Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
25.


__ADS_3

Dikejauhan sepasang mata mengawasi dari balik gorden rumah. Degub berbeda pun berdetak disana, dia hanyalah seorang wanita biasa. Segera Ummi beristighfar dengan perasaan yang tiba-tiba menyelinap dalam hatinya, kembali dia teguhkan niatnya dengan menyebut nama Allah. Senyum pun kembali terukir, seiring perasaan lega dan syukur.


"Tentu saja harus dipertimbangkan baik dan buruknya, agar tidak ada penyesalan dikemudian hari. Senantiasa libatkan Allah saat hati sedang gundah, Mey. Baiklah saya permisi, silahkan beristirahat. Assalamualaikum" Pamit Abdul.


"Waalaikumsalam..." Jawab Haikal dan Meilinda.


Setelah shalat dhuhur, terdengar kajian singkat diberikan dari arah podium masjid. Jamaah akhwat mendengarkan dari balik tabir. Masjid itu memang terbagi menjadi dua bagian, dengan sekat yang memisahkan. Pintu masuk untuk akhwat dan ikhwan pun berbeda, jika ikhwan masuk lewat pintu luar, untuk akhwat pintu masuk dari dalam pagar pembatas sehingga mereka tidak dapat berinteraksi keluar.


"Assalamualaikum ukhti... Perkenalkan saya Aisyah, Ummi meminta saya untuk menemani ukhti berkeliling disini." Ucap seseorang ketika Meilinda dan bu Nur bersiap keluar dari Masjid


"Waalaikumsalam, aahh iya ustadzah terimakasih." Jawab Meilinda. Dia dan bu Nur serta Sekar kemudian mengikuti Aisyah.


"Mari kita bergabung dengan para ustadzah, musrifah dan santriwati yang tidak ikut perpulangan. Kita makan siang dulu, ukhti. Silahkan, beginilah keadaannya. Karena sedang libur jadi tidak terlalu panjang antriannya. Alhamdulillah." Paparnya tersenyum ramah.


Ruang makan asrama putri berada di dekat pintu gerbang, beberapa meja panjang berderet disana dengan kursi plastik. Makanan disajikan dengan sistem prasmanan, kata Aisyah jika hari biasa guru dan karyawan akan mendapatkan jatah makan menggunakan kotak makan yang diantar atau diambil ke ruang kantor karena ruang makan penuh sesak dengan santri.


Makanan yang disajikan sederhana, namun kebersamaan yang tercipta membuat makan terasa nikmat. Seharian itu mereka berkeliling pondok dan turut serta dalam beberapa kegiatan. Selepas ashar Aisyah pamit untuk pulang, karena jam kerjanya sudah berakhir dan dia tidak menginap di asrama.


Meilinda, bu Nur dan Sekar memilih kembali kerumah ustadz Abdul. Ternyata rumah ustadz Abdul memiliki akses masuk dari area asrama putri, mereka tidak perlu keluar gerbang lagi karena Ummi sudah menunggu mereka dan menunjukkan jalan.


"Alhamdulillah sudah puas berkeliling." Sapa Ummi pada mereka.


"Alhamdulillah, Ummi. MasyaaAllah bagus sekali pondok Ummi, kalau ada rezeki besok Sekar sekolah disini ya, ndok?" Bu Nur menatap putrinya.


"Ndak mau, bu. Sekar mau sekolah deket rumah aja, ga mau jauh sama ibu sama bapak." Jawab Sekar merengut.


"Tidak apa-apa, mba... Gak usah dipaksa, mungkin belum siap, siapa tau nanti dapat hidayah." Sambung Ummi dan mengajak mereka untuk masuk dan beristirahat.

__ADS_1


"Nanti kalau Mey bersedia tinggal di pondok ini, bisa sering-sering main kerumah ini, temanin saya." Ucap Ummi.


"Bu Linda mau ikut mas Haikal disini toh?" Tanya bu Nur heran.


"Saya berharapnya begitu, mba. Buat nemenin abah hahahaha." Sebenarnya Meilinda dan bu Nur tidak mengerti apa yang ditertawakan Ummi, tapi demi sopan santun mereka ikut tersenyum.


Dalam benak mereka ada sesuatu dengan Ummi, wajahnya teduh, tenang hanya sedikit pucat. Suaranya pelan, terkadang menggantung, seperti ada yang ingin diungkapkan tapi tersekat dalam tenggorokan.


Mereka duduk diselasar samping, memperhatikan Sekar yang bermain ayunan ditemani ibu nya dan beberapa santriwati.


"Sudah lama rasanya tidak melihat Abah begitu bersemangat, bukan berarti selama ini Abah tidak semangat, tapi kali ini berbeda. Maka dari itu, Mei, Ummi sangat berharap Haikal mau tinggal disini dan kamu menemaninya. Abah bukan hanya ingin memberikan beasiswa pada Haikal, tapi juga ingin menjadi orangtua asuh bagi Haikal. Abah begitu merindukan seorang putra." Ummi memutus keheningan diantara mereka.


