
Alhamdulillah akhirnya bisa memberanikan diri untuk mencoba upload tulisan, walau dimulai dengan keisengan dan ternyata ga bisa dihapus... Ya sudah, bismillah dilanjut...
Ini karya pertamaku ya, temans... Semoga bisa diterima dan bisa menghibur, syukur alhamdulillah jika bisa diambil hikmahnya...
Happy reading...
----
Entah apa yang terjadi pada Revan, gadis berkerudung biru yang dia temui tanpa sengaja itu selalu mengganggu pikirannya. Sejak pertemuan itu dia sudah dibuat penasaran karena harus menunggu beberapa hari. Sejak pagi tadi dia sudah bersiap berangkat ke kantor, sesekali dia melirik jam tangannya menunggu waktu istirahat tiba. Bahkan dia batalkan semua janji temu dan rapat hari ini dan memilih tetap bekerja di kantor.
"Wid, panggil pak Rahmat!" Ucapnya pada sang sekretaris.
"Permisi, pak...bapak panggil saya?" Tanta pak Rahmat setelah dia masuk dalam ruangan.
" Pak Rahmat kenal Linda?" Revan memang tidak suka basa basi, buat dia itu hanya buang-buang waktu.
"Tau, pak. Petugas katering kan, ya..." Kesialan apa yang didapat Revan hari ini sehingga dia harus berhadapan dengan dua laki-laki yang sama tapi berbeda ini...
"Sejauh apa, pak Rahmat mengenal Linda?"
"Ya... ga jauh-jauh amat, pak. Paling ketemu di pantry kalo pas mba Linda nganter makan."
"Ada yang bapak tau, yang bisa diceritakan pada saya tentang Linda?"
"Maaf, pak. Saya ndak tau. Mba Linda itu orangnya diem, ga banyak cerita. Dateng ya cuma antar makanan terus pergi lagi, tapi ya anaknya sopan pak, cantik lagi." pak Rahmat yakin dengan informasi yang dia sampaikan.
"Bapak ada tahu apa dia sudah menikah atau belum gitu?" Revan berusaha berbicara dengan nada biasa, padahal hatinya bergemuruh seakan puluhan petugas drumband sedang memainkan drum nya.
"Mba Linda gak pernah cerita, pak..." pak Rahmat berkata pelan dan terdiam sejenak.
__ADS_1
"Mungkin Tejo tahu, pak... Iya, Tejo pasti tau, pak!" Sambungnya hampir berteriak.
"Siapa Tejo?"
"Yang nganter katering tadi, pak... Itu tetangga saya, pak. Dari kecil itu sering maen tempat saya, sekarang kerja di katering ya saya juga yang tawarin karyawan sini buat pesen makanan sama dia. Lumayan lah, pak jadi ringan kerjaan saya gak usah bolak balik belikan makanan." pak Rahmat malah curhat.
"Oke, besok saya mau pak Rahmat tanya itu Tejo semua tentang Linda. Kalo informasi nya lengkap, saya kasih upah." Titah Revan.
Kembali ke pantry pak Rahmat bertanya-tanya dalam hati untuk apa pak Revan memintanya cari informasi tentang mba Linda. Apa mba Linda melakukan kesalahan kemarin waktu mengantar makanan ya... Tidak seperti biasanya pak Revan begitu ingin tahu soal sesuatu, semoga saja tidak ada apa-apa. Dia tidak bisa membayangkan jika terjadi hal buruk pada Linda, gadis yang dimatanya sangat bersahaja itu.
"Le, wingi ki pak Revan takon soal mba Linda bar koe bali loh."
(nak, kemarin tuh pak Revan tanya soal mba Linda habis kamu pulang loh)
#selanjutnya saya tulis pakai bahasa Indonesia saja ya😁
Pak Rahmat memulai obrolan dengan Tejo saat mereka nongkrong di cakruk pojok jalan dekat rumah mereka.
"Itu...pak Revan tuh kepengen tau apa mba Linda sudah menikah atau belum. Mungkin malah pengen tau juga dimana rumah nya, pokoknya katanya pengen tau semua informasi tentang mba Linda begitu." Jelas pak Rahmat.
"Kira-kira buat apa ya, pakde? Jadi takut aku, pakde kalo mba Linda kenapa-kenapa."
