Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
22.


__ADS_3

"Iya, bunda. Ical akan terus berdoa sama Allah, minta sama Allah biar bisa sekolah di pesantren dan Allah kasih bunda teman yang bisa gantiin Ical jagain bunda."


Tidak terasa ujian akhir semester sudah Haikal lewati, secara berkala dia berkomunikasi dengan ustadz Abdul melalui ustadz Fajar. Seperti hari ini, saat jam istirahat dia berada dikantor guru setelah ustadz Fajar memberi kabar janji telfon bersama ustadz Abdul.


"Alhamdulillah, bacaanmu semakin lancar Haikal. Jangan lupa teruskan murojaah yah." Puji Abdul setelah mendengar setoran Haikal hari itu. Ummi yang mendengar suara orang seperti bercakap-cakap berdiri di ambang pintu yang memang tidak tertutup, ikut mendengarkan percakapan yang hanya bisa terdengar sepihak.


'Sepertinya ustadz Abdul sedang berbicara dengan anak didiknya, memberi beberapa nasihat dan juga tugas' Benak Ummi.


"Sudah dibicarakan akan diambil atau tidak beasiswanya, Haikal?" Tanya Abdul. "Bunda mu tidak keberatan? Lalu bagaimana dengan bunda, pasti kesepian sendiri kamu tinggal kan?" Hari itu, entah mengapa pertanyaan itu mengalir dari mulutnya. Bayangan wanita berhijab menunggu putranya dibawah pohon rindang muncul dalam benaknya. "Apa, kamu berdoa sama Allah ada yang bisa gantiin kamu jagain bunda? Hahahahaha, Aamiin Allahuma Aamiin ustadz juga ikut mendoakan, Haikal. Apa orang nya sudah ada?Begitu ya...ya terus lah berdoa, nak. InsyaaAllah doa anak sholeh didengar Allah. Ya sudah, salam untuk bunda ya. Assalamualaikum." Abdul menutup pembicaraan.


'Dia tertegun sejenak, tunggu... 'salam untuk bunda..' Kalimat apa itu, situasinya rasanya cukup aneh... Aahh semoga saja Haikal hanya mendengarkannya sambil lalu.' Abdul senyum-senyum sendiri mengingat kelakuannya yang tiba-tiba absurb.


"Abah...telfonan sama siapa?"


"Astaghfirullah al a'ziim... Ummi ngagetin aja, sejak kapan Ummi berdiri disitu?"


"Sudah dari tadi. Siapa itu, Bah?"


"Namanya Haikal, anak didik Fajar, ingat kan Abah pernah cerita teman Abah yang namanya Fajar?"


"Yang mengundang Abah untuk mengisi acara di sekolah tempatnya mengajar?"


"Iya, nah salah satu siswanya, Haikal, anak yang pintar tapi kurang beruntung. Dia sangat ingin sekolah di pesantren tapi tidak ada biaya, Abah berniat membawanya ke pesantren kita ini, Ummi."


"MasyaaAllah, itu ide yang bagus Abah. Keluarganya tidak berkeberatan kan?"


"Belum dibicarakan, ini mau minta tolong Fajar buat bantu. Kalau semua lancar, Abah mau mengundang keluarga Haikal kesini melihat-lihat pesantren, Ummi tidak keberatan kan. Mungkin liburan sekolah, pekan depan."


"InsyaaAllah Ummi akan senang menyambut tamu. Apa hanya anak itu dan keluarganya saja yang datang?"


"Abah akan minta Fajar mendampinginya, sekalian biar dia ajak jalan-jalan anak dan istrinya kesini kan sekalian Ummi kenalan sama istrinya."

__ADS_1


"Keluarga anak itu?"


"Ayahnya sudah meninggal, hanya bundanya." Abdul menjeda ucapannya, dia sangat memahami wanita yang ada dihadapannya ini sedang menyelidiki. Setelah bertahun-tahun mendampingi, bahkan mereka seperti sudah bisa membaca pikiran masing-masing. Dia hanya menganggukkan kepalanya seperti menjawab pertanyaan yang tidak diucapkan. "Meilinda nama bundanya Haikal." Lanjutnya menatap teduh sepasang mata yang sedari tadi terus menatapnya, lengkungan tercipta dibibir wanita itu setelah mendengarnya.


☆•☆


Fajar: Assalamualaikum bu, kira-kira kapan ibu ada waktu? ada yang ingin kami bicarakan terkait beasiswa yang ditawarkan pada Haikal.


Meilinda: Waalaikumsalam, bisa kapan saja ustadz selepas Dhuhur.


Fajar: Baik kalau begitu, bagaimana jika kita bicarakan sebelum penjemputan? Karena lebih cepat lebih baik, bu.


Meilinda: InsyaaAllah ustadz.


Meilinda memarkirkan motornya sesampainya di sekolah, tidak seperti biasanya dia melaju sampai depan masjid. Haikal yang sedang menunggu di teras masjid melihatnya keheranan.


"Bunda diminta menghadap ustadz Fajar, nak. Katanya mau ngomongin soal beasiswa." Meilinda menjelaskan. Mereka berdua pun akhirnya masuk bersama menuju kelas, Haikal sudah paham jika bundanya ingin bertemu ustadz pasti minta ditemani. Khawatir terjadi fitnah kata bunda kalau bunda terlihat berbicara hanya berdua dengan ustadz Fajar.


