Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
5.


__ADS_3

"Kalau masalah foto...gimana ya,mas jelasinnya. Kontak mas tuh kan banyak temen-temen laki-laki, banyak juga teman pengajian mas. Nanti mereka bisa lihat adek juga dong... Istri itu aurat suaminya, jadi mas harus jaga adek. Walau mas ga simpan foto adek di HP mas, tapi kan adek selalu mas bawa dihati." Eitsss apa ini, kok tiba-tiba bisa juga nih gombalnya.


"Apaan sih ya, garing hehe udah aahhh mutung nya." Hamdan pun meletakkan kepala istrinya didadanya dan mereka tertidur karna hari memang sudah larut.


Meilinda menyeka air matanya yang menetes karena kenangan itu kembali dalam ingatannya.


"Bunda...Senin aku pulang ba'da dhuhur ya, kan udah mulai ujian. Bunda jangan sampai telat loh jemputnya..." Haikal mendekatinya, segera dia membersihkan sisa air mata yang masih ada.


"Iya,nak... InsyaaAllah. Sekarang Ical pipis sama sikat gigi dulu, biar ga bangun kesiangan yah. Belajarnya dilanjut habis Subuh aja." Jawab Linda


Haikal merapikan buku-bukunya dan beranjak, dan Linda mengangkat keranjang berisi pakaian yang sudah rapi dan menyusunnya dalam lemari.


Kenangan Hamdan kembali muncul dalam pikirannya ketika dia membuka lemari pakaiannya. Masih ada beberapa potong pakaian Hamdan yang tersimpan dalam lemari, sebagian besar memang sudah dia berikan untuk orang yang lebih memerlukan. Dia sadar betul bahwa semua benda yang ada di dalam rumahnya akan dihisab di hari akhir nanti, namun InsyaaAllah akan dia lakukan perlahan-lahan. Pikirnya biar barang-barang peninggalan mendiang suaminya bisa benar-benar sampai pada orang yang tepat, tidak usah terburu-buru.


Segera dia selesaikan pekerjaannya ketika mendengar Haikal telah masuk kedalam kamarnya, dia pun masuk kedalam kamar Haikal untuk menemaninya sebentar.


"Jangan lupa berdoa, nak. Bacalah surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas lalu doa sebelum tidur ya." Linda mengecup pipi gembil Haikal dan mengatur posisi kipas angin dalam kamar itu tidak mengenai badan Haikal agar dia tidak masuk angin, menyiapkan air minum karna biasanya Haikal minum jika terbangun.


Setelah semua selesai, dia memeriksa semua pintu dan jendela rumahnya sudah terkunci. Memeriksa dapur kemudian mengambil air wudhu. Seperti biasa dia akan menunaikan shalat sunah dan mengaji sebelum beristirahat, melanjutkan air mata yang sempat tertahan tadi.


Tangisnya sudah bukan lagi tentang rasa kehilangan atas kematian suaminya, hanya bentuk kepasrahan dan munajat yang dia panjatkan kepada Sang Pencipta.


...----------------...


"Tante...boleh ga, seminggu ini saya pamit setelah Dhuhur. Haikal sedang ujian jadi pulang lebih awal dari sekolah, saya harus jemput dia." Tanya Meilinda pada tante Ivone saat dia sedang memasukkan makanan yang sudah dimasak kedalam tempat-tempat makan sebelum diantar ke konsumen.


"Oh gitu, iya ga papa. Nanti biar Tejo aja yang antar paketnya, biar kamu gak kemrungsung jemput Haikal ya, ndok." Jawab tante Ivone.


"Aduh saya jadi ndak ga enak ini sama mas Tejo, nanti jadi merepotkan." Ucap Linda.

__ADS_1


"Ora opo-opo, mba. Gentenan yo, mosok mba Lin terus yang dines luar. Aku yo kepengen, siapa tau ketemu orang kantoran yang mau hehe... Lagian nanti mba Linda jadi item, ndak cantik lagi kena matahari sama debu." Tejo yang juga mendengar obrolan Linda dan tante Ivone ikut menimpali.


