Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 61 - S2 - Tak Suka Dayna Digoda Pria Lain


__ADS_3

Sore harinya rombongan Alpha meninggalkan pemandian kolam renang.


Aldo tidak mengantarkan Aira pulang karena harus buru-buru kembali ke rumah.


Aira satu mobil dengan Hanan, Dayna dan Alvan serta Bryan.


Aira yang sangat lelah akhirnya tidur di bahunya Hanan tanpa sadar.


"Kamu tidak tidur juga?" tanya Alvan sembari menepuk bahunya.


Dayna menarik salah satu ujung bibirnya lalu membuang wajahnya.


"Jika mengantuk katakan saja, ya!"


Dayna tak menjawabnya.


Begitu sampai, Dayna segera turun dengan membawa tas miliknya. Lalu melangkah cepat menuju kamarnya.


Hanan menepuk pipi Aira dengan pelan. "Kita sudah sampai."


Aira mengerjapkan matanya lalu mengangkat kepalanya. "Sudah sampai, ya."


"Iya, sampai pegal bahuku," celetuk Hanan.


"Aku tidur di bahumu?"


Hanan mengangguk.


Bukannya berterima kasih, Aira malah menuding jika Hanan mencuri kesempatan darinya.


Hanan yang tak terima malah berkata, "Dasar gadis aneh!" bergegas keluar dari mobil.


Aira mendengus.


Selesai makan malam bersama, para anak-anak menikmati kegiatannya sendiri ada yang menonton drama dan ada juga mengobrol di teras rumah.


Jarum jam telah menunjukkan pukul 9 malam, para pria ingin keluar rumah sekedar mencari angin.


"Memangnya kamu tahu kota ini?" tanya Alvan pada Hanan.


"Kemarin itu Aira pernah mengajakku ke taman kota," jawabnya.


"Bagaimana kalau kita nyasar, Kak?" tanya Elra.


"Tidak mungkin, 'kan kita dapat bertanya pada orang-orang," jawab Hanan.


"Kalian mau ke mana?" tanya Aira.


"Kami mau ke taman kota," jawab Bryan.


"Kalian tidak boleh ke sana. Bagaimana jika nyasar?" tanya Aira.


"Ya ampun, kami ini sudah besar," jawab Hanan.


"Kalian mau naik apa ke sana?" tanya Aira lagi.


"Mobil kamu," Hanan menjawabnya.


"Tidak boleh, pergi tanpaku!" kata Aira.


"Kalau begitu kamu ikut kami saja," ajak Bryan.


"Tunggu sebentar, aku minta izin papa dulu," ucap Aira.


Hanan dan lainnya mengangguk.


Tak lama Aira keluar bersama dengan Dayna dan Alana.


"Alana, kamu tidak boleh ikut," ucap Alvan.


"Kenapa 'sih, Kak?" Alana memanyunkan bibirnya


"Biarkan dia ikut, Van." Kata Bryan.


"Alana di sini saja. Temani aku," sahut Kayla.


"Kenapa kamu tidak ikut?" tanya Elra.


"Ngantuk," jawab Kayla.

__ADS_1


"Aku ingin...." ucap Alana.


Kayla lantas membisikan sesuatu di telinga Alana dan gadis itu seketika tersenyum.


Bryan dan Elra mengerutkan dahinya.


"Di rumah dengan aku saja, ya?" tanya Kayla.


Alana segera mengangguk.


"Kak Day, Alana tidur bareng aku, 'ya." Kata Kayla.


Dayna mengiyakan.


Kayla dan Alana tersenyum senang lalu keduanya dengan langkah cepat menuju kamar.


"Ya sudah, kita gerak sekarang!" ajak Aira.


Dayna sebenarnya enggan mau ikut.


"Ayo, Day!" ajak Aira lagi.


"Kalian saja, ya. Aku malas banget," ucap Dayna.


"Kamu harus ikut, Day. Tidak mungkin aku sendiri bersama para pria aneh ini," Aira melirik Hanan.


"Tapi..."


"Ikut saja, Day!" ajak Bryan.


"Iya, Day. Ayo!" ucap Hanan.


Dayna akhirnya mau juga.


Keenamnya berangkat dengan mengendarai 1 mobil. Hanan bertugas menjadi sopir dan Aira duduk di sebelahnya.


Bryan dan Elra memilih bangku penumpang paling belakang. Dayna terpaksa duduk bersama Alvan di bagian tengah.


Karena posisi lampu mobil mati. Alvan sengaja menggoda Dayna dengan menyentuh jemarinya.


Dayna menepuk punggung tangan Alvan. Seketika pria itu mengulum senyum.


"Kita keliling, yuk!" ajak Aira.


Hanan dan lainnya mengiyakan.


Mereka berjalan beriringan, Dayna berusaha menghindari Alvan tapi pria itu selalu saja mengikutinya bahkan menggenggam jemari tangannya lalu berbisik. "Aku tidak mau kamu hilang di sini!"


Dayna malah mendengus.


Membeli minuman dan duduk bergabung dengan para pengunjung taman lainnya.


