
Meilinda ikut makan siang di rumah singgah, karena ustadz Abdul makan di asrama bersama karyawan pondok katanya. Menjelang ashar dia sudah dirumah dan bisa shalat berjamaah di masjid. Segera dia kembali kerumah dan mandi, dia ingat sore itu akan menemani ustadz Abdul ke kota.
Dia memilih mengenakan baju yang kemarin dia pilih dari sekian baju Ummi, setelah mengenakan hijabnya dia beranjak ke dapur memeriksa semua pintu, jendela dan kompor. Kemungkinan mereka baru akan pulang malam hari. Meilinda menyiapkan tas yang berisi mukena, Al-Qur'an dan notebook serta alat tulis juga termos minum yang berisi teh jahe panas kesukaan ustadz Abdul.
Baru saja dia selesai dengan semuanya, dia mendengar suara ustadz Abdul mengucap salam lalu dia jawab sambil berjalan kedepan menghampiri asal suara.
Abdul tertegun menatap Meilinda lama. Meilinda kebingungan melihat reaksi ustadz, pasti karena baju ini batinnya. 'Apa baju ini terlihat aneh aku pakai? atau ini mengingatkannya pada Ummi? Apa sebaiknya aku ganti baju saja ya? Iya.' Dia membalikkan badannya hendak melangkah namun tiba-tiba lengan Abdul merengkuhnya dari belakang, memenjara tubuh Mey dalam dekapannya.
"Tolong biarkan begini sebentar, sebentar saja..." Abdul berucap lirih ditelinga Meilinda membuatnya diam membeku.
Abdul teringat hari itu, tepat sehari setelah Ummi tanpa sengaja menemukan buku agenda lamanya di gudang, dia membelikan baju itu dan ketika dicoba oleh Ummi terlihat kebesaran.
"Ini gak bisa dikecilin, Bah, sayang aksen dibawahnya kepotong nanti. Ummi simpan saja, siapa tahu bisa untuk gadis pemilik hati Abah nanti." Ummi menggodanya saat itu, dan baru disadarinya siapa yang dia bayangkan saat memilih baju itu. Hatinya merasa bersalah dan menawarkan untuk menukar dengan ukuran lebih kecil. "Jangan, hati tidak bisa dibohongi. Doa Ummi semoga kita segera dipertemukan dengannya."
"Ustadz... Sesak..." Suara parau Meilinda menyadarkan lamunannya.
"Maaf, Mey cantik sekali. Terimakasih. Ayok berangkat, ustadz Saiful sudah menunggu didepan."
Sepanjang perjalanan girang sekali Abdul ditemani sang istri, apalagi dia terlihat cantik dengan baju yang dibelinya dulu. Berkali-kali dia melirik kebelakang melalui kaca spion untuk mencuri pandang pada istrinya, Saiful yang melihat merasa geli sendiri.
Sedangkan Meilinda hanya duduk sambil menatap keluar jendela, dia sama sekali tidak menyadari dan memang tidak ingin melihat walau hanya kearah punggung lelaki itu. Wajahnya memerah mengingat kejadian dirumah tadi, dimana dia ada dalam dekapan Abdul. Jantungnya berdetak dengan kencang, dia juga bisa merasakan dipunggungnya jantung Abdul berdetak sama kencangnya.
Sampai dilokasi, mereka turun dari mobil berdua sedangkan Saiful mencari parkir mobil. Abdul mengenalkan Meilinda kepada pihak penyelenggara, mereka mengajak masuk dan berbincang-bincang sebentar. Mey berjalan dibelakang ustadznya sambil menunduk, pasti merah sudah wajahnya jika bertatapan dengan lelaki itu.
Menjelang adzan semua beranjak menuju masjid, jamaah sudah menunggu dan masjid pun penuh sesak. Meilinda dibimbing menuju tempat yang sudah disediakan untuknya dan penyelenggara oleh panitia. Ternyata enak yah jadi istri seorang ustadz, tidak perlu repot mencari tempat atau datang duluan jauh sebelum waktu tausiah untuk mendapatkan tempat, MasyaaAllah.
Setelah shalat tidak ada yang beranjak dari tempatnya, acara dimulai dengan doa-doa dan sambutan.
"Bu, ini istrinya ustadz teh? Katanya ini istri kedua ya, yang pertama meninggal karena sakit. Janda anak satu katanya, hebat yah bisa dapetin ustadz, itu anaknya ibu Lidya juga pernah diajukan untuk menikah sama ustadz, tapi ditolak katanya. Apa coba kurangnya si Eneng, masih gadis padahal." Bisik Ibu yang duduk di shaf belakang Meilinda.
