Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 22 - Menjadi Pendiam


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Hana telah kembali bekerja seperti biasanya namun sikapnya cenderung lebih pendiam.


Memasuki kantornya, seluruh karyawan kebetulan berpapasan sedikit menggerakkan kepalanya memberikan hormat, bukannya senyuman atau ocehan yang menjadi jawaban melainkan wajah datar. Hal itu membuat semuanya terheran-heran.


Hana lebih pelit berbicara, dia hanya menyuruh dengan satu kalimat saja.


Inka yang merasa atasannya berubah tampak ketakutan lebih baik dia mendengar omelan daripada sikap dingin dan minim bicara.


"Nona, apa anda ingin minum sesuatu?"


Hana menggelengkan kepalanya.


"Apa ada lainnya yang Nona inginkan?"


"Tidak, silahkan keluar dan lanjutkan pekerjaanmu," jawab Hana.


"Baik, Nona." Inka keluar dari ruang kerja atasannya.


Makan siang Hana memilih di ruang kerjanya daripada di luar. Seorang diri ia menikmatinya.


Harsya mencoba mengajak putrinya untuk makan bersama di rumah namun ia menolaknya.


Hana hanya makan bekal buatan sang ibu.


Dayna ingin mengobrol dengan Hana di ruang kerjanya. Hana menegaskan menolaknya dengan alasan bukan pekerjaan kantor.


Selepas dari kantor, Hana mengajak Arya untuk bertemu di sebuah kafe.


"Bagaimana hubunganmu dengan istrimu?" tanya Hana tanpa melepaskan kacamata hitamnya.


"Kami tidak tidur seranjang lagi," jawab Arya dengan mimik wajah sedih.


"Apa kamu mencintainya?"


"Sangat mencintainya," jawab Arya lagi.


"Aku sudah memberikan modal ke perusahaanmu. Maukah kamu meninggalkan dia?"


Glek..


"Kita harus merubah perjanjian lagi," ucap Hana.


"Tidak, Nona."


"Aku janji akan menambah modal tapi kamu harus melepasnya," Hana meraih cangkir kopi dan menyeruputnya.


"Meskipun Nona memberikan modal dua kali lipat dari yang kita janjikan, saya takkan menceraikan Winny."


"Dia sangat membenciku dan kutak suka," ujar Hana.


"Itu resiko, Nona."


"Kamu hidup seatap namun dia tidak mencintaimu," singgung Hana.


"Tapi, kami telah terikat janji suci pernikahan."


Hana tertawa sinis.


"Nona, harus lebih keras lagi merebut hatinya," saran Arya.


"Percuma, itu takkan mengubahnya. Entahlah, ku ingin menyerah."


"Saya tidak akan melepas Winny meskipun pria itu mencintainya," kata Arya tegas.


"Bagaimana jika mereka selingkuh?" tanya Hana.


"Takkan mungkin."


"Apa pun dapat terjadi?"


"Saya melihat sosok Dennis tak seperti itu walaupun mungkin saat ini masih ada rasa untuk istriku," jawab Arya.


Kembali hening...


"Nona, sudah menyerah?" tanya Arya.

__ADS_1


Hana mengangguk.


"Saya tetap akan keputusan yang sama."


Hana menghela napas.


Arya menatap arlojinya lalu berdiri, "Saya mau pulang dan ingin memperbaiki semuanya. Sekali lagi maaf tidak dapat menerima tawaran Nona. Permisi!" sedikit menundukkan kepalanya lalu pergi.


Hana duduk dan melamun memandangi cangkir kopi.


Beberapa menit kemudian selepas Arya pergi, Hana bangkit dari duduknya dan melangkah menuju mobilnya.


Perlahan mengendarai kendaraannya ditengah kemacetan jalanan ibukota.


Sesampainya di rumah, Hana turun dari mobil menyerahkan kunci kepada pelayan lalu melangkah ke kamarnya.


"Itu Kak Hana!" Dayna menoleh ke arah Hana melewati mereka yang sedang berada di ruang santai.


"Biar Bibi panggilkan," Anaya lantas menaiki tangga menuju kamar putrinya.


Tak lama kemudian wanita paruh baya itu turun menghampiri Dayna, Dennis dan Bryan.


"Tidak ingin diganggu," ucap Anaya.


"Kak Hana sangat aneh akhir-akhir ini," ujar Dayna.


"Iya," sahut Bryan.


Dennis sadar jika dirinya penyebab Hana menjadi pendiam dan dingin.


"Ayo lanjut makan, biarkan Hana paling nanti malam juga turun," ucap Anaya.


"Bibi tidak tanya kenapa Kak Hana begitu?" tanya Dayna.


"Sejak dirawat di rumah sakit Hana memang berubah. Dia tak memberikan alasan kenapa dirinya pingsan," jawab Anaya.


