Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
39.


__ADS_3

Malam harinya Meilinda tidak dapat memejamkan mata, kejadian seharian ini sungguh luar biasa memenuhi pikirannya. Kelakuan ustadz sudah kayak abg yang lagi pdkt saja. Setelah makan siang dan shalat dhuhur, dia mengajaknya ke mall di kota. Abdul membawa mobil sendiri tanpa disupiri Saiful.


Abdul mengajaknya berkeliling mall, sesekali memasuki toko dan menawari Meilinda apa yang mau dibeli. Mei dengan cepat selalu menggelengkan kepalanya. Mereka berjalan beriringan walau Abdul belum berani untuk menggenggam tangan istrinya, ingin rasanya coba-coba tapi diurungkan khawatir reaksi Mey terlalu dramatisir berteriak-teriak. Apa kata orang seorang ustadz melakukan tindak asusila di publik pada istrinya sendiri, atau seorang istri berteriak-teriak karena digenggam oleh suaminya sendiri yang seorang ustadz. Aneh judulnya nanti.


Menjelang Ashar mereka beranjak menuju masjid Agung dan shalat disana, diserambi masjid Abdul meminta Mey menyetorkan hafalan suratnya. Setelah selesai dia memberikan hadiah atas keberhasilannya dalam menghafal satu surat baru, Mey menerima sebuah kotak kecil dan membukanya.


"Saat menjadikan Mey istri, kak Bas hanya memberikan seperangkat alat shalat dan Al-Qur'an saja sebagai maskawin karena waktu yang terbatas dan kak Bas juga belum tahu ukuran jari Mey. Maka sekarang, kak Bas berikan yang sudah menjadi hak Mey. Ijinkan kak Bas memasangkan dijari manis Mey, agar dunia tahu bahwa seorang Meilinda telah menjadi milik seseorang saat melihat jarinya. Kak Bas harap dengan begitu, tidak ada lagi yang akan mengganggu Mey."


Abdul mengambil cincin dalam kotak yang sempat Meilinda coba sewaktu melihat-lihat toko perhiasan di mall tadi, tapi dia menolak untuk dibelikan. Rupanya diam-diam ustadz kembali dan membeli cincin itu, pikir Mey.


Tangan kiri Abdul terbuka menghadap keatas, meminta Mey meletakkan tangannya disana sambil matanya terus menatap kearah Meilinda yang sedang gugup. Beberapa orang yang melintas dan berada tidak jauh jadi melihat kearah mereka, Meilinda semakin tidak nyaman karena menjadi tontonan.


"Ayo lah, Mey, istriku terima pemberian suamimu ini. Kalau tidak harga diri suamimu ini mau ditaruh dimana coba..." Goda Abdul, suaranya tidak dilantangkan sampai menarik perhatian orang, tapi cukup terdengar oleh beberapa orang yang berada dekat dengan mereka.


Meilinda menyerah dan meletakkan tangannya diatas tangan Abdul, seketika sengatan listrik menjalar ditubuhnya. Abdul memasangkan cincin di jari manisnya, ditambah mengecup punggung tangan itu. Orang-orang bertepuk tangan, akhirnya Abdul mengajak Meilinda beranjak dari masjid menuju taman kota. Momen itu sempat viral di dunia maya dikemudian hari setelah seseorang mengunduhnya karena tanpa sengaja menonton melalui kamera cctv yang ada di masjid, tanpa bisa dikenali wajah aktor dan aktrisnya.


Ditaman kota mereka duduk-duduk menikmati suasana riuh orang hilir mudik, pedagang yang berjualan, dan anak-anak yang berlarian berkejar-kejaran.


"Saat libur, kita ajak Haikal kesini lagi ya Mey... Semoga bisa mengajak Khansa juga." Abdul menerawang membayangkan.


Meilinda tidak akan lupa mata itu, kerinduan seorang ayah akan putrinya. Bimbang sekali pikirannya, mengikuti kata hatinya atau logikanya...


***


Rasanya baru saja mata Meilinda terpejam, dia mendengar suara diluar. Segera dia mengenakan hijabnya dan melihat keluar kamar, ternyata ustadz Abdul sedang bersiap-siap. Kemarin malam Meilinda memang sudah diberitahu kalau pagi ini Abdul akan bertolak keluar kota, ada jadwal tausiah. Makanya seharian kemarin dia habiskan waktu bersama Mey.


"Maaf, kebangun ya?" Ucap Abdul, Mey menggelengkan kepalanya. Sebelum berangkat Abdul mengambil air wudhu, sudah menjadi kebiasaannya jika akan berpergian dia selalu berusaha dalam keadaan bersih seperti yang diajarkan Rasulullah saw.


