
Mutiyah merenungi ucapan Meilinda, sibuk dengan pikirannya sendiri. 'Coba kamu tidak keberatan, semua akan lebih mudah, tidak perlu memakai jalan pintas. Tapi apa tidak membahayakan jika seperti ini...' Perang batin masih saja terjadi dihatinya.
Sedangkan dikamar sebelah, olahraga malam baru saja selesai dilaksanakan. Setelah membersihkan diri, mereka kemudian merebahkan diri.
"Gak pengen kasih adek buat Khansa, Mey?"
"Nanti dulu deh, kak, pengen deket sama Khansa dulu, ya...Udah agak gedean deh baru boleh hehe ya Allah, seakan-akan kita bisa mengatur, astaghfirullah... Cuma Mey selalu berdoa agar bisa menjaga amanah Ummi dulu."
"Iya, sebaik-baik manusia berencana Allah yang lebih tahu yang terbaik untuk umatNya. Besok kak Bas ada acara di kota, seharian kayaknya, bahkan mungkin pulang larut malam."
Meilinda memeluk suaminya erat, nafasnya naik turun teratur, ternyata dia telah terlelap.
"Terimakasih, Mey, my Zaujati telah kembali hadir dalam hidupku, bersedia mendampingiku, membawa kebahagiaan dalam hidupku. Semoga Allah selalu memberkahi umurmu dan hidupmu, menjadikanmu salah satu dari bidadariku disurga nanti. Aamiin Allahuma Aamiin." Abdul mengecup pucuk kepala Meilinda yang masih setengah basah kemudian memejamkan matanya.
...***...
Meilinda meminta Mutiyah untuk sarapan terlebih dahulu mumpung Khansa masih tidur, Mutiyah pun dengan senang hati menuruti permintaan Mey dengan pikiran dia bisa fokus menjaga Khansa tanpa harus berganti dengan orang lain. Setelah masakan selesai, dia segera sarapan.
Tidak berapa lama terdengar suara rengekan dari arah kamar tamu, karena Mutiyah baru saja mulai makan maka Meilinda yang mendekati Khansa dan menggendongnya keluar dari kamar. Mutiyah segera menyelesaikan sarapannya, mengambil alih Khansa dari gendongannya dan membawanya untuk bersiap mandi.
Setelah Abdul mengucapkan salam dan dijawab oleh istrinya, dia langsung ke dalam kamar untuk mandi dan bersiap. Baju ganti sudah Meilinda siapkan sejak tadi dan sekarang dia menggelar alas makan di atas karpet, kemudian beralih ke meja makan dan menata nasi serta lauk secukupnya diatas nampan. Tidak lupa dia letakkan sejumput garam di pojok nampan dan beberapa potong buah.
Setelah meletakkan nampan berisi makanan diatas alas makan, dia kembali ke meja dan mengambil air putih dalam gelas. Mutiyah baru saja selesai memandikan Khansa dan bermaksud mengambil makanan untuk Khansa sarapan saat Abdul keluar dari dalam kamar.
"Eh anak Abah sudah cantik, masyaaAllah, sini gendong Abah." Abdul melihat makanan yang sudah disiapkan, memang sejak kedatangan Mutiyah, mereka tidak lagi makan dalam nampan, untuk menemani Mutiyah yang tidak mungkin makan bersama dalam nampan yang sama dengan mereka.
"Kamu makan saja duluan, Mutiyah, biar Khansa saya yang jagain. Sasa sama Abah ya, nanti seharian gak ketemu, abah mau kerja, pulangnya malam." Mutiyah tidak pernah membantah atau menghalangi jika Abdul ingin menggendong dan bermain dengan putrinya.
"Saya sudah makan, uda eh ustadz, tinggal menyuapi Sasa." Jawabnya.
"Oohh ya sudah, biar Khansa makan bersama kami kalau begitu." Meilinda tersenyum, suaminya selalu tahu maksud dan tujuannya. Mutiyah menatap kebingungan dan baru menyadari hidangan yang disediakan Meilinda dibawah.
