
Rombongan Alpha kini tiba di kota mereka. Dennis, Randy, Biom dan Rissa datang menjemput ke bandara.
Rissa memeluk putranya dengan begitu erat. "Mama rindu sekali!" tak lupa mengecup pipinya.
Alana hanya mengulum senyum.
"Mama, aku sudah dewasa malu dilihat mereka," kata Bryan.
"Mereka sudah tahu, kalau Mama kamu memang begini," ucap Rissa.
Biom mendekati istrinya, "Sayang, dia baru saja pulang dan sangat lelah. Jangan menggodanya."
"Dia ini kalau kita ajam jalan bareng tak pernah mau, tapi giliran Alpha yang mengajaknya selalu mau," kata Rissa.
Bryan tersenyum nyengir.
"Bibi, Kak Bryan ikut karena ada yang diincarnya," ceplos Elra.
Bryan lalu menatap adik sepupunya itu dengan menyipitkan matanya.
Elra menggaruk tengkuknya kemudian membuang wajahnya.
"Ya sudah, ayo kita pulang!" ajak Biom.
Mereka pun meninggalkan bandara. Elra bergabung dengan Bryan dan Dayna yang satu mobil bersama Biom beserta Rissa.
Keluarga Alpha di jemput sopir pribadi. Sedangkan Hanan bersama kakak iparnya sekaligus Kayla.
"Bagaimana liburannya, Kay?" tanya Dennis pada adiknya.
"Seru, Kak." Jawab Kayla semangat.
"Syukurlah, yang penting kamu senang," ujar Dennis.
"Iya, Kak." Ucap Kayla.
"Kalau kamu, Nan?" tanya Dennis kepada adik iparnya yang duduk di sampingnya.
"Begitulah, Kak."
"Begitu, bagaimana?" tanya Dennis lagi.
"Kak Hanan tidak ikut ke pantai karena terlambat datang," sahut Kayla menjawab.
"Sayang sekali, padahal katanya pantainya sangat indah," ujar Dennis.
"Lain waktu aku akan ke sana lagi, Kak." Kata Hanan.
"Mau apa ke sana?" tanya Dennis.
"Main ke pantainya," jawab Hanan.
"Hanya itu saja?" Dennis bertanya lagi.
Hanan tak menjawab.
"Kalau Kak Hanan ke sana, aku ikut 'ya?" Kayla menawarkan diri.
"Tidak! Nanti kamu mengganggu aku di sana," ucap Hanan.
"Memangnya aku anak kecil," Kayla memanyunkan bibirnya.
Hanan memilih diam.
"Oh, aku tahu pasti Kak Hanan ingin menemui Kak Aira tanpa ada gangguan," celetuk Kayla.
Hanan menoleh ke belakang lalu memberikan isyarat dengan menyatukan bibir dan jari telunjuknya.
Kayla diam dan menahan senyum.
"Kamu menyukai Aira?" tebak Dennis.
"Tidak, Kak."
__ADS_1
"Kalau memang suka, tidak apa-apa juga 'kan," ujar Dennis.
"Dia bukan tipe aku, Kak."
Dennis manggut-manggut.
Sejam kemudian, Hanan dan Dennis sampai dikediamannya Harsya. Terlebih dahulu mereka mengantarkan Kayla, begitu keluar dari mobil Hanan telah disambut jeweran Ibunya.
"Aduh sakit, Bu!" pekik Hanan.
"Kenapa kamu pergi tidak memberikan kabar pada orang tuamu atau Kakakmu, hah?" tanya Anaya melepaskan tangannya.
"Iya, Bu. Aku minta maaf, kalau tidak izin," jawab Hanan mengelus telinganya.
"Lain kali jangan lakukan itu!" Anaya menasehati putranya.
"Iya, Bu."
"Sudah sana mandi terus sarapan lalu pergi tidur," ucap Anaya.
Hanan manggut kemudian berlalu.
"Bu, aku balik ke rumah sana. Mau jemput Hana," kata Dennis berpamitan.
"Iya, kamu bawa sopir juga. Jangan sendirian," ujar Anaya.
Dennis mengiyakan.
-
Siang harinya, mereka berkumpul di meja makan.
"Kamu pasti pergi ke sana tanpa pamit, karena terlanjur malu 'kan?" tukas Hana.
"Siapa yang malu?" tanya Hanan.
"Ya, kamulah. Ngomongnya tidak mau ikut, malas eh tahunya sudah sampai sana saja," jawab Hana.
"Lain kali aku pamitan kalau mau pergi. Tapi, jangan hakimi aku begini. Ayah tolong aku," mohon Hanan mengarahkan wajahnya kepada Harsya.