Ketika Abdul akan mengambil tasnya, berbarengan dengan Mey yang juga berinisiatif ingin membawakan untuknya, tangan mereka tanpa sengaja bersentuhan.


"Ya Allah, maaf ustadz. Saya tidak sengaja, maaf."


"Hey, gak apa-apa, gak ada masalah, kenapa panik begitu?" Sungguh Abdul benar-benar heran, bukan pertama kali mereka bersentuhan. Apa karena bangun tidur lalu Mey lupa kalau dia itu suaminya.


"Maaf, ustadz sudah punya wudhu, gara-gara saya jadi batal. Sudah mau berangkat, harus repot berwudhu lagi. Bukan kah bersentuhan dengan lawan jenis membatalkan wudhu, walau mereka suami istri?"


"MasyaaAllah, benar Mey. Bersentuhan walau suami istri, memang membatalkan wudhu. Tapi kan kak Bas bisa wudhu lagi, gak usah sampai sebegitunya."


"Mas Hamdan selalu marah jika sudah siap berangkat ternyata harus lepas sepatu dan lainnya karena harus berwudhu lagi..." Ucap Meilinda sepertinya setengah tersadar dia mengatakannya karena matanya menatap kosong.


"Apa?" Abdul ingin memastikan apa yang didengarnya.


"Apa?" Meilinda balik bertanya, rasanya tadi dia berbicara dalam hatinya soal Hamdan, tidak mungkin kan ustadz Abdul bisa membaca pikiran...


"Kak Bas pamit dulu, hati-hati dirumah. Assalamualaikum." Abdul mencuri kecupan dipuncak kepala Mey, dan berlalu dengan cepat masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Selama kepergian ustadz Abdul, Meilinda lebih memilih menghabiskan waktunya di asrama. Dia lebih leluasa mengikuti kegiatan di pondok karena tidak ada suami yang harus dia tunggui, selama masih diarea pondok putri pasti suaminya tidak akan keberatan atau marah. Dia juga jadi bisa ngobrol dengan Aisyah.


"Teh... Mey boleh tanya? Kira-kira teh Ais ada temen atau kenalan gitu yang mau diajak ta'arufan? Yang sholehah, pandai mengaji, lebih bagus lagi kalau hafidzah."


"Banyak atuh, buat siapa?"


"Ustadz Abdul..."


"Ari bunda sehat? Kan baru aja kemaren kang Abdul nikah sama bunda!"


"Saya kurang pantas, teh untuk ustadz." Meilinda tertunduk malu.


"Ada apa, bund coba cerita sama Ais."


"Ustadz Abdul sebenarnya terpaksa teh menikah dengan Mey, karena keadaan. Ini mungkin kayak semacam obsesi gitu lah teh, kalau dendam terlalu kasar ya. Dulu waktu masih sama-sama sekolah, kami pernah ketemu sebetulnya. Jadi kak Bas itu ada tugas dari pesantrennya buat kegiatan di masjid dekat rumah Mey, tapi disana Mey sering menentang dan membuat kak Bas malu. Nah kebetulan sekali kak Bas berkunjung ke sekolah Haikal, ketika tahu Haikal itu putra Mey dan juga didukung dengan keadaan jadi lah Mey diundang untuk menemui Ummi. Dan akhirnya yah Ummi yang berperan. Mungkin sebenarnya kak Bas punya pujaan hati sewaktu di Mesir, mahasiswi gitu pastinya. Kak Bas menikah dengan Ummi juga kan diminta Kiai sama Nyai kan ya, teh..." Aisyah baru menyadari ternyata Meilinda bisa berfantasi sedemikian rupa.


"Saya ndak bisa jadi istrinya ustadz, saya ndak pantas. Maka dari itu, agar tidak repot dikemudian hari kami masih tidur terpisah. Kalau ustadz sudah bertemu tambatan hatinya, tidak repot soal pertanggungjawaban."


"Kenapa bunda berpikir kang Abdul seperti itu?"


"Feeling aja, teh. Pantasnya kan begitu toh..."


"Merasa itu bukan pakai pikiran, tapi dirasa pakai hati bund xixixixixi atau tanyakan langsung sama kang Abdul biar pasti, bicara dari hati ke hati." Rasanya percuma ngobrol sama Aisyah, jalan pikiran mereka berbeda ternyata.


