
Sesuai janji Linda pada Haikal, mereka menuju wahana kolam renang yang tidak jauh dari rumah mereka. Tidak perlu tempat yang besar seperti waterboom atau waterpark, cukup sekedar bermain air sekaligus olahraga untuk Haikal. Bahagia itu tidak harus mengeluarkan biaya banyak, itu prinsip Meilinda. Dia pun telah mempersiapkan perbekalan untuk putranya itu dalam kotak makan, ada nasi goreng, nugget ayam buatan sendiri, sosis pan. Tidak lupa dia juga membuat mendoan dan pisang goreng untuknya sambil menunggu Haikal bermain air, ditemani teh hangat dalam termos dia menyaksikan putranya meliuk-liuk dalam air. Gendis, adik iparnya, tidak jadi menemani mereka berenang. Katanya ada acara sama temen-temannya, maklum lah akhir pekan.
Setelah lelah bermain dan menghabiskan bekal, mereka pun beranjak pulang. Jika libur Linda biasanya menghabiskan waktunya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, sehari-hari dia harus bekerja maka hari libur giliran gunakan waktunya untuk dirumah. Semasa Hamdan masih ada, mereka seringkali gotong royong membersihkan rumah. Hal sederhana seperti mencuci motor mereka lakukan, biasanya Haikal akan ikut bermain air.
Hamdan juga tipe lelaki yang tidak malu dan segan turun tangan membantu pekerjaan istrinya, seperti mencuci baju, mencuci piring, nyapu, ngepel, bahkan masak pun sering dia lakukan. Hanya menyetrika yang memang gak bisa dia lakukan. Tidak ada istilah bahwa istri harus melayani segala kebutuhan suami sampai hal yang terkecil, tapi semua dilakukan bersama-sama.
Hamdan pernah bilang, kewajiban seorang suami memenuhi kebutuhan istrinya, sandang pangan papan, yaitu makanan, ya berarti yang bisa dimakan bukan sekedar bahan mentah. Pakaian yang bersih, kalau sudah kotor yah dicucikan lah. Dan rumah yang bersih dan sehat, berarti harus dirawat. Tugas seorang istri itu mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik anak. Jika istri melakukan pekerjaan rumah, itu adalah kebaikan darinya dan dia digolongkan kedalam istri yang sholihah.
Hamdan yang penyayang, tidak dengan kata-kata atau pujian setinggi langit. Tapi dengan selalu membimbing dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sudah tercermin akhlak yang baik.
Pernah juga Linda bertanya tentang pekerjaannya, masih boleh kah dia tetap berkarya setelah menikah. Dia sama sekali tidak melarang, bahkan berterimakasih karena istrinya mau membantu keuangannya. Mereka menjalani rutinitas pagi bersiap-siap berangkat bekerja dengan motor masing-masing menuju kantor. Tidak berangkat sama-sama biar lebih praktis, tidak perlu saling menunggu, siapa yang pulang duluan bisa membantu menyiapkan makan malam dirumah. Karena tuntutan pekerjaan, tidak jarang Linda pulang terlambat. Apalagi kalau ada rapat, atau sekedar jalan sama teman kantor. Lama kelamaan mereka semakin jarang bertemu. Pagi-pagi sudah terburu-buru ke kantor, malam sudah terlalu lelah dengan pekerjaan dan langsung istirahat.
Hamdan tak pernah protes, biasanya dia hanya terdiam memendam rasa. Linda paham betul itu, lama dia memikirkannya sampai akhirnya dia memutuskan untuk berhenti bekerja fokus mengurus rumah. Tidak ada ekspresi berlebihan dari Hamdan kala itu, dia sangat menghargai keputusan istrinya. Dia yakin kan Linda agar tidak menyesal dikemudian hari.
Dikala rasa bosan melanda, karna terbiasa beraktifitas pernah Linda bertanya pada suaminya.
"Mas...apa coba peranku sekarang, masak yang cuma gitu-gitu aja, kerjaan rumah ya setiap hari begitu-begitu juga... Semua bisa mas juga, bahkan sekarang aku juga gak punya penghasilan. Rasanya aku cuma jadi beban dirumah ini, gak ada hal istimewa yang bisa aku lakuin." keluhnya dengan manja.
