Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
18.


__ADS_3

***


Assalamualaikum temans,


Akhirnya bisa Up lagi, udah kangen bener ini...


Makasih ya yang udah setia menunggu dan terus baca kisah Meilinda... Terharu aku tuh, maaf masih jauh dari sempurna karena masih amatir. Nikmatin aja deh...


Happy reading...


***


Kali itu mereka berjalan-jalan ke kebun binatang, Meilinda selalu berada disamping tante Ivone. Menemaninya dan membantunya menyiapkan perbekalan disaat anak-anak dan seorang pria kelelahan butuh asupan energi.


"Ndok, apa ga ada niatan buatmu menikah lagi?" Tanya tante Ivone tiba-tiba. "Kamu masih muda, pasti lebih ringan kalau punya pendamping. Kalau jadi Haikal masuk pesantren, apa kamu ndak bakal kesepian dirumah?" Lanjutnya.


"Belum kepikiran, tante." Jawab Meilinda singkat. Melihat reaksinya, tante Ivone tahu bahwa wanita muda dihadapannya itu tidak menyukai pembicaraan bertemakan pernikahannya.


"Sudah menentukan sekolah buat Haikal?" Tante Ivone mengalihkan pembicaraan, Meilinda menggelengkan kepalanya. "Tian pasti tidak keberatan membantu, Ndok. Apa perlu tante ngomong?" Tanya nya lagi.


"Ndak usah, tante. Mas Tian sudah menawarkan, tapi sudah aku tolak, tante. InsyaaAllah kami baik-baik saja, akan ada rezekinya." Meilinda menggenggam tangan tante Ivone memberi keyakinan pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu dengan senyuman.


"Jangan sungkan ngomong ya, Ndok. Kalo segan sama Tian, kamu ngomong sama tante." Ucapnya membelai puncak kepala Meilinda. Perhatiannya teralihkan karena teriakan Haikal memanggil Clara yang berlari kearah mereka, dibelakang Kristian terlihat mengikuti.


"Bunda...tadi ada atraksi disana, seru banget. Penontonnya banyak, Clara sampe ga bisa lihat. Terus om Tian gendong Clara di pundak, kayak gini..." Haikal mencoba memperagakan bagaimana Kristian tadi menggendong Clara dipundak. "Sama kayak waktu aku kecil ayah dulu gendong aku ya,bund...waktu di pasar malam itu loh,bund. Tapi ayah ga bisa lama-lama, gak kuat katanya hahahahahaha..." Haikal melanjutkan ceritanya sambil dengan ceria.


Meilinda takjub melihat Haikal hari itu, terlihat sangat gembira. Rasa syukur selalu dia panjatkan atas semua berkah yang Allah berikan padanya.

__ADS_1


 


Hari itu, di sekolah Haikal, siswa kelas 6 berkumpul di aula. Tentu saja ada pemisahan area putra dan putri, berdampingan dengan menggunakan sekat pemisah. Saat itu seorang Ustadz tamu sedang memberikan tausiahnya. Sebetulnya bukan tausiah, tapi lebih ke pengalaman sang Ustadz ketika masih bersekolah. Memotivasi siswa untuk terus berjuang, pantang menyerah dan berserah diri pada Allah.


Ustadz itu masih tergolong muda, tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi juga tidak pendek. Kulitnya putih dengan hidung lumayan mancung, tidak terlalu tampan tapi wajahnya berseri. Diusia yang masih muda, dia sudah memimpin sebuah pondok pesantren di kota T. Dia lulusan dari Cairo Mesir, sudah sekolah disana sejak duduk di tingkat Sekolah Menengah Atas sampai menyelesaikan gelar Sarjana dengan beasiswa.


"Ustadz...apa disini juga ada pesantren yang kasih beasiswa?" Haikal memberikan pertanyaan saat sesi tanya-jawab


"Sepertinya ada, kamu tertarik untuk masuk pesantren? Ustadz itu balik bertanya. Haikal menganggukkan kepalanya.


"Tapi pakai beasiswa, tadz." Haikal menegaskan maksudnya.


"Bisa, kalau mau dapat beasiswa itu gampang. Belajar yang giat, dapat nilai tinggi, daftar program beasiswa, ikut test. InsyaaAllah bisa masuk tanpa harus bayar. Enak, kan. Makanya adek-adek semua disini belajar yang giat, belajar karena memang ingin bisa, jangan terpaksa agar ilmunya lebih bisa diserap. Belajar karena Allah, agar ilmu nya menjadi berkah." Setelah beberapa saat agenda tersebut berakhir, siswa siswi bergerak menuju kelas masing-masing, bersiap untuk menyantap makan siang mereka sebelum melaksanakan shalat Dhuhur.


