Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
44.


__ADS_3

Kini Abdul rebahan di karpet ruang tengah, hanya mengenakan kaos rumahan dan sarung. Meilinda baru saja dari belakang selesai mencuci piring dan sedikit berbenah, alhamdulillah badannya sudah sehat seperti biasa.


Dia mendekati suaminya dan turut duduk dibawah namun tetap berjarak, dia bersandar pada sofa yang ada di pojok ruang tengah itu. Meilinda siap mendengarkan lanjutan cerita Abdul, dia membawa serta buku catatan bersampul kulit berwarna hitam itu yang baru sebagian dia baca.


"Sudah selesai baca? Kenapa, tulisannya jelek ya jadi gak kebaca hehe?"


"Lebih suka denger langsung kak Bas cerita, biar ga salah paham lagi." Jawab Mey tegas. Abdul nyengir mendengar jawaban istrinya yang sedikit ketus. Dia mencari posisi ternyaman untuk memulai cerita, mata menatap langit-langit rumah.


"Heemmm sampai mana ya tadi?"


"Kak Bas dapat beasiswa."


"Oh iya, hebat kan kak Bas bisa dapet beasiswa dong pengen rasanya dulu peluk Mey waktu pengumuman keluar tapi malah Fajar yang kak Bas peluk hehe."


"Ustadz Fajar, gurunya Haikal?"


"Iya, jadi Mey gak inget ya sama Fajar? Kalo sama kak Bas, kapan Mey mulai ingat?"


"Waktu kak Bas panggil dengan sebutan Mey pertama kali itu masih mengingat-ngingat, tapi sadarnya waktu ngobrol didepan rumah itu, dibawah pohon sama Haikal. Waktu itu Mey curi-curi pandang." Meilinda menekuk lututnya, memeluk dan menyembunyikan wajahnya disana.


"Gimana keliatannya, makin ganteng ya?" Abdul memiringkan badan menatap Mey, yang ditanya kemudian mengangkat kepala dan melotot membuat Abdul tergelak.


"Terusin ceritanya!"


"Iya iya... Jadi selama di Cairo, kak Bas gantungkan harapan setelah lulus dan menjadi sukses biar bisa segera ketemu Mey. Karena kondisi di sana kak Bas sering pindah-pindah jadi kakak gak bisa kasih alamat pasti sama Mey, tapi kan Mey selalu ada di hati kakak. Yang harus dipikirnya justru bagaimana Mey, makanya kakak sebisa mungkin tetap mengirim surat buat Mey biar Mey tetep inget sama kak Bas gitu hehe surat kakak sampai kan?" Meilinda mengangguk.


"Sampai akhirnya, dapat kabar dari Kiayi dan Nyai soal ta'aruf yang beliau ajukan. Kak Bas bingung, meminta petunjuk Allah. Mey sudah tahu cerita selanjutnya setelah itu." Abdul menatap Meilinda, dia menggeser badannya dan meletakkan kepalanya dipangkuan istrinya itu lalu menutup matanya. Meilinda tersentak kaget.


"Tolong, biarkan dulu begini ya...jangan bergerak." Abdul memohon dengan suara pelan. Meilinda mulai memperhatikan suaminya yang memejamkan mata, sebetulnya ingin dia mengelus wajah itu tapi dia hanya bisa diam terpaku.


"Apa selama hidup bersama Ummi, kak Bas masih terus mengingat Mey?"


"Tidak.... Setelah membuat keputusan, kak Bas tutup buku, karena itu kak Bas berhenti mengirim surat untuk Mey. Maaf karena sudah tidak jujur dan hanya mengatakan ingin fokus belajar, tapi kak Bas tidak berbohong. Sulit pada awalnya, sesak, tapi dialihkan dengan pelajaran dan kerjaan. Kalo sekedar ingat sih suka, Mey, tapi tidak lagi berharap. Takdir Allah itu memang luar biasa ya, Mey." Abdul bangkit dari tidurnya, duduk berhadapan dengan Mey, wajah mereka sangat dekat, begitu dekat....


"Maaf... Mey belum bisa." Meilinda menundukkan kepala, terisak.