"Tadi juga saya lihat kok jauh-jauhan ya sama ustadz, kayak kaku gitu, kayak bukan suami-istri." Ibu lain menimpali.
"Kayaknya sih ustadz terpaksa menikahinya gara-gara istri pertama masuk ICU, pernikahannya juga mendadak kok di rumah sakit, cuma nikah sirih."
__ADS_1
"Berarti si Eneng masih punya kesempatan atuh ya?"
"Jangankan Eneng, Ibu juga bisa kayaknya xixixixixi..."
Kurang lebih begitu lah para ibu berbicara di belakang sampai akhirnya terpotong karena adzan isya.
Ustadz Abdul menaiki mimbar, dari atas dia bisa melihat istrinya dibarisan depan shaf akhwat menundukkan kepalanya. Tausiah dimulai, tema yang diminta adalah tenang penikahan yang sakinah mawadah warohmah sesuai dengan permintaan pihak penyelenggara yang akan menikahkan putra/putrinya sebentar lagi.
Moderator meminta ustadz Abdul memberikan tausiah secara singkat saja karena mereka membuka sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan yang ditulis jamaah dalam secarik kertas bahkan sudah masuk pihak panitia sebelum tausiah dimulai. Pertanyaan disortir agar tidak terlalu banyak.
Pertanyaan demi pertanyaan dibacakan dan dijawab ustadz Abdul dengan lugas, biasanya kalau tema begini banyak pertanyaan yang mengundang tawa. Bahkan Mey yang tadi menunduk sekarang hanyut dalam suasana dan ikut tersenyum, Abdul bahagia sekali karena dia sering menatap kearah istrinya itu.
"Pertanyaan berikutnya ini, ustadz tapi maaf sebelumnya, pihak panitia menemukan pertanyaan yang mirip-mirip nih, dan banyak ternyata yang penasaran. Mohon ustadz baca dulu dalam hati siapa tahu tidak berkenan." Moderator menyerahkan beberapa carik kertas pertanyaan, ustadz Abdul membacanya lalu tersenyum. Jamaah jadi penasaran dengan pertanyaan yang tidak langsung dibacakan itu, tidak seperti pertanyaan lainnya.
"Baca, ustadz."
"Iya ustadz, dijawab aja."
Jamaah mulai memberi semangat, kemudian Abdul menatap Meilinda dalam.
Jamaah kembali riuh, beberapa yang penasaran mencoba melongok barisan depan menebak-nebak sosok istri sang ustadz.
"Bismillahirohman nirrohim, saya jawab ya ibu dan bapak. Ada yang bertanya mengapa saya akhirnya berpoligami? Istri mana yang lebih saya cintai atau sayangi? Dimana bertemu dengan istri? Dan pertanyaan seputar itu. Jawabannya karena semua sudah takdir Allah."
"Lagi ustadz, jawabnya."
"Jawab satu-satu aja, tadz."
Sahut-sahut mulai terdengar. Meilinda mulai merasa tidak nyaman, dia duduk dengan gelisah. Abdul memperhatikannya, kemudian menatapnya lembut.
"Jika ditanya istri mana yang saya sayangi? Jawabannya Ummi, istri pertama saya yang sudah tiada." Meilinda sudah tahu itu, ustadz sudah pernah mengatakan sebelumnya tapi mengapa hatinya sakit.
"Ada yang menulis benarkah kalau istri kedua, di pondok biasa dipanggil Bunda, merebut perhatian saya dan membuat Ummi jadi jatuh sakit sampai meninggal lah. Aduuuhhh ibu, jangan kebanyakan nonton sinetron dong yang isi hati orang aja bisa kedengeran sama penontonnya."
__ADS_1
"Itu sama sekali tidak benar, jatuhnya menjadi fitnah dan itu dosa besar langsung masuk kedalam neraka!" Ada penekanan dengan sedikit emosi terdengar.
"Astaghfirullah al 'azim... Baik, mungkin memang sebaiknya sedikit saya ceritakan disini. Tidak ada yang merebut hati siapa, atau kata trend nya pelakor. Ini semua benar Allah yang mengatur, sudah takdir dari Allah. Bunda hadir bahkan jauuuhhh sebelum saya bertemu dan mengenal Ummi, saya simpan rapat dalam hati. Bahkan mungkin saat ini juga pertama kali saya nyatakan bahwa saya mencintai bunda jauh sebelum saya menyayangi Ummi." Mata Abdul menatap Meilinda intens, menanti reaksi tak terbaca dari istrinya yang hanya menundukkan kepala.
