Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 29 - Jauhi Aku


__ADS_3

William mendesak sahabatnya itu agar memberitahu alasan dirinya pergi ke luar negeri.


Hana malah tertawa kecil.


"Hana, aku serius!"


"Wil, aku pergi karena tujuan kerja," jelas Hana.


"Aku tidak percaya!"


"Terserah kamu mau percaya atau tidak," ujar Hana.


Gadis itu lantas berdiri dan menarik tangan sahabatnya.


"Mau ke mana?"


"Temani aku ke rumah Inka."


"Kenapa minta temani aku?"


"Aku tidak bawa mobil, tadi diantar sopir," jawab Hana.


William dengan langkah malas mengikuti gadis itu.


Hana membuka pintu mobil.


Tanpa diketahui keduanya, Winny yang datang bersama sang suami melihat Hana dan William saling melempar tawa.


"Kamu lihat 'kan, sudah berganti pria lain lagi. Sebenarnya dia mencintai Dennis atau tidak, 'sih?" Winny ngedumel.


"Sayang, jangan pikirin lagi. Fokus dengan pernikahan kita saja."


"Aku kesal dengan Hana, Ar. Katanya mencintai Dennis tapi kenapa sikapnya begitu?" cerocosnya.


"Lebih baik nanti kita tanyakan dengan Dennis, jika bertemu. Sekarang lebih baik isi perut ini, aku sudah lapar." Arya mengelus perutnya.


Winny manggut.


Sementara itu, di dalam mobil Hana menatap jalanan dengan pandangan kosong. Membuat William semakin heran dengan sikap dirinya.


"Kamu memiliki masalah dengan orang lain?"


"Tidak."


"Kenapa hanya diam saja?"


"Tidak apa-apa, sudah lama tak melewati jalan ini," jawab Hana berbohong.


"Oh."


Hana menampilkan senyum tipisnya.


"Kamu tidak menghubungi Inka?"


"Buat apa?"


"Ini hari libur, siapa tahu tidak di rumah."


"Aku sudah meneleponnya, kamu tenang saja."


"Syukurlah kalau begitu," ucap William.


Selang 20 menit kemudian, mereka pun tiba di rumah kecil miliknya Inka yang tinggal bersama dengan kedua orang tuanya.


Inka membuka pintu ketika mendengar suara ketukan dan teriakan dari luar


Inka melemparkan senyumannya kepada kedua tamunya.


"Silahkan masuk, Nona, Tuan."


Hana dan William lantas masuk.


"Saya sungguh terharu, Nona Hana mau datang ke rumah ini. Maaf, tidak terlalu luas ruang tamunya," ujar Inka.


"Tidak apa-apa, " ucap Hana tersenyum.


"Mau minum apa, Nona, Tuan?"


"Memangnya ada apa saja?" tanya William ketus.


Inka memegang dadanya karena mendengar pertanyaan pria yang datang bersama mantan atasannya itu.


"Air dingin saja," ucap Hana.


"Kenapa air dingin 'sih, Han?" protes William.


"Ini bukan kafe atau warung, Wil." Omel Hana.

__ADS_1


"Kita jauh-jauh ke sini hanya ditawari itu saja," ucap William.


"Buatkan air dingin saja, In. Dia lagi kepanasan," celetuk Hana.


"Baik, Nona." Inka lantas pergi ke dapur.


Hana memukul paha sahabatnya, "Kenapa kamu cerewet sekali?"


"Dia nanya mau minum apa? Ya, ku jawab begitu. Kalau mau kasih, buatkan saja. Untuk apa bertanya," oceh William.


"Astaga, kenapa kamu buat kepalaku pusing," Hana memijit pelipisnya.


"Kamu ke sini mau apa?"


"Aku rindu saja dengan mantan sekretarisku," jawab Hana.


Inka membawa 2 gelas berisi air dingin lalu diletakkannya di meja.


"Terima kasih," ucap Hana.


Inka manggut.


"Bicara Hana, apa yang kamu rindukan dari sekretarismu ini," cetus William.


"Lebih baik kamu pulang," saran Hana.


"Lalu kamu mau pulang dengan siapa?"


"Aku bisa telepon sopir," jawab Hana.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang," kata William menengguk air setelah itu berdiri.


"Terima kasih, Wil. Sudah mengantarkan aku," ujar Hana.


"Iya, sama-sama." William lantas melangkah ke arah pintu.


Pria menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Ada apa lagi, Wil?" tanya Hana.


"Aku di sini tamu, tidak di antar sampai ke pagar?" singgungnya.


