
Assalamualaikum temans,
Episode ini ada sedikit cerita yang agak gimana gitu ya mengenai masa lalu dari Meilinda sehingga dia memiliki traumatik dalam melakukan hubungan dengan pasangan, tapi tenang tidak akan seheboh novel sebelah kok...Karena memang Author tidak bisa menulis seperti itu, maaf kalau ada pembaca yang kecewa...
Happy reading,
♡♡♡
Meilinda berlari masuk ke kamarnya, mengunci pintu dari dalam. Sungguh mati bingung Abdul menyikapi sikap istrinya ini, kejadian malam itu ketika Mei menangis semalaman sampai demam membuatnya ketakutan.
"Assalamualaikum, dek. Bisa kerumah sekarang? Akang tunggu, penting."
...
"Bund, ini Ais. Buka pintu, biar Ais masuk."
Ceklek...
Mata Meilinda sembab, air mata masih mengalir. Setelah Aisyah masuk, pintu kembali ditutup. Abdul menunggu gelisah diluar kamar, terkadang duduk di kursi makan tidak jauh dari sana, terkadang mondar-mandir di depan pintu begitu terus seperti seorang ayah menantikan kelahiran anak di bidan. [😂]
"Cerita Bund, ada apa? Apa yang membuat bunda sulit sekali menerima kang Abdul?"
"Bukan Mey yang tidak bisa menerima kak Bas, tapi sebaliknya..."
"Kok bisa, bukannya bunda sudah dengar sendiri kang Abdul mencintai bunda."
"Kalau kak Bas tahu, pasti berubah jadi benci, aahh tidak, jijik..." Mey menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Apa yang sudah terjadi, bund. Cerita lah, Ais paling mengenal kang Abdul seperti apa, tidak mungkin akan berpikiran begitu."
"Sebagai anak perempuan satu-satunya dengan 3 kakak laki-laki, Mey sangat dilindungi, bahkan mereka terlalu over protektif. Kemana-mana Mama selalu meminta salah satu dari kakak menjadi bodyguard, beberapa kali Mey menjalin hubungan dengan teman laki-laki tidak pernah bertahan lama karena mereka risih. Sampai waktu SMA, Mey suka banget bahkan jatuh cinta sama kakak kelas. Mey mulai sering berbohong agar bisa jalan sama dia tanpa pengawasan kakak. Dia mulai berani sama Mey, awalnya cuma pegang tangan, lalu minta ciuman lama-lama dia mulai meraba-raba. Mey takut padanya, tapi Mey juga tidak suka. Dia mulai sering mengancam akan mengakhiri hubungan jika menolak, yang bisa Mey lakukan hanya mengulur waktu." Meilinda menghentikan ceritanya karena terisak, Aisyah menunggu dengan sabar sambil menggenggam tangan kakak iparnya itu.
"Dia semakin memaksa, dia sebentar lagi lulus dan akan kuliah. Kalau Mey gak bisa membuktikan cinta padanya maka dia akan mencari pacar lain di kampus nanti, katanya. Untuk merayakan kelulusannya, kakak-kakak kelas mengadakan pesta kecil-kecilan di salah satu villa milik teman. Dia bilang itu kesempatan terakhir. Singkatnya hampir saja kami melakukannya, dia bahkan sudah membuka baju Mei. Kami kena gerebeg petugas dan diamankan di kantor polisi, dan entah siapa yang merekam dan menyebarkan video saat Mey dan dia sedang bercumbu. Sekolah geger, Mey malu sekali. Keluarga Mey juga merasa malu."
"Sudah lah Bund, itu hanya masa lalu... Waktu itu Bund masih labil dan kurang pengawasan."
"Bukan sekali itu saja, teh. Saat kuliah juga, semua laki-laki hanya ingin kepuasan jika tidak maka dia akan ditinggalkan. Mey selalu putus ketika dia tahu Mey tidak mau melakukan itu, Mey trauma. Dan selalu ada saja yang tidak terima, bahkan memaksa. Kadang sampai melakukan kekerasan fisik, Mey hampir saja menjadi korban pemerkosaan. Semua laki-laki tuh sama, butuh pelampiasan. Jika tidak dapat, matanya langsung gelap, yang katanya cinta, sayang akan hilang kalau kita tidak mau melayaninya."
"Lalu..., maaf mendiang suami Bunda?" Meilinda menarik nafas panjang.
"Mas Hamdan bukan tipe lelaki yang romantis, yang memuja-muja pasangan. Dia seorang pekerja keras, dia selalu berpikir bagaimana keluarganya bisa hidup aman dan nyaman. Dia juga menanggung Ibu juga adik perempuan yang masih kuliah setelah bapak mertua meninggal, sampai dirumah sudah sangat lelah. Awal menikah kami masih tinggal dirumah ibu, hanya ada dua kamar disana. Mas tidur di ruang keluarga, Mey sama adek ipar. Jika mas Hamdan ingin melakukannya, dia akan memanggil lalu Mey segera kembali ke kamar setelah semua selesai dengan cepat."
