
"Masalah saya akan selesai jika saja dari dulu Linda mau menikah dengan saya, maka akan saya selesaikan sekarang juga masalahnya dengan menikahinya. Saya harap anda mau melepasnya dan mengembalikannya pada saya." Revan tetap berbicara dengan angkuh.
Meilinda yang merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki yang ada dihadapannya hampir saja tersulut emosinya jika saja tidak dirasakan genggaman tangan Abdul sang suami mengerat, dia menatap wajah Abdul yang menunduk dan sedang menutup matanya. Meilinda tahu suaminya sedang meredakan emosi.
"Kami bertemu jauh sebelum anda mengenal anda, kami terpisahkan walau cinta itu telah hadir. Semua takdir dari Allah, dan sekarang akhirnya kami kembali bersatu juga merupakan takdir dari Allah. Saya tidak akan pernah melepaskan istri saya, yang merupakan cinta pertama saya dimasa SMA." Abdul menjeda ucapannya, melihat reaksi Revan yang sedikit terkejut mengetahui fakta yang diucapkan rivalnya itu.
"Karena anda sudah mengatakan niat anda dan sudah mendapatkan jawabannya, maka maaf masih ada hal lain yang harus kami lakukan. Sekali lagi kami mohon maaf, saya secara pribadi akan menyampaikan permintaan maaf ini kepada pak Gunawan nanti."
Revan lupa bahwa ustadz didepannya ini kenal dekat dengan papa nya, bahkan bisa dibilang lebih dekat dari pada dirinya yang anak kandungnya. Merasa tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, Revan keluar dengan rasa kecewa yang menggunung.
"Kak..." Meilinda menatap wajah suaminya, terdengar helaan nafas berat sebelum dia balas menatapnya. Tangan mereka masih saling bertautan.
"Dalam setiap rumah tangga, pasti akan ada badai yang mendera. Kita akan kuat bertahan jika tetap bersama, kejujuran dan saling percaya satu sama lain adalah tiang penyangga utama. Apa pun yang terjadi, bertahan lah disisi kak Bas." Ucapnya sambil mencium punggung tangan Mey yang menatapnya dengan haru.
Tangan Abdul bergerak kepunggung Meilinda dan merapatkan tubuh mereka, baru saja dia akan menempelkan bibirnya, Mey menahan mulutnya dengan tangannya.
"Pintunya belum ditutup, kak, nanti ada yang lihat. Ini kawasan pondok pesantren kok ada tontonan gratis, apa kata santri dan ustadz nanti." Godanya sambil membebaskan diri dari kungkungan sang suami.
Bukannya menutup pintu, Meilinda melangkah menuju belakang sambil membawa minuman dan camilan yang bahkan tidak disentuh dari tadi dan melakukan pekerjaan rumah yang tertunda karena berjalan-jalan dan juga melayani tamu tak diundang. Abdul menyusul istrinya kebelakang setelah menutup pintu dan menguncinya.
Abdul duduk di belakang, memperhatikan istrinya yang sibuk mondar-mandir melakukan ini dan itu.
"Minumannya dihabisin aja, kak, sayang belum disentuh sama sekali. Daripada mubazir, mau sekalian Mey cuci itu cangkirnya."
"Sini dong, temenin kan ada dua ini." Meilinda menghampiri suaminya, duduk disebelahnya menikmati teh yang sudah tidak hangat lagi.
"Besok kita jemput Khansa ya?"
Meilinda menatap suaminya dengan mata berbinar-binar. "Tapi kan kak Bas baru aja pulang, apa ndak capek harus perjalanan jauh lagi?"
"Udah gak sabar pengen ketemu, sudah terlalu lama kami terpisah. Semakin cepat semakin baik, kan?" Meilinda menganggukkan kepala dengan semangat, dia juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Khansa, putri kecilnya. Walau tidak terlahir dari rahimnya, dia sudah menyayangi batita itu.
Perlahan Abdul mendekati Meilinda yang masih larut dalam khayalannya membayangkan putri mereka, tiba-tiba saja dia merengkuh tubuh Mey dan mencium bibirnya. Awalnya Mey terkejut mendapat serangan mendadak itu, tapi kemudian dia mengikuti permainannya.
__ADS_1
"Mumpung masih bebas, Mey, besok kalo sudah ada Khansa pasti lebih susah lagi. Mey pasti lebih sibuk bermain dengan Khansa, terus kak Bas harus mengalah."
"Kak Bas apaan sih, masa mau cemburu sama anaknya sendiri."
"Gak cuma sama anak kok kak Bas cemburu, lihat Revan tadi lebih lagi, Mey."
"Tapi tadi kayakny biasa aja tuh..." Meilinda nampak senang menggoda Abdul, suaminya.
"Kak Bas kan tau kalo Mey sayangnya sama kak Bas, sudah gak bisa kelain hati hehe"
"Iihh pede amat yah, kalo bukan karena Ummi juga Mey belum tentu mau..." Meilinda berlari masuk kedalam menghindari Abdul, tapi tidak dibiarkannya.
Abdul mengejar Mey dengan mudah dan bisa kembali menahannya dalam kungkungannya. Nafas mereka berderu, dada Meilinda naik turun. Abdul menyingkirkan anak rambut yang menjuntai dipipi istrinya, jarinya menyelusup kebelakang leher. Membuat ciuman dan l*****n semakin dalam dan panas, dibimbingnya Mey menuju kamar tanpa melepaskan penyatuan bibir mereka.
