
Hana menautkan alisnya mendengar jawaban dari Dennis.
"Nona, tidak apa-apa 'kan?" tanya Dennis.
"Seperti kamu lihat, aku baik-baik saja."
"Luka di tangan Nona."
Hana tersenyum getir.
"Nona, terima kasih sudah menolong Winny."
"Ya, sama-sama. Pulanglah."
"Kenapa sekarang Nona berbeda?" tanya Dennis.
"Berbeda bagaimana?" Hana balik bertanya.
"Nona tidak seperti yang saya kenal dulu."
Hana tertawa kecut.
"Nona.."
"Aku mau beristirahat," Hana melangkah melewati tubuh Dennis yang terpaku.
Hana melangkah ke kamarnya dengan cepat, ingin rasanya mengatakan jika dia cemburu namun buat apa. Tak ada haknya berkata seperti itu.
Malam harinya, selepas makan. Hana pergi ke rumah Dayna karena sepupunya itu ingin membuat acara.
Selain Hana tampak sepupunya, anak-anak dari karyawan ayahnya serta Dennis.
"Untuk apa kamu mengumpulkan kami di sini?" tanya Hana.
"Minggu depan aku punya berencana mengajak kalian liburan ke tempat wahana permainan yang dibangun papa, Kak." Jawab Dayna.
"Wah, pasti menyenangkan!" seru Alana.
"Pastinya," ucap Dayna.
"Aku setuju saja," sahut Hana.
"Kalian boleh bawa siapa saja, seperti kekasih atau teman," ujar Dayna.
"Baiklah, kami mau!" ucap semuanya serempak.
Sebelum pulang, Hana menghampiri Dennis yang sedang menyalakan mesin motornya.
Karena Hana mendekat, ia mematikan mesin motornya. "Ada apa, Nona?" tanyanya dengan ramah.
"Liburan Minggu depan, kamu mengajak siapa?" tanya Hana.
"Winny, Nona."
"Oh."
"Memangnya kenapa, Nona?" tanya Dennis.
"Tidak apa-apa, aku senang kamu membawanya biar kita tambah ramai dan seru," jawab Hana beralasan.
"Jika Winny tidak sibuk pasti saya mengajaknya."
********
Hari Minggu yang ditunggu pun tiba, mereka kini tiba di wahana permainan milik Darrell. Karena belum dibuka untuk umum, makanya tak terlalu ramai pengunjung.
Hana berjalan di belakang sepasang kekasih yang begitu mesra, ia berusaha tak menunjukkan rasa cemburunya.
"Dennis, kita coba main itu!" Winny menunjuk roller coaster.
"Boleh, ayo!" Dennis menarik tangan kekasihnya.
Hana mengikuti keduanya karena sepupunya yang lainnya ke wahana permainan tersebut.
"Kak Hana juga ingin ikutan?" tanya Alana.
__ADS_1
"Iya, memangnya kenapa?" Hana balik bertanya.
"Kak, ini sangat tinggi," jelas Alana.
"Iya, aku tahu." Jawab Hana.
"Kakak takut ketinggian, lebih baik jangan deh," ujar Alana.
Dennis mendengar percakapan keduanya lantas menoleh.
"Aku tidak takut!" Hana berkata seraya melirik Dennis yang menoleh.
"Kami tidak akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan Kak Hana," sahut Dayna.
"Iya, kalian tenang saja. Tak perlu khawatir," Hana tersenyum congkak.
Hana menaiki roller coaster dalam keadaan was-was namun ia melakukannya agar Dennis tak menganggapnya sebagai gadis manja.
"Kak Van, kenapa aku jadi khawatir melihat Kak Hana?" bisik Alana ditelinga Alvan.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengannya," jawabnya.
"Aku takut ayah memarahi kita karena tak melarang Kak Hana," ujar Alana.
"Kakak yang akan bicara kepada ayah," ucap Alvan menenangkan adiknya.
Dennis dapat mendengar percakapan samar adik dan kakak yang ada di depannya.
Hana duduk bersebelahan dengan Bryan, di depannya ada Dennis dan kekasihnya.
Roller coaster perlahan bergerak, Winny menggelayut di lengan kekasihnya membuat Hana semakin kesal.
Dennis menoleh memastikan Hana tak ketakutan.
Roller coaster semakin kencang, seluruh penumpang yang menaiki wahana tersebut menjerit histeris.
Hana yang sebenarnya takut ingin berteriak berusaha menahan suaranya. Dia memilih memejamkan matanya, perutnya bergejolak.
Setelah Roller coaster berhenti, Hana turun dibantu Bryan karena pusing akhirnya Hana muntah.
Melihat wajah Hana pucat dan muntah para sepupunya pada panik, ada yang memijit tengkuk, mengoles minyak kayu putih, memberi air mineral.
"Biarkan mereka mengurus kakak sepupunya," bisik Winny.
"Tapi..."
"Kamu bukan karyawannya jadi tak perlu bertanggung jawab," bisik Winny lagi.
Dennis akhirnya mengurungkan niatnya.
Hana duduk sembari memegang air mineral, masih dengan napas naik turun.
Winny lantas mendekati Hana, "Nona, lebih baik beristirahat dulu di sini. Kami takut jika terjadi seperti tadi."
Hana tersenyum lantas berdiri dan memberikan alasan, "Aku hanya tidak terbiasa saja."
"Jadi Nona ingin melanjutkan mencoba permainan lainnya?" tanya Winny.
"Iya, mumpung sudah di sini dan punya waktu kosong," jawab Hana.
"Ya sudah, ayo kita gabung dengan mereka," ajak Winny.
"Ayo!" Hana mengikuti langkah gadis di depannya.
Dennis dan lainnya menoleh ke belakang, melihat wajah Hana yang sedang tidak baik.
"Kakak, kenapa ikuti kami?" tanya Dayna.
"Kalian bermain, jadi aku cuma lihatin aja gitu?" Hana bertanya balik.
"Kakak tidak sehat, duduk saja. Kami tidak mau dimarahi Paman Harsya," jawab Dayna.
"Kakak yang akan bicara pada paman," ucap Hana.
Sepupu Hana dengan terpaksa membiarkan dirinya ikut bermain.
__ADS_1
Hampir 30 menit berkeliling dan mencoba beberapa permainan, akhirnya Hana menyerah dan meminta izin pulang kepada Dayna.
"Kakak yakin mengendarai mobil sendiri?" tanya Dayna.
"Iya, Day."
"Tidak mau diantar Bryan atau Kak Dennis?" tanya Dayna lagi.
"Kakak bisa sendiri," jawab Hana.
"Baiklah, Kakak hati-hati, ya."
Hana mengangguk pelan, membalikkan badannya berjalan ke parkiran dan Dayna menghampiri lainnya.
"Mau ke mana Kak Hana?" tanya Alvan.
"Pulang," jawab Dayna.
"Dengan siapa dia pulang?" tanya Bryan.
"Sendiri," jawab Dayna lagi.
"Kenapa dibiarkan sendiri 'sih?" Alvan terlihat kesal.
"Dia maksa ingin sendiri," jawab Dayna ketus.
"Biar aku saja yang mengantar Kak Hana, kalian lanjut bermain. Tolong jaga Rana," ucap Bryan, lalu berlari menyusul Hana.
"Kalau tidak kuat, untuk apa memaksa diri," Winny menggerutu.
Dennis mendengar ocehan kekasihnya namun hanya diam.
"Kak Hana!" panggil Bryan dengan napas memburu.
"Kenapa ke sini?"
"Aku akan mengantarkan Kak Hana pulang."
"Tidak usah Bryan, Kakak bisa sendiri."
"Aku tidak mau dimarahi papa dan paman, Kak."
"Mereka selalu menganggap aku seperti anak kecil," Hana menggumam.
"Aku antar pulang, ya."
Hana mengiyakan.
-
Malam harinya tepat jam 9 malam, ponselnya Hana berdering tertera nama Dennis. Ia menjawab panggilan tersebut. "Halo!"
"Halo, apa Nona baik-baik saja?" tanya Dennis begitu khawatir.
"Iya, aku sangat baik," jawab Hana dengan suara parau.
"Nona..."
"Dennis, aku sangat mengantuk. Tolong jangan ganggu," Hana memotong ucapan pria yang diujung telepon.
"Maaf, Nona. Selamat tidur," ucap Dennis.
"Ya," Hana mematikan panggilannya.
Meletakkan ponselnya lalu berkata dengan mata terpejam, "Dia sebenarnya suka atau hanya sekedar kasihan."
Hana melanjutkan tidurnya karena memang tubuhnya sangat lelah. Apalagi besok ada rapat diluar kota.
Selepas menelepon Hana, Dennis membaringkan tubuhnya. "Kenapa aku sangat khawatir dengan Hana?" gumamnya.
Dengan cepat Dennis menggelengkan kepalanya, "Aku hanya mencintai Winny."
"Semoga saja Hana menemukan pria yang mencintainya tulus," harap Dennis.
Dennis memejamkan matanya namun ia buka kembali. Dennis bangkit dan duduk sembari mengacak rambutnya, "Kenapa aku jadi memikirkannya?"
__ADS_1
"Hana membenciku tidak mungkin menyukaiku, bagaimana bisa aku berpikir ke arah sana?"
Beberapa pertanyaan itu menari-nari di kepalanya.