
Disinilah mereka kembali, di pondok pesantren Babussalam pimpinan Ustadz Abdul. Tidak jauh dari sana terdapat rumah singgah tempat anak-anak yang kurang beruntung bernaung, tempat itu bernama Salsabila.
Selepas acara tasyakuran di Solo, Meilinda, Abdul dan Haikal berlibur menikmati kebersamaan mereka. Haikal sendiri awalnya terheran-heran dengan sifat dan sikap Abahnya diluar lingkungan pondok, berbanding terbalik dengan ketika menjadi seorang ustadz. Haikal senang dan bahagia melihat bundanya banyak tertawa bersama Abahnya, dia pun sangat menyayangi dan menghormati Abahnya.
Sesampai mereka di pondok, ternyata Aisyah sudah menyiapkan kejutan untuk mereka. Dia dan keluarga mengadakan juga mengadakan tasyakuran, mengumumkan secara resmi pendamping ustadz Abdul. Bahkan Tiar dan keluarga juga hadir karena diselenggarakan di akhir pekan dan jarak rumah mereka pun tidak jauh.
Kebahagiaan terus mengalir pada Meilinda, rasanya setelah dia menikah dengan Abdul. Tapi masih ada yang kurang lengkap, kehadiran putri kecil mereka. Rasanya ingin sekali saat itu juga mereka menjemput bidadari mungil itu, tapi harus ditunda dulu. Pengabdian Abdul sebagai seorang ustadz yang beberapa minggu ini tertunda harus ditunaikan, jadwal roadshow dakwah sudah menunggunya setelah cuti lumayan.
Awalnya Meilinda menawarkan untuk menemani, seperti janjinya pada Ummi untuk selalu mendampingi Abah, tapi Abdul memintanya tetap di pondok untuk persiapan kedatangan santri dan santriwati selepas libur. Meilinda akan lebih nyaman dengan kegiatan di pondok daripada ikut mengunjungi daerah-daerah pelosok.
"Kak Bas berangkat berapa lama?"
"Kurang lebih seminggu lah, Mey."
Mereka sedang membereskan dan merapikan pakaian yang akan dibawa Abdul selama dia pergi berdakwah.
"Kenapa Mey, kok cemberut gitu? Gemes deh jadinya..."
"Lama banget sih perginya..." Meilinda semakin merajuk, akhir-akhir ini dia inginnya berdekatan terus dengan ustadz yang sudah menjadi suami dan mencintainya itu.
"Resiko nikah sama ustadz ya begini ini, Mey. Dulu aja kayaknya lega bener kalau kak Bas tinggal, katanya biar bisa bebas berkegiatan. Nah ini saatnya Mey bisa 'me time' lah, kak Bas janji sering-sering hubungi Mey."
"Janji yah, gak akan lirik-lirik hijabers jamaah pengajian disana!"
"Loh, dulu kak Bas diminta cari lagi pendamping, masih boleh gak nih?" Godanya.
"Emang kak Bas berani?" Meilinda melototkan matanya tidak percaya ternyata suaminya memiliki niatan itu.
"Hahahaha ya enggak lah, untuk jadiin Mey istri saja perjuangannya luar biasa. Gak akan lah kak Bas sia-siakan dengan menyakiti perasaan, kalau udah ngambek tuh ngeri, bikin panas dingin hahahaha"
"Aduuhh ampun Mey, Maaf aduuhh sakit..."
"Abiiss kak Bas ngeselin iihh.." Abdul mendekati istrinya yang kemudian merajuk, mengambil posisi favoritnya dengan memeluk Meilinda dari belakang. Mengunci tangan diperut dengan erat sehingga punggung Mey melekat didadanya. Dia tenggelamkan wajahnya dibelakang leher istrinya, menghirup aroma yang selalu dinikmati dan dirindukannya.
"Kak Bas, aahh gelii..."
"Bakalan lama nih ga ketemu, belum-belum udah kangen aja..." Jawabnya lirih. Meilinda membalikkan badannya sehingga mereka saling berhadapan, mata mereka mengunci satu sama lain. Bagi Meilinda, mata suaminya selalu meneduhkan, membuatnya merasa tenang dan nyaman.
Dan akhirnya terjadilah apa yang harusnya terjadi...
****
"Permisi dek, kantornya sebelah mana ya?" Tanya seorang laki-laki dengan penampilan necis seperti orang kantoran. Haikal saat itu baru saja bertemu dengan pamannya, ustadz Arief yang seperti biasa menggantikan tugas ustadz Abdul saat ada jadwal keluar kota.
__ADS_1
"Pintu sebelah kanan, pak." Jawabnya sopan.
