
Dennis berlari kecil setelah keluar dari mobil, tujuannya ingin bertemu dengan Hana yang akan terbang ke luar negeri.
Dua hari ini Dennis begitu sulit sekali menemui Hana, selalu ada saja halangan yang membuatnya mengurungkan niatnya.
Dennis tersenyum lega, akhirnya dirinya masih dapat bertemu dengan Hana meskipun melihatnya dari kejauhan.
Hana sedang berpelukan dengan kedua orang tuanya, tampak sesekali ia menyeka air matanya.
Hana membalikkan badannya melangkah menjauhi ayah dan ibunya.
Dennis gegas berlari dan berteriak memanggil nama gadis itu.
Hana pun menoleh.
Dennis melewati Harsya dan Anaya tanpa menyapanya yang terus berlari mendekati Hana.
Tanpa basa-basi, Dennis lantas memeluk gadis itu. "Tolong, jangan pergi!"
Hana membulatkan matanya kala dipeluk Dennis dengan cepat mendorong pria itu.
Dennis meraih jemari kedua tangannya Hana, "Aku mencintaimu!"
*
Tepukan di bahu membuat Dennis lekas sadar, gegas menggelengkan kepalanya.
"Kenapa diam saja?" tanya Harsya.
Hah.
"Cepat ucapkan sesuatu pada Hana, sebelum masuk ke pesawat," ucap Alpha.
"Iya, Paman." Kata Dennis terbata.
Melangkah mendekati gadis itu, dalam hati Dennis berucap, "Astaga, kenapa berkhayal seperti tadi?"
Kini Hana dan Dennis berdiri saling berhadapan.
Hana melemparkan senyuman.
"Han...."
"Iya..."
"Aku...."
"Iya."
"Aku hanya bilang, jaga dirimu di sana baik-baik!"
Hana yang berharap Dennis mengucapkan sesuatu spesial, dengan cepat senyumnya memudar.
"Aku janji kalau cuti kerja akan mengunjungimu," ucap Dennis.
Hana manggut-manggut.
Dennis pun tersenyum tipis.
Hana pun melangkah menjauhi keluarganya, karena dirinya akan berangkat.
Dennis menatap punggung Hana dari kejauhan dengan hati yang hancur.
"Aku menyayangimu, Han."
Dennis tiba di rumah sejam kemudian, menjatuhkan tubuhnya memandangi langit kamar.
"Kenapa aku tidak berani mengungkapkannya? Apa aku sebenarnya telah kalah?" gumamnya.
***
Ada rasa penyesalan di dadanya karena tak berhasil mencegah kepergian Hana. Meskipun, Winny dan Arya telah memberikan sinyal jika sebenarnya gadis itu berharap dirinya mengatakan cinta.
Sebelumnya Winny dan suaminya sudah bertemu dengan Hana, wanita itu mengintrogasinya.
Secara terang-terangan, jika Hana masih menyimpan perasaan kepada Dennis. Tapi, ucapan pria itu yang tidak mencintainya terngiang di telinganya.
Dennis melangkah malas memasuki kantor. Membuka layar monitor terpampang wajah Hana tersenyum.
Dennis dengan cepat menggelengkan kepalanya.
Dennis menekan kepalanya dengan kedua tangannya. "Kenapa di mana-mana selalu ada bayangannya?" gumamnya.
"Bayangan siapa, Kak?" tanya Dayna mengejutkan Dennis.
Pria itu pun menoleh, "Kamu buat terkejut saja?"
"Kakak 'sih, pagi-pagi sudah melamun. Tumben sekali," singgung Dayna.
"Pergilah ke ruangmu, jangan ganggu Kakak," usir Dennis dengan lembut.
"Sejak Kak Hana pergi sikap Kak Dennis sangat aneh!"
__ADS_1
"Aneh, bagaimana?"
"Sering melamun, menolak kumpul bersama kami lagi, aku kenali dengan temanku tidak mau."
"Aku tak mau dengan temanmu, masih bocah," ucap Dennis berbohong. Padahal hatinya hanya tertuju pada satu nama saja.
"Sudah dua puluh dua tahun, Kakak."
"Tawarin saja dengan Hanan."
"Memangnya temanku itu barang dagangan," ketus Dayna.
"Lah, kamu. Malah menawarinya dengan kakak, berarti memang dagang, 'kan."
Dayna memiringkan bibirnya, "Kak Dennis tak asyik, ya sudahlah kalau begitu aku mau balik ke ruangan."
"Iya, pergilah sana."
Dayna pun berlalu.
Semua perkataan Dayna memang benar, sejak Hana pergi setahun lalu. Dirinya mengurangi pertemuan dengan adik-adiknya. Namun, ketika gadis itu kembali ia pun sangat semangat mendekatinya meskipun bibirnya tak sanggup mengungkapkan isi hatinya.
Dennis memandangi ponselnya, ia mencari nomor kontak Hana. Namun, dirinya ragu untuk menghubunginya atau tidak.
Sudah 3 hari lalu sejak kepergiannya, Dennis dan Hana tak pernah berkomunikasi.
Tiba-tiba ponselnya berdering tertera nama Alvan. Ia pun segera menjawabnya, "Halo."
"Halo, Kak."
