
Esok harinya Dennis yang tidak bekerja di perusahaannya Harsya malah disuruh menjaga Hana di rumah sakit. Alasannya karena pemuda itu harus bertanggung jawab telah membuat cucunya Madya demam beserta flu.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Hana ketika Dennis membuka pintu kamar.
"Paman Harsya menyuruhku."
"Apa tidak ada orang lain yang dapat disuruh selain kamu?" tanya Hana lagi.
"Entahlah, Nona. Saya juga tidak tahu."
"Lebih baik kamu pulang biarkan aku sendiri di sini."
"Jika itu perintah dari Paman Harsya, saya tidak berani untuk membantahnya."
Cck...
"Apa yang Nona butuhkan?"
"Bisakah kamu mengambil air putih?"
Dennis mengambil gelas lalu ia sodorkan dan Hana meminumnya.
Perawat masuk membawa semangkok bubur di letakkan di atas nakas bersama dengan obat-obatan.
Perawat juga menjelaskan obat apa saja yang dikonsumsi sebelum dan sesudah makan.
Selepas perawat pergi, Dennis meraih plastik klip putih, "Minum obat ini, Nona!" menyerahkan tablet berwarna merah berukuran kecil.
Hana pun mengikuti perintah Dennis.
Meletakkan gelas dan sisa obat, Dennis meraih mangkok bubur. "Sekarang waktunya makan!" berkata lembut.
"Aku tidak mau rasanya tak enak," Hana membuang wajahnya.
"Nona, makanlah!"
"Aku tidak mau!"
"Bagaimana mau sembuh jika tak mau makan?"
"Mulutku sangat pahit."
"Makanlah sedikit, masih ada obat lainnya yang belum diminum."
"Sedikit saja, ya?"
Dennis mengiyakan.
"Tolong suapin!"
"Baiklah, ayo buka mulutnya!" Dennis mengarahkan sendok.
Hana membuka mulutnya.
Dennis mengambil secarik tisu dan mengelap bibir Hana yang belepotan bubur.
Seketika keduanya sadar dan saling pandang.
Dennis dengan cepat menurunkan tangannya, "Maaf, Nona."
Hana mengambil tisu dari tangan Dennis dan mengelap bibirnya.
Dennis melanjutkan pekerjaannya menyuapinya.
"Sudah cukup!"
Dennis meletakkan mangkok ke nakas, mengambil obat lagi dan menyuruh Hana meminumnya.
"Terima kasih!"
Dennis membalas ucapan Hana dengan senyuman.
Tiba-tiba ponsel Dennis bergetar, gegas mengambilnya dari saku celananya dan menjawabnya, "Halo, Winny."
"Oh, kamu di lantai bawah. Aku akan segera ke sana," Dennis menutup teleponnya.
"Nona, saya tinggal sebentar ke bawah, ya!" pamitnya.
Hana mengiyakan.
Dennis segera keluar dari kamar dan menemui Winny.
__ADS_1
Wanita berusia 23 tahun itu melemparkan senyumnya, "Hai!"
"Kenapa kamu di sini?"
"Aku sengaja ke sini membawa makanan buatmu," Winny menyodorkan kantong kertas karena sebelumnya mereka saling mengirimkan pesan dan Dennis mengatakan jika dirinya akan menemani Hana.
"Aku jadi merepotkanmu," Dennis tersenyum.
"Aku tidak merasa direpotkan, lagian toko es krim milikku dekat dari sini."
"Kalau begitu, terima kasih."
"Sama-sama, salam buat Nona Hana."
Dennis mengangguk mengiyakan.
Winny pun pergi.
Dennis kembali ke kamar membawa makanan yang diberi Winny.
"Kenapa dia tahu aku di sini?"
"Aku yang memberitahunya," jawab Dennis.
"Oh."
"Nona, saya izin makan siang."
"Iya, silahkan!"
Dennis mengeluarkan isi kantong dan menyantapnya.
"Sepertinya dia menyukaimu," celetuk Hana.
"Biarkan, itu haknya." Dennis masih memegang wadah makanan.
"Bangga dong disukainya," cetus Hana.
"Iya, Nona."
"Kamu menyukainya juga?"
"Mungkin."
"Ini ketiga kalinya kami bertemu."
"Benarkah?"
"Pertama saat Nona memberikan alamat palsu, saya datang ke rumahnya. Di sanalah kami bertemu."
"Oh."
-
-
Dennis yang sedari tadi menahan kantuk akhirnya tertidur di sofa.
Hana memperhatikan wajah Dennis dari ranjangnya. "Kenapa aku begitu sangat membencinya padahal dirinya selalu berbuat baik padaku," ucapnya membatin.
Pintu kamar terbuka tampak Harsya dan Anaya melemparkan senyumnya pada putri pertamanya.
Hana mengisyaratkan jari telunjuk di bibir.
