Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
24.


__ADS_3

Dari kejauhan terlihat sebuah masjid, ditengah sawah yang membentang siap dipanen. Gedung bertingkat nampak disekitarnya. Memasuki gerbang pondok, suasana tidak terlalu ramai. Hanya nampak beberapa santri diselasar masjid, alunan ayat-ayat suci terdengar sahut menyahut. Rupanya mereka sedang murojaah, menguatkan hafalan.


Haikal antusias menatap jendela diluar, mencoba meresapi kegiatan di pondok. Mobil berbelok kearah kiri, disudut terlihat sebuah rumah yang tampak asri. Dikelilingi pepohonan meneduhkan, sederhana namun nyaman dan bikin betah. Mobil berhenti tepat didepan pintu rumah yang terbuka, dari dalam muncul lah ustadz Abdul yang rupanya sudah menunggu kedatangan mereka.


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarrokatuh" Salam Fajar yang paling duluan turun dari mobil, berjabat tangan dan saling berpelukan.


"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarrokatuh..." Jawab Abdul "Pasti lelah setelah perjalanan jauh, mari silahkan masuk." Ajaknya.


Ruang tamu itu luas, terdapat dua set tempat duduk disana. Abdul mengarahkan bu Nur dan Meilinda untuk duduk di set kursi agak dalam, sedangkan Fajar dan Haikal duduk bersamanya. Beberapa hidangan telah tersedia dimeja, tidak lama kemudian seorang wanita muncul dengan membawa minuman hangat dan meletakkannya dimeja kemudian kembali masuk kedalam.


"Assalamualaikum..." Salam seseorang yang baru saja muncul dari dalam.


"Waalaikumsalam..." Jawab semua orang serempak.


"Ummi...ayo duduk..." Abdul mendekatinya dan menggandengnya untuk duduk dekat dengan bu Nur dan Meilinda, kemudian dia kembali ketempatnya berbincang-bincang dengan Fajar dan Haikal.


Setelah bergantian bersalaman, mereka kembali duduk."Alhamdulillah senang rasanya akhirnya bisa bertemu, Abah banyak bercerita tentang bu Nur dan juga mbak Mei." Ucapnya berkaca-kaca. "Ini putrinya? Kelas berapa, nak?" Tanya Ummi pada Sekar.


"Kelas 4, Ummi."


"MasyaaAllah..."


"Sudah lama saya tunggu mba Mei, penasaran rasanya ingin bertemu. Dan MasyaaAllah ternyata lebih cantik dari yang saya bayangkan..." Ummi berpindah duduk disebelah Meilinda yang sedikit kebingungan dan canggung. Abdul melirik sebentar sebelum kemudian kembali mengalihkan pandangannya.


"Maaf, Ummi dengar cerita apa soal saya? Siapa yang bercerita?"


"Abah yang cerita, Abah juga cerita soal nak Haikal. Abah kan sering telfonan sama nak Haikal buat setoran, ya nak? Ummi denger itu, nak... MasyaaAllah suaramu nak, akhirnya Ummi bisa lihat kamu juga. Alhamdulillah senang rasa hati ini." Ummi tidak berpura-pura atau sekedar basa-basi mengatakan semua itu, matanya berbinar-binar penuh kesungguhan.

__ADS_1


"Astaghfirullah al a'zim, saking senengnya sampe lupa ayok diminum mumpung masih anget. Didalam juga bibik sudah menyiapkan sarapan, ayok Abah langsung diajak saja tamunya, nak Haikal pasti sudah lapar. Nak Sekar juga ya, nak. Ayok ayok jangan sungkan."


Berbondong-bondong mereka masuk lebih dalam kerumah, terlihat diatas meja makan sudah ditata dengan berbagai lauk. Mereka duduk lesehan diatas karpet yang dihamparkan diruang tengah. Tidak banyak barang yang ada didalam rumah, tetap sederhana dan nyaman.


"Mari kita ke rumah sebelah, kalian bisa beristirahat disana." Ajak Abdul pada Fajar dan Haikal setelah mereka selesai makan. Abdul memang memiliki beberapa rumah disebelah, biasa digunakan bila ada tamu yang datang dari luar kota dan menginap disana. Seringkali disewa oleh wali santri yang datang untuk menengok putra/putri mereka.


Saat itu santri sedang berlibur, kebanyakan dari mereka telah dijemput keluarganya. Sebagian masih menunggu dan ada beberapa yang bertahan dipondok karena kampung halaman yang jauh, mereka memilih untuk stay di pondok. Setelah meletakkan barang bawaan, mereka memutuskan untuk berkeliling sebentar.


