
Pagi ini Dayna menikmati sarapan bersama kedua orang tuanya.
"Apa kamu sudah mengecek gedung pernikahan?" tanya Nayna.
"Belum, Ma."
"Kenapa belum di cek?" tanya Nayna.
"Belum sempat, Alvan masih sibuk. Kemungkinan nanti sore," jawab Dayna.
"Oh, ya sudah. Perlu Mama temani?" Nayna menawarkan diri.
"Boleh, Ma."
"Aku dan Dayna akan pulang lebih cepat menjemputmu," kata Darrell.
Nayna mengiyakan.
"Alvan juga akan menyusul kita di sana," ujar Dayna.
Dayna dan papanya berangkat kerja bersama. Alvan mengirimkan pesan jika sedikit terlambat ke gedung karena ada rapat sekitar jam 2-an.
Dayna lalu membalasnya iya.
Menjelang pukul 3 lewat 30 menit, Dayna dan papanya keluar dari kantor menuju kediamannya untuk menjemput Nayna.
Setelah Nayna dijemput, ketiganya pun melesat ke gedung pernikahan yang akan dilaksanakan seminggu lagi.
Dayna mengelilingi gedung bersama kedua orang tuanya, sebelumnya Nayna dan suaminya juga telah mengunjungi tempat tersebut.
Selain mereka ada juga pihak Wedding Organizer datang untuk melihat tempat yang akan mendekorasi.
Pukul 5 lewat 10 tepat Dayna dan kedua orang tuanya sejam berada di gedung. Alvan tak kunjung datang.
"Dia ke mana, 'sih?" Dayna menggerutu.
"Mungkin masih di jalan," ujar Nayna.
"Tapi, lama sekali. Ini kita hampir sejam di sini," ucap Dayna.
"Apa tadi dia sudah mengirimkan pesan?" tanya Darrell.
"Jam empat tadi dia bilang lagi di mobil dan akan menuju kemari. Padahal ini sudah lebih dari satu jam," tutur Dayna.
"Mungkin terjebak macet," ucap Nayna.
"Kalau memang terjebak macet 'kan dapat mengabariku," kata Dayna.
"Ya sudah, coba kamu telepon," saran Darrell.
Dayna lalu menghubungi ponsel Alvan namun tak aktif.
Dayna lantas berdecak kesal.
"Bagaimana?" tanya Darrell.
"Ponselnya mati," jawab Dayna.
"Tidak biasanya Alvan mematikan ponselnya di jam segini," ujar Darrell.
Dayna menyetujui ucapan papanya.
"Coba telpon Kak Alpha, Pa. Siapa tahu mereka bersama," usul Nayna.
"Sebentar aku akan meneleponnya," kata Darrell.
Menghubungi Alpha, tak sampai 10 detik panggilan tersebut terjawab.
"Halo, Rel. Ada apa?"
__ADS_1
"Alpha, apa Alvan masih berada di kantor?"
"Sebelum jam empat tadi dia pamit mau pergi ke gedung pernikahan."
"Hingga saat ini, Alvan tidak juga datang. Ponselnya sulit dihubungi," ucap Darrell.
Alpha menarik napas mencoba tenang.
"Apa Alvan sering menonaktifkan ponselnya?" tanya Darrell.
"Dia tak pernah mematikan ponselnya kecuali pada malam hari ketika tidur. Itu pun sangat jarang," jawab Alpha.
"Lalu Alvan di mana?" tanya Darrell lagi.
"Aku akan coba menelepon rumah."
"Aku tunggu, Al."
Darrell lalu mematikan ponselnya, selang 3 menit kemudian terdengar notifikasi pesan .
"Bagaimana, Pa?" tanya Dayna.
"Papanya Alvan bilang jika dia tak di rumah," jawab Darrell.
"Ya, ampun. Sebenarnya dia ke mana? Ingin mempermainkan kita," Dayna tampak begitu kecewa.
Alpha yang begitu mengkhawatirkan putranya apalagi istrinya terus mendesaknya untuk mencari keberadaannya akhirnya menyuruh anak buahnya menyebar.
Alpha melacak ponsel putranya yang terakhir muncul di antara kantor dan gedung pernikahan.
Alpha meminta beberapa anak buahnya menyusuri jalanan yang diyakini dilewati Alvan.
Tak sampai 15 menit, kabar itu didapatkan oleh Alvan. Bahwa mobil putranya tampak kosong dan terparkir di pinggir jalan.
Seketika rasa cemas dan panik menyelimuti dada Alpha. Meminta bantuan Biom dan Hanan untuk mencari keberadaan putranya.
Hanan menemui kakak iparnya dan mengatakan jika Alvan menghilang, mobilnya berada di jalan dan ponselnya tidak aktif.
Kedua wanita itu pun bergegas menuju ke rumah Astrid.
Harsya yang mendengarnya lalu menghubungi Darrell.
"Apa? Alvan menghilang? Bagaimana bisa?" Dayna tak percaya.