"Sebentar, kayaknya gak asing ya, pernah ketemu dimana ya?" Lelaki itu memandang penuh selidik sosok anak dihadapannya, biasanya dia tidak akan perduli dengan sekitar tapi anak ini berbeda.
"Nama kamu siapa?"
"Ana Haikal, pak."
"Haikal... Haikal... Tunggu, kamu anaknya Linda, kan? Petugas katering di kota Jawa, kok bisa ada disini?" Akhirnya dia bisa mengingat dan menyadari mengapa wajah anak ini sempat lekat dalam ingatannya.
"Bapak ini..., maaf saya lupa, pak." Haikal cengengesan.
"Ayo kita ngobrol-ngobrol dulu deh..." Ajak lelaki itu, dia melupakan atau lebih tepatnya mengesampingkan tujuannya datang ke pesantren itu.
"Kamu kok bisa ada disini?" Lelaki itu mulai memginterogasi Haikal.
"Ana sekolah disini, pak."
"Jauh-jauh dari Jawa kesini? Terus bunda sendiri dong dirumah?"
"Dapat beasiswa, alhamdulillah. Maaf, pak, ana bener-bener lupa, dimana ya kita ketemu?"
"Jangan pak lah, biasanya juga om. Masih kecil kok udah pelupa, kan pernah jemput sekolah dulu, terus ikut ke kantor om." Haikal berpikir, selama ini tidak pernah dijemput orang lain pulang sekolah karena penjagaan sekolahnya dulu juga ketat, kecuali dulu pernah...
Revan, dulu pimpinan dari kantor X. Salah satu kantor dimana banyak karyawannya menjadi langganan katering tante Ivone. Meilinda pernah mengantarkan 'paket' makan siang ke kantornya dan terlibat sedikit insiden. Revan yang dulu pernah tertarik pada Meilinda, kok bisa ada di lingkungan pondok pesantren Babussalam?
"Nah itu udah inget sekarang hehe jadi Haikal lanjut sekolah disini ya? Bunda apa kabarnya? Sendirian dirumah dong?" Rasa penasaran Revan tentang kabar Meilinda belum juga terjawab.
"Alhamdulillah bunda baik, Om. Ikut tinggal disini kok..."
"Hah?! Apa iya? Dimana?"
"Dirumah utama. Maaf Om, Haikal harus ke asrama tadi diminta menyampaikan amanat ke ke musrif disana." Haikal mencium punggung telapak tangan Revan kemudian beranjak.
'Jadi Linda tinggal disini ya sekarang... Dirumah utama, yang itu kayaknya...' Revan melangkahkan kakinya menuju rumah dipojok, dekat gerbang.
"Permisi... Selamat sore... Permisi..."
"Afwan, Akhi... Ada yang bisa dibantu? Ustadz Abdul sedang pergi untuk dakwah diluar kota? Ada keperluan apa ya?"
'Ooohh jadi ini rumah ustadz ya... Lalu dimana Linda? Mungkin bisa tanya istrinya ustadz aja'
"Kalau istrinya, boleh bertemu istrinya?"
__ADS_1
"Maaf Akhi, disini tidak diperbolehkan bertamu dengan bukan mahram nya. Sebaiknya Akhi ke kantor saja jika ada keperluan, biar ustadz Arief yang akan menjelaskan. Mari ana antar." Ucap salah satu ustadz yang juga merangkap sebagai kepala keamanan di pondok menawarkan.
Revan mengikuti langkah satpam itu kembali menuju bangunan dimana tadi dia bertemu dengan Haikal. 'Harus sabar, dia gak bisa seenaknya dilingkungan baru. Bisa-bisa malah diusir sebelum keinginannya tercapai.' Batinnya.
Revan memasuki ruang kantor setelah satpam itu memberitahu orang didalam dan pergi meninggalkannya, ruangannya memang tidak sebesar dan semewah kantornya tapi rapi dan sejuk padahal tidak memakai pendingin ruangan. Ada aura bagaimana gitu ketika masuk keruangan itu.
"Mari-mari silahkan masuk. Maaf dengan siapa dan untuk keperluan apa ya?" Ustadz Arief menjabat tangan tamu yang datang.
Dari penampilannya seperti seorang eksekutif muda, perawakan tinggi dan terawat.
"Bapak Gunawan Wibowo yang meminta saya datang kesini."
"Bapak Gunawan Wibowo... Oh iya, ustadz Abdul memberitahu saya soal beliau. Alhamdulillah, terimakasih banyak. Semoga hidayah segera tercurah untuk beliau."