****
Saeful sudah terbiasa mendampingi Abdul kemana pun pimpinannya pergi, bahkan untuk acara mendadak sekali pun tidak masalah. Dia segera mengecek kondisi kendaraan dan menyiapkannya setelah mendengar kabar mereka akan melakukan perjalanan jauh ke pulau S untuk menjemput sang putri, Abdul bermaksud membawa kendaraan sendiri karena yakin akan ada beberapa barang Khansa yang harus dibawa. Mereka juga tidak bisa memprediksikan kapan akan kembali.
"Niat kita kan akan membawa anak batita, persiapannya lebih repot kak. Pasti ini perjalanan jauh pertamanya, kita harus pastikan dulu dia sehat. Belum lagi ini pertama kali kita akan bertemu, Khansa butuh adaptasi lebih lama dengan orang asing sebelum benar-benar mau ikut kan... Mey sih berharap semua lancar dan dimudahkan." Papar Mey ketika pembahasan penjemputan Khansa.
"Deuuuhhh gak usah gombal deh, ini tangan tolong yah dikondisikan! Emang masih kurang apa, kak?!" Meilinda meliuk-liukan badannya menghindari sentuhan Abdul yang merajalela.
"Hahahaha iya deh, lagian bentar lagi juga ashar. Kak Bas cek pondok dulu ya..." Abdul beranjak dari tempatnya, mengecup singkat pipi istrinya yang bersemu merah.
Banyak yang harus Mey persiapkan untuk perjalanan besok, segera dia ke belakang mengingat tadi belum sempat mencuci baju kotor suaminya. Sambil mulai menyusun rencana perbekalan yang akan diperlukan untuk perjalanan, Meilinda mendengar suara adzan berkumandang dengan merdunya. Dia tahu pemilik suara itu, 'tumben kak Bas yang adzan' gumamnya seraya bersiap untuk pergi ke masjid.
Selepas Ashar, Abdul sibuk membahas masalah kepondokan dengan Arief dan ustadz lainnya. Dia sudah mengabari akan pulang selepas isya, Meilinda pun ikut menyibukkan diri di asrama putri. Dia mengabari Abdul untuk meminta Haikal menemuinya selepas maghrib, dia ingin memberitahu soal kepergian mereka menjemput Khansa.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Meilinda bergegas membukakan pintu depan mendengar salam putra semata wayangnya.
"Kata Abah, bunda mau ketemu Haikal..."
__ADS_1
"Iya, nak... Masuk dulu, ngobrol sambil duduk ya."
"Oh ya, bund, kemarin dulu aku ketemu om Revan loh disini, bahkan sampai menginap di rumah tamu. Tanya-tanya soal bunda juga, ada beberapa santri yang liat om Revan juga ngobrol sm bunda sm ustadz Abdul ya didepan?"
"Ngobrol apa, mas sama om Revan?"
"Ndak ngobrol sih, bund, karena kan Haikal juga kegiatannya padat, cuma tanyain bunda aja. Ndak ada apa-apa toh, bund? Semua baik-baik saja kan? Bunda sama abah baik-baik saja kan?"
"Kamu kok tanya nya gitu, emang ada apa bunda sama abah?"
"Yah itu, karena ada om Revan, apa Abah marah....? Tp tadi waktu ketemu abah sih aku ngerasanya biasa aja, bund. Beneran gak ada apa-apa kan? Inget ndak dulu, ayah pernah marahin bunda gara-gara ada temen lama bunda, laki-laki datang kerumah? Muka ayah nyeremin deh, diem sambil matanya melotot, abis gitu gak mau ngomong-ngomong sampe kita bingung."
'MasyaaAllah, begitu dalam ingatanmu tentang masa itu.' Batin Meilinda terkenang kejadian mantan atasannya sewaktu bekerja di salah satu bank datang berkunjung. Pak Dion datang hanya untuk menanyakan kabar saja setelah menemui nasabah yang rumah nya tidak begitu jauh dari rumahnya, tidak disangka saat itu pun Hamdan ada keperluan dan pulang untuk makan siang dirumah.
Sebenarnya pak Dion pun tidak datang sendirian, ada supir yang memilih menunggu di mobil dan Neli, rekan kerjanya yang sedang menumpang ke toilet di belakang yang turut serta tapi karena sudah diliputi amarah Hamdan langsung pergi begitu saja. Seringkali jika sedang marah, Hamdan melakukan aksi mogok bicara dengannya. Sungguh dia tidak mengira ternyata, Haikal terkena juga dampak dari kejadian itu.
"Ndak kok, Abah ndak marah. Malah tadi Abah ngajakin om Revan ngobrol disini. Bunda tuh panggil kamu karena bunda mau pamit..."
"Bunda mau kemana? Katanya Abah ndak marah, kok nyuruh bunda pergi?" Haikal memotong pembicaraan karena khawatir.
"Ndak gitu, sayang. Bunda pergi sama Abah, mau jemput Khansa. Kita gak tau sampe berapa lama disana, yah sampe dek Khansa mau diajak pulang." Jawab Meilinda menenangkan putranya sambil tertawa geli.
"Oalaahh bund, ta pikir tuh..." Haikal terkekeh malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hatinya lega mendengar penuturan bundanya.
"Haikal senang bund, berarti tidak lama lagi bisa ketemu dek Khansa dong. Ya udah, bunda sama Abah hati-hati ya dijalan. Haikal doakan semoga perjalanannya lancar, Aamiin. Haikal kembali ke masjid ya bund, nanti dicariin musrif hehe assalamualaikum." Setelah mencium punggung tangan bundanya, Haikal beranjak keluar dan kembali bergabung dengan kelompoknya untuk setoran hafalan.
"Aamiin Allahuma Aamiin, waalaikumsalam."
.
.
.
__ADS_1
.