"Jadi hadirin sekalian, yakinlah pada Allah, yakinlah pada takdir Allah. Tetap lah berhusnuzhon pada Allah, tidak usah putus asa kalau doa-doa belum dikabulkan. Allah lebih tahu kapan waktu yang terbaik bahkan mungkin karena Allah tahu yang lebih baik dari yang kita pinta." Dia kemudian mengangguk pada moderator.
Acara ditutup dengan doa, kemudian Abdul pamit undur diri. Ditempat lain, panitia memberi jalan pada Meilinda dan penyelenggara untuk lewat. Abdul masih beramah tamah dengan beberapa orang sebelum akhirnya pamit undur diri setelah melihat Meilinda keluar dari masjid dan mendekatinya. Dia genggam tangannya erat dan berjalan beriringan menuju mobil yang sudah menunggu, Meilinda hanya diam mengikuti.
Abdul membimbing Mey masuk kedalam mobil tanpa melepaskan genggamannya dan turut duduk disebelah Mey di kursi penumpang dibelakang. Setelah menutup pintu, Saiful melajukan mobilnya tersenyum-senyum mengingat tausiah malam ini yang luar dari biasanya.
Kedua penumpangnya masih sama-sama membisu dibelakang, lama kelamaan Mey tertidur karena rasa lelah. Lelah berargumen dengan pikirannya sendiri, lelah dengan perang bathin nya.
Abdul menatap sendu sosok cantik disebelahnya, dia senderkan kepala Mey dipundaknya. Entah lah apa yang akan terjadi besok, yang ingin dia lakukan adalah menikmati saat itu. Lampu lalin sedang merah saat itu, Saiful meraih HP Abdul yang memang selalu dia pegang jika lelaki itu sedang memberikan tausiah. Jadi kalau ada pesan atau panggilan masuk penting, dia bisa terima.
Tanpa Abdul sadari, Saiful yang iseng mengambil beberapa gambar momen dimana Meilinda tertidur di pundak Abdul, saat Abdul membetulkan kepala Meilinda. Kamera Abdul keluaran terbaru, walau kondisi didalam mobil gelap, tapi gambar yang dihasilkan bisa terlihat jelas walau tanpa flashes. Tiba-tiba saja Saiful punya inisiatif itu, pasti bos nya senang jika melihatnya nanti.
Sampai dirumah, Abdul turun terlebih dahulu dari mobil. Membuka pintu rumah kemudian pintu kamar Mei, lalu kembali keluar. Meilinda masih terlelap, Abdul menggendongnya sampai dikamar tamu dan membaringkannya di tempat tidur. Dia kembali kedepan mengucapkan terimakasih pada Saiful dan menerima tas Meilinda serta HP, lalu masuk kembali setelah mengunci pintu.
Abdul menghampiri Mey yang tertidur pulas, wajahnya pucat menyiratkan kelelahan. Dia melepas sepatu Mey juga kaos kakinya, membetulkan letak tidurnya perlahan. Diusapnya kepala Mey dengan sayang.
"Maafkan kak Bas yang menyatakan semuanya dengan cara seperti ini. Maaf tadi sempat tersulut emosi, kak Bas tidak rela ada orang yang berpikiran buruk tentang Mey. Istirahatlah istriku, cinta pertamaku." Abdul mengecup kepala Meilinda pelan dan keluar dari kamar kemudian menutup pintunya.
Meilinda menutup mulutnya dan terisak pelan, khawatir Abdul mengetahui kalau dia sebetulnya tidak tidur. Dia sudah bangun ketika sampai rumah dan melihat tidak ada orang di mobil, ternyata Abdul sedang membuka pintu dan masuk kedalam. Ustadz Saiful berdiri saja dipintu, tidak lama Abdul kembali. Karena bingung dan segan jika harus berhadapan dengan lelaki itu, jadi Mey pura-pura tidur.
Dia sangat tidak menyangka kalau ustadznya itu akan menggendongnya sampai kedalam kamar, sendirian. Bahkan setiap kata yang diucapkan tadi didengarnya dengan jelas.
'Ya Allah, takdir apa ini yang Engkau berikan padaku? Bagaimana bisa dia menyimpan rasa itu sampai sekian lama? Bagaimana jika dia tahu apa yang telah terjadi padaku, akan kah dia tetap berpikir untuk mencintaiku? Apa dia juga akan memperlakukanku seperti itu? Bagaimana sebenarnya perasaanku padanya?' Batin Meilinda kembali berperang.
.
.
.
__ADS_1
.