"Lagipula, Haikal juga masih membutuhkan figur seorang bapak kan? Dia bisa dapatkan dari Abah, tapi tetap Haikal akan diperlakukan sama dengan santri lainnya disini. Sejujurnya, keinginan Ummi untuk meminta Mey ikut tinggal disini adalah untuk menemani Ummi. Kelihatannya ramai pondok ini, tapi Ummi merasa kesepian. Mey mau kan ya, menemani Ummi disini?" Ucapan Ummi sungguh tidak begitu dipahami Meilinda. Sejak kedatangannya Ummi seperti menginginkan sekali dia untuk tinggal di pondok itu.


Ummi menekan dadanya setelah berkata demikian, terlihat kepayahan sekali mengatur nafasnya. Wajahnya pucat, keseimbangannya sedikit limbung. Meilinda meraih tubuh Ummi.


"Astaghfirullah Ummi, Ummi kenapa?" Tanya Meilinda sedikit panik. Bu Nur dan beberapa santriwati yang melihat segera mendekatinya dan mengusulkan untuk membawa Ummi masuk kedalam.


"Waalaikumsalam," jawab orang-orang yang masih ada di dalam kamar itu serempak, mereka segera beranjak keluar dari kamar. Ummi yang sejak tadi memegang tangan Meilinda tidak mau melepaskan genggamannya, walau dia berusaha karena tidak enak dan ingin ikut keluar dari kamar itu.


"Abah...bujuk Mey untuk tinggal disini ya, sama Haikal. Ummi mohon..." Sahutnya perlahan. Abdul menatap Meilinda yang sedang tertunduk tidak tahu harus bagaimana.


"Kita tidak bisa memaksakan kehendak, Ummi. Ummi yang sabar saja, sebaiknya tidak terlalu banyak pikiran. Ingat kesehatan Ummi." Jawabnya setelah kembali memandang Ummi. Mengambil alih tangan yang menggenggam Meilinda dan membiarkan Meilinda keluar dari kamar meninggalnya berdua dengan Ummi.


"Ooohhh jadi Ummi sakit keras ya, ndok. Pantas saja kok terlihat lemas, kasihan." Meilinda mencuri dengar bu Nur berbicara dengan santriwati sebelum mereka pamit kembali ke asrama.


"Ummi sakit apa, bu Nur?" Meilinda tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Kanker rahim katanya, bu. Ummi memaksa untuk mengandung, setahun yang lalu operasi tapi kankernya sudah menyebar." Jawabnya.


"Lalu bayinya?"


"Tidak ada yang tahu, Ummi tidak bawa bayi sepulang dari rumah sakit. Tidak ada yang berani bertanya, kuatir kesehatan Ummi memburuk katanya."


"Subhanallah..." Kita tidak pernah tahu ujian yang Allah berikan kepada seseorang, sebaik-baik orang adalah yang bisa menyembunyikan penderitaannya. Sekilas orang akan berfikir betapa beruntungnya ustadz Abdul, sukses berdakwah memiliki pondok pesantrean yang lumayan besar dan memiliki istri yang cantik dan mengabdi di pondok mendampingi sang ustadz.


Tidak lama kemudian Abdul keluar dari kamar itu, raut kesedihan tidak dapat disembunyikan. Fajar yang merupakan temannya, walau lama tidak bertemu sampai tidak percaya dengan apa yang terjadi setelah bu Nur, istrinya bercerita. Dia berfikir keadaan Abas, biasa ia memanggilnya, baik-baik saja. Selama kunjungannya kemarin di kota mereka pun, tidak terlihat ada beban berat.


"Beneran Bas, istrimu sakit parah?" Fajar tidak dapat menahan diri untuk bertanya. Abdul menganggukkan kepalanya, dia paksakan untuk tetap tersenyum. "Kok kamu ga cerita?" Ada kesal, ada marah dalam suara Fajar, tapi untuk apa...entahlah, hanya ekspresi itu yang muncul. Diruang tengah itu mereka berkumpul.


"Mau cerita bagaimana, Jar. Kami jalani dengan ikhlas, terus ikhtiar dan tak putus berdoa semoga Allah memberi kesembuhan untuk Ummi. Doa dari santri dan santriwati disini juga terus mengalir. Alhamdulillah..." Abdul sudah lebih bisa mengendalikan emosinya dan lebih tenang.


"Sebentar lagi adzan Maghrib, sebaiknya kita segera ke masjid. Mey, boleh minta tolong jaga Ummi? Dia minta ditemani." Pinta Abdul dijawab Meilinda dengan anggukan.


Setelah yang lain keluar, tidak lama kemudian adzan berkumandang. Meilinda mengambil air wudhu dan mengenakan mukenanya, dia sempatkan untuk menengok kamar Ummi. Matanya tertutup rapat, dadanya naik turun perlahan dan teratur. Mungkin Ummi masih tidur.


"Mey..." Baru saja Meilinda akan beranjak dia mendengar namanya dipanggil.


"Ya, Ummi."


"Setelah shalat, bisa temani disini?" Pintanya dijawab dengan anggukan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2