pipih itu. Dia menghela nafas, setidaknya bisa sedikit membuat lega dan tersenyum simpul memikirkan seharusnya ini adalah malam pertama nya menjadi pengantin lagi.


Sudah beberapa hari setelahnya, Mey selalu mengunjungi rumah sakit untuk membawakan makanan untuk Abdul, meletakkan baju ganti dalam lemari yang disediakan di rumah sakit dan membawa baju kotor untuk dicuci dirumah.


Dia memilih berlama-lama di rumah sakit menemani Ummi, daripada di pondok. Tidak nyaman rasanya harus melayani tamu yang datang berkunjung kerumah, ingin berkenalan dengan istri mudanya sang ustadz. Walau dia juga merasa canggung berada satu ruangan dengan lelaki itu, tapi setidaknya ada Ummi dan dia tidak harus melayani pertanyaan orang. Kondisi Ummi semakin menurun, Mey benar-benar berharap Ummi bisa sembuh.

__ADS_1


"Hhmmm..."


Meilinda baru saja selesai shalat Dhuhur ketika dia mendengar suara Ummi. Segera dia melipat mukenanya dan menghampiri tempat tidur Ummi.


"Ummi butuh sesuatu? Ustadz sebentar lagi kembali, sedang shalat Jum'at dulu di masjid." Ucapnya, entahlah apakah Ummi menyadari tentang waktu atau hari, karena belakangan ini lebih sering tertidur.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam, ustadz... Ummi." Baru saja dia akan beranjak, Ummi menahan tangannya sehingga dia akhirnya kembali duduk. Abdul mendekati istrinya, dia meraih tangan Ummi yang terjulur kearahnya.


Ummi meletakkan tangan Abdul diatas tangan Mey, ini pertama kalinya kulit mereka bersentuhan karena dalam acara ijab qabul kemarin tidak ada seremonial salim antara pasangan pengantin. Jantung berdegub dengan kencang, bertalu-talu seperti terkena sengatan listrik. Pandangan mereka beradu, Mey tenggelam dalam mata teduh milik Abdul.


Sampai akhirnya mereka mendengar nafas Ummi memburu, Mey segera menekan bel untuk memanggil perawat. Abdul mendekatkan bibirnya ditelinga kanan Ummi, melafadz kan kalimat syahadat berulang kali dengan suara bergetar. Satu hembusan nafas, kemudian Ummi terkulai lemah. Meilinda menutup mulut dengan kedua tangannya, kemudian perawat datang dan memeriksa keadaan Ummi. Abdul mundur dua langkah, air mata sudah berderai dipipinya.


Dokter jaga masuk kedalam ruangan diikuti satu perawat lagi, dokter menyatakan rasa belasungkawa. Perawat mulai melepas peralatan medis yang menempel ditubuh Ummi. Meilinda terduduk dilantai. Setelah perawat keluar, Abdul mendekati istrinya. Satu-satunya istri dia sekarang.


Meilinda pasrah ketika Abdul meraih pundaknya dan membimbingnya menuju sofa. Abdul ingin sekali merengkuh tubuh Meilinda, dia berhak melakukannya, dia juga butuh, tapi tidak dia lakukan. Dia akan menunggu sampai istrinya itu mengizinkan.


Tidak lama kemudian Aisyah masuk kedalam kamar, langsung menghampiri dan memeluk Meilinda. Tadi dia bertemu dengan Abdul di depan sedang mengurus administrasi. Abdul meminta Ais untuk menjaga Mey, sedangkan Arief menemaninya. Aisyah mengajak Mey pulang ke pondok diantar Ustadz Saiful, di pondok banyak orang saling membantu mempersiapkan menerimaan jenazah dan pemakaman.


Jenazah dikebumikan esok pagi, para pelayat berdatangan silih berganti. Abdul lebih banyak menghabiskan waktu di masjid, menemui tamu yang melayat. Aisyah bertindak sebagai tuan rumah di area akhwat, sesekali Meilinda ikut menemani tapi dia lebih nyaman berada didalam karena belum mengenal banyak orang.