"Kamu mau?" Alvan menyodorkan es coklat miliknya kepada Dayna.


"Aku tidak haus," jawabnya.


"Baiklah, kalau tidak mau," Alvan menyeruputnya hingga kandas.


"Huh, dasar!" Dayna menggerutu lirih.


"Kamu mau biar aku beli, 'kan?" tawar Alvan.


"Tidak, terima kasih," ucap Dayna.


Aira lalu menarik tangan Dayna menjauh dari para pria.


"Kalian mau ke mana?" tanya Hanan.


"Kami hanya sebentar, tetaplah di sana!" jawab Aira.


Dayna mengikuti tarikan tangan Aira.


"Mereka mau ke mana, 'sih?" tanya Alvan karena Dayna pergi bersama Aira.


"Aku tidak tahu," jawab Hanan.


"Aku akan menyusul mereka," kata Alvan beranjak berdiri kemudian berlalu.


Aira mengajak Dayna duduk di kursi yang sangat begitu ramai pengunjung menikmati makan dan minuman. Beberapa pemuda mengalihkan pandangannya kepada keduanya yang datang menggunakan piyama tidur.

__ADS_1


Alvan dapat melihat jelas, para pria itu mencuri pandang ke arah Dayna dan Aira. Apalagi calon kekasihnya itu mengenakan pakaian tidur dengan rambut dicepol tampak jelas lehernya yang indah.


Alvan membuka jaket yang dikenakannya lalu menghampiri kedua gadis itu, kemudian memakaikannya ke tubuh Dayna dari arah belakang. Menarik ikat di kepala sehingga rambut panjang hitam sebahu tergerai.


Dayna menoleh ke sampingnya.


"Udara malam sangat dingin," kata Alvan kini duduk dihadapan Dayna.


"Kenapa menyusul kami?" tanya Aira.


"Kami yang mengajak kalian," jawab Alvan.


Dayna memakai jaket yang diselimuti Alvan ke tubuhnya dengan benar. Ketika hendak mengikat rambutnya kembali tangan Alvan mencegahnya.


"Jangan diikat, biarkan begitu!" pinta Alvan.


Dayna pun mengurungkan niatnya.


"Kamu tidak memberikan aku jaket juga?" celetuk Aira.


"Nanti aku akan menyuruh Hanan." Kata Alvan.


"Kenapa harus dia?" tanya Aira.


"Aku hanya memakai jaket satu. Tidak mungkin juga baju ini dibuka," jawab Alvan.


Aira yang mendengarnya mendengus.


"Ayo pulang!" ajak Alvan.


"Kenapa cepat sekali?" tanya Dayna.


"Jika mereka melihatmu, aku jadi kepanasan," jawab Alvan lalu berdiri.


"Alvan itu cemburu, Day." Kata Aira.


"Iya, Ai. Aku memang cemburu, jika pria lain memandanginya," ujar Alvan menatap wajah Dayna.


"Kalian buat aku yang jomblo ini menjadi iri," ujar Aira.


Ketiganya pun melangkah menghampiri Hanan, Bryan dan Elra.


"Kalian lama sekali?" tanya Hanan.


"Mau tahu saja urusan wanita," jawab Aira ketus.


****


Hari ini mereka tidak berkeliling kota lagi karena nanti malam akan segera pulang.


Tentunya, kegiatan pagi ini hanya diisi dengan berbelanja oleh-oleh yang dilakukan para anak-anak.


Alana, Kayla, Elra dan Bryan memilih tidak ikut. Biarkan urusan belanja menjadi tugas Aira dan Dayna yang memiliki hobi sama.


Aira jika disuruh belanja tentunya hatinya sangat senang meskipun hanya sekedar oleh-oleh.


Keduanya belanja ditemani oleh Alvan dan Hanan yang setia menjadi pengawal pribadi.


"Kita tunggu di sini saja, Van." Hanan menunjuk sebuah kursi yang ada di bagian depan pintu toko makanan ringan.


"Kamu saja di sini. Aku akan mengikuti mereka," ujar Alvan.


"Dayna tidak akan ke mana-mana, Van."


"Aku tidak mau dia digoda pria iseng," ujar Alvan kemudian meninggalkan Hanan yang memilih duduk menikmati minuman kemasan botol plastik.


Alvan mengikuti keduanya dari jarak jauh.


Seorang pria mencurigakan, mendekati tas yang dipegang oleh Aira.


Alvan yang melihatnya, gegas menghampiri dan memegang tangan yang hendak masuk ke dalam tas.


Alvan meremasnya dan menyipitkan matanya dengan tajam. Pria itu tampak ketakutan dan berusaha menahan sakit.


Alvan melepaskan genggamannya.


Pria itu gegas berlari meninggalkan toko dengan memegang tangannya yang sakit.


Aira dan Dayna menoleh ke belakang.

__ADS_1


Alvan tersenyum kepada keduanya dan tak menceritakannya apa yang telah terjadi karena tidak ingin mereka takut dan panik.


__ADS_2