Cinta Pertama Ustadz

Cinta Pertama Ustadz
26.


__ADS_3

Meilinda kembali menengok kamar Ummi setelah selesai shalat, dia tidak berani mengucapkan salam khawatir mengganggu Ummi beristirahat.


"Masuk, Mey." Pinta Ummi. Meilinda menghampiri Ummi, dia duduk dikursi yang tersedia didekat tempat tidur. "Ummi pengen denger Mey mengaji, boleh Mey bacakan surat untuk Ummi? Pakai lah Al-Quran ini." Ummi menyerahkan sebuah saku padanya.


"Maaf Ummi, saya tidak bisa membaca dengan lancar. Saya panggilkan santriwati ya untuk membacakan Al-Qur'an disini." Tawarnya.


"Ummi pengen Mey yang baca, tidak apa-apa. Ayo, pahalanya dua kali lipat loh untuk orang yang membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata. Pertama untuk bacaannya dan yang kedua karena usahanya."


Meilinda meraih Al-Qur'an dari tangan Ummi, bersiap untuk membacanya dengan perlahan. Diawali dengan ta'awud dan basmallah, dia mulai membaca. Ummi mendengarkan dengan seksama, sesekali membantu saat Meilinda kesulitan atau sedikit membetulkan bacaannya.


Tanpa kedua wanita itu ketahui, Abdul yang berniat mengambil barang yang tertinggal mendengar suara mereka. Sejenak dia terpaku didepan pintu kamar, Meilinda tidak menyadari kehadiran Abdul karena dia duduk membelakangi pintu, sedangkan Ummi menutup matanya menghayati bacaan Meilinda.


Ada haru menyelimuti di relung hati Abdul, segera dia tersadar dan menyelesaikan niatnya kemudian beranjak meninggalkan kedua wanita didalam kamar itu.


"Shadaqaullah hul 'azhiim..."


"MasyaaAllah tabarakallah, Mey. Terimakasih." Ummi menggenggam tangan Meilinda. Terasa hangat. "Mungkin ini terlalu cepat Mey, tapi Ummi gak tahu apa masih punya waktu selain ini. Mey mau kan menikah dengan Abah?" Meilinda membelalakkan matanya demi mendengar permintaan Ummi.


"Astaghfirullah al 'azim. Ummi bicara apa ini?" Meilinda benar-benar shock mendengarnya.


"Sudah lama, sejak lebih dari setahun Ummi selalu minta Abah untuk mencari pendamping lagi. Ummi ikhlas, Ummi benar-benar ingin ada yang bisa mendampingi, mengurus Abah jika suatu hari nanti Ummi dipanggil Sang Khalik, Ummi tenang." Papar Ummi, ada kesungguhan dimata Ummi.


"Ummi pasti sembuh, yakin sama Allah ya Ummi. Ummi tidak boleh bicara seperti itu, Mey gak mau dengar lagi." Air mata Meilinda tiba-tiba menetes. Ada haru, ada kagum dan yang utama shock dan tidak tahu harus menjawab apa.


Suara adzan pun terdengar mengalun merdu, Meilinda segera pamit untuk melaksanakan shalat Isya. Lega rasanya bisa terhindar dari permintaan Ummi. Malam itu Meilinda tidak bisa memejamkan matanya, dia berusaha tetap tenang dalam tidurnya agar tidak mengganggu istirahat bu Nur dan Sekar disampingnya.


***


Ummi beristirahat total sejak pembicaraannya dengan Meilinda, sepertinya beban yang dipikul Ummi sedikit berkurang setelah mengungkapkan permintaannya sehingga dia bisa istirahat dengan baik. Pagi hari Ummi terlihat lebih fresh dan sudah bisa turun dan berjalan keluar kamar.


"Ummi sudah baikan?" Bu Nur menyapanya ketika melihat Ummi keluar dari kamar.


"Alhamdulillah, mba... Maaf kemarin jadi buat heboh, merepotkan lagi ada tamu eh tuan rumahnya malah ambruk ini hehe..."

__ADS_1


"Alhamdulillah terlihat lebih cerah juga, Ummi." Bu Nur kembali memuji.


"Masa sih, mungkin karena sedikit beban sudah dilepaskan jadi lebih ringan, mbak... Semoga saja ikhtiar saya bisa membawa hasil baik."


"Aamiin Ummi, saya doakan semoga terkabul."


"Aamiin terimakasih doanya." Ummi melirik Meilinda yang memilih untuk menyibukkan diri membantu bi Asih menata sarapan.


Karena hari itu mereka akan kembali pulang, Ummi meminta untuk sarapan bersama dirumah, tidak bergabung di asrama. Mereka membentuk lingkaran, sambil bertukar cerita. Melinda terus menundukkan kepalanya, rasanya canggung sekali.


