
Meilinda terbangun dari tidurnya, langit masih gelap. Dia mencari sosok yang semalam memeluknya erat, merengkuhnya dan memberinya kenyamanan. Dia teringat dulu, kejadian hampir sama berulang terjadi padanya sulit untuknya bisa bangkit dari keterpurukannya. Dulu dia akan mengurung diri berhari-hari tanpa mau bertemu dengan siapa pun, merasa jadi seorang pendosa dan kotor, dia merasa orang menatapnya dengan jijik.
Tapi malam itu, dia melihat dengan jelas, ada yang ikut terluka dan meneteskan air mata untuknya. Dia suaminya, tidak mengacuhkannya tapi malah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak hadir dan mendampinginya, tidak ada untuk melindunginya. 'Ya Allah, terimakasih telah Engkau beri aku seorang pendamping yang sangat peduli dan melindungiku.'
Meilinda turun dari tempat tidur perlahan berjalan ke kamar mandi, setelah menunaikan hajatnya dia mengambil air wudhu. Di mushola kecil dalam rumah, dia melihat Abdul sang suami. Seperti dugaannya, pasti Abdul sedang shalat ketika tidak ditemukannya dikamar. Dia mengambil posisi dibelakang suaminya, melaksanakan shalat tahajud.
Abdul melanjutkan dengan tilawah, memperlancar hafalannya. Adzan subuh berkumandang setelah Meilinda selesai shalat, Abdul pun menutup tilawahnya dengan doa. Mata mereka bertemu, Meilinda terhanyut dalam mata teduh Abdul, suaminya.
"Kalau tidak khawatir batal wudhunya, sudah kak Bas cium bibir itu, Mey. Adzan sudah hampir selesai, tolong jangan goda suamimu ini." Ucap Abdul sambil terkekeh.
"Astaghfirullah kak Bas, mulutnya iiihhh dikasih filter dong tambahin aplikasi location biar tau tempat juga." Mereka terkekeh bersama, merasakan kelegaan yang sama karena telah lulus dari ujian Allah bersama-sama.
Mereka beranjak dari tempatnya, menuju tempat yang sama hanya melalui jalan yang berbeda.
Sepulang dari masjid, Aisyah menemani Meilinda memasuki rumah. Hatinya lega melihat kakak iparnya tidak terpuruk dan segera bangkit, tapi dia ingin benar-benar memastikannya kalau Meilinda tidak akan mengurung diri sesampainya dirumah.
Ternyata Mutiyah sudah menunggu di rumah, dia langsung bersujud dihadapan Meilinda dan memegang kakinya.
"Ampuni adikmu ini, bunda, Tiyah khilaf, sampai setan bisa masuk dan mengendalikan Tiyah. Tiyah mengaku salah, Tiyah terima dihukum apa saja asal bunda dan ustadz Abdul mau memaafkan Tiyah."
"Ya Allah, Tiyah, bangun jangan seperti ini."
"Tiyah tak nak bangun sebelum bunda maafkan Tiyah."
"Minta lah ampunan sama Allah, Tiyah, bertaubat lah. Hanya itu yang harus kamu lakukan, sekarang bangun atau bunda akan benar-benar marah."
Mutiyah menghentikan tangisnya, berdiri sambil menatap wanita didepannya. Mengerjapkan matanya tidak mempercayai pendengarannya, dia menyangka akan mendapatkan nasihat panjang dengan makian sebelum akhirnya mendapatkan maaf.
Sikap Meilinda memang tidak seperti sebelumnya yang hangat terhadapnya, tapi dia memaklumi itu. Kekecewaan nampak nyata dimatanya, dia menerima dengan lapang dada karena dia pantas mendapatkannya bahkan lebih dari itu. Mutiyah pergi ke kebelakang, mengasingkan diri disana.
Khansa terbangun dan keluar dari kamar tamu sendiri, matanya yang masih mengantuk menyapu ruangan mencari orang yang dia kenal. Meilinda sedang menyiapkan sarapan, Aisyah sudah pulang dari tadi karena harus menyiapkan sarapan dan mengantar Dzaki ke sekolah.
"Buwa..." Suara mungil menarik perhatian Meilinda dan menatap Khansa yang berdiri sambil mengucek-ngucek mata menatapnya.
