
Malam harinya, Dennis memberanikan hati menghubungi Hana. Beberapa detik menunggu akhirnya panggilannya terjawab.
Terdengar suara parau dari ujung telepon, membuat Dennis menjadi khawatir.
"Kamu baik-baik saja 'kan di sana?"
"Iya, Nis."
"Kenapa suaramu...?"
"Aku lagi batuk saja," jawab Hana.
"Sudah minum obat?"
"Sudah."
"Beristirahatlah, semoga cepat sehat."
"Iya, terima kasih. Selamat malam," ujar Hana.
Dennis melihat jam di dinding menunjukkan pukul 8 malam. Menekan tombol telepon mencari nama seseorang lalu menghubunginya.
Selepas bertelepon, mengeluarkan koper dari lemari dan meletakkan beberapa pakaian di dalamnya.
****
Hana masih berbaring di ranjang dengan dibalut selimut. Para pelayan mondar-mandir keluar masuk ke kamar untuk memastikan sang putri baik-baik saja.
Pintu kamar terbuka, Hana yang memejamkan matanya kemudian berkata, "Kerjakan saja tugas kalian."
Hana tak mendengar suara jawaban dari pelayannya lantas membuka matanya. Seketika dirinya terperanjat kaget.
"Kamu?" Hana tercengang.
"Aku benar-benar khawatir," jawabnya.
Hana lantas bangkit dari tidurnya, dengan cepat Dennis membantunya.
Dennis duduk di sebelah gadis itu.
"Kamu ke sini tidak di marahi Paman Darrell?" tanya Hana.
"Aku sudah minta izin padanya, Paman Alpha dan ayahmu."
"Lalu, darimana kamu tahu alamat sini?"
"Pengawalmu, salah satu di antara mereka yang menjemputku di bandara."
Hana menepuk jidatnya.
Lalu menatap wajah Dennis yang sangat lelah. "Aku sebenarnya ingin bertanya banyak, tapi sekarang lebih baik kamu beristirahat."
"Aku tidur di kamar ini?" goda Dennis.
Hana segera menyipitkan matanya.
Dennis tersenyum nyengir.
Pintu terbuka, seorang pelayan wanita berkata, "Kamar buat Tuan Dennis sudah siap."
"Iya, Mba. Terima kasih," ucap Hana.
Pelayan wanita itu pun berlalu.
"Sudah sana pergi tidur, aku akan menyuruh pelayan masak makanan buatmu," Hana hendak turun dari ranjang namun tangan Dennis mencegahnya.
"Jangan ke mana-mana, tetap di sini. Aku ingin kamu cepat sembuh," Dennis berkata seraya tersenyum, ia lalu berdiri dan keluar dari kamarnya Hana.
Pintu kamar tertutup, Hana menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Dibalik kain itu ia tersenyum bahagia.
Bagaimana tidak? Pemuda yang sejak 2 tahun lalu disukainya, datang jauh-jauh menemuinya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
"Begini rasanya kalau diperhatikan," gumam Hana.
Dennis merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya, perjalanan dari kotanya memakan waktu 8 jam. Apalagi dirinya tidak dapat tidur nyenyak selama di pesawat.
Jam 7 malam waktu setempat, Hana dengan wajah pucat membangunkan Dennis yang masih tertidur.
Dennis menggeliatkan tubuhnya ketika mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Ayo bangun, sekarang waktunya makan."
Dennis pun segera bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
"Makanan telah disiapkan, mandi dan kita makan bersama," kata Hana.
Dennis manggut-manggut.
Beberapa menit kemudian, Dennis menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Hana.
"Isi perutmu, perjalanan kemari sangat melelahkan. Aku tidak mau kamu sakit sepertiku," ujar Hana.
"Terima kasih perhatiannya," ucap Dennis.
"Di sini kamu adalah tamuku, jadi sebisa mungkin aku akan melayanimu."
"Jika aku dilayani, tak sanggup ku membayar gajimu," celetuk Dennis.
Hana tertawa kecil.
Dennis memotong daging kecil lalu ditusuknya dengan garpu dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Apa alasanmu datang kemari?"
"Khawatir dengan kondisi kesehatanmu," jawab Dennis.
Hana menarik ujung bibirnya.
"Kamu tidak percaya?"
"Sudah setahun aku berada di tempat ini bersama pelayan dan pengawal. Kenapa baru mengkhawatirkan kesehatanku hari ini?" singgung Hana.
"Bukankah kamu sendiri yang tidak ingin aku mengetahuinya?"
Hana terdiam.
"Aku ingin tahu semua tentangmu, tapi kamu malah menjauhiku."