"Mas Tejo ini, bisa aja." Balas Linda.


"Iya nih, gaya nya pengen dapetin orang kantoran. Bok yo ngaca dulu toh." Tambah yang lainnya disambut gelak tawa.


Suasana katering memang sudah seperti keluarga. Awalnya Meilinda sedikit ngeper juga waktu Naura menawarkan pekerjaan itu, berdasarkan cerita Naura yang mengatakan tante Ivone cerewet dan suka ngomel-ngomel. Ya, wajar lah tante seperti itu kalau pekerjaan nya ga bener, tapi kalau kita sungguh-sungguh justru tante sangat baik dan perhatian pada karyawannya. Tante Ivone tuh ngemong sudah menganggap karyawan adalah anak-anaknya sendiri.


Tok tok tok


"Masuk..." Mendengar suara dari dalam ruangan, akhirnya Tejo membuka pintu dan membawa masuk kotak makanan kedalam ruangan itu.


"Permisi, pak. Ini pesanannya, mba admin bilang bapak minta diantarkan langsung keruangan. Tadi juga saya sudah matur sama pakde Rahmat di bawah, katanya langsung saya antar sendiri. Oh ya, ada ucapan terimakasih dari tante Ivone, jarang-jarang loh bos kantor pesan katering biasanya kan makan di restoran gitu, pak hehe." Jelas Tejo panjang lebar.


"Kok kamu yang antar?" Revan menatap penuh selidik pada Tejo dari bawah ke atas.


"Nganu, loh pak. Tadi kata pakde Rahmat suruh saya bawa sendiri keatas gitu..." Tejo sedikit gugup dengan reaksi Revan. Awalnya dia semangat waktu disuruh antar langsung ke ruangan bos, siapa tahu diangkat jadi karyawan kantoran gitu.


"... ... Maksud bapak itu mba Linda, yo?" Oh ini bos pengen mba Linda yang antar, pantes tadi pakde Rahmat tanya kenapa dia yang antar bukannya mba Linda pikir Tejo.


"Emang ada lagi yang pake kerundung nganter makanan kesini?" Revan sama sekali tidak merubah nada bicaranya.


"Ya ndak ada sih, pak. Cuma mba Linda yang pake kerudung dan yang paling cantik." Tejo cengengesan.


"Jadi?" Revan sudah tidak sabar.


"Jadi apa toh, pak?" Ingin sekali Revan melempar kepala laki-laki ***** didepannya itu dengan sepatunya.


"Mana dia?" Revan berusaha menahan nada suaranya tetap stabil.

__ADS_1


"Siapa, pak?"


"Oalaaahhh...mba Linda, iya iya maaf... Anu... mba Linda ga bisa antar makanannya karna harus jemput mas Haikal, pak. Jadi ya saya yang nganter, gitu loh pak." Untung Tejo keburu sadar sebelum dia yang melayang dari jendela kantor itu.


Tejo buru-buru keluar dari ruangan Revan setelah dipersilahkan, walau begitu juga dia masih bisa menyadari kalau Revan sedang menahan amarah.


"Piye...,le?" pak Rahmat langsung bertanya saat melihat Tejo masuk ruang pantry.


"Walaaahhh, pakde... Pak bos e ki gualak tenan, yo. Hampir gak selamet aku keluar dari ruangan itu xixixixi."


"Lha itu...Kemarin itu pak Revan minta makanan nya dianter mba Linda je, kok malah koe sing teko." Tejo akhirnya pamit mengantar pesanan lainnya.


Kembali kedalam ruangan Revan.


Dia sudah tidak berselera lagi untuk makan siang, pikirannya melayang pada sosok Linda dan juga perkataan Tejo tadi. Apa yang tadi dia bilang...


'...menjemput mas Haikal...'


Siapa Haikal itu...


Apa dia kekasihnya...


Atau bahkan suaminya...


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2