Abdul yang baru saja kembali dari masjid berdiri terpaku ditempatnya, karena ikut mendengar panggilan Khansa untuk pertama kalinya itu untuk Meilinda.
Meilinda menghampiri Khansa, duduk berjongkok dihadapannya agar pandangan mereka sejajar.
"Tadi Sasa panggil apa? Ini siapa?" Tanya Meilinda antusias sambil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri.
"Buwa... ni buwa..."
__ADS_1
"Ini siapa, Sa?" Abdul ikut nimbrung didepan putri kecilnya.
"A-bah.." Ucapnya sambil menunjuk-nunjuk dada Abdul.
Mereka bertiga berpelukan seperti tokoh dalam film anak-anak yang berwarna ungu, hijau dan merah yang suka berpelukan.
"Sepertinya mulai sekarang kita harus terbiasa dengan panggilan itu dirumah ya, agar Sasa tidak kebingungan." Ucap Meilinda disetujui dengan anggukan oleh Abdul.
"Sasa mandi dulu sama bunda ya, abah juga mandi sana bau..." Ucap Meilinda menggunakan suara seperti anak kecil.
"A-bah ba-u..." Khansa membeo sambil menutup hidung dengan jari jempol dan telunjuknya. Abdul tertawa bahagia melihat tingkah laku putrinya.
▪︎▪︎▪︎▪︎
"Ayok Tiyah, kita sarapan sama-sama. Setelah itu kamu pergi sama ustadz Abdul ke kantor polisi." Ajak Meilinda pada Mutiyah yang sedang duduk termenung di belakang rumah.
"Bunda ikut ke kantor polisi?" Tanyanya.
"Tidak."
"Hanya berdua saja dengan ustadz?"
Mutiyah mengangguk perlahan, mengikuti langkah Meilinda menuju meja makan. Mereka makan dalam diam, hanya sesekali saja terdengar suara Meilinda membujuk Khansa untuk membuka mulut dan memakan suapannya.
Kali itu tidak ada cibiran atau pikiran iri dalam hati Mutiyah ketika melihat Meilinda mencium punggung tangan Abdul dan dibalas dengan ciuman dikening, bahkan sekarang dia ikut merasa bahagia karena tidak jadi perusak rumahtangga mereka.
Mutiyah duduk dikursi belakang dengan diam, Abdul juga diam menatap keluar jendela. Saeful mencuri-curi pandang pada Mutiyah yang tertunduk dibelakang, kemudian dia berdehem menghalau sepi yang membuatnya tidak nyaman. Melirik sebentar kearah Abdul yang tampak tidak terganggu sedikitpun.
"Apa dek Mutiyah sakit, kayaknya mukanya pucat?" Abdul melirik Saeful mendengar perkataannya, dia teringat terakhir percakapannya kemarin saat akan pergi ke kota. Tapi setelah kejadian itu, apa niatnya akan tetap dijalankan atau tidak.
"Maaf, tadz, ana cuma lihat sekilas saja." Sambung Saeful buru-buru.
Mutiyah tetap diam tidak berkata apa-apa.
Di kantor polisi, Mutiyah melaporkan kesaksiannya. Untuk sementara dia hanya diperiksa sebagai saksi, karena memang tidak ada tuntutan dari pihak korban. Abdul bertemu dengan pak Gunawan disana, beliau meminta maaf sebesar-besarnya atas kelakuan putranya. Beliau berjanji akan mengikuti proses hukum yang berlaku dan memastikan Revan, putranya mendapatkan hukuman yang setimpal bahkan kalau perlu seberat-beratnya.
Sambil menunggu proses pemeriksaan, Abdul mengajak Saeful berbicara. Kejadian kemarin hanya diketahui oleh orang-orang yang terlibat saja, tapi Abdul rasa dia perlu menceritakan pada Saeful untuk melihat kelanjutan niat Saeful terhadap Mutiyah.
"Jadi begitu ceritanya, Pul. Sekarang apa ente masih mau melanjutkan proses ta'aruf an itu?"
"Kok bisa jadi begini ya, tadz, ana tidak menyangka sama sekali. Bismillah tadz, semoga pilihan ana tidak salah, semoga ana bisa bimbing dan jadi imam yang baik untuknya." Jawab Saeful mantap.