Abdul akan pulang setelah larut malam untuk istirahat di kamar utama, jauh setelah Mey tertidur dikamarnya, kamar tamu. Terkadang malah Abdul tidak pulang dan beritikaf dimasjid. Sudah diumumkan bahwa setelah tiga hari kegiatan pondok akan kembali seperti semula, tenda di depan masjid sudah dibongkar, kursi-kursi sudah dirapikan.


Abdul pulang dan duduk diruang depan, Mey sedang membantu bik Asih menyiapkan sarapan. Setelah menjawab salam, Mey membuatkan teh jahe untuk Abdul dan membawanya kedepan. Dilihatnya mata Abdul terpejam, perlahan dia meletakkan cangkir dimeja kemudian beranjak.


"Duduk sini, Mey, temani kak Bas." Suara itu menghentikan langkahnya. Ragu-ragu dia balikkan badannya, dan duduk di kursi berjarak dengan Abdul. Mereka saling diam, larut dalam pikirannya masing-masing.


Lama-lama Mey bosan duduk diam, pandangan yang selama ini dia arahkan ke lantai mulai diangkat. Pegal juga rasanya tengkuk ini karena menunduk terus, baru disadarinya ternyata ustadz Abdul sedang memperhatikannya. Dia jadi semakin salah tingkah dibuatnya.


"Ustadz liat apa, apa ada yang aneh ya?" Mey mencoba membetulkan baju, hijab yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa.

__ADS_1


"Cuma pengen dipuas-puaskan memandangi Mey saja, kalau sekarang kan boleh menikmati kecantikan Mey, tidak akan menjadi zina mata." Jawabnya tenang.


"Tolong jangan seperti itu."


"Hehehehehe kamu tuh ngegemesin, pengen deh kak Bas cubit pipinya." Abdul berkata sambil berlalu kedalam untuk membersihkan diri. Meilinda melotot melihat kelakuan Abdul yang baru ini dia ketahui.


Image yang dia ketahui dari seorang ustadz adalah suka memberi ceramah, hidupnya diisi dengan petuah-petuah, aturan-aturan. Sebenarnya Mey sangat kesepian disini, biasanya dia akan bergabung dengan ustadzah dan santriwati di asrama. Tapi sejak menikah dengan ustadz Abdul, dia membatasi diri, lebih banyak diam dirumah menunggu sang suami pulang.


"Maaf bu, sarapannya sudah siap. Sekalian saya pamit, bu."


"Bik Asih mau kemana?"


"Saya kan sudah tidak dibutuhkan disini, saya kembali ke dapur umum. Rumah ini sudah ada bunda Mey yang mengurus, begitu amanah dari Ummi. Kemarin saya sudah sampaikan teh Ais, tapi kata teh Ais tunggu sampai selesai. Ini kunci belakang, saya kembalikan." Papar bik Asih sambil menyerahkan kunci.


Artinya mulai sekarang dia yang akan mengurus rumah ini, jadi mulai sekarang hanya ada dia berdua dengan ustadz Abdul dirumah ini. Walau selama ini bik Asih memang lebih banyak dibelakang, tapi kan ada.


"Mey, kok melamun?" Abdul ternyata sudah ada dibelakangnya membuat Meilìnda terkejut. Penampilannya berbeda hari itu, hanya kaus oblong polos berwarna putih dan sarung. Rambutnya masih basah setelah mandi, dibiarkan tanpa peci. Wangi sabun menyeruak dari badannya, Meilinda segera bangun dari lamunan dan melihat Abdul telah duduk dikursi. Dia mengambil nasi dan lauk untuk sarapan, Meilinda ikut duduk disampingnya.


Awalnya dia pikir Abdul mengambil makanan untuk dirinya sendiri, tapi ternyata dia letakkan didepannya. "Makan yang cukup, akhir-akhir ini kak Bas lihat makanmu hanya sedikit. Habiskan, biar gak terlalu kurus, nanti cantiknya hilang." Ucapnya kembali mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Harusnya saya yang melayani ustadz, mengambilkan makanan." Ucap Meilinda lirih


"Tidak ada aturan pakem yang mengatakan seorang istri harus melayani suami, yang ada istri mendampingi suami. Sandang, pangan, papan wajib suami berikan pada istri. Jadi tidak masalah jika suami yang melayani istri, justru kak Bas ingin melayani istri."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2