
Esok paginya, Alvan datang menjemput Dayna di rumahnya. Sesampainya dia sarapan bersama keluarga gadis tersebut.
Dayna baru keluar dari kamarnya tampak terkejut dengan kehadiran pemuda yang ingin dihindarinya itu.
"Kenapa pagi-pagi ke sini?" Dayna menarik kursi dan memasang wajah ketus.
"Di suruh Paman Darrell," jawab Alvan.
"Iya, Day. Papa yang menyuruh dia karena Dennis akan melakukan perjalanan ke luar kota pagi ini," jelas Darrell.
"Kenapa tidak pergi bareng Papa saja?" tanya Dayna.
"Papa harus ke perusahaan Paman Harsya, jadi kamu dengan Alvan, ya." Kata Darrell.
"Aku diantar Mama atau sopir saja," Dayna menolak.
"Mama tidak bisa, mau ke rumah Tante Rissa, ada janjian dengannya," ucap Naina.
Dayna menghela napas pasrah.
Selesai sarapan, Alvan membukakan pintu, "Silahkan masuk Tuan Putri!"
Dayna hanya menunjukkan wajah cemberutnya ketika memasuki mobil.
Alvan melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman keluarga Darrell.
"Kenapa kamu selalu saja muncul dihadapan aku?"
"Karena aku menyukaimu."
Dayna tergelak mendengarnya.
"Hei, aku serius!"
"Aku tidak percaya!" Dayna menekankan kata-katanya.
"Bagaimana caranya agar membuatmu percaya?"
"Nanti akan kupikirkan, sekarang cepat. Aku sudah terlambat!"
"Baik, Tuan Putri."
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju kantornya Dayna.
"Kamu ingin kita kecelakaan?"
"Kan, kamu sendiri yang minta," jawab Alvan.
"Kurangi kecepatannya!" pinta Dayna memegang dadanya.
Alvan mengurangi kecepatannya.
"Aku tahu kamu itu mengalir jiwa seorang pengawal, tapi tidak seperti ini juga bawa mobilnya," cetus Dayna.
"Bibi Nayna juga pengawal," balas Alvan.
"Iya, tapi Mama tak pernah bawa mobil seperti ini apalagi di dalamnya ada putrinya yang paling cantik," Dayna berkata bangga.
"Iya, aku lupa jika membawa gadis cantik sepertimu," celetuk Alvan.
"Kamu harus ingat itu!"
"Siap, Tuan Putri!" Alvan melakukan hormat kepada Dayna.
Sesampainya di kantor Dayna segera keluar dari mobil, begitu juga dengan Alvan.
"Day, nanti siang aku jemput, 'ya!"
"Tidak usah, aku makan di kantin saja!"
"Aku mengajak Kayla juga!" Kata Alvan.
"Kenapa harus bersama dia?"
"Dia ingin mengenal kita."
"Kenapa sih' dia harus ikutan kita?" protesnya.
"Dia adiknya Kak Dennis, Day. Kamu mau ikut atau tidak?"
"Baiklah, aku ikut!" Jawab Dayna.
Alvan begitu senang, "Aku akan jemput jam dua belas kurang!"
"Iya."
__ADS_1
-
Siang harinya, Dayna dan Alvan tiba di restoran milik Rama.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Ryder.
"Biasa!" jawab keduanya serentak.
Ryder menahan tawa.
Dayna dan Alvan saling pandang.
"Kalian itu memang cocok, datang berdua. Warna pakaian juga sama," celetuk Ryder.
Keduanya memperhatikan pakaian yang mereka gunakan.
"Kenapa aku baru sadar, 'ya?" tanya Alvan tersenyum, melihat celananya dan blazer Dayna memakai warna abu-abu.
"Kami tidak janjian," jawab Dayna ketus.
"Tapi, kita sehati," sahut Alvan
Dayna menarik salah satu ujung bibirnya.
"Aku akan menyiapkan pesanan kalian," ucap Ryder.
Tak lama kemudian, Dennis datang bersama Kayla.
"Sudah lama kalian di sini?" tanya Dennis.
"Baru saja, Kak." Jawab Dayna.
"Sudah pesan makanan?" tanya Dennis lagi.
"Sudah, Kak." Jawab Dayna dan Alvan serempak.
Dennis memandangi keduanya.
"Kita selalu kompak, ya." Kata Alvan nyengir.
"Hanya kebetulan saja!" Dayna berucap ketus.
"Ya sudah, jangan bertengkar!" Dennis melerai keduanya. Kini matanya tertuju pada adiknya, "Mau pesan apa, Kay?" tanyanya.
"Kakak akan pesankan, tunggu di sini!" Dennis berdiri lalu berjalan ke meja kasir.
Elra datang bersama Bryan dan Hanan, menghampiri meja yang telah diduduki sepupunya.