__ADS_1
Abdul menganggukan kepalanya, tinggal bagaimana mengatakannya pada Meilinda. Sepertinya dia masih kecewa dilihat hubungan mereka sudah tidak seperti dulu lagi, pikir Abdul. 'Tetap harus dicoba, kita tidak pernah tahu bagaimana hasilnya jika tidak mencoba.' Batinnya.
Sepulang dari kepolisian, hari menjelang dhuhur, makan siang sudah dipersiapkan. Mereka makan siang bersama sebelum melaksanakan shalat dhuhur, Mutiyah menyuapi Khansa dengan telaten. Apapun yang terjadi, dia merasa lebih ringan. Sudah tidak ada beban dalam hati dan pikirannya, tidak lagi berharap lebih membuatnya bisa menerima dan pasrah menjalani hari-hari, menikmati setiap saatnya.
"Mutiyah, tolong ajak Khansa bermain dibelakang, kalau sudah lelah dan mengantuk, tidurkan dia. Setelah dhuhur nanti, kami ada perlu keluar sebentar." Abdul meminta yang dijawab dengan anggukkan kepala. Abdul bersiap menuju masjid, setelah berpamitan pada istrinya dengan memberi elusan pelan dipunggungnya.
Saat ini pasangan suami istri menyusuri jalan dengan pemandangan persawahan sejauh mata memandang dengan mengendarai motor matic, Meilinda memeluk pinggang suaminya erat. Walau saat itu tengah hari tapi cuaca yang sedikit mendung membuat suasananya menjadi sejuk. Teringat mereka ketika awal dulu berjalan-jalan seperti ini, kenangan yang membuat mereka tersenyum kala mengingatnya.
Abdul mengajak Meilinda menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari pondok pesantren, kesibukan pasar sudah berkurang, hanya tinggal beberapa orang pedagang yang mulai membereskan dagangan mereka dan menutup kios nya. Tersisa pedagang-pedagang warung nasi dan jajanan yang masih buka, termasuk penjual es goyobod dimana sekarang mereka sedang nikmati.
Mengambil tempat agak dipojok, menjauh dari keramaian, Abdul dan Meilinda menikmati minuman dìngin mereka.
"Sebenarnya ada yang ingin kak Bas bicarakan sama Mey, ini mengenai Mutiyah." Dia menjeda ucapannya, dilihatnya sang istri masih asik mengaduk-aduk es.
"Apa pendapat Mey, apa yang harus kita lakukan?" Lanjutnya.
Meilinda sadar yang dihadapannya adalah ustadz Abdul, suaminya, yang selalu ingin mendiskusikan segala hal mengenai rumahtangga dengannya. Tidak akan mengambil keputusan tanpa bertanya pendapatnya, dan akan memutuskan dengan pertimbangan bersama.
"Pengennya sih Mey bilang terserah kak Bas aja, Mey manut. Tapi pasti kak Bas tetap bakal minta pendapat Mey." Dia menarik nafas berat. "Kalau boleh jujur, Mey pengen ndak ada orang lain dirumah kita. Tapi Mutiyah amanah yang harus kita jaga, Mey sudah berjanji untuk menjaganya disini."
"Kalau kak Bas boleh jujur juga, kecewa sekali. Tidak pernah menyangka bisa berbuat seperti itu, tapi semua manusia tidak luput dari kesalahan. Mutiyah hanya perlu bimbingan."
"Jadi..." 'Sepertinya kak Bas akan tetap membiarkan Mutiyah tinggal disini, ya Allah beri aku kesabaran dan keikhlasan' Batin Meilinda.
"Ada yang mengajukan ta'aruf dengan Mutiyah, bagaimana menurut Mey?" Meilinda tersedak mendengar perkataan Abdul.
"Apa, siapa?"
"Saeful..."
"Apa sudah tahu kejadian ini?" Abdul menganggukan kepalanya. "Coba nanti Mey tanyakan Mutiyah, semoga saja dia bersedia. Ustadz Saeful orang yang baik, semoga Mutiyah menjadi lebih baik dalam bimbingannya." Meilinda seperti mendapatkan jalan keluar yang terbaik.
Sebaik-baik rencana yang disusun manusia, tetap Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk umatNya.
.
.
.
.
__ADS_1