"Lha itu dia, aku sendiri ya ga ngerti le. Cuma bilang kalo aku bisa kasih informasi, nanti ada amplopnya gitu..." pak Rahmat berkata antusias.
"Waaahhh lumayan dong, pakde... Aku kebagian gak nih, kan lumayan buat tambahan biaya nikah..." Tejo ketularan antusias.
"Nikah sama siapa, Jo...Jo... Pacar aja gak punya hahahaha tapi kamu tenang aja, kalo kamu kasih tau soal mba Linda terus aku udah dapet amplopnya mesti ta bagi lah." pak Rahmat terkekeh
"Mba Linda tuh temen keponakannya tante Ivone, itu bos ku yang punya katering. Anaknya satu, laki-laki masih kecil, kayaknya masih SD gitu lah. Kalo rumahnya dimana, wah aku ga tau pakde... Coba besok aku tanya-tanya yo, pakde. Siapa tau amplop nya jadi lebih tebal hehe." Janji Tejo *bukan sequel dari Janji Joni ya...
......................
__ADS_1
"Mas Tejo, ga papa ya kalo hari nganter paketnya lagi..." Pinta Linda keesokan hari mengisi kesunyian saat plating mereka biasanya ngobrol-ngobrol.
"Tenang aja, mba. Aku tuh masih dalam misi mencari calon karyawan, baru satu hari ya kalo ibarat berkebun tuh baru menyebar benih gitu hahahaha. Eh kalo aku boleh tau nih, mba...bapak nya mas Haikal tuh kerja kantoran juga ndak? Jangan-jangan aku nganter paket sama orang ga tau nya malah suaminya mba Linda, masa temen seperjuangan ga kenal gitu." Tejo memulai aksinya.
Tante Ivone melirik Meilinda setelah mendengar pertanyaan Tejo tadi, memang hanya dia yang mengetahui soal kematian Hamdan. Meilinda tidak terlalu suka menceritakan soal pribadinya, dan rekan kerjanya pun merasa segan untuk bertanya.
"Suamiku sudah meninggal, mas. Sakit keras. Makanya aku harus kerja buat memenuhi kebutuhan rumah." Meilinda sama sekali tidak bermaksud menyembunyikan cerita pribadinya karena mereka sudah dianggap keluarga.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un... Maaf ya,mba... aku ga maksud..." Tejo jadi ga enak hati.
"Gak apa-apa, mas. Jodoh, maut dan rezeki itu kan sudah diatur sama Allah. Sudah suratan takdir, gak bisa terus menyesali tapi harus melangkah maju." Ivone tersenyum mendengar jawaban Linda, dia sudah menyayangi Linda sebagai putrinya sendiri. Makanya ketika Naura menanyakan apakah dia ada pekerjaan untuk Linda, dia langsung menyetujuinya. Beberapa kali bertemu Linda ketika mereka masih jadi rekan kerja, Ivone sudah dapat menyimpulkan Linda anak yang baik dan pekerja keras.
Sesekali Tejo masih bertanya-tanya beberapa hal tentang Linda, karyawan lain pun kadang ikut menimpali. Mumpung pintu sudah terbuka, sekalian saja mereka masuk lebih mengenal rekan kerjanya itu.
"Eh mba tau gak...bos kantor XX yang baru jadi konsumen kita itu kemarin tanyain mba Linda loh..." Ucap Tejo sebelum melajukan motornya setelah Linda membantunya menata tumpukan kotak makan disana. "Mau titip salam, gak?" Candanya menggoda Linda.
"Apaan sih, mas. Udah buruan jalan, keburu macet kalo udah masuk jam istirahat. Aku langsung kedalam beres-beres keburu harus jemput Haikal ini..." Linda langsung berlalu.
Sementara itu, pagi tadi di ruangan Revan ketika pak Rahmat mengantarkan teh hangat, Revan langsung menginterogasinya.
"Gimana, pak. Ada informasi apa soal Linda?"
"Oh soal itu... Semalam Tejo cerita, pak, kalo mba Linda tuh sudah punya satu putra, masih SD gitu katanya." Jawab pak Rahmat.
'Mungkin kemarin yang dimaksud itu jemput anaknya pulang sekolah ya... Jadi dia sudah menikah...' Pikir Revan, ada sedikit rasa kecewa mendengar informasi yang disampaikan pak Rahmat padanya. Tapi mengapa?
.
.
.
__ADS_1
.