"Ayah tak dapat menolong kamu jika Ibu dan Kakakmu sudah berbicara," kata Harsya. "Tapi, apa yang mereka katakan benar. Kamu harus pamit agar kami tidak khawatir," lanjutnya.
"Iya, aku janji takkan seperti ini lagi." Kata Hanan.
"Memangnya kenapa kamu berubah pikiran?" tanya Hana.
"Aku bosan tinggal sendiri di sini. Para pelayan sibuk dengan pekerjaannya, sebagian lagi ikut kalian. Jadi, aku memilih pergi ke sana," jelas Hanan.
Hana dan orang tuanya manggut-manggut.
***
Dua bulan berlalu...
Usia kandungan Hana telah memasuki 5 bulan. Bersama Dennis mereka menghadiri acara pernikahan William dan Inka.
Inka, sekretaris pribadinya Hana kini dipersunting William yang merupakan sepupu dari Kayla adik kandungnya Dennis berbeda ayah.
Dennis turut menjadi penerima tamu di acara tersebut.
Keluarga besarnya Harsya turut datang menghadiri acara termasuk para karyawannya yang pernah dan masih bekerja.
Apalagi Inka termasuk karyawan lama di perusahaan milik Harsya dan William sahabat Hana semasa sekolah.
"Kamu jangan pernah ke mana-mana. Tetaplah di sini, jika butuh makan dan minum mintalah kepada para pelayan," ucap Dennis kepada istrinya.
"Tapi, jika aku ingin bernyanyi. Apa boleh?"
"Tidak."
"Dennis...."
"Jangan membantah, sayang!" Dennis menepuk lembut punggung tangan istrinya.
__ADS_1
Hana manggut-manggut.
Dennis kemudian bergabung dengan keluarga dari pihak ayah sambungnya.
Kayla sedang mengobrol dengan sepupu yang lainnya tiba-tiba di datangi Elra yang juga hadir mewakili ayah dan ibunya.
"Kay!" panggilnya.
Gadis itu menoleh dan mendongakkan wajahnya.
"Kenapa kamu di sini saja?" tanya Elra.
"Ya, aku di sini sebagai tamu dan keluarga dari pihak pengantin pria," jawab Kayla.
"Ayo temani aku!" pinta Elra.
Kayla mengernyitkan keningnya.
Elra menarik tangan Kayla. "Ayo, Kay!" ajaknya.
"Temani ke mana?" tanya Kayla ketika cukup menjauh dari para sepupunya.
"Aku di sini sendirian, jadi temaniku makan," jawab Elra.
"Memangnya kamu ke sini tadi dengan siapa?" tanya Kayla lagi.
"Dengan Kak Ryder, tapi dia entah ke mana," jawabnya.
"Ya sudah, gabung saja dengan Kak Hana di sana!" Kayla menunjuk ke meja yang di mana ada Hana, Biom dan Rissa.
"Tidak mau," tolak Elra.
"Tuan Elra yang tampan dan sangat rupawan, di sini aku bukan pelayan kamu. Jadi, jangan manja!"
"Aku 'kan tamu dari pihak luar," Elra beralasan.
Kayla menarik napas lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Silahkan duduk Tuan Muda Elra. Biarkan saya yang menjadi pelayan anda hari ini," Kayla berkata dengan sedikit menunduk seperti pelayan di kerajaan.
Elra menarik kedua ujung bibirnya.
"Aku duduk bersama dengan Hana. Pastikan makanan milikku jangan terlalu banyak cabai atau terlalu pedas," ucap Elra.
"Baiklah, Tuan Muda." Kayla menunduk dan berkata lembut.
Elra berjalan menuju mejanya Hana dan Biom.
Tak lama kemudian Kayla datang membawa sepiring sate ayam bumbu kacang dan SOP udang serta minuman jus nenas.
"Silahkan, Tuan Muda." Kata Kayla membuat Biom, Rissa dan Hana menoleh.
Elra tersenyum nyengir. "Dia memang sungguh aneh."
"Ada lagi yang Tuan inginkan?" tanya Kayla dengan lembut ala pelayan restoran.
"Tidak, cukup ini saja."
"Baiklah, kalau begitu. Saya permisi," Kayla menundukkan sedikit kepalanya lalu tersenyum singkat kepada Biom dan istrinya kemudian berlalu.
"Kenapa Kayla begitu manis hari ini?" tanya Hana.
Elra mengendikkan bahunya.
"Kamu mengerjai dia, 'kan?" tebak Hana.
Elra menggelengkan kepalanya.
"Dia suka tuh dengan Kayla makanya mencuri perhatiannya begitu," timpal Rissa.
"Ya ampun, Tante. Seperti tidak ada gadis lain saja," ucap Elra.
"Jangan menyesal kalau dia sudah jalan dengan pria lain!" celetuk Rissa.
__ADS_1