"Bukankah kamu tidak mencintaiku? Untuk apa aku terus dekat? Bukankah itu hal bodoh?" sindir Hana.
Dennis pun terdiam.
"Bisakah kamu memberikan alasan lain?"
Dennis menggelengkan kepalanya.
"Kamu sengaja mengambil cuti dadakan karena sedang gundah, 'kan?" tebak Hana.
Dennis mengendikkan bahunya.
Dennis tertawa kecil.
"Aku akan memberitahu Paman Darrell tentang ini," ujar Hana.
"Beritahu saja sana!" Dennis berkata sembari mengunyah.
Hana meraih ponselnya, dengan cepat Dennis mengambilnya membuat gadis itu terkejut.
"Mereka tahu aku ke sini untuk mengejar cinta," ucap Dennis.
Hana mengerutkan keningnya.
"Tak perlu dibawa serius, aku hanya ingin liburan di sini sekaligus mengunjungimu," jelas Dennis.
"Oh."
"Selesai makan, jangan lupa minum obat dan kembali istirahat. Besok mau ke kantor, 'kan?"
Hana mengiyakan.
"Aku akan ikut."
"Kenapa harus ikut ke kantor?"
"Aku bosan jika di sini sendirian."
Hana menari napas, lalu berkata, "Ada pengawal yang akan menemani kamu."
"Aku ingin kamu."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemanimu jalan-jalan di kota ini," ucap Dennis.
***
Keesokan paginya, Dennis dan Hana menikmati sarapan bersama. Kondisi kesehatan wanita itu lumayan membaik.
"Kamu yakin akan pergi menemaniku?"
__ADS_1
"Iya."
"Baiklah," ucap Dennis senang.
Keduanya pergi dengan berjalan kaki, Hana meminta kedua pengawalnya untuk tidak mengikutinya dan permintaannya pun dikabulkan karena Dennis menjaminnya.
"Apa yang membuat betah di negara ini?" tanya Dennis sesekali menoleh ke arah gadis di sebelahnya.
"Kamu!"
"Aku?"
"Iya, karena ucapan kamu yang membuatku betah di sini," jawab Hana seraya melangkah.
"Jika aku meminta kamu kembali ke sana, bagaimana?"
"Rafael akan datang melamarku."
"Bagaimana jika aku yang melamarmu?"
Langkah kaki Hana terhenti, lalu menoleh dan menatap pria di hadapannya.
"Aku serius ingin melamarmu," Dennis berkata dengan menatapnya.
Hana tertawa sinis, lalu melanjutkan langkahnya.
Dennis gegas menyusulnya.
"Hana, aku serius!"
"Aku tidak suka dengan cara bercandamu!" Hana terus melangkah.
"Aku tidak bercanda," ucap Dennis mensejajarkan posisi langkahnya.
Hana berhenti kembali menatap Dennis, "Apa kamu iba padaku?"
Dennis menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau kamu menerimaku hanya karena kasihan," ujar Hana.
"Han..."
"Cukup, Nis. Jangan menghancurkan perasaan aku lagi, kita begini lebih baik," ucap Hana.
"Aku tidak mau menghancurkannya, Han."
"Kamu bilang tidak mencintaiku dan tak dapat melupakan Winny. Ini belum dua tahun kamu mengatakannya. Tidak mungkin secepat itu move on."
Dennis menarik napasnya.
"Sudah, jangan bercanda lagi. Kamu ke sini hanya untuk berlibur, 'kan?"
Dennis tak menjawab.
"Sekarang nikmati waktumu dengan senang," Hana berkata dengan tersenyum.
Hana mengajak Dennis menaiki bus untuk menuju sebuah taman.
Keduanya duduk tanpa bicara apapun, mata Hana fokus memandangi jalanan.
Dennis sesekali melirik wanita yang duduk dekat jendela.
Tak sampai 10 menit, keduanya turun dari bus.
Dennis menggenggam jemari tangan Hana ketika ingin menyeberang.
Hana memperhatikan tangan yang menggenggamnya.
Dennis melepaskan genggamannya ketika mereka sudah berada di taman.
"Sering ke sini?"
"Tidak juga, waktuku lebih banyak dihabiskan di kantor." Hana duduk di bangku taman.
Dennis duduk di sebelahnya.
"Biasanya setiap sore di sini selalu ramai, karena hari ini adalah hari kerja dan pagi jadi tidak terlalu padat pengunjung," jelas Hana.
Dennis manggut-manggut.
Tampak hening, tak ada pembicaraan apapun.
Lima menit kemudian, Dennis kembali bersuara, "Han.."
__ADS_1
"Ya."
"Bagaimana caranya, agar kamu dapat percaya dengan ucapanku?"