Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 54 - S2 - Dayna Gagal Bertunangan


__ADS_3

Hari ini rencana pertunangan Dayna dan Rafael akan digelar. Kedua orang tuanya Dayna meminta jika acara dilaksanakan pada malam hari dan tak dihadiri banyak tamu cukup keluarga inti Harsya dan beberapa teman putrinya.


Dayna dan Rafael tak mempermasalahkan hal itu, penting bagi mereka adalah bertunangan.


Senyum bahagia terpancar dari raut wajah Dayna yang akan bertunangan dengan pujaan hatinya.


"Day, pastikan calon tunanganmu tidak datang terlambat," ujar Darrell.


"Iya, Pa. Rafael akan tiba di sini sekitar pukul tujuh," kata Dayna.


"Baiklah," ucap Darrell kemudian berlalu.


Dayna lagi sibuk merias wajah di bantu tim MUA.


Waktu menunjukkan hampir pukul 7 malam, para tamu satu persatu telah memenuhi kursi yang disediakan di taman belakang.


Harsya datang bersama istri dan putranya Hanan. Sementara putrinya tak dapat hadir karena sedang hamil muda dan harus ditemani Dennis.


Alvan turut hadir bersama kedua orang tuanya.


Jam 7 lewat 5 menit, Rafael dan 2 pria paruh baya hadir di kediaman Dayna.


Darrell dan istrinya serta Biom dan Rissa menyambut keluarga dari kekasihnya Dayna.


Mereka duduk di barisan paling depan.


Selang 10 menit kemudian, Dayna muncul dihadapan para tamu dan kekasihnya, semua mata tertuju padanya serta memuji kecantikannya malam ini.


MC mulai membuka acara, para tamu mendengarnya begitu saksama.


Hingga acara pertukaran cincin yang di lakukan di hadapan para tamu.


Alvan mencoba tegar dan tersenyum walau hatinya tersakiti.


Dayna tersenyum kala jemarinya disematkan cincin oleh Rafael, giliran dirinya yang akan memasangkannya.


Terdengar suara gaduh dari ujung kursi tamu, semuanya tertuju ke arahnya termasuk sepasang kekasih yang sedang berbahagia.


Para pria bersenjata, mendekati Rafael dan melipat tangannya ke belakang.


Sontak, para tamu yang hadir termasuk Dayna menjerit terkejut.


"Lepaskan aku!" sentak Rafael.


"Apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Dayna dengan lantang.


"Maaf, Nona. Dia harus kami tahan," jawab salah satu pria bersenjata.


"Apa yang telah dia lakukan?" tanya Dayna lagi yang mulai ketakutan.


"Dia telah melakukan penipuan dan pencucian uang," jawab pria itu lagi.


"Hah. Apa!" Dayna begitu syok.


Rafael pun dibawa tanpa perlawanan dan 2 orang pria paruh baya juga digiring bersamanya.


Tubuh Dayna seketika lunglai, beruntung Darrell menampungnya. Alvan yang melihatnya gegas berlari mendekat.


Air mata Dayna seketika tumpah. Para tamu mulai berbisik -bisik.


"Papa, Mama," lirih Dayna.


Nayna memeluknya.


"Dia membohongiku," ucap Dayna.


"Tenanglah, Nak." Nayna berkata lembut.


Alvan memberikan air putih kepada Dayna dan gadis itu meminumnya.


"Maafkan Papa, Day. Ini semua rencana kami," ujar Darrell.

__ADS_1


Dayna menatap papanya.


"Nanti kami akan jelaskan, sekarang kamu istirahat saja dulu," ucap Darrell.


Dayna mengangguk pelan.


Nayna dibantu Alvan menuntut Dayna menuju kamarnya.


Darrell menghampiri Harsya dan teman-temannya yang lainnya.


"Akhirnya rencana kamu berhasil," ujar Rama.


Darrell mengangguk pelan.


"Kami mau pulang, semoga setelah ini Dayna lebih berhati-hati lagi memilih calon, Kak." Kata Harsya.


"Iya, jika aku tidak melakukan ini mungkin anak itu sulit sekali dinasehati," ucap Darrell.


"Iya, hanya dengan cara ini kita dapat membuktikannya," ujar Harsya lagi.


Para tamu telah berpamitan pulang.


Kini di dalam kamar ada Nayna dan suaminya, tadi Rissa sempat menguatkan keponakannya itu agar bersabar.


***


Keesokan harinya, Darrell memberitahu semuanya kepada putrinya. Mengajak sang istri juga, mereka mengobrol di dalam ruang kerja.


"Dari awal Papa telah menaruh curiga kepada dia, namun tak cukup bukti. Tanpa kamu ketahui, kami menyelidikinya." Kata Darrell.


"Kenapa Papa tidak segera memberitahu aku?" tanya Dayna.


"Kamu tidak akan percaya," jawab Darrell.