Mata Kayla dan Elra saling bertemu dan terkejut, "Kamu!"
Empat lainnya tampak heran melihat keduanya.
"Kalian kenal?" tanya Dayna.
"Kenapa dia di sini?" tanya Elra tak senang.
"Dia adiknya Kak Dennis," jawab Alvan.
"Apa!" Elra tak percaya.
"Iya, aku adiknya Kak Dennis!" ucap Kayla.
"Adik darimana? Selama ini Kak Dennis tak pernah cerita, jangan sok akrab begitu!" singgung Elra.
"Ada apa ini?" tanya Dennis.
"Siapa dia, Kak?" tanya Elra pada pria itu.
"Adikku," jawab Dennis.
"Kakak jangan bohong," ucap Elra.
"Buat apa Kakak bohong," ujar Dennis.
"Sejak kapan?" tanya Elra lagi.
"Sudah lama, cuma baru ketemu," jawab Dennis.
"Oh," ucap Elra singkat.
"Jangan berdiri saja, ayo duduk!" titahnya kepada adik-adiknya.
Tanpa membantah ketiganya pun duduk.
"Karena hari ini ingin memperkenalkan Kayla, semua makan siang akan Kakak traktir," ujar Dennis.
__ADS_1
"Wah, asyik!" Dayna kegirangan.
"Terima kasih, Kak!" kata Hanan.
Elra dan Kayla saling memandang sinis.
Makanan yang mereka pesan, satu persatu datang. Bersama-sama menikmati makan siang yang hampir dilakukan setiap hari.
Ryder juga makan di tengah-tengah mereka.
Selesai makan, Kayla meminta izin untuk pergi ke toilet.
Tak lama kemudian, Elra menyusulnya.
Elra sengaja menunggu gadis itu keluar dari toilet. Dengan cepat, menarik tangannya dan mendorongnya ke dinding.
Kayla tersentak kala tubuhnya terbentur di dinding.
Kedua mata Elra dan Kayla saling bertemu.
Kayla gegas mendorong tubuh Elra menjauh.
"Jangan pikir, kamu adiknya Kak Dennis bisa sesuka hatimu kabur dariku!"
"Siapa yang mau kabur? Aku akan tanggung jawab!"
"Kenapa nomormu sulit dihubungi?" tanya Elra.
"A... aku...."
"Ingin menipuku?" tudingnya.
"Tidaklah," jawab Kayla ketakutan.
"Aku akan katakan pada Kak Dennis jika kamu menyetir menabrakku!" ancam Elra.
"Aku janji akan ganti rugi, tolong jangan beritahu Kak Dennis," mohon Kayla.
"Sekarang berikan nomor ponsel yang benar!" Pinta Elra.
"Kemarikan ponselmu!"
Elra memberi ponselnya dan Kayla menekan nomornya.
Elra tak mau kecolongan lagi, lantas menghubungi nomor tersebut.
Tak lama, ponselnya Kayla berdering.
Elra tersenyum lalu berkata, "Aku harap setelah ini penuhi janjimu!"
"Iya," Kayla menekankan kata-katanya.
Seminggu yang lalu, Kayla yang baru saja pulang merayakan kelulusan sekolahnya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Karena kurang hati-hati, ia menyenggol mobil yang akan parkir. Sontak, membuat Kayla ketakutan. Ia pun menghentikan lajunya lalu keluar.
Tak ingin lari dari tanggung jawabnya, Kayla mendekati sang pemilik mobil dan meminta maaf.
Bukannya luluh, pemuda itu malah mengomel sepanjang dia berdiri dan memperhatikan mobil yang tergores.
Elra meminta nomor ponsel Kayla untuk mengganti biaya perbaikan. Tapi, malah diberikan nomor orang lain.
Elra pun meradang karena telah ditipu. Cerobohnya dia tak sempat mencatat plat mobil gadis itu.
Kayla sengaja memberikan nomor palsu, karena malas berurusan dengan pemuda yang begitu cerewet dan galak.
Ternyata, takdir berkata lain. Mereka akhirnya dipertemukan kembali. Pemuda itu sangat mengenal Dennis yang merupakan kakaknya yang baru diketahuinya 2 pekan lalu.
"Bagaimana aku bisa membayar biaya bengkel? Jatah jajan saja sudah dipotong," Kayla membatin.
Kayla kembali duduk bergabung dengan lainnya.
"Kamu tidak pergi ke toilet?" tanya Alvan.
Dayna menggelengkan kepalanya.
"Ayo aku antar pulang!" ajak Alvan.
"Aku dengan Kak Dennis saja," ujar Dayna.
"Kakak mau mengantarkan Kayla," kata Dennis.
"Biar Kayla dengan aku saja, Kak!" Elra menawarkan diri.
Semua mata tertuju pada pemuda berusia 20 tahun itu.
__ADS_1