Mereka duduk lesehan, membentuk lingkaran. Abdul dan Meilinda sama-sama membimbing Khansa untuk makan bersama mereka dalam satu nampan. Abdul menekan jari manis kanannya yang telah dia jilat dulu diatas garam dan membimbing Khansa untuk mencicipinya, Meilinda memberi contoh dengan melakukannya. Ekspresi Sasa yang lucu karena lidahnya mengecap rasa asin membuat mereka berdua bahagia. Yang kedua Meilinda mengambilkan potongan buah dan menyuapi Sasa, dan dirinya.
Walau Sasa masih makan dengan berantakan, Abdul maupun Meilinda tidak membetak dan memarahinya. Dengan telaten Meilinda memunguti remah-remah makanan yang terjatuh diatas alas makan, Khansa senang sekali ketika abahnya memuji aktifitasnya. Sesekali Meilinda atau Abdul menyuapi Khansa, Abdul pun tidak lupa dengan kebiasaannya menyuapi istrinya.
__ADS_1
Dikejauhan, Mutiyah yang melihat pemandangan sebuah keluarga yang harmonis itu merasa tersingkirkan. Setetes air mata lolos dan mengalir di pipinya yang kemudian dihapusnya dengan kasar. 'Aku pikir niatmu baik tadi, ternyata kau memang licik. Tunggu saja, setelah ini kau yang akan tersingkirkan!" Batin Mutiyah yang kemudian berlalu kedepan dan membuka aplikasi chatnya.
Tidak jauh dari tempat Mutiyah, terlihat seorang lelaki yang kegirangan melihat Mutiyah. Dia hanya bisa memandang dari tempatnya berada, tidak berani mendekati, hanya mengagumi dari kejauhan. Matanya sesekali dia tundukkan sebelum kemudian kembali memandang sang pujaan hati. 'Bismillah, ya Allah... Semoga tidak menjadi zina mata.' Batinnya.
Setelah selesai dengan rencananya, Mutiyah kembali masuk kedalam rumah. Meilinda sedang membereskan alat makan, tapi tidak dilihatnya Khansa disana.
"Sasa menemani ustadz Abdul di kamar, untuk bersiap ke kota. Sebentar lagi juga keluar, kamu juga bersiap yah, barang-barang Sasa jangan ada yang ketinggalan, nanti kita langsung ke rumah singgah." Titah Meilinda.
Mutiyah kembali terpaksa menuruti perintah Meilinda, 'kenapa lama-lama dia jadi sok ngatur begini yah, apa dianggapnya aku pembantu!' Mutiyah tersungut-sungut dalam hatinya.
Ustadz Abdul berangkat diiringi oleh istri dan putri kecilnya yang melambai-lambaikan tangannya yang mungil dalam gendongan sang bunda, bahagia sekali dia rasanya. Namun entah mengapa, sejak semalam berat rasanya kali ini dia pergi, tidak biasanya. Apa karena ini pertama kalinya selama sehari penuh dia tidak bisa melihat putrinya, karena biasanya jika sore dia akan membawa Sasa bersamanya.
Saeful yang berada disebelahnya, dibalik kemudi ikut tersenyum-senyum.
"Kenapa ente senyum-senyum begitu, Pul?"
"Gak papa, tadz, hehe"
"Harat[bohong] ente... Jujur kenapa sama ana, ente sudah kepengan zuad kan[menikah]?"
"Itu, ngeliat hareem tadi sampe gak ngedip, lupa tutup mulut sampe netes, terus senyum-senyum sendiri."
"Siapa ustadz, mana ada seperti itu."
"Hahahahaha ente naksir sama Mutiyah yah, jangan dikira ana tidak perhatikan. Dari mulai kita masih di kota L, diperjalanan kembali. Kayak kita baru kenal kemaren aja, Pul. Disini aja berapa kali ana lihat ente curi-curi pandang kalau Tiyah didepan rumah, nanti ana coba bicarakan sama bunda buat bantu ente ta'aruf."
Mata Saeful berbinar-binar, senyum mengembang di bibirnya. Baru dia bisa merasakan yang selama ini ustadz nya rasakan pada istrinya sekarang, selama ini dia suka sekali mentertawakan tingkah laku ustadz yang absurd. Ternyata seperti ini yang namanya jatuh cinta... 'Ya Allah, ampuni dosa hamba...' Batin Saeful yang merasa selalu terbayangi oleh wajah Mutiyah, pujaan hatinya.