Dayna terdiam.


"Dan tantangan yang diberikan Alvan kepadamu, itu juga rencana kami," sambung Nayna.


Dayna mengerutkan dahinya.


Dayna lantas berdiri dan memeluk Darrell. "Papa, aku minta maaf tak mendengar larangan kalian!"


Darrell mengelus rambut putrinya.


"Beruntung Papa sudah menyelidikinya, kalau tidak aku juga yang dirugikan olehnya. Aku berencana ingin membangun perusahaan bersamanya," jelas Dayna melonggarkan pelukannya.


"Papa tidak mungkin membiarkan kamu jatuh di tangan lelaki yang salah," ucap Darrell.


Dayna mengangguk mengiyakan.


"Nah, sekarang kamu harus berterima kasih kepada Alvan juga. Karena dia turut serta dalam rencana ini," Nayna mendekati putrinya.


"Benar, Day. Alvan itu pria yang baik, ketika mobil kamu mogok saja. Dia meninggalkan rapat dengan Papa hanya ingin menolongmu," tutur Darrell.


Dayna ingat waktu itu, dirinya menelepon sang papa tapi malah Alvan yang datang menjemputnya.


"Sudah sana cepat temui Alvan sebelum dia pergi ke luar negeri," ujar Nayna.


"Ke luar negeri? Mau apa dia ke sana?" tanya Dayna.


"Katanya mau mengejar cinta pertamanya," jawab Nayna asal.


Dayna mengerutkan keningnya.


"Sudah, tunggu apa lagi? Cepat kejar sebelum ke bandara," titah Nayna.


Dayna mengangguk kemudian melangkah keluar ruangan dengan cepat.


"Memangnya Alvan mau pergi ke luar negeri?" tanya Darrell mendekati istrinya.


Nayna menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa membohonginya?" tanya Darrell lagi.


"Biar dia cepat menemuinya," jawab Nayna.


Darrell merangkul pundak istrinya dan mengecup ujung kepalanya.


"Bagus tidak ide aku?" Nayna mendongakkan wajahnya.


"Kamu itu jika urusan begini paling mengerti," ucap Darrell.


"Tentunya," kata Nayna bangga.


Sebelum menikah, Darrell sempat tak ingin kembali ke tanah air. Akhirnya, Nayna diutus untuk membujuk dan merayu dirinya agar mau pulang atas perintah ibunya Harsya.


Memang tidak mudah untuk meluluhkan hatinya agar mau kembali dan memberikan restu kepada Rissa.


Seiring berjalannya waktu dan kata-kata yang diucapkan oleh Nayna akhirnya dirinya mau pulang dan menetap.


Kedekatan mereka semakin erat apalagi ibunya Harsya selalu meminta Nayna mengantarkan makanan buat dirinya.


Benih cinta tumbuh diantara mereka dan akhirnya menikah hingga lahirlah Dayna.


Ide tantangan tunangan juga dari Nayna. Awalnya Darrell sempat menolak karena takut malu jika harus mengundang orang banyak.


Makanya acara dibuat malam hari dan berlangsung tertutup, hanya beberapa keluarga dekat seperti Harsya, Rama, Biom dan Alpha yang hadir. Semuanya memang merahasiakan dari saudara dan keluarga lainnya baik dalam dan luar kota.


Semua diatur sebaik mungkin tanpa diketahui pihak luar apalagi media.


Dayna tiba di kediaman Alpha, gegas turun dan melihat rumah tersebut sepi.


Dayna menekan bel berkali-kali, terdengar suara seseorang membuka pintu.


Dayna melihat Alvan dengan celana pendek dan kaos.


"Dayna?" Alvan melihat menoleh ke kanan dan kiri.


"Aku sendirian," ucap Dayna sebelum ditanya.


"Ada apa kemari?"


"Katanya kamu mau pergi ke luar negeri."


Dahi Alvan seketika berkerut.


"Tapi, kenapa masih kelihatan santai?" tanya Dayna.


"Siapa yang bilang aku mau ke luar negeri?" Alvan balik bertanya.


"Mama aku."


"Aku tidak memiliki rencana ke luar negeri, mungkin Bibi Nayna salah bicara," ujar Alvan.


Nayna mendengus.


Alvan lalu tertawa, "Kamu sudah dibohongi!"


Nayna menghela napas.


"Sudah sana pulang!" usir Alvan dengan bercanda.


"Aku akan pulang tapi sekarang ku mau mengucapkan maaf sekaligus terima kasih," kata Dayna.


"Buat apa?"


"Kamu pernah menasehati aku untuk tidak melanjutkan hubungan dengannya. Semalam semuanya terbongkar, aku jadi merasa bersalah tidak mendengar kamu."


"Oh."


"Terima kasih, ya."


Alvan hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pamit," ucap Dayna, lalu membalikkan badannya.


"Begitu saja?"


__ADS_2