"Ssttt... sudah, jangan nangis. Enggak apa-apa, kak Bas akan bersabar sampai Mey siap." Tatap Abdul lembut. Meilinda menyenderkan kepala dipundak Abdul, dia merasa pernah berada diposisi nyaman seperti ini dalam mimpinya. [Itu bukan mimpi, Mey, tapi nyata hehe]


***

__ADS_1


Keesokan harinya semua berjalan kembali seperti biasa, bedanya kali ini Mey merasa lebih baik, terlebih setelah mengetahui secara langsung isi hati suaminya itu, ada pendar-pendar dihati. Ustadz Abdul lelaki yang baik, dia bahkan tidak memaksakan kehendaknya, ternyata tidak semua laki-laki sama.


Kak Bas sudah pamit ke kantor pondok, ada rapat koordinasi pembentukkan panitia penerimaan santi santriwati baru.


Tidak banyak yang harus dikerjakan dirumah, sebentar saja sudah selesai. Pagi ini dia bisa lebih awal mampir ke rumah singgah, setelah kemarin absen karena sakitnya, rindu dengan anak-anak. Bergegas dia ambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.


"Assalamualaikum." Tidak ada jawaban, dari gemericik air Abdul bisa menduga istrinya sedang mandi. Dia beranjak menuju meja kerjanya mencari dokumen yang dia butuhkan untuk rapat koordinasi, rasanya kemarin sudah dia serahkan bagian administrasi tapi tadi katanya tidak ada.


Suara panggilan HP berbunyi nyaring, sepertinya HP Mey ada di ruang tengah. Baru saja Abdul akan mengambilkan, Meilinda melewatinya tanpa menyadari keberadaannya. Mengangkat telfon membelakanginya, dan berbicara dengan orang diseberang sana.


Abdul menelan salivanya demi melihat pemandangan didepannya. Rambut Meilinda terurai lurus sebahu, tubuhnya berbalut handuk hanya menutupi sebagian saja dengan tetesan air yang masih tersisa. Separuh paha dan kakinya terbuka memperlihatkan kulitnya yang kuning langsat mulus.


"Ustadz sudah berangkat dari pagi tadi tuh, tidak dirumah.... Apa iya.... Oh baik, jadi dokumennya sudah ketemu ya begitu? Iya ust, waalaikumsalam."


Meilinda benar-benar terkejut ketika membalikkan badan melihat ustadz Abdul sedang berjalan kearahnya dan merengkuh tubuh dan mencium bibirnya. Satu tangannya melingkar dipinggang mengungkungnya sampai tubuh mereka saling menempel, satu tangan lagi memegang lehernya menahan ciuman lebih dalam. Meilinda berusaha mendorong tubuh Abdul, sekelebat ingatan lama muncul membuatnya ketakutan. Setelah dia bisa melepaskan diri, segera dia berlari memasuki kamar dan mengunci pintu dari dalam.


Abdul yang kemudian sadar atas apa yang sudah dilakukannya menjadi panik, dia mengetuk-ngetuk pintu kamar.


"Mey, maafin kak Bas tolong. Kak Bas khilaf, kak Bas mohon jangan seperti ini sayang. Ya Allah, ampuni tolong Mey, kak Bas janji tidak akan lagi, Mey. Tolong keluar, Mey. Kak Bas tidak bisa melihat Mey seperti kemarin lagi, Mey. Kak Bas mohon maafkan, Mey. Tolong buka pintunya..." Abdul terus meracau sambil mengetuk pintu.


Ceklek...


"Gak usah dibahas..." Abdul menatap wajah Mey dengan mata sembab, dia mencoba menerka apa yang ada dibenak Mey. Akhirnya dia menyerah dan berjalan menuju kamarnya.


"Kak Bas mau kemana?" Tanyanya, karena seharusnya dia segera ke pondok untuk rapat.


"Mandi... Ada yang harus dijinakkan dulu ini..." Jawabnya sambil lalu. Melinda membungkam mulutnya, kembali masuk kedalam kamar dan menutup pintu. Gawat ternyata dia sudah membangunkan singa dari mati surinya.


Abdul meminta maaf datang terlambat, dan rapat pun dimulai. Mulailah dibentuk tim panitia yang terbagi beberapa kelompok, tim keuangan, tim marketing, tim seleksi, logistik dan lain-lain. Agenda selanjutnya tim masing-masing akan bermusyawarah dengan kelompoknya. Saiful mendekati Abdul dan membahas jadwal dakwah mereka. Dua hari lagi ustadz Abdul ada undangan menghadiri seminar di ibu kota, mereka mulai menyusun rencana.