"Terimakasih Ummi sudah menyambut kami disini, semoga Allah membalas berlipat semua pahala Ummi dan ustadz." Ucap bu Nur mewakili rombongan.


"Jangan sungkan, mbak. Abah dan pak Fajar kan teman lama jadi kita juga sudah seperti saudara. Semoga diberi umur panjang, mampir lagi kemari ya, nak Sekar." Meilinda meng'aamin' kan ucapan Ummi didalam hati.


"Mey, kami tunggu kedatangannya. Kami sangat berharap Mey mau tinggal disini bersama kami." Abdul menatap Ummi kemudian Mey secara bergantian.


Mereka pun pamit diantar Saiful sampai stasiun.


Sepanjang perjalanan, Meilinda hanya terdiam memikirkan perkataan Ummi kemarin. Dia berharap Ummi tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya, mungkin karena kondisi fisik sehingga Ummi mengigau.


Baru saja dia selesai membereskan barang-barang dirumah, Haikal pun sudah beristirahat dikamarnya, HP nya berbunyi.


"Assalamualaikum Mey, sudah sampai rumah kah? Alhamdulillah... Istirahat lah dulu, nanti Ummi telfon lagi. Asal sudah dengar kabar Mey sampai dengan selamat, tenang lah hati." Kurang lebih seperti itu lah percakapan yang terdengar oleh Abdul yang ada disamping Ummi saat itu. Setelah mengucapkan salam Ummi meletakkan HP nya dengan sumringah.


"Ummi bicara apa sama Mey?" Tanya Abdul.


"Hanya menanyakan sudah sampai rumah apa belum,Bah."


"Bukan itu. Kemarin sewaktu Mey ada disini, apa yang Ummi bicarakan? Sepertinya sikap Mey sedikit berubah tadi pagi, berbeda dari ketika dia sampai disini."


"Rupanya diam-diam Abah memperhatikan Mey juga ya...Kelihatannya ada yang sudah bisa membuka hati ini..." Goda Ummi.


Gemas rasanya Abdul pada istrinya itu, dipeluknya pinggang ramping itu dan meletakkan dagunya dipundak Ummi. Dia diam terpaku menikmati kehangatan pelukan mereka.

__ADS_1


"Tetap seperti ini ya, Mi. Abah rindu Ummi yang seperti ini." Bisiknya.


"Abah pasti tahu apa yang membuat Ummi seperti ini, semangat ini karena Ummi bertemu Mey. Rasanya Ummi punya misi baru untuk hidup, memberi kekuatan pada diri Ummi untuk berjuang dan bertahan sebentar lagi. Yah sebentar lagi saja... Abah tolong bantu Ummi, dan kali ini Ummi yakin kalau Abah tidak akan menolak lagi."


***


Hari-hari berlalu seperti biasa. Haikal semakin giat belajar, walau sudah bisa dipastikan diterima di pesantren asuhan ustadz Abdul, dia tetap menginginkan nilai yang bagus dalam ijazahnya. Meilinda kembali bekerja di katering tante Ivone, kali ini tugasnya lebih ringan karena mbak Surti diminta tetap memasak.


Beberapa hari ini Meilinda sering berkomunikasi dengan Ummi, berbagi cerita. Ummi juga tidak lagi membahas permintaannya pada malam itu, jadi Meilinda semakin yakin bahwa saat itu Ummi mungkin sedang mengigau.


ting...


Abdul: Terimakasih, Mey. Kesehatan Ummi semakin hari mengalami kemajuan, ini semua karena Ummi selalu bahagia setelah berbicara dengan mu.


Meilinda: Alhamdulillah Ustadz, saya ikut senang. Ummi pernah bercerita satu hadits yang berbunyi 'barang siapa menolong saudaranya yang muslim maka Allah akan menolongnya di hari kiamat'.


Meilinda sebenarnya merasa tidak banyak melakukan kebaikan apa pun, dia hanya bertukar cerita via telfon dengan Ummi dan sesekali mendapatkan pesan chat dari ustadz Abdul. Malah dia merasa dia lah yang diuntungkan, dia merasa memiliki keluarga baru.


Jika lama tidak ada kabar dari Ummi, hatinya akan bertanya-tanya dan gelisah. Ada apa gerangan dengan Ummi, dan hatinya akan lega setelah mendengar suara Ummi. Ada kerinduan akan suasana pondok yang tenang dan nyaman. Apalagi sering Ummi berangan-angan menginginkan dia membantu mengelola pondok disana, sungguh rindu dia akan suara santri dan santriwati yang mengaji. Dia juga rindu suara Ummi yang membetulkan bacaannya.


"Tante...boleh Linda tanya sesuatu?" Pada akhirnya dia beranikan dirinya.


"Ada apa, ndok, ngomong aja."


"Kalau Linda pindah gimana?"


"Pindah apa ini, pindah kerja atau gimana?"


"Ya, pindah dari kota ini?"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2