Inka tak mau William semakin banyak bicara, ia lalu berdiri dan mengantarkan pria itu sampai ke pintu mobil.


"Pagarnya tolong dibuka!" titahnya.


"Sudah dibuka dari tadi, Tuan."


"Baik, Tuan." Inka lantas menarik pagar agar jalan keluar lebar.


Inka lalu menghampiri William dan melewati pria itu.


Dengan cepat tangan William menarik lengan Inka dan memegangnya erat.


"Tuan, sakit!" lirihnya.


"Sekarang aku sudah mengetahui rumahmu, jangan berani membohongiku!"


Inka menelan salivanya karena ketakutan.


William lalu melepaskan genggamannya secara kasar sehingga Inka terhuyung. Membuka pintu, ia bergegas masuk.


Inka masuk ke rumah dengan mengelus lengannya yang sakit.


"Kenapa?"


"Terbentur pagar, Nona." Inka memberikan alasan berbohong.


"Oleskan salep," ujar Hana.


"Iya, Nona." Inka ke kamarnya mengolesi salep pereda nyeri di lengannya.


Inka lalu menghampiri kembali Hana yang menunggunya di ruang tamu.


"Bagaimana kondisi kantor setahun belakangan ini?"


"Aman, Nona. Semua berjalan lancar, apalagi Tuan Dennis selalu datang ke perusahaan."


"Mau apa dia ke kantor?"


"Bertemu dengan Tuan Harsya bahas pekerjaan dan...."


"Dan apa?"


"Tuan Dennis selalu bertanya kabar Nona melalui saya, karena orang tua dan lainnya menutupinya."


"Oh."

__ADS_1


"Tuan Dennis sepertinya menyukai Nona," tebak Inka.


Hana malah tersenyum.


"Bahkan dia pikir saya berbohong, padahal Nona Hana hanya sekali menelepon," ujar Inka.


"Aku sengaja tidak memberitahu kabar apapun di sana kepadanya."


"Kenapa, Nona?" Inka penasaran.


Hana hanya tersenyum tipis.


Inka tahu jika Hana menyembunyikan sesuatu sehingga dirinya pun tak perlu mengorek informasi lebih dalam.


Sejam mengobrol dan makan masakan Inka, Hana menghubungi sopir rumah untuk menjemputnya.


Tak menunggu lama sekitar 15 menit, mobil yang menjemputnya pun tiba.


Hana mengucapkan terima kasih.


"Saya yang berterima kasih karena Nona Hana mau mampir ke rumah," ujar Inka.


Hana lantas tersenyum, lalu kemudian ia berkata, "Kirim salam buat kedua orang tuamu."


"Iya, Nona."


"Aku pamit, ya!"


"Iya, Nona."


Keduanya berjalan ke arah pagar, langkah kaki Hana terhenti ketika melihat sosok pria yang keluar dari mobil dan melemparkan senyuman.


"Nona, Tuan Dennis." Kata Inka.


"Apa kabar, Inka?"


"Baik, Tuan."


"Hana, ayo pulang!" Dennis membuka pintu penumpang bagian depan.


Hana pun terpaksa tersenyum, gegas ia masuk ke dalam.


"Inka, saya duluan."


"Iya, Tuan. Hati-hati," kata Inka.


Dennis pun memasuki mobil dan perlahan meninggalkan kediaman Inka.


Di perjalanan, Hana lantas bertanya, "Kenapa kamu yang menjemputku?"


"Aku yang menginginkannya."


"Aku tidak menyuruhmu!"


"Aku tahu."


"Dennis, berhentilah bersikap bodoh seperti ini!" sentak Hana.


Dennis meminggirkan mobilnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Hana.


"Luapkan amarahmu biar ku mendengarnya," jawab Dennis.


Hana terlihat kesal, membuang wajahnya.


"Seperti anak kecil!" umpatnya.


"Aku memang anak kecil yang sangat manja, kamu tidak suka, 'kan?" tanya Hana lantang.


Dennis menarik napasnya.


"Kenapa kamu selalu mendekatiku? Ingin menyiksa hatiku?" tanya Hana dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak mau menyiksa hatimu."


Hana kini menatap wajah Dennis. "Jauhi aku!" berkata lantang.


"Aku tidak bisa, Han."


"Kenapa?" Hana menaikkan kedua alisnya.


Dennis terdiam.


"Aku lelah, Nis!" Air mata Hana akhirnya tumpah.


Dennis hendak menyentuh wajah Hana dan menghapus air matanya namun tangan gadis itu menyentaknya.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!"


"Maaf!" lirihnya.


__ADS_2