"Assalamualaikum." Salam Meilinda dan Haikal bersama-sama ketika memasuki kelas dan terlihat ustadz Fajar sedang sibuk dengan kertas-kertas hasil pekerjaan siswa.


"Terimakasih ibu atas waktunya. Alhamdulillah Haikal telah memenuhi syarat untuk diterima di pesantren milik ustadz Abdul. Kami mengerti mungkin Ibu bertanya-tanya tentang sekolah dan lokasinya, oleh karena itu ustad Abdul mengundang Ibu dan juga Haikal untuk datang melihat tempatnya." Paparnya.


"MasyaaAllah ustadz, saya tidak tahu harus berkata apa." Meilinda menatap Haikal dibelakang yang juga menunggu jawaban bundanya.


"Ibu tidak usah khawatir, ustadz Abdul akan menjamin semuanya. Saya juga akan menemani ibu dan Haikal kesana, bersama istri dan anak saya. Kebetulan ustadz Haikal itu teman saya sewaktu sekolah, jadi sekalian jalan-jalan katanya." Meilinda sedikit melihat titik terang setelah mendengarkan penjelasan dari ustadz dihadapannya itu.


"Saya memberitahu ibu jauh hari karena harus memesan tiket, InsyaaAllah berangkat setelah pembagian raport. Bagaimana, bu, apa ibu bersedia?"


"Apa boleh saya pikir-pikir dulu, ustadz?"


"Oh iya, tidak apa-apa ibu tentu saja. Tolong secepatnya ya bu, khawatir sulit mencari tiket karena sudah masuk liburan."

__ADS_1


Mereka pun pamit undur diri, agar ustadz Fajar juga bisa menyelesaikan perkerjaannya.


"Kita pergi lihat pesantren nya kan, bun? Ical pengen lihat, bun." Rengek Haikal sambil mengenakan pelindung kepala alias helmnya.


"Kita bicarakan nanti dirumah ya." Meilinda melajukan motornya membelah jalanan yang tidak terlalu padat, cuaca yang terik disiang hari membuatnya suasana hatinya semakin gundah. Sepanjang jalan dia berusaha memusatkan perhatian pada jalan, walau pikirannya terus menimbang-nimbang.


"Haikal...biar bunda pikirkan dulu ya sayang, banyak yang harus dipertimbangkan. InsyaaAllah bunda akan melakukan yang terbaik untuk Ical, ya." Ucapnya pada Haikal sambil mengecup pucuk kepala putranya itu.


Meilinda: Assalamualaikum ustadz, maaf sebelum saya memutuskan, ada beberapa pertanyaan ini.


Fajar: Njih, bu monggo. Sebisa mungkin saya akan menjawab.


Meilinda: Maaf sekali lagi kalau saya lancang. Nanti apa kami akan menginap, berhubung perjalanan lumayan panjang? Jika iya, menginap dimana ya?


Fajar: InsyaaAllah ustadz Abdul menyediakan tempat kita untuk istirahat, bu. Kemungkinan ibu dan istri saya akan menginap dirumah ustadz, bersama Ummi. Kalau kami yang ikhwan sih gampang, mungkin gabung di asrama putra. Saya carikan kereta malam bu, sampai kota T, pagi langsung ke pondok. Ini sedang mencari jadwal kembalinya, biar tidak terlalu malam sampai disini. Bagaimana, bu?


Meilinda: MasyaaAllah ternyata memang sudah direncanakan dengan baik ya, ustadz. Sepertinya kurang baik jika kami menolak niat baik ini, saya jadi seperti tidak tahu berterimakasih ya.


Fajar: Tidak mengapa ibu, wajar saja jika kita mempertimbangkan segala sesuatunya. Ustadz Abdul juga berkali-kali wanti-wanti saya agar tidak memaksa. Jika memang sudah diputuskan, saya minta difotokan kartu tanda pengenalnya bu, untuk memesan tiket.


'Bismillah,' batin Meilinda. Melakukan perjalanan atau safari bagi seorang wanita tanpa mahram apalagi bergabung dengan selain mahramnya memang harus dengan banyak pertimbangan. Dia tidak ingin jika nantinya akan menimbulkan fitnah.


Juga untuk mempersiapkan barang apa saja yang harus dipersiapkan. Ini perjalanan jauh pertamanya setelah kepergian Hamdan, kembali teringat ketika mereka berlibur bersama. Tidak akan dia merasa gelisah seperti ini, semua sudah dipersiapkan dan direncanakan oleh Hamdan. Dia hanya perlu menuruti perintah suaminya itu, berapa lama perjalanan, kegiatan selama liburan semua sudah direncanakan.


Hamdan juga selalu memberitahunya apa saja yang harus dipersiapkan untuk setiap liburannya. Meilinda tinggal menikmati alur yang sudah direncanakan Hamdan.


Sejak kepergian suaminya, dia harus berpikir keras merencanakan setiap kegiatan sendiri. Kelelahan fisik sering terkalahkan dengan lelahnya memikirkan rencana kedepan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2