
Keesokan paginya, Hanan kembali ke kantor. Dia di tempatkan di perusahaan milik Harsya yang bergelut di bidang fashion. Sebelumnya di pimpin oleh Hana.
Karena Hana sedang hamil dan dia tak mungkin menjalankan perusahaan maka seluruh kepemimpinan dan tugas di serahkan kepada adik kandungnya itu.
Harsya tak memberikan Dennis perusahaan bidang fashion karena menantunya lebih pantas di perusahaan properti.
Maka, Hana sekarang lebih banyak di rumah daripada di kantor karena semuanya telah di jalankan suaminya.
Hanan memasuki ruang rapat pertama kalinya di perusahaan itu, dia duduk di sebelahnya Paman Biom dan ayahnya yang akan menuntunnya.
Setelah pertemuan, Harsya dan Biom meninggalkan perusahaan.
Hanan di temani Inka yang merupakan sekretaris pribadinya Hana menemui seorang yang akan menjadi model di perusahaan miliknya.
"Tuan Hanan, silahkan duduk!" Inka mempersilakan atasannya.
"Terima kasih, Kak."
Inka mendelikkan matanya.
"Hm, maaf. Terima kasih Nona Inka," kata Hanan.
Inka tersenyum tipis.
"Siapa dia, Nona Inka?" tanya seorang gadis dengan gaya angkuhnya memandangi Hanan yang terlihat cuek dan ogah-ogahan menjalankan perusahaan.
"Nona Nadine, perkenalkan ini CEO baru perusahaan," ucap Inka.
"Oh," ucap kedua asistennya Nadine.
Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri.
Hanan duduk sembari memperhatikan wajah Nadine dengan seksama, berusaha mengingat sosok gadis di depannya itu.
"Saya memang cantik, Tuan. Tak perlu menatap seperti itu!" celetuk Nadine yang tak suka di pandang seperti punya kesalahan besar.
Manajer Nadine memukul pelan punggung tangan artisnya.
"Dia artis?" tanya Hanan pada Inka.
"Iya, Tuan. Nona Nadine seorang model video klip penyanyi terkenal, dia juga pernah memerankan beberapa judul film," jelasnya.
"Pemeran utama?" tanya Hanan lagi.
"Walaupun bukan pemeran utama tapi dapat diperhitungkan," sahut Nadine tanpa ditanya.
"Saya tidak bertanya padamu!" ketus Hanan.
"Saya hanya ingin memberitahu saja, Tuan. Banyak produk yang sukses di pasaran ketika saya yang menjadi bintang iklannya," kata Nadine bangga.
Hanan berdiri lalu berkata kepada Inka, "Cari model yang lain, saya tidak mau memakainya!"
Nadine yang tak senang lantas berdiri, "Tidak bisa begitu, Tuan. Saya telah memutuskan tidak menerima tawaran perusahaan lain demi produk ini!" tampak tak senang dengan keputusan Hanan.
Tak memperdulikannya, Hanan bergegas meninggalkan ruangan. Inka segera menyusulnya.
Nadine yang keberatan, dengan langkah cepat mengejar Hanan. "Tuan..."
Inka membalikkan badannya, "Maaf, Nona Nadine. Biarkan Tuan Hanan berpikir sejenak!"
"Nona Inka, dia tak boleh memutuskan sepihak seperti ini. Nona Hana yang meminta saya untuk bergabung di produknya!" ujar Nadine.
"Baiklah, Nona Nadine. Biarkan saya bicara padanya, lebih baik anda tunggu di ruang rapat," mohon Inka.
Nadine akhirnya mengiyakan permintaan sekretarisnya Hana.
__ADS_1
Di ruang kerjanya Hanan, Inka berusaha menanyakan alasan pemuda itu memutuskan kerja sama dengan Nadine.
"Aku tidak suka dengannya, Kak. Dia belum terkenal saja sangat sombong. Kenapa harus memakainya? Apa tak ada model dan artis lainnya?"
"Dia pilihan Nona Hana, Tuan. Perusahaan kita sudah setahun lalu mengincarnya, baru bulan ini berhasil bertemu dengannya," jelas Inka.
"Aku tidak mau memakainya, Kak."
"Tuan Hanan, Nadine memiliki banyak fans jadi kesempatan emas memakainya, namanya juga lagi naik daun."
"Aku tidak mengenalnya sama sekali," ucap Hanan.
"Karena Tuan Hanan tak suka menonton berita tentang selebritis makanya tidak mengenalnya," ujar Inka.
"Saya tetap tidak mau dia, batalkan kerja sama kita dengannya," kata Hanan.
Inka menarik napas lalu menghembuskannya.
Inka lalu berkata, "Baiklah, saya akan katakan. Permisi!"
Inka kemudian keluar dari ruangan Hanan lalu menemui Nadine dan timnya.
Inka memberitahu keputusan Hanan yang tak memakai jasanya untuk produk fashion miliknya.
Nadine yang tak senang, di perjalanan menuju rumahnya dirinya menelepon Hana mengungkapkan kekecewaannya.
Tak lama kemudian, Hana yang mendengar aduan dari artis incarannya lantas menghubungi adiknya.
"Kenapa kamu memutuskan untuk tidak memakai jasa Nadine Riska Putri?"
"Pasti Kak Inka telah mengadu."
"Inka sama sekali tidak memberitahu Kak, tapi Nadine sendiri yang menghubunginya."
"Oh, sekarang dia mencari muka dengan Kakak," ujar Hanan.
"Dia itu sombong dan tak sopan, lagian aku tidak mengenalnya. Lebih baik dia menyingkir dari produk ini, Kak."
"Kakak susah payah untuk mendapatkan jadwal kosong dia, kamu malah seenaknya melemparnya begitu saja," omel Hana.
"Cari artis lain saja yang pantas untuk produk kita, Kak!" saran Hanan.
"Kakak tetap mau dia!" ucap Hana.
"Kak, sekarang perusahaan ini aku yang berkuasa jadi keputusan ada di tanganku!" kata Hanan tegas.
"Kakak tahu, Nan. Tapi, ini juga demi perusahaan. Kamu mau berita pembatalan ini menyebar di media?" tanya Hana.
"Aku akan menjelaskannya," jawab Hanan enteng.
"Nama baik perusahaan kita tercemar, fans Nadine akan memboikot produk kita karena telah memperlakukan artisnya semena-menanya," ungkap Hana.
"Aku tetap tidak peduli, Kak."
"Dasar keras kepala, awas saja kalau Kakak sudah melahirkan. Aku akan menjewermu!"
"Silahkan Kakakku tersayang!" tantang Hanan dengan nada meledek.
Hana yang kesal lantas mematikan ponselnya.
Hanan kemudian melanjutkan pekerjaannya, selang 10 menit ponselnya kembali berdering.
Tertera nama Ayahku, dengan cepat ia menjawabnya, "Halo, Yah!"
"Kamu sedang apa?"
__ADS_1
"Mengerjakan pekerjaan di kantor, Yah."
"Apa kamu memiliki waktu untuk mengobrol dengan Ayah?"
"Di rumah kita sering bertemu, Yah."
"Baiklah, di telepon saja Ayah bicara padamu," kata Harsya.
"Ayah ingin bicara apa?"
"Apa benar kamu telah mengusir model yang menjadi keputusan kakakmu?" tanya Harsya.
Hanan menghela napas.
"Hanan, apa benar?"
"Iya, Yah. Aku membatalkan kerja sama dengan artis itu."
"Kenapa?"
"Dia terlalu sombong dan kutak menyukainya."
"Hanan, kata kakakmu dia itu artis profesional. Walaupun kamu menganggapnya sombong tapi semua produk yang dibintanginya laku keras. Sangat sulit sekali mendapatnya," ujar Harsya.
"Aku bisa menemukan pengganti dia yang lebih baik, Yah."
"Hanan, kamu punya masalah apa dengan dia? Sehingga memutuskan hubungan dengan sepihak?" tanya Harsya.
"Aku tidak suka saja, Yah."
"Tidak suka kenapa?"
"Ya, tidak suka saja. Memangnya harus diberikan alasan?" tanya Hanan.
"Astaga, Ayah telah salah menempatkan kamu menjadi pemimpin perusahaan."
"Ayah menyesal meletakkan di sini?"
"Iya, Ayah menyesal memberikan jabatan tinggi di perusahaan itu. Harusnya Ayah mengirimkan kamu ke perusahaan luar negeri."
"Ayah tak sayang aku, makanya ingin ku kembali ke luar negeri."
"Sikapmu yang keras kepala ini, jika lama-lama di posisi tinggi akan membuat perusahaan goyang."
"Jadi aku tidak pantas begitu?"
"Bagaimana cara Ayah memberitahumu, pusing kepala ini."
"Ayah..."
"Kamu menyayangi Ayah, 'kan?"
"Iya, Yah."
"Tolong kamu minta maaf kepadanya dan menerima dia menjadi model di produk perusahaan kita."
Hanan menghela napas kesal.
"Hanan..." ucap Harsya lembut.
"Ya, Ayah."
"Kamu dengar apa kata Ayah, 'kan?" tanya Harsya.
"Iya, Yah. Aku dengar," jawab Hanan.
__ADS_1
"Tolong kamu dengarkan apa kata ayah!"
Hanan yang pasrah akhirnya mengiyakan.