"Kalau begitu tinggal kalian daftarkan pernikahan kalian di KUA, kalian sudah terikat pernikahan dimata Allah. Sepertinya bunda membuat rumit hal yang sederhana."


Meilinda menghela nafas panjang.


"Bicarakan dari hati ke hati, bund, dimulai dari akar masalahnya. Kalau lompat-lompat akan membingungkan nantinya, semakin rumit benang yang sudah kusut." Aisyah menggenggam tangan Meilinda.


"Mey takut, teh."


"Apa yang Mey takutkan?" Hanya isak tangis yang menjawab pertanyaan Aisyah. Setelah Meilinda tenang, Aisyah baru meninggalkannya dirumah. Awalnya dia menawarkan untuk menemani tidur, tapi Mey meyakinkan kalau dia baik-baik saja.


HP nya berdering ada panggilan videocall dari ustadz Abdul, Mey enggan mengangkatnya, dia tidak mau ustadz melihat matanya habis menangis dan dia juga sedang malas beranjak untuk memakai hijab.


Abdul: Kok gak diangkat?


Mey: Lagi dikamar, tiduran.


Abdul: Kan bisa sambil ngobrol, ini bisa chattingan.


Mey: Malas pakai hijab.


Abdul: Udah makan? Ngapain aja hari ini?

__ADS_1


Mey: Biasa aja.


Abdul: Ya udah, istirahat ya istriku.


...


Pagi itu Abdul kembali dari luar kota, lelah sudah tidak lagi dirasakannya karena tidak sabar kembali ke rumah. Hari itu dia akan mengosongkan lagi jadwalnya.


"Pul, nanti sampai rumah istirahat saja. Besok baru kita bikin jadwal lagi, hari ini ana pengen dipondok saja."


"Di pondok apa di rumah nih, ustadz?" Goda Saiful.


"Ente bisa saja..."


Abdul sudah mengabari kalau dia akan pulang hari itu, Meilinda menghela nafas panjang. Segera dia bersiap di belakang, menyiapkan hidangan untuk ustadz yang kini sudah menjadi suaminya itu.


Suara deru mobil terdengar didepan, Meilinda segera memanaskan rebusan air jahe yang sudah dia siapkan tadi dan menuangnya kedalam gelas.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." Mey bergegas menyelesaikan pekerjaannya, tapi baru saja dia akan keluar membawakan minuman, ustadz Abdul sudah ada dipintu dapur.


"Astaghfirullah, kenapa tidak duduk didepan saja?"


"Rindu..." Abdul menyenderkan kepalanya di tembok dengan posisi miring sambil terus menatap Mey intens, yang ditatap jadi gugup dan canggung. "Ya sudah, kak Bas kedepan." Dia tersenyum melihat tingkah laku istrinya itu.


Mey meletakkan minuman di meja, kemudian beranjak menghampiri barang bawaan Abdul.


"Biar nanti saja, Mey. Duduk lah dulu disini, temani kak Bas."


"Saya check dulu, ustadz, memisahkan baju kotor biar tidak bau." Kilah Mey, kemudian membawa barang-barang kebelakang. Abdul minum dalam diam, rasa minuman itu menyegarkan, dia kemudian tertidur dalam keadaan duduk disana.


Sebetulnya Abdul sudah biasa mendapat undangan keluar kota, tapi ini pertama kalinya setelah kepergian Ummi dan setelah dia menikahi Mey. Jadi terasa beda, jika biasanya setelah selesai kegiatan malam hari dia bisa menatap wajah Ummi sebagai pelepas lelah dan rindu kini, tak ada lagi Ummi. Mata jadi sulit terpejam, bahkan dalam perjalanan pun matanya tidak bisa juga terpejam. Kini lain dari kebiasaannya, dia tertidur setelah sampai dirumah.


Meilinda yang memang tidak berniat untuk cepat-cepat kedepan menemani ustadz, memilah pakaian kotor dan memasukkannya kedalam mesin cuci kemudian melanjutkan pekerjaannya di dapur. Setelah semua matang, dia mencari ustadz kedepan dan baru disadarinya ternyata sudah tertidur.


Dia termenung menatap wajah lelah didepannya, ada rasa iba. Tadi ketika ustadz pulang, sekilas dia menatap wajahnya tenang dengan tatapan teduh. Kenapa dia berbeda... Tidak, Ibu bilang semua laki-laki sama saja... Segera Mey kembali ke belakang menutup makanan yang sudah dia masak tanpa memindahkannya kepiring agar bisa dia hangatkan nanti jika ustadznya mau makan. Dia lalu melanjutkan menjemur pakaian yang sudah dicuci.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2