"Kemarin pihak penyelenggara minta kehadiran Bunda juga, tadz. Gimana? Diminta konfirmasi kehadirannya ini." Lapor Saiful.


"Coba Ana tanyakan dulu."


Abdul: Dua hari lagi ada undangan seminar di ibu kota, mereka mengundang Mey juga, gimana?


Meilinda: Terserah kak Bas saja baiknya bagaimana...


"Oke, konfirmasi." Saiful tersenyum simpul membayangkan kejadian beberapa hari lalu saat Bunda ikut dalam kegiatan mereka.

__ADS_1


"Kenapa ente ketawa, Pul?"


"Hehe enggak, tadz, inget kejadian kemaren aja Ana. Acara besok dua hari, tadz. Penginapan sudah ditanggung disana, atau ustadz mau ana booking kan kamar berdua sama Bunda?" Abdul yang awalnya sedang membuka-buka laporan, langsung mengangkat kepalanya dan menatap Saiful penuh makna.


Malam itu setelah menyelesaikan pekerjaannya, Meilinda duduk diatas sofa ruang tengah sambil menyalakan televisi melihat siaran berita. Tidak lama kemudian Abdul masuk setelah mengucapkan salam dan Meilinda langsung menjawabnya.


Abdul masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri dan mengganti baju rumahan, segera bergabung duduk disamping istrinya.


"Kok hijabnya masih dipakai dirumah? Kan tadi udah keliatan, boleh kok auratnya dibuka didepan suami." Abdul memulai pembicaraan, Meilinda hanya terdiam.


"Lusa kita jadi berangkat seminar ke ibu kota, nanti ada tema tentang mendidik anak cara Rasulullah saw oleh psikolog gitu. Kita berangkat sebelum subuh, pagi check in dan daftar ulang dulu."


"Check in?"


"Iya, acaranya kan dua hari. Pihak penyelenggara menyediakan kamar untuk peserta, makanya tadi kak Bas tanya dulu Mey mau ikut atau tidak karena harus konfirmasi untuk pemesanan kamar."


"Gimana kalau kita mulai cari istri buat kak Bas..." Sebenarnya pembicaraan mereka gak nyambung tapi bukan itu yang membuat Abdul kemudian tersentak kaget, kenapa setelah pernyataan perasaannya Mey tetap meminta dimadu....


"Mey..., apa benar-benar tidak ada kesempatan buat kak Bas? Sama sekali Mey tidak punya sedikiiiittt saja rasa?"


"Nanti kak Bas kecewa, Mey tidak pantas bersanding dengan kak Bas." Meilinda mulai terisak. Memang benar, Meilinda belum pernah cerita apa-apa mengenai dirinya. Sebenarnya ada rahasia apa dalam kehidupannya.


"Wanita yang saat ini ada dihadapan kakak ini adalah satu-satunya yang kakak cintai dari dulu, dan yang bisa kakak lihat Mey sangat pantas bahkan sangat kak Bas dambakan untuk ada disamping kak Bas. Kalau soal ilmu, itu bisa dipelajari Mey. Kita akan belajar sama-sama, Mey juga ajari kak Bas jadi imam yang baik untuk Mey."


"Tapi Mey takut untuk melakukannya, Mey tahu kak Bas butuh tapi... Kak Bas janji menyanggupi untuk tidak akan menuntut hak suami sebagai seorang laki-laki, maka dari itu Mey ingin kak Bas mencari istri yang bisa melakukannya untuk kak Bas."


Meilinda menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil melipat kakinya dan diangkat keatas sofa, dia menopang kepalanya dengan lutut. Abdul sangat bingung dengan reaksi Meilinda.


"Tolong Mey sayang, jangan nangis. Kak Bas bingung maksud Mey apa..."


Ya Allah, jangankan kak Bas, Mey pun bingung harus bagaimana.... Menceritakan kejadian itu, mungkin akan berakibat kehilangan semua disini. Ucapan orang-orang yang mencibirnya kembali terngiang, perlakuan Hamdan padanya dan juga perkataan Ibu. Walau ingin sekali dia membuang jauh-jauh pikiran itu, karena yang dia rasa kak Bas tidak sama dengan mereka, tapi.... Aaahhh rasa takut itu kembali menghantuinya...


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2