"Kami mulai mengontrak rumah setelah Haikal lahir, karena tidak memungkinkan lagi tinggal dirumah Ibu dan Bapak. Tapi karena pekerjaan yang menyita waktu serta tenaga sehingga jika malam mas Hamdan butuh istirahat, dan dia tidak bisa istirahat kalau Haikal yang masih bayi terbangun-bangun dimalam hari. Jadi kami tidur terpisah, seperti biasa jika mas Hamdan butuh maka Mey akan mendekati jika selesai cepat-cepat kembali sebelum Haikal terbangun."
"Mey pernah menceritakan hal ini pada Ibu, kata Ibu memang semua laki-laki begitu. Setelah dia puas ya sudah.... Memang Mey bukan istri yang baik karena Mey merasa seperti wanita panggilan yang setelah selesai kemudian pergi." Meilinda kembali terisak.
"Apa Haikal tidak tidur dikamar sendiri?"
__ADS_1
"Setelah Haikal besar memang dia tidur sendiri, teh. Semakin besar anak, semakin besar tanggung jawab mas Hamdan. Saat itu pula Bapak meninggal, sehingga tanggungan mas Hamdan pun bertambah. Dia pulang dalam keadaan lelah, setelah melakukan akan langsung tertidur."
"Pernah sekali waktu Mey tanyakan hal ini pada mas Hamdan, jawabannya hampir sama dengan Ibu. Mas Hamdan bilang menikah bukan baru kemarin, bukan lagi pengantin baru tak perlu lah itu romantis-romantisan."
"Maaf bund, apa bunda pernah menikmati hubungan itu?"
"Entah lah, Mey juga bingung yang disebut dengan menikmati itu bagaimana? Kami melakukannya secara langsung, jadi harus bagaimana lagi? Sakit diawal saat masuk sudah biasa kan.... Tapi..."
"Tapi kenapa, bund?"
"Maaf, Mey ga mau melakukannya. Takut, perihnya kadang terasa agak lama..." Aisyah membelalakkan matanya.
"Jujur, sebenarnya Mey mulai menyukai perhatian kak Bas. Nyaman sekali saat kak Bas memeluk, sama seperti orang sedang pacaran. Tapi Mey takut setelah itu kak Bas akan berubah, maka dari itu selalu menjaga jarak. Mey tidak mau kak Bas berubah, Mey memang egois tidak pantas untuk ustadz Abdul."
"Astaghfirullah, bunda, tidak seperti itu. Hubungan suami dan istri itu hubungan yang alamiah, kang Abdul bukan orang yang seperti itu. Dia lelaki penyayang, tolong beri dia kesempatan untuk membuktikannya. Percaya bund sama Aish," Aisyah memeluk kakak iparnya dengan pilu.
Malam sudah larut, Meilinda tertidur karena kelelahan bathin. Aisyah menceritakan secara singkat trauma yang dialami Meilinda. Dia meminta kakak nya itu untuk bersabar dan selalu memberinya kasih sayang, karena itu yang dia sangat butuhkan. Abdul menitikkan air mata sedih, memikirkan wanita yang dicintainya itu selama ini menderita.
Abdul tidak henti-hentinya memandang Meilinda saat sarapan bersama pagi harinya.
"Kenapa kak Bas liatinnya terus sih?"
"Karena istri kak Bas ini makin dilihat makin cantik..., oh ya kemarin belum jawab pertanyaan kak Bas?"
"Tanya yang mana?"
Meilinda menundukkan kepalanya. Acara sarapan sudah selesai, mereka membereskan peralatan makan dan menyimpan ke belakang. Saat Abdul akan berangkat, dia menghampiri Mey.
"Boleh kak Bas lepas? Kemarin belum puas lihatnya keburu kabur." Meilinda berdiri terpaku. Abdul perlahan mengangkat hijab model bergo yang Mey kenakan, menatap wajah istrinya bermahkotakan rambut. Dikecupnya lama kening sang istri, bibir lembut dan basah itu menempel sempurna dikening Mey.
"Ana uhibuka fillah, Mey. Rasa ini tidak akan hilang bahkan akan terus bertambah, bertahanlah disamping kak Bas. Apa pun yang Mey rasakan katakan pada kak Bas, begitu pun dengan kak Bas akan selalu jujur. Kak Bas tidak berubah dari dulu, dan sampai nanti akan selalu memperlakukan dan memberikan kasih sayang untuk Mey. Assalamualaikum."
Mey termenung cukup lama menghayati setiap kata yang kak Bas ucapkan barusan, indah. Ingin sekali dia percaya, karena rasanya kak Bas tidak seperti yang lainnya itu, tapi sulit rasanya...dia tidak mau kembali jatuh ketika dia sudah terlanjur sayang.