"Sangat aneh," ujar Bryan.


"Mungkin dengan Kak Dennis dia mau berbicara dan menjelaskannya," saran Dayna.


Anaya pun mengiyakan.


Mengetuk pintu dan memanggil nama putrinya, "Sayang, Dennis ingin bicara."


Dibalik pintu, Hana sedikit berteriak, "Bu, aku tidak ingin berbicara dengan siapapun."


"Hana, ada yang ingin Dennis bicarakan," ucap Anaya.


"Bu, aku sedang malas bicara. Suruh mereka pergi," ujar Hana.


"Baiklah, Nak."


Anaya mengajak Dennis meninggalkan kamarnya Hana.


Sejam kemudian, Hana keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama kedua orang tuanya.


"Hana, sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" tanya Anaya.


Hana tak menjawab memilih diam.


Anaya menghela napas dan mengarahkan pandangannya kepada suaminya.


"Hana, apa ada seseorang yang menyinggung perasaanmu?" tanya Harsya.


"Tidak, Yah. Malah aku yang menyakitinya," jawab Hana menatap ayahnya.


"Siapa yang telah kamu sakiti?" tanya Harsya lagi.


Hana kembali terdiam.


"Ya sudah kalau tidak mau menjawabnya, apa kamu sudah meminta maaf padanya?" tanya Anaya.


Hana mengangguk.


"Dia tak mau memaafkan kamu?" Anaya bertanya lagi.


Hana mengiyakan.

__ADS_1


"Kenapa?" Anaya masih penasaran.


"Dia sangat membenciku, Bu." Hana mendongakkan wajahnya agar air matanya tak tumpah.


Harsya dan istrinya saling pandang. Anaya lantas berdiri dan pindah tempat duduk di sebelah putrinya lalu memeluknya.


Hana memeluk sang ibu namun tak berkata-kata apa-apa.


"Apa kamu mau Ibu yang berbicara padanya?" Anaya menawarkan diri.


Hana melepaskan pelukannya lalu menggelengkan kepalanya.


"Hana, bicaralah. Agar kami dapat menyelesaikan masalahmu," ujar Harsya.


Hana tertawa kecil sembari menyeka air matanya, "Aku sudah dewasa, Yah. Biarkan ini menjadi urusanku."


"Sikapmu seperti ini membuat kami khawatir, Nak." Kata Harsya.


"Ayah, Ibu, putrimu ini baik-baik saja. Jangan khawatirkan diriku," ujar Hana.


Harsya manggut-manggut pelan.


***


Esok harinya....


Hana berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya seorang diri. Sesampainya di parkiran, Dennis telah berdiri menunggunya.


Tampak Hana bergetar ketakutan ketika berpapasan dengannya. Namun, ia berusaha tetap tenang. Melangkah cepat dan memilih tak menyapanya


"Hana, aku ingin bicara denganmu," panggil Dennis.


Mempercepat langkahnya, Hana tak menoleh.


Dennis ingin berlari mengejarnya tetapi dirinya sedang berada di kantor.


Hana menekan tombol lift dan masuk dengan cepat.


Dennis menghentikan langkahnya ketika melihat Hana memasuki lift, ia pun membalikkan badannya dan berlalu.


Hana masuk ke dalam ruang kerjanya dengan tubuh bergetar, wajahnya mendadak pucat. Meraih gelas berisi air putih di mejanya lalu ia teguk.


"Aku tidak mau bertemu dengannya lagi," lirihnya.


Dennis berpapasan dengan Harsya di depan pintu masuk gedung.


"Dennis.."


"Paman."


"Kamu tidak ke kantor?"


"Ini mau ke sana, Paman."


"Dennis, bisa sebentar ke ruangan saya," ucap Harsya.


"Bisa, Paman."


Keduanya melangkah menuju ruang kerjanya Harsya, sesampainya Dennis duduk di sofa.


"Apa kamu tahu orang yang sedang memiliki masalah dengan Hana?"


Dennis menggelengkan kepalanya.


"Hana bercerita jika dia menyakiti hati seseorang namun orang tersebut tak mau memaafkannya."


Dennis hanya diam, karena orang yang dimaksud adalah dirinya.


"Hana memang benar-benar berubah, Paman kehilangan sosok putri kecil," ujar Harsya.


"Hana hanya mengatakan itu saja, Paman?" tanya Dennis.


Harsya mengiyakan.


"Kenapa dia tak bilang, jika telah melakukan cara licik untuk memisahkan aku dengan Winny?" batinnya bertanya.


"Dennis, kamu harus berbicara pada Hana. Siapa tahu dia mau bercerita denganmu," ujar Harsya.

__ADS_1


"Saya akan berusaha Paman," janji Dennis.


__ADS_2