"Papi meminta saya untuk memantau dana yang akan diberikan, apa boleh saya tinggal disini lebih lama? Apa ada hotel disekitar sini?" Tiba-tiba ide itu muncul dalam benaknya, ini semua gara-gara dia gagal bertemu Linda.
"Oh jadi anda putra dari Bapak Gunawan, baik coba saya hubungi ustadz Abdul terlebih dahulu. Maaf nama anda?"
"Revan Wibowo, permisi saya harus menghubungi seseorang." Revan keluar kantor dan menghubungi asistennya, mendelegasikan tugas hari itu karena dia akan tinggal lebih lama dari yang diperkirakan.
"Assalamualaikum Kang, ini ada orang bilang putranya Pak Gunawan yang akan memberikan dana guna pembangunan pondok itu, beliau ingin memantau langsung dana yang akan disalurkan itu, tanya soal hotel ini, Kang. Bagaimana? Namanya Revan Wijaya."
"Waalaikumsalam, tidak apa-apa lah. Kita berhuznuzhon saja, tawarkan tinggal di rumah tamu. Coba Akang hubungi Pak Gunawan, nanti akang kabari lagi." Untung saja saat itu Abdul belum memulai tausiah nya sehingga bisa menerima panggilan telfon dari adik iparnya.
Dia pun kemudian menghubungi bapak Gunawan, seorang pengusaha sukses. Pertemuan tanpa sengaja mereka terjadi dalam salah satu perjalanan dakwah Abdul dan Gunawan dalam perjalanan bisnis, karena berada dalam gerbong kereta yang sama dengan perjalanan yang lumayan panjang mereka pun terlibat percakapan.
Gunawan tertarik dengan pemaparan Abdul tentang memaknai hidup, bahwa hidup ini untuk sementara. Gunawan selama ini selalu mengejar dunia, selalu berusaha memajukan perusahaannya. Semakin dia mencapai suatu target, maka dia akan berusaha untuk lebih lagi. Pembawaan Abdul yang tenang dengan pemaparan yang sederhana namun tidak terkesan menggurui membuat Gunawan semakin memikirkan apa sebenarnya yang dia cari selama ini.
Dia ingin keluarganya, anak dan istrinya hidup bahagia dan berkecukupan. Untuk hal yang terakhir, Gunawan yakin sudah memberikannya bahkan lebih dari cukup. Tapi bahagia, entah lah... Mereka bahkan sudah lama tidak bertemu. Revan, putra satu-satunya, memilih pindah ke Jawa dan memulai bisnis sendiri disana. Putri satu-satunya, memilih untuk melanjutkan kuliah di Amerika dan menetap disana, entah kapan dia akan menyelesaikan study nya. Istrinya, sibuk dengan butik dan kehidupan sosialitanya. Dan dia sendiri, bolak-balik dari satu tempat ke tempat lain berusaha mendapatkan tender.
Hari itu, ketika dia seharusnya memenangkan tender, semua sudah didepan mata tapi ternyata saingan bisnisnya menikung dari belakang, mensabotase semua persiapan, ini pasti kerjaan orang dalam dan dia harus mencari orang itu, bahkan seseorang telah berusaha untuk mencelakainya dalam perjalanan menuju bandara. Untung saja dia bisa lolos, dengan hanya beberapa lembar uang merah di dompet dia memilih memggunakan kereta api kembali ke ibu kota dimana kemudian dia bertemu dengan ustadz Abdul.
Kejadian itu sudah lebih dari satu tahun yang lalu, perlahan namun pasti semenjak pertemuannya itu, mereka kerap kali berkomunikasi, lebih tepatnya Gunawan banyak berkonsultasi pada ustadz Abdul. Anak muda yang mungkin lebih tepat dia anggap sebagai anak itu, telah menggerakkan hatinya. Mengejar dunia itu tidak akan ada habisnya, dunia itu tidak memiliki ujung. Kematian sudah pasti akan terjadi, dan kematian itu bukan sebuah akhir. Ada perjalanan panjang untuk mencapai keabadian di akhirat. Dia bukan orang yang taat akan agama, banyak ilmu yang dia dapat setiap kali berbincang dengan ustadz Abdul.
Abdul menerima pesan dari pak Gunawan, bahwa memang benar dia mengutus putranya untuk datang dan menyerahkan langsung dana yang akan dia berikan untuk pondok, biasanya dia akan mengirim dana dengan transfer bank tapi mendengar Revan ada pertemuan di kota tersebut tergerak rasanya dia ingin putranya datang mengunjungi tempat yang menurutnya membuat damai itu. Abdul bahkan menerima kiriman foto Revan untuk memastikan bahwa memang putra dari Gunawan yang datang, yang langsung dikirimkannya ke Arief.
.
.
.
.
__ADS_1