__ADS_1
"Loh...siapa yang bilang?" Hamdan memeluk sang istri yang sedikit merajuk.
"Ya keliatannya gitu, mas. Kan karna aku udah gak kerja, berarti pekerjaan rumah jadi tugasku. Tapi seringnya kalo mas libur pasti pakaian dicuciin, kadang pulang dari masjid mas sudah bawa belanjaan dari pasar terus masak. Aku baru rehat dikit, mas cuciin piring atau nyapu. Kerjaan aku ga ada yang bener ya, mas? Aku nyucinya kurang bersih ya, jadi mas pengen nyuci sendiri?" Ini sebetulnya unek-unek Linda pada suaminya yang pelit pujian.
Sering Linda bersemangat menyelesaikan semua pekerjaan rumah sebelum Hamdan pulang agar suaminya beristirahat dan mereka bisa "we time" lebih lama, Linda pun berharap suaminya berkomentar sedikit. Yang namanya perempuan, suka lah dipuji dan disanjung. Tidak terkecuali dengan Linda.
Ketika mendengar suara motor suaminya datang, buru-buru Linda membukakan pintu. Menunggunya melepaskan sepatu, membawakan tas kerjanya. Menyiapkan handuk dan baju ganti untuk suaminya, Linda hampir terus mengikuti kemana suaminya pergi. Pembicaraan hanya seputar pekerjaan Hamdan, diselingi berita-berita kabar keluarga. Setelah itu Hamdan beristirahat. 'Iihhh kok gitu doang sih...ga ada komentarnya coba...apa kek bilang masakanku enak kek, rumah udah rapi kek, aku cantik kek...' batinnya kala itu. Tapi demi melihat wajah lelah suaminya yang terlelap, akhirnya rasa kesal Linda pun menguap begitu saja.
"Aku tuh cuma ga mau kamu merasa terbebani dengan pekerjaan rumah, selama aku bisa bantu pasti aku bantu lah,dek." Jawab Hamdan.
"Siapa yang bilang, emang aku pernah bilang kerjaan kamu ga bener?"
"Enggak sih, tapi mas juga ga pernah bilang kalo masakan aku enak, kalo kerjaan aku bagus, kalo aku cantik." Terlanjur deh, ngomong aja walo gengsi nih keliatan banget ya pengen dipuji-puji.
"Ooohhh gitu...jadi pengen dibilang kalo masakannya enak, kerjaannya rapi, rumahnya bersih...nih..." Hamdan tersenyum gemas melihat istrinya tersipu malu.
"Dek...bukan nya mas selalu menghabiskan makanan yang adek masak? Itu artinya masakan adek bisa diterima dimulut sama perut mas. Maaf mas memang tidak terbiasa memuji dengan kata-kata, tapi setelah kita menikah, hidup mas tuh lebih bahagia. Capek setelah kerja tuh hilang gitu aja cuma dengan lihat adek sambut mas dirumah, liat senyum adek aja udah lega rasanya." Tidak ada pujian dalam kata-kata Hamdan tp bisa membuat Linda merasa terharu.
__ADS_1
"Tapi mas malu ya, punya istri kayak adek? Adek emang ga cantik, ga pinter dandan." Linda tertunduk.
"Kok adek bisa mikir kayak gitu?" Hamdan menggeser badannya agar bisa menatap wajah istrinya dari depan.
"Mas gak pernah upload foto adek di sosmed, bahkan bisa dibilang kita gak punya foto berdua selain foto nikah. Mas juga ga ngenalin adek sama temen-temen mas, paling adek denger cerita dari mas aja." Linda hampir menangis.
"Mas tuh pengennya kalo jalan-jalan ya berdua aja sama adek, sehari-hari mas ga bisa nemenin adek jadi kalo libur yah mas cuma punya adek. Inget ga beberapa kali ada acara kumpul-kumpul, adek banyak diemnya karna belum kenal betul temen-temen mas. Mas tuh ga mau kalo adek merasa tersingkirkan, kan gak enak canggung." Aaahhhh so sweet nya ternyata suami Linda ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1