Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 17 - Rencana Licik Hana


__ADS_3

Keesokan harinya, ketika sarapan Harsya berkata, "Kamu yakin akan mengurus masalah di sana."


"Iya, Yah."


"Kamu akan menginap, siapa yang mengurusmu?" tanya Anaya.


"Ibu, putrimu ini sudah dewasa. Jangan berpikir yang aneh-aneh, ada Inka dan sopir juga," jelas Hana.


"Jaga dirimu dan jika membutuhkan sesuatu hubungi kami," ujar Anaya.


"Iya, Bu. Aku berangkat, ya!" Hana mengecup punggung tangan kedua orang tuanya.


Hana memasuki mobil dan perlahan kendaraan itu meninggalkan kediaman orang tuanya.


"Sepertinya kita harus mengirim pelayan ke sana," saran Anaya.


"Hana akan marah nanti," ujar Harsya.


"Aku jadi khawatir dengannya," ucap Anaya.


"Sayang, jangan berpikir begitu. Semoga saja Hana baik-baik saja lagian juga hanya tinggal tiga hari di sana," jelas Harsya.


"Ya, semoga."


-


Perusahaan Milik Darrell...


Dennis mulai bekerja membantu ayahnya Dayna karena gadis itu sedang magang di kantornya Harsya.


Dennis sibuk dengan pekerjaan yang hari ini begitu banyak. Sehingga ia lupa untuk makan siang bersama Winny.


Ponsel Dennis terus berdering namun dibiarkannya saja.


Sehingga Darrell yang berbicara, "Kenapa tidak diangkat?"


"Masih sibuk, Tuan. Paling juga dari Winny," jawab Dennis. Selama bekerja tak ada kata paman dan bibi meskipun kenal atau memiliki hubungan keluarga.


"Angkatlah sebentar, siapa tahu penting," ujar Darrell.


"Iya, Tuan."


"Dennis, apa benar Hana yang menangani masalah di kota C?" tanya Darrell.


Dennis menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah Darrell, "Masalah apa, Tuan?"


"Katanya tanah yang buat penginapan masih bermasalah."


"Dennis kurang tahu, sih."


"Saya dengar jika kota itu tempat nenek dan kakek Hana tinggal."


"Bukankah Nenek Nona Hana hanya Nyonya Madya?"


"Anaya masih memiliki orang tua, namun Harsya melarang mereka bertemu."


"Kenapa begitu?"


"Ceritanya panjang."

__ADS_1


"Jadi, Nona Hana tidak tahu sama sekali dengan kakek dan neneknya itu?"


"Sepertinya memang tidak tahu."


"Rencananya saya ingin pergi ke sana tapi kenapa sangat malas sekali? Bisakah kamu mewakili perusahaan?"


"Dalam rangka apa, Tuan?"


"Ada sebuah pertemuan tapi nanti kamu dengan sekretaris saya ke sana."


"Baiklah, Tuan. Saya akan ke sana."


"Acaranya besok siang."


Sore harinya selepas pulang kerja, Dennis mendatangi toko Winny.


Gadis itu tampak cemberut ketika Dennis baru datang kepadanya. "Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" ketusnya.


"Pekerjaan di kantor sangat padat."


"Apa salahnya membalas pesan dariku?" protesnya.


"Jika aku membalas maka pekerjaan kantor tidak akan selesai," ujar Dennis.


Winny terdiam.


"Jangan cemberut lagi, sekarang aku sudah di sini," rayu Dennis.


Winny pun tersenyum.


"Aku lapar, bagaimana kalau kita makan?" ajak Dennis.


Sementara itu Hana sedang bertemu dengan seorang pria.


"Sepertinya kita pernah bertemu, Nona."


Hana melihat wajah pria yang tidak asing.


"Oh, saya baru ingat jika Nona yang di toko es krim."


"Kamu, pria yang menyenggol saya hampir jatuh."


"Ya, ya, tepat sekali," pria itu tertawa.


"Saya tidak menyangka jika kamu yang akan menjadi rekan bisnis perusahaan kami."


Obrolan berlanjut membahas bisnis, Inka berada di sana juga menemani Hana.


Sejam pembicaraan mengenai kerjasama akhirnya mereka saling setuju.


"Nona Hana, saya ingin bicara dengan anda," ucap Arya.


"Saya balik ke kamar duluan, Nona." Pamit Inka berdiri dan pergi meninggalkan keduanya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Hana.


"Apa Nona sering ke toko Win Ice Cream?"


"Tidak, cuma mantan karyawan saya kekasih pemilik toko itu."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Iya."


"Sebenarnya saya ingin dijodohkan dengan pemilik toko es krim itu," ujar Arya.


"Oh, ya." Hana tak percaya.


"Tetapi dia sudah memiliki kekasih, saya merasa bersalah jika merebutnya dari pria itu."


Seketika pikiran buruk muncul, mungkin dengan cara ini membuat Dennis dan Winny putus.


"Sepertinya Nona sangat mengenal baik Winny," ucap Arya.


"Ya, kami kenal karena Dennis memperkenalkannya."


"Jadi, nama lelaki itu Dennis."


"Ya, tapi saya bisa bantu kamu."


"Membantu saya?"


"Iya, merebut Winny dari Dennis."


"Bagaimana caranya?"


"Apa kamu benar-benar menyukai dan mencintai Winny?"


"Iya, Nona."


"Cukup kamu dekati Winny dan kalau perlu beri tekanan pada orang tuanya," saran Hana.


"Tapi...."


"Saya akan mempermudah urusanmu jika berhasil," ujar Hana.


"Maksudnya?" Arya belum mengerti.


"Jika kamu berhasil merebut Winny maka saya akan meminta ayah cepat menyetujui kerja sama perusahaan kita. Bukankah kamu butuh investor?"


Arya tampak berpikir.


"Cara ini memang licik, tapi terpaksa harus dilakukan."


"Apa Nona menyukai pria itu?"


Hana terdiam.


"Jika Nona tak menyukai pria itu pasti tidak akan melakukan hal licik ini!" singgung Arya.


"Saya sangat membenci Dennis mana mungkin mencintainya," ujar Hana.


"Biasanya cara licik akan dilakukan orang-orang yang terbakar cemburu," kata Arya benar-benar menusuk hatinya.


Hana tertawa getir.


"Tapi, saya setuju dengan usulan dari Nona."


Arya mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Hana meraihnya dan keduanya saling berjabat tangan.


__ADS_2