Kesibukan pondok membuat kak Bas juga jarang ada dirumah, setelah sarapan sudah berangkat dan akan pulang setelah isya. Meilinda pun jika siang akan makan bersama anak-anak di rumah singgah, membuat hatinya terasa terhibur. Maka momen setelah sampai dirumah itu yang dipakai Abdul untuk lebih mendekatkan diri dengan istrinya.
Seperti malam itu, Mey sudah menunggu di sofa sambil menonton berita, tanpa menggunakan hijab. Abdul tersenyum senang, mendudukan badannya disebelah Mey melingkarkan tangan dipundak Mey dan mengecup rambut istrinya.
"MasyaaAllah istri sholehah menurut keinginan suami, terimakasih jadi makin cinta hehe sekarang giliran Mey, pengen apa nih dari suami. Ayo ngomong aja, atau cerita aja deh apa yang Mey rasakan, atau cerita ngapain aja hari ini?"
"Biasa aja, ke rumah singgah. Ya gitu-gitu aja sih, ga penting juga kayaknya diceritain."
"Penting dong, setiap momen itu penting jadi kita bisa tahu apa pandangan pasangan kita, jadi lebih mengerti pemikiran pasangan." Meilinda terdiam, yang dia tahu bahwa pendapat Ibu dan Bapak yang dituruti. Mas Hamdan sebagai suami juga sering memberinya pendapat jika dia ada masalah, tapi lebih suka bilang kalo dia sebaiknya tidak usah mengurusi orang belum tentu orang juga mau ngurusi kita. Coba kita dengar pendapatnya.
"Ternyata anak-anak di rumah singgah banyak yang memiliki pengalaman buruk sebelumnya ya, kak. Mey prihatin pada mereka, sekecil itu."
"Iya, ini baru sebagian dari sekian banyak anak yang harus berperang dengan kerasnya kehidupan dunia."
__ADS_1
Pembicaraan semakin lama semakin hangat, Meilinda mulai berani mengungkapkan argumen, pendapat bahkan membantah pendapat Abdul yang kadang absurb.
"Iiihhh ya gak bisa gitu dong kak, mana ada coba yang begituan deh." Mey berniat memukul pundak suaminya tapi karena dia menghindar malah terjatuh kepangkuannya.
"Hahahaha gak kena kan..." Abdul membetulkan posisi Mey agar tidur terlentang dengan berbantalkan pahanya.
Meilinda sebenarnya gugup sekali, ini pertama kalinya dia ada dalam posisi seperti itu. Nyaman sih, ups.
Abdul menghela nafas merasakan tubuh kaku Mey, dia menatap wajah istrinya yang pucat kemudian tersenyum. Dibelainya rambut Mey dengan sayang.
"Packing buat besok seminar yuk, ini pertama kalinya kita bakal keluar kota bareng. Kelamaan begini bisa bahaya hehe" Abdul beranjak sambil menggandeng tangan Mei menuju kamar utama.
Abdul menurunkan koper kecil dari atas lemari, lalu meletakkan diatas kasur.
"Acara besok itu dua hari satu malam, ditambah satu cadangan baju juga ya. Kita pilih baju Mey dulu aja deh, nanti kak Bas tinggal menyesuaikan. Yuk" Abdul kembali menggenggam tangan Mey dan menariknya ke kamar tamu.
Abdul merebahkan diri diatas tempat tidur, sambil menunggu Mey memilih baju dia membuka HP Mey. Asyik melihat foto-foto di galery.
"Ini almarhum suami?"
"Ini waktu Haikal umur berapa?"
"Kok gak ada foto kalian bertiga? Atau foto Mey sama almarhum?"
"Mas Hamdan ndak begitu suka difoto. Ini aja kayaknya yang dibawa." Meilinda menunjuk tumpukan baju di tepi tempat tidur. Abdul dengan sigap membawanya ke kamar utama, memasukkan kedalam koper dan mulai memilih baju miliknya.
Meilinda menata semua baju agar rapi dalam koper, kalau soal tata menata memang jago dia. Lalu muncul sebuah pemikiran yang membuatnya berhenti.
"Kok bawa satu koper, enggak jadi dua aja, dibawa masing-masing?" Tanyanya menyelidiki.
"Repot nanti kalau bawa dua, gini kan ringkes."
"Emangnya kita..."
"Satu kamar, kenapa?" Meilinda tertegun "Gak usah ngegemesin gitu deh, bisa khilaf lagi nanti. Janji deh, gak ngapa-ngapain, asal jangan digodain aja nanti bangun lagi. Beres, ini mau latihan tidur disini atau gimana nih?" Goda Abdul melihat Mey masih berdiri terpaku.
Segera Mey beranjak ke kamarnya, setelah melafadzkan doa-doa mereka merebahkan diri di atas kasur masing-masing di kamar masing-masing.
Meilinda belum bisa menutup matanya, dia gelisah akan kegiatan besok. Bukan soal kegiatannya lebih tepatnya setelah kegiatan selesai di hari pertama, dikamar hanya berdua. Apa sesuatu akan terjadi, apa lebih baik dia urungkan niatnya untuk ikut?
.
.
.
.
__ADS_1