Bangunan pondok terbagi menjadi dua, area putri/akhwat dan area putra/ikhwan. Dibatasi oleh jalan yang bisa dilalui dua kendaraan bergantian. Untuk menuju area ikhwan, mereka menyebrangi jalan. Mereka disambut oleh beberapa gubuk gazebo, disebelah kanan berderet kelas-kelas yang dipakai untuk KBM mengikuti pemerintahan setempat, dan sebelah kiri bangunan dengan dua lantai adalah gedung asrama untuk ikhwan dilengkapi dengan kantin dan ruang makan.


Haikal berjalan berkeliling, melihat-lihat dan setelah puas mendekati Fajar dan Abdul yang menunggunya di gazebo.


"Gimana, nak? Yah beginilah tempatnya, tidak sebagus fasilitas yang ada di sekolah mu memang tapi InsyaaAllah akan terus berkembang." Ucap Abdul.


"Haikal suka, ustadz. Tempatnya bersih dan nyaman." Jawab Haikal antusias.


***


"Mba Mei tidak istirahat? Oh ya, boleh Ummi panggil Mei saja ya?" Ummi mendekati Meilinda yang duduk didepan. Meilinda menganggukkan kepalanya.


"Tidak terlalu capek juga kok, Ummi. Biar bu Nur dan Sekar beristirahat." Jawab Meilinda. Sedari tadi Meilinda sempat sedikit terkejut ketika Ummi memanggilnya Mei, hanya beberapa orang saja yang memanggilnya begitu. Tapi dia tidak keberatan, dia juga merasa nyaman berada didekat Ummi, seperti dengan seorang kakak.


"Nak Haikal jadi sekolah disini, kan?" Tanya Ummi.


"InsyaaAllah, Ummi. Sekalian saya juga belum mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan ustadz kepada kami, Haikal pengen banget masuk pesantren. Yah walau pun agak berat buat saya karena harus berjauhan dengannya, dia anak saya satu-satunya, jadi saya pasti akan kehilangan" Rasa nyaman membuatnya mengungkapkan isi hati yang selama ini tidak pernah dia katakan pada siapapun.


"Mei ikut pindah kesini saja, bekerja disini misalkan. Abah pasti tidak keberatan. Salah satu rumah sebelah bisa dipakai, atau Mei bisa pakai kamar salah satu musrifah. Kebetulan ada salah satu musrifah sini yang pekan depan menikah, jadi yah harus pindah ikut suaminya."

__ADS_1


"Saya malu, Ummi. Pengetahuan saya tentang agama masih minim sekali, mengaji pun masih belum benar betul."


"Asal kita mau belajar, pasti bisa. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Kenapa harus malu, justru malu itu kalau kita sudah tahu tidak bisa tapi tidak mau belajar. Mei mau ya tinggal disini, dipikirkan baik-baik ya tawaran Ummi. Oh ya, Ummi minta nomornya Mei, jadi kita bisa komunikasi. Maaf Ummi masuk dulu, mau istirahat."


Ummi kemudian perlahan melangkahkan kaki nya masuk kedalam rumah setelah mendapatkan nomor Meilinda. Dari kejauhan dia melihat ustadz Abdul, pak Fajar dan Haikal berjalan beriringan kembali dari area ikhwan.


Fajar pamit masuk kerumah tamu untuk beristirahat, Haikal mendekati bundanya diikuti ustadz Abdul.


"Pondoknya bagus, bund." Ucap Haikal.


"Assalamualaikum, Mei."


"Waalaikumsalam, ustadz."


Abdul mendudukkan diri disamping Haikal sehingga anak laki-laki itu berada diantaranya dan Meilinda.


"Sepertinya Haikal tertarik untuk belajar disini, Mey. Pondok kami memang belum memiliki fasilitas modern seperti pondok-pondok besar lainnya, kami terus melakukan pengembangan. Yang terpenting adalah santri nyaman belajar dan wali tenang." Papar Abdul. Pandangannya lurus kedepan, kearah masjid menyaksikan beberapa santri yang mengaji.


"Kami akan pertimbangkan, ustadz. Tanpa mengurangi rasa terimakasih kami diberi kesempatan atas kemurahan hati ustadz, maaf baru sekarang saya sempat berterimakasih." Sekilas Meilinda melirik wajah ustadz Abdul, dari samping bisa dilihatnya hidung mancung dengan bibir mungil.


Astaghfirullah...segera dipalingkannya mata kembali melihat kedepan. Ada degub didadanya. Dikejauhan sepasang mata mengawasi dari balik gorden rumah. Degub berbeda pun berdetak disana, dia hanyalah seorang wanita biasa. Segera Ummi beristighfar dengan perasaan yang tiba-tiba menyelinap dalam hatinya, kembali dia teguhkan niatnya dengan menyebut nama Allah. Senyum pun kembali terukir, seiring perasaan lega dan syukur.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2