"Lebih baik kalian sekarang pulang, biar sopir yang mengantarnya. Aku akan pergi bersama Paman Harsya." Kata Darrell.
Nayna dan Dayna lalu mengangguk.
Diperjalanan pulang, Dayna mengingat semua perkataan calon suaminya beberapa hari lalu.
"Apa dia melakukan cara kotor ini untuk menarik simpatik dari aku?" Dayna membatin.
"Tidak mungkin, Alvan melakukan hal bodoh hanya karena membutuhkan perhatian dariku," batin Dayna selanjutnya menyangkalnya.
"Semoga Alvan baik-baik saja," harap Nayna yang ikut cemas.
Jarum jam menunjukkan pukul 8 malam, Nayna menghubungi suaminya menanyakan kabar apakah Alvan telah ditemukan atau tidak.
"Kami belum menemukan titik terang tentang keberadaan Alvan karena jalan yang dilaluinya sangat sepi," ujar Darrell.
"Apa kalian telah menyusuri ujung jalan yang dilalui Alvan itu?" tanya Darrell.
"Sudah, Nay."
"Apa di sana ada jalan potong atau pintas?"
"Aku kurang tahu."
"Coba beritahu Kak Alpha, siapa tahu ada seseorang yang membawa Alvan melewati jalan tikus itu," saran Nayna.
__ADS_1
"Aku akan coba sampaikan," kata Darrell.
Nayna lalu mematikan ponselnya.
"Alvan benar di culik, Ma?" tanya Dayna.
"Mama yakin jika ada seseorang yang menculiknya," jawab Nayna.
Dayna menutup mulutnya, seketika matanya berkaca-kaca. Degup jantungnya tak karuan, rasa khawatir menyelimuti hatinya.
"Semoga tidak terjadi dengannya," lirih Dayna.
Nayna memeluk putrinya.
"Aku takut, Ma."
"Kita sama-sama berdoa. Semoga Alvan ditemukan selamat."
"Walaupun aku tidak menginginkan pernikahan ini tapi kutak mau sesuatu hal buruk menimpanya," ujar Dayna, air matanya tak terasa menetes.
"Semuanya akan baik-baik saja," ucap Nayna memenangkan putrinya.
Di lokasi jalanan tempat ditemukan mobilnya Alvan. Anak buahnya Alpha mengikuti perintah yang di minta Nayna untuk menyusuri setiap jalanan meskipun sempit.
Ada 6 orang anak buahnya Alpha berjalan kaki dengan alat penerangan seadanya karena yang dilaluinya sangat gelap dan tak ada rumah penduduk.
Alpha menunggu di mobil bersama Dennis dan Hanan.
Darrell memutuskan pulang karena Dayna terus menangis.
"Paman, pulanglah. Biar aku dan Hanan di sini. Sebentar lagi Bryan dan Ryder juga akan ke mari. Mereka sedang mencari Alvan ke beberapa rumah temannya yang pernah didatanginya," kata Dennis.
"Tidak, Nak. Paman akan tetap di sini sampai Alvan ditemukan," ujar Alpha.
"Tante Astrid butuh Paman, apalagi kata Bryan kalau Alana terus menghubunginya menanyakan kabar kakaknya," tutur Dennis.
"Tapi, Dennis..."
"Apa yang dikatakan Kak Dennis benar, Paman. Pulanglah, angin malam tidak baik apalagi kita sudah hampir lima jam di sini," ucap Hanan.
Alpha manggut-manggut paham.
Dennis lalu menyuruh sopir dan salah satu anak buahnya Alpha mengantarkan pulang pria paruh baya itu.
Selang 10 menit, Alpha pulang. Dennis menghubungi anak buah yang menyusuri jalanan sempit namun sinyal tak cukup baik.
Dennis akhirnya mengirimkan pesan.
Menunggu 15 menit, baru mendapatkan balasan jika mereka tidak menemukan petunjuk apapun.
Dennis lalu mengirimkan 3 orang lagi untuk mengantarkan makanan dan minuman menyusul 6 orang lainnya di jalan itu.
Dennis meminta agar mereka tidak kembali sebelum matahari terbit.
Tiga orang tersebut menggunakan tas besar mengantarkan makanan dan minuman untuk mengganjal perut serta membawa senter yang cukup besar.
Dennis juga meminta para anak buah Alpha untuk tidak mematikan ponsel. Agar komunikasi mereka berjalan lancar tanpa hambatan.
Bryan dan Ryder datang menghampiri Hanan dan Dennis.
"Bagaimana?" tanya Dennis.
"Dalam satu hari ini Alvan tidak ada menghubungi mereka atau mendatangi mereka," jawab Ryder.
Dennis menghela napas.
Sekitar jam 4 pagi, ponselnya Hanan berdering gegas Bryan yang mendengarnya membangunkannya.
Hanan lalu mengangkat dan menjawabnya, "Halo."
__ADS_1
"Halo, Tuan. Kami menemukan satu sepatu yang dicurigai milik Tuan Alvan."
"Kami akan segera ke sana!" ucap Hanan dengan cepat.