Hari-hari berjalan seperti biasanya, kegiatan di rumah singgah selalu menarik setiap harinya. Ada saja kejadian yang membuat tawa mereka lepas, hiburan tersendiri buat mereka. Lain halnya dengan Mutiyah, seharian itu dia terlihat gelisah. Sesekali dia membuka atau membalas pesan dalam aplikasi chat nya, Meilinda sebenarnya penasaran akhir-akhir ini Mutiyah sering sekali fokus dengan HPnya. Entah siapa yang sedang berkirim pesan dengannya, Mutiyah tidak pernah mau bercerita.
"Bunda...maaf apa kita bisa pulang lebih cepat hari ini, kelihatannya hari ini akan hujan, Tiyah lupa tidak memindahkan jemuran tadi." Pinta Mutiyah ketika mereka sedang mempersiapkan makan siang untuk anak-anak dan para pengurus di rumah singgah.
"Baiklah setelah shalat dhuhur dan makan siang kita pulang, biar Sasa tidur dirumah saja." Jawab Meilinda.
Setelah semua selesai, mereka bertiga kembali kerumah. Sebenarnya rencana Meilinda malah ingin lebih lama di rumah singgah, karena suaminya akan pulang larut malam jadi dia lebih leluasa waktunya.
__ADS_1
Sesampai dirumah, Meilinda tidak melihat Mutiyah pergi kebelakang, akhirnya dia berinisiatif untuk melangkahkan kaki ke belakang. Tidak ada jemuran dibelakang, sepertinya hari ini Mutiyah tidak mencuci baju.
"Dek, pagi tadi kamu ndak nyuci kan? Di belakang ndak ada jemuran tuh..."
"Oh iya, bunda, Tiyah lupa, Tiyah pikir tadi sudah mencuci. Ya sudah, Tiyah nyuci sekarang saja. Titip Sasa, bund."
Meilinda menggendong Khansa yang mulai mengucek-ngucek mata dan menguap tanda sudah mengantuk, dia membawanya ke kamar utama dan ikut tertidur bersamanya.
Mutiyah seharian ini gelisah, dia mondar-mandir diruang tengah. Dengan satu tangan memegang bungkusan yang dulu dia simpan baik-baik, dan tangan yang lain berulang-ulang membaca pesan dari seseorang.
Sebentar lagi adzan ashar berkumandang, sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh diluar kawasan pondok pesantren Babussalam. Seorang laki-laki menunggu dengan sabar dibalik kemudi, sesekali dia membaca dan membalas pesan dalam aplikasi chat nya.
Meilinda keluar dari kamar utama dengan menggendong Khansa yang sudah terbangun, adzan berkumandang. Dia mengajak Khansa untuk shalat berjamaah di masjid, Mutiyah tidak ikut karena sedang berhalangan.
Shalat berjamaah sudah dimulai, pos keamanan dan lingkungan pondok pesantren terlihat lengang. Lelaki itu berjalan memasuki area pondok pesantren langsung menuju rumah utama, Mutiyah membukakan pintu untuknya dan memintanya untuk bersembunyi.
Dia segera kebelakang, membuat secangkir teh dan sebotol susu untuk Khansa. Tidak lama kemudian Meilinda dan Khansa masuk kedalam rumah melalui pintu belakang yang tersambung dengan area asrama putri.
"Eehh Sasa sudah pulang, ayok sama biju main ayunan sama lihat ikan. Oh ya, ini Tiyah buatkan teh untuk bunda." Meilinda tertegun melihat tingkah laku Mutiyah hari ini.
Sambil meminum teh nya di meja makan, Meilinda berfikir. 'Tadi siang Tiyah sudah berbohong soal jemuran, lalu dia juga membiarkan Khansa tidur dengannya tanpa bantahan, ini juga tumben membuatkan teh untuknya.' Batinnya.
.
.
.
.
Maaf temans,
Beberapa hari ini mungkin up nya hanya satu episode, author harus mendampingi putri tercinta dengan daringnya...
Tetap ikuti cerita Meilinda sang cinta pertama ustadz ya...
__ADS_1
Terimakasih...🤗