Harsya dan Anaya mengikuti instruksi putrinya.
Anaya dan Harsya melihat Dennis tertidur di sofa.
"Dia baru saja tertidur, Yah, Bu." Hana berkata dengan suara pelan.
"Pasti dia sangat kewalahan menjagamu," ucap Anaya pelan.
"Bu, aku bukan anak kecil yang lari kalau disuruh minum obat," Hana memanyunkan bibirnya.
"Putri Ibu ini walaupun sudah dewasa dan mengerti cinta tapi selalu manja," Anaya menyentuh pipi Hana.
Hana tertawa kecil.
"Kenapa dia tidak tidur di ranjang saja?" Harsya mengarahkan matanya pada tempat di sebelah putrinya. Karena ruangan Hana menginap kelas VVIP.
"Dia tak mau, Yah. Katanya, yang pantas tidur di sana keluarga kita," jawab Hana.
__ADS_1
"Dennis itu memang selalu begitu, dari dulu tak pernah mau jika bukan haknya. Padahal dia sudah menjagamu," ujar Harsya.
"Lalu bagaimana kondisimu, Nak?" tanya Harsya.
"Lumayan membaik, Yah. Tapi kenapa baru menjengukku?" protesnya.
"Kami sangat sibuk, Nak." Jawab Harsya.
"Tidak biasanya Ayah dan Ibu seperti ini, jika aku sakit kalian paling khawatir," ujarnya.
"Kamu 'kan sudah dewasa, lagian ada Dennis yang menjaga dan merawatmu," ucap Anaya.
"Memang dia menjaga dan merawatku tapi tidak ada satupun keluarga atau kerabat yang menjengukku. Apa mereka sudah tak menyayangiku lagi?" tanya Hana dengan wajah sendu.
"Ayah melarang mereka untuk menjengukmu karena menurut kami sakitmu saat ini tidak terlalu parah dan ada Dennis yang selalu memberikan informasi," jelas Harsya.
"Pasti Ayah memiliki niatan lain makanya menyuruh Dennis menjagaku," Hana tampak menyelidik
Harsya tersenyum lalu mengacak rambut putrinya.
"Ayah, kapan aku boleh pulang?"
"Tunggu kabar dari Dokter yang menanganimu," jawab Harsya.
Dennis mendengar suara orang mengobrol, mengerjapkan matanya. Melihat Anaya dan Harsya yang datang berkunjung, ia segera bangun.
Dennis menggerakkan kepalanya dan memijit pangkal hidungnya, "Maaf Paman, Bibi, saya ketiduran."
"Tidak apa-apa, Dennis. Kami tahu kamu pasti kelelahan, lanjutkanlah tidurmu," ucap Anaya.
"Nanti saja lanjutkan tidurnya, Nona." Dennis lalu berdiri.
"Kamu tidur di sana saja!" Anaya menunjuk ranjang khusus penjaga pasien.
"Saya di sofa saja, Bibi." Dennis menolak secara halus.
"Dennis, kamu itu bagian dari keluarga kami juga. Jadi, jangan sungkan," ujar Harsya.
"Iya, Paman."
"Kami tidak mau setelah Hana sembuh dan sehat malah kamu yang jadi sakit," ucap Anaya.
"Iya, Bi."
"Kami membawa makanan untukmu, nanti dimakan 'ya!" ucap Anaya lagi.
"Saya akan memakannya, Bi. Terima kasih."
"Kalau begitu kami pamit pulang, titip Hana. Jika dia bandel marahi saja!" Anaya melirik putrinya.
"Bu..."
Harsya mengecup kening putrinya, "Turuti perintah Dokter dan jangan memarahi Dennis!"
"Iya, Yah."
Anaya melakukan hal sama seperti suaminya, "Jangan merepotkan Dennis, ya."
"Memang dia harus repot mengurusku, Bu."
"Hana, Ayah tidak suka kamu begitu lagi," kata Harsya.
"Iya, Yah. Aku akan bersikap lemah Lembut padanya," ujar Hana.
"Memang seharusnya begitu, " sahut Anaya.
Kedua orang tuanya Hana telah pergi, kini tinggal dirinya dan Dennis.
"Nona butuh sesuatu?"
"Tidak, kamu makanlah. Aku tak mau dimarahi ayah dan ibu karena membiarkanmu kelaparan," jawab Hana.
"Baiklah, Nona." Dennis membuka kantong pemberian Anaya.
Dennis membuka penutup wadah makanan, Hana melihatnya seperti menahan selera.
"Nona, mau?"
"Masakan ibuku sangat enak, tapi itu jatah makanmu. Aku tak mau mengganggumu," jawab Hana.
"Kita makan sama-sama saja, bagaimana?"
__ADS_1
Hana mengangguk.
Dennis pun menyuapi Hana dengan tangannya. Keduanya sangat begitu akrab.