"Mari Ustadz, kita makan siang dulu di kantor." Ajak ustadz Fajar, wali kelas 6.


"Sudah hebat kamu, Bas. Salut aku, sudah jadi orang, lama gak ketemu masih ingat sama teman lama. Terimakasih banyak loh mau menerima undanganku, jauh-jauh datang ke kota ini." Ucap Fajar.


"Emangnya kamu belum jadi orang apa, lha sekarang ini apa dong, genderuwo?!" Canda ustadz temannya itu. "Oh ya, tadi yang kasih pertanyaan soal beasiswa itu siapa?" Tanyanya.


Rasa penasaran itu timbul karena dia tidak menyangka ada siswa di sekolah itu yang akan tertarik pada program beasiswa. Yang dia lihat, sekolah itu memiliki fasilitas bagus kemungkinan besar siswa yang masuk pun dari kalangan orang berada.


"Oh...itu Haikal, dia yatim, Bas. Sebenarnya memang dia dari keluarga sederhana, aku kenal mendiang ayah nya. Seorang pekerja keras, berjuang demi anaknya dan ingin yang terbaik untuk ayahnya. Beberapa hari yang lalu dia memang cerita ingin melanjutkan sekolah ke pondok pesantren, seperti keinginan mendiang ayahnya, dia minta info pesantren murah, nah sekarang pasti nyari pesantren dengan beasiswa hehe" Jawabnya menerawang.


"Apa dia mau sekolah jauh, ditempatku?" Tanya ustadz itu lagi.


"Beasiswa? Beneran nih, Bas? Pasti Haikal senang ini, coba aku tanya dulu ya... Semoga saja mereka mau, hebat deh hebat" Fajar menepuk-nepuk pundak kawan lamanya itu.

__ADS_1


Dulu, mereka sama-sama belajar di pondok pesantren yang sama. Teman satu kelas, satu asrama, bahkan masa pengabdian ditempat yang sama pula selama 3 bulan. Fajar ingat betul, liburan kenaikan kelas diisi dengan menjadi mabot disalah satu masjid. Mengadakan pesantren kilat untuk anak-anak dan remaja sekitar masjid, keseruan mereka.


Abdul Basyir, biasa dipanggil Abas oleh teman-temannya itu menjadi pusat perhatian abg dalam kegiatan pesantren kilat yang mereka adakan di masjid sebuah perumahan. Sudah menjadi program tahunan pondok pesantren dimana santri belajar mengadakan program pengabdian di lingkungan masyarakat diluar ketika siswa akan naik kelas 3 tingkat menengah atas.


Fajar, Ilham dan Rifki asli dari Jawa dengan perawakan standar dan rata-rata berkulit sawo matang cenderung gelap. [ga enak nih mau tulis, hitam hehe]


Kontras sekali dengan Abas yang memiliki kulit putih dengan wajah diatas rekan-rekannya, menjadikan dia menonjol dikelompoknya.


Abas sebenarnya putra dari pemilik pondok pesantren di kampung halamannya, tapi Abah, biasa dia memanggil ayahnya, memintanya untuk sekolah diluar pondok milik Abahnya agar dia mandiri dan berwawasan luas. Dengan pembawaan yang ramah, Abas bisa menyesuaikan diri dalam lingkungan baru dimana pun. Dia pun bisa dengan mudah menarik simpati warga sekitar sehingga program kerja mereka bisa berhasil dan berjalan dengan baik dan lancar.


"Gimana kalau selepas Dhuhur nanti kita tanyakan langsung anaknya." Tawar Ustadz Abdul "Tapi aku mau test dulu dia layak atau tidak, ya." Lanjutnya yang disetujui oleh Fajar.


"Haikal! Sebentar, nak." Panggil Fajar ketika dia melihat Haikal akan keluar kelas setelah pelajaran hari itu selesai. "Ikut ustadz sebentar." Titahnya.


Haikal menunggu ustadz Fajar selesai membereskan buku-buku dan mejanya, kemudian berjalan beriringan menuju kantor.


"Assalamualaikum..." Ucapnya ketika dia melihat ustadz Fajar mengajaknya keruang tamu sekolah, dilihatnya didalam sudah ada ustadz pembicara tadi.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarrokatu... Nak Haikal, kan? Sini duduk, nak. Saya mau bicara." ustadz itu memberi isyarat menepuk-nepuk tempat duduk disampingnya. Haikal memandang ustadz Fajar meminta izin, karena tadi guru nya itu meminta dia mengikutinya.


"Ada yang mau Ustadz Abdul bicarakan sama kamu." Fajar mendorong Haikal untuk menuruti undangan ustadz itu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2