Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 28 - Mengobrol Dengan Dennis


__ADS_3

Hana, orang tuanya dan Rafael menoleh ke arah suara.


Dennis nyengir, "Maaf, tadi tak sengaja mendengar."


Harsya tersenyum begitu juga Anaya.


"Ponