
Dua bulan berlalu...
Dennis tak hentinya mengirimkan pesan kepada kekasihnya, karena sejak kemarin telepon gadis itu tak aktif.
Dennis mencoba menghubungi pengawal dan pelayan Hana namun tak ada jawaban.
Rasa khawatir dan cemas semakin tinggi ketika Harsya mengatakan hal sama.
Dennis memutuskan untuk izin pulang lebih awal dari kantor kepada Darrell.
"Kakak mau ke mana?" tanya Dayna ketika berpapasan di lorong ruangan.
Dennis yang telah menenteng tas kerja menjawab, "Kakak hari ini kurang sehat."
"Mau aku temani ke dokter?" Dayna menawarkan diri.
"Tidak, kamu belum terlalu mahir berkendara," tolak Dennis.
"Pakai sopir, Kak."
"Tidak perlu, Day. Terima kasih, kakak duluan!" pamit Dennis kemudian berlalu.
"Huft, alhasil pulang lagi dengannya," kesal Dayna.
Dan benar saja, sore ini Dayna pulang bersama dengan Alvan.
"Hai, kita bertemu lagi!" sapa pemuda dengan tinggi 178 cm itu.
Dayna tersenyum sinis.
Alvan membukakan pintu mobil buat gadis pujaannya.
Di dalam kendaraan, Alvan bertanya, "Apa kamu sudah mengungkapkan perasaan kepada pria itu?"
"Kenapa kamu ingin tahu saja urusan aku?" Dayna memasang wajah kesal.
"Biar aku mundur jika memang dia menerimamu," jawab Alvan.
Sebulan lalu, Dayna bertemu dengan pria yang ditaksirnya itu. Harapannya kandas ketika melihatnya menggandeng tangan wanita lain.
Seketika wajahnya yang awalnya ceria, lantas cemberut. Bagaimana tidak? Sejak pertama dirinya telah jatuh hati kepada pria yang menjadi temannya Hana itu.
Pertemuan pertama mereka ketika acara kepulangan dan kelulusan Hanan.
"Aku belum mengatakan perasaan kepadanya dan menurutku itu lebih baik pria yang lebih dahulu melakukannya," Dayna berkelit.
"Aku sudah mengungkapkan perasaan kepadamu, tapi kenapa tidak diterima?"
"Aku 'kan tidak mencintaimu," jawab Dayna asal.
"Kamu akan menyesal karena menolak cintaku."
"Oh, benarkah?" tanya Dayna sinis.
"Kita akan buktikan nanti," jawab Alvan.
-
Dennis tiba di rumah mengganti pakaiannya lalu menghubungi kembali Hana. Ponselnya aktif namun tak ada jawaban.
Malah yang muncul pesan dari Harsya, jika dirinya diharapkan datang nanti malam ke rumah.
Dennis tak menolak ajakan calon mertuanya yang mengundangnya makan malam.
Jarum jam menunjukkan pukul 6 lewat 30 menit, Dennis bergegas menuju rumahnya Harsya.
Setibanya, tenda besar terpasang dihiasi bunga-bunga hidup dan segar. Tampak beberapa mobil mewah telah terparkir di pekarangan.
__ADS_1
Dennis pun bertanya kepada para pengawal yang menjaga pintu pagar. "Ada acara apa?"
"Tidak tahu, Tuan."
Dennis menautkan alisnya.
"Tuan Dennis dapat bertanya langsung kepada Tuan Harsya, karena kami tidak memiliki wewenang."
Dennis tersenyum lalu mengiyakan.
Dennis melangkah ke dalam rumah, namun Astrid dan Intan datang menarik tangannya menjauh dari pintu utama.
"Bibi, ada apa ini? Kenapa menarikku?" tanyanya.
"Jangan banyak bertanya, Nis. Ikutin saja kami!" jawab Intan yang mendorong Dennis ke kamar.
Seorang pelayan wanita dan pria menyodorkan stelan jas serta sepatu.
"Buat apa ini?" tanyanya.
"Tuan Besar menginginkan anda untuk memakainya," jawab pelayan wanita.
"Kami akan merias wajah Tuan juga." Ucap seorang pria yang diketahui merupakan MUA.
"Aku kesini hanya untuk makan malam," kata Dennis.
"Kami hanya melakukan perintah Tuan Besar, Tuan." Jelas pelayan wanita yang satu lagi.
"Baiklah, aku akan mengganti pakaian."
Tak sampai 30 menit, Dennis telah rapi dan tampak gagah.
"Sebenarnya apa yang direncanakan Paman Harsya," batin Dennis.
Seorang pengawal meminta Dennis menuju kolam renang belakang rumah.
Tampak ibu kandung dan ayah sambungnya yang berdiri melemparkan senyuman. Dennis lantas mendekati keduanya. "Ibu, Ayah, kalian diundang Paman Harsya juga?"
"Iya, Nak." Jawab Felix.
"Aku tidak mengerti, kenapa di sini begitu banyak orang?" tanya Dennis.
"Kami hanya di suruh datang kemari, ada hal penting yang akan dibicarakan," jelas Felix.
Seorang perempuan memakai kemeja panjang dengan celana panjang berwarna senada menghampiri Dennis dan memintanya untuk naik ke atas panggung.
Dennis semakin bingung apalagi ibunya menyuruhnya untuk mengikuti perintah wanita itu.
Dennis melangkah ke panggung bersama dengan kedua orang tuanya Hana.
"Paman....."
Anaya memberikan isyarat dengan jari telunjuk di bibir.
Dennis pun diam.
Seorang pria dan wanita berusia sekitar 30-an membuka suara melalui mikropon, keduanya menyapa para tamu undangan dengan senyuman.
Sang pria mengatakan jika malam ini akan terjadi sesuatu yang membuat Dennis tak dapat melupakannya seumur hidup.
Dennis yang masih bingung, mengernyitkan dahinya.
"Tuan Dennis, apa masih belum sadar jika malam ini akan menjadi hari spesial?" tanya pembawa acara wanita.
Dennis mengangguk sebagai jawaban membuat para tamu tertawa.
"Apa Tuan ingin menikah?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Dennis mengiyakan.
"Malam ini Tuan Dennis akan segera menikah," kata pembawa acara pria.
"Bibi, aku tidak mau menikah selain dengan Hana," bisik Dennis.
Anaya menoleh lalu tersenyum.
"Tuan Dennis, apa sudah siap menikah?" tanya pembawa acara wanita.
Dennis tak menjawab.
"Sepertinya Tuan Dennis masih bingung dan bertanya-tanya," ucap si wanita itu lagi.
"Daripada lama-lama mari kita panggilkan Nona Hana Larasati Abraham!" pembawa acara pria berkata lantang.
Hana berjalan memakai gaun yang begitu indah dan mewah seraya tersenyum.
Dennis dari tadi bertanya-tanya masih terperangah apa yang dilihatnya.
Hana dari kemarin sulit dihubungi kini ada dihadapannya tampil begitu cantik dan anggun.
Keduanya berdiri saling berhadapan dan melempar senyum.
Felix dan Jenny kini berdiri di sebelah Dennis.
"Malam ini sebagai perwakilan keluarga besar, ayah akan melamar Hana untukmu," kata Felix.
Dennis yang tak menyangka jika malam ini menjadi kejutan untuknya.
"Aku tidak ingin dilamar saja, Paman." Kata Hana.
"Lalu kamu ingin apa?" tanya Jenny lembut.
"Ingin menikah malam ini juga," jawab Hana melirik kekasihnya.
"Kamu mau menikah dengan Hana, Nis?" tanya Jenny kepada putranya.
"Iya, Bu."
Seluruh tamu bertepuk tangan mendengarnya.
"Baiklah, kalau begitu kalian menikah malam ini juga," kata Harsya.
Kedua orang tuanya Hana dan Dennis tersenyum begitu juga calon pengantin.
Hana duduk diapit oleh Jenny dan Anaya jauh dari meja Dennis dan Harsya.
Kedua pria tersebut duduk saling berhadapan, kanan kiri mereka ada Darrell dan Alvan sebagai saksi pernikahan di sebelah Harsya seorang penghulu.
Janji suci pernikahan diucapkan Dennis secara lantang dan jelas dihadapan para tamu keluarga.
Semua menangis haru ketika membaca doa-doa setelah pernikahan. Hana berdiri lalu dijemput oleh Dennis.
Jemari tangannya digenggam begitu erat lalu keduanya duduk bersebelahan.
Dennis menyematkan cincin di jemari istrinya dan malam ini keduanya resmi menjadi suami istri.
Keluarga dan saudara yang tinggal disekitar rumah Harsya turut hadir memberikan selamat kepada kedua pengantin.
"Kenapa kalian tidak memberitahuku tentang rencana malam ini?" bisik Dennis.
"Kami ingin memberikan kejutan untukmu, sayang." Jawab Hana tersenyum manis.
"Kalau begitu, malam ini juga aku bisa mengambil hakku," goda Dennis
Pipi Hana seketika merona.
__ADS_1