Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 48 - S2 - Baru Sadar


__ADS_3

Dayna tampak begitu syok mendengar jawaban Alvan yang mengajaknya menikah.


"Day, bagaimana?" tanya Alvan.


"Tidak!"


"Oh, jadi kamu ingin membiarkan kekasihmu itu di tendang dari perusahaannya?" tanya Alvan lagi.


Dayna terdiam.


"Jangan mikir terlalu lama, jika tak ingin Paman Harsya kecewa dan marah," ujar Alvan.


"Apa tidak ada pilihan lain? Permintaan kamu terlalu berat."


"Aku 'kan sudah mengatakan ini sangat berat, kamu tidak akan sanggup."


Dayna masih bergeming.


"Pikirkan lagi, apa kamu mau menerimanya atau tidak," ucap Alvan kemudian membalikkan tubuhnya.


Sebelum melangkah, Alvan kembali berkata, "Waktumu hanya tinggal beberapa jam saja!"


Hah.


Alvan pun melangkah pergi.


Dayna meraup wajahnya dan menghentakkan kakinya.


Pilihan yang sulit baginya, membuat kepalanya pusing.


Dayna yang benar-benar bingung akhirnya menghubungi Rafael dan memberitahu semuanya kepadanya.


"Kamu terima saja," kata Rafael.


"Apa!"


"Jika memang itu syaratnya, maka lakukanlah," ucap Rafael.


"Aku tidak mencintainya, sayang. Buat apa menikah dengannya," ujar Dayna.


"Kamu mencintaiku, 'kan?" tanya Rafael.


"Iya."


"Hanya kamu yang dapat menolongku, tolong berkorban demi aku!" mohon Rafael.


"Jika aku menikah dengannya, kita tidak bisa bertemu lagi. Kamu tahu 'kan ayahnya itu pengawal pribadi Paman Harsya dan tentunya anak buahnya banyak," ujar Dayna.


"Kamu bisa meminta pisah dengannya setelah enam bulan pernikahan kalian."


"Bagaimana jika aku hamil?"


"Kamu pintar-pintar dong, jangan sampai dia menyentuhmu kalau tidak pakai alat pengaman," jawab Rafael.


Dayna lantas berpikir.


"Day, tolong bantu aku, ya. Masa depan karir aku ada padamu," ujar Rafael.


"Jangan beritahu rencana perceraian kamu kepada siapapun!" lanjut Rafael.


"Baiklah, aku akan menerima permintaannya demi kamu," ucap Dayna.


"Begitu dong, sayang. Terima kasih," kata Rafael begitu senang.


Dayna mengucapkan iya dengan malas, lalu menutup ponselnya.


Rasa cintanya kepada Rafael begitu besar sehingga apapun yang dimintanya, Dayna akan berusaha mewujudkannya.


Malam harinya, selepas makan malam Dayna meminta izin kedua orang tuanya untuk bertemu dengan Alvan di Kafe Melodi.


Nayna dan suaminya pun mengizinkannya.


Di kafe, Dayna meremas kedua tangannya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Selang 10 menit kemudian, Alvan datang menggunakan motor.


Alvan lalu duduk dihadapan Dayna tanpa senyuman.

__ADS_1


Dayna mencoba tersenyum walaupun dirinya sedang bingung.


"Kamu ingin memberikan keputusannya malam ini, 'kan?" Alvan membuka percakapan.


Dayna mengangguk.


"Cepat katakan, apa kamu mau menikah denganku?"


"Iya, aku mau menikah denganmu," jawab Dayna ragu.


Seketika tawa Alvan pecah.


Dahi Dayna berkedut.


"Kamu serius?" tanya Alvan memegang perutnya.


"Iya," jawab Dayna penuh yakin.


"Bodoh sekali!"


Dayna semakin bingung.


"Kenapa kamu mau menerima syarat dariku?"


"Karena aku ingin melihat Rafael sukses," jawab Dayna.


"Jika dia sukses tapi tidak bersamamu, untuk apa?"


Dayna terdiam.


"Kamu tuh sudah dimanfaatinnya!"


"Aku mencintainya, Van."


"Tapi, dia tidak mencintaimu!"


"Kamu bilang begitu karena aku lebih memilih dia, 'kan?" tanya Dayna.


"Buka matamu!" ucap Alvan.


"Jika dia mencintaimu, dia takkan membiarkan kamu menikah dengan orang lain apalagi syarat yang ku berikan tidak boleh menemuinya," lanjut Alvan menjelaskan.


Dayna terdiam.


Mendengar penuturan dari Alvan seketika air mata Dayna jatuh, perlahan mengencangkan tangisannya seperti anak kecil.


Alvan pun menjadi panik.


"Day, kenapa menangis, 'sih? Aku tidak bermaksud begitu?" Alvan menggaruk kepalanya.


Apalagi seluruh mata pengunjung kafe tertuju pada mereka.


"Kenapa aku sebodoh ini?" isak Dayna semakin kencang.


"Day, hentikan tangisanmu. Malu dilihatin orang-orang," ujar Alvan yang kini duduk di sebelah Dayna.


Mengambil tisu membuang air yang keluar dari hidungnya. Dayna terus menangis.


"Day...."


"Aku lapar, Van!" ucap Dayna masih dengan air mata mengalir di pipinya.


"Iya, kita pesan makanan. Tapi, hapus air matamu itu. Mereka jadi berpikir kalau aku penyebab kamu menangis," ujar Alvan.


Dayna mengganti tisu lalu mengusap air matanya.


"Aku akan pesan makanan yang biasa kamu makan," Alvan lantas berdiri dan berjalan ke arah kasir.


Setelah itu, Alvan kembali dan duduk dihadapan Dayna.


"Kenapa aku baru sadar?" tanya Dayna sembari menyeka air matanya.


"Syukurlah kalau kamu sadar, jika tidak..."


"Aku akan tetap menikah denganmu dan dia bisa saja bermain hati," sambung Dayna dengan cepat.


"Aku senang jika kita menikah," ucap Alvan.

__ADS_1


"Aku yang akan tersiksa!" ucap Dayna.


"Belum tentu, siapa tahu kamu lebih bahagia denganku," ujar Alvan.


Dayna tersenyum sinis.


***


Siang ini, Dayna menemui Rafael di sebuah restoran tak jauh dari kantornya. Awalnya, kekasihnya itu menolak. Tetapi, karena di desak akhirnya mau bertemu.


"Sayang, aku benar-benar sibuk. Bukannya tidak ingin menemui kamu," ujar Rafael memasang wajah pura-pura menyesal.


"Tak perlu berbasa-basi lagi, kamu mencintai aku atau tidak?"


"Aku sangat mencintaimu."


"Lalu kenapa menyuruhku menikah dengan pria lain?"


Rafael terdiam.


"Seharusnya kamu tuh mencegahku menikah dengan orang lain," ujar Dayna.


"Kamu dapat menggugat cerai dia," kata Rafael.


"Pernikahan bukan untuk dimainkan, aku tidak ingin ada perceraian," ujar Dayna.


"Baiklah, aku mengaku salah. Aku akan terima jika tak mendapatkan kerja sama itu, terpenting saat ini hubungan kita baik-baik saja."


"Memang seharusnya begitu, jika mencintai aku." Dayna melipat kedua tangannya dan membuang wajahnya.


Rafael melebarkan senyumnya dan berkata, "Maafkan aku, sayang."


Dayna kembali menatap kekasihnya dan mengangguk.


Selepas makan siang bersama Rafael, Dayna balik ke kantor. Di parkiran, Alvan menunggu dengan menyandarkan tubuhnya di pintu mobil.


"Mau apa kemari?" tanya Dayna.


"Apa kamu sudah menemui Rafael?" tanya Alvan.


"Sudah."


"Apa dia terima dengan keputusanmu?"


"Iya, dia mengaku menyesal dan tak ingin memaksaku memenuhi keinginannya."


"Apa dia tidak membencimu?" tanya Alvan.


"Tidak, kami masih menjalin hubungan."


"Oh."


"Jadi, jangan berharap aku dan Rafael putus!"


"Bagus deh, kalau dia benar-benar mencintaimu dan mengurungkan niatnya itu." Kata Alvan.


"Terima kasih sudah mengingatkan aku. Karena kejadian ini akhirnya dia sadar bahwa diriku memang pantas diperjuangkan." Dayna tersenyum senang.


"Aku senang mendengarnya, semoga kamu dan dia benar-benar bahagia," singgung Alvan.


"Kamu pikir hubungan kami hanya pura-pura saja?" Dayna tak senang.


"Ya, aku tidak tahu. Apakah dia tulus mencintaimu atau hanya....."


"Rafael sangat mencintaiku, buktinya dia tak berharap lagi dengan kerja sama itu bahkan dirinya siap jika harus di pecat agar dapat bersamaku."


"Wow, kedengarannya seperti benar-benar sempurna," sindir Alvan.


"Tentunya, aku harap semoga kamu menemukan wanita yang cocok agar tak terus mengejarku," ucap Dayna.


"Bisa saja aku menemukan seseorang yang lebih darimu, tapi hati tidak dapat berbohong. Kita tunggu waktunya tiba," kata Alvan tersenyum menyeringai.


...----------------...


Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Lainnya....


- Pria Kejam Dan Gadis Jujur

__ADS_1


- Cinta Asisten Dingin


__ADS_2