"Ada apa, Van?"
"Nanti siang kita makan bareng 'ya di restoran biasa."
"Baiklah, Kakak akan ke sana."
"Jangan lupa ajak Dayna."
"Iya."
Tepat jam 12 siang, Dennis melangkah ke ruangan Dayna.
"Makan siang di mana?"
"Tidak tahu, Kak."
"Ikut Kakak yuk!"
"Ke restoran biasa, makan siang dengan lainnya."
"Pasti Alvan ikut?" tebaknya.
"Ya, dia yang mengajak kita."
"Aku malas bertemu dengannya, Kak."
"Kenapa malas?" tanya Dennis.
"Ya, ampun. Apa perlu aku memberikan alasannya, Kak."
"Sangat perlu."
"Kalau begitu kenapa Kak Dennis sampai sekarang masih sendiri?"
"Apa tidak ada pertanyaan lain?" tanya Dennis sedikit kesal.
"Kakak pun selalu memancingku."
"Jangan banyak alasan, ayo ikut!"
"Traktir, ya?"
Dennis mengangguk.
Dayna tersenyum, lalu dengan semangat berdiri dan menghampiri Dennis.
"Alvan dari tadi sudah menunggu kita."
"Biarkan saja di sana menunggu sampai berlumut!"
"Nanti kamu akan bersedih jika dirinya sampai berlumut menunggu," canda Dennis.
Dayna malah tertawa.
"Yuk, cepat. Kakak sangat lapar nih," ujar Dennis.
"Iya, Kak."
Beberapa menit kemudian mereka tiba di restoran, kebetulan tempat tersebut tidak terlalu jauh dengan kantornya papanya Dayna.
Alvan tersenyum ketika melihat gadis yang disukainya itu datang juga.
__ADS_1
"Maaf lama, maklum Tuan Putri tadi lagi malas," cetus Dennis.
Dayna lantas memanyunkan bibirnya.
Dennis malah tertawa kecil melihatnya.
"Tidak masalah, Kak." Kata Alvan.
"Kalian sudah pesan makanan?" tanya Dennis mengarahkan pandangannya kepada Alvan, Hanan dan Bryan.
"Sudah, Kak." Jawab Hanan.
Dennis lalu memesan makanan begitu juga dengan Dayna.
Tak terlalu lama menunggu, pesanan mereka satu persatu berdatangan. Setelah semua makanan terhidang di meja dan siap di santap, ponselnya Hanan berdering.
Hanan melihat nama sang penelepon, "Kak Hana."
"Cepat jawab!" seru Dennis, membuat seluruh mata tertuju padanya.
Dennis segera tersenyum nyengir.
"Tidak usah dijawab!" larang Dayna.
"Kenapa?" tanya Bryan.
"Pasti Kak Hana akan mematikan ponselnya dengan cepat," jawab Dayna melirik Dennis.
"Alasannya?" tanya Bryan lagi.
"Tanyakan saja pada Kak Dennis," jawab Dayna.
"Kenapa tanya aku?" Dennis mengernyitkan dahinya.
Nada ponsel Hanan pun berhenti.
Dennis melirik ponsel adiknya Hana yang duduk di sebelahnya.
Hanan dan lainnya pun mulai menikmati makanannya.
Dennis makan sambil melihat ponselnya, dirinya berharap Hana akan mengabarinya.
Hampir 30 menit di restoran, ponsel Dennis tak bergetar sama sekali.
Malah ponselnya Alvan yang berdering dan tertera nama Hana.
Alvan menjawab panggilannya, "Halo, Kak."
"Halo, Van. Kalian di mana?"
"Di restoran biasa, Kak." Jawab Alvan.
Restoran yang selalu mereka kunjungi adalah milik keluarganya Bryan. Ketika muda sang ayah bertugas sebagai juru masak di kediaman Harsya.
"Oh," ucap Hana. "Dengan siapa saja?" lanjut bertanya.
Alvan mengarahkan kamera ponselnya kepada lainnya.
"Kakak lagi apa?" tanya Dayna.
"Lagi makan siang," jawab Hana.
"Kenapa lama sekali makan siangnya?" tanya Dennis dengan cepat.
Lagi-lagi pandangan tertuju pada pria itu.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Dennis.
Keempatnya menggelengkan kepalanya.
"Pertanyaan begitu 'kan sering aku ucapkan," ujar Dennis berkelit.
"Iya, Kak. Kami lupa," celetuk Dayna.
Hana yang mendengar percakapan mereka hanya mengulum senyum.
"Kak Hana, cepat jawaban pertanyaan Kak Dennis nanti dia merajuk. Kami juga yang repot," celetuk Dayna lagi.
Alvan dan Bryan mencoba menahan tawa.
"Iya, aku akan menjawabnya," ucap Hana. "Tadi ada rapat dan jam segini baru sempat makan," lanjutnya.
"Sudah cukup, Kak. Jangan bicara apapun, cepat tutup ponselnya. Tak konsentrasi aku mau makan," ujar Dayna.
"Iya, baiklah. Selamat makan," kata Hana.
"Sampai jumpa, Kak!" ucap Dayna.
...----------------...
Maaf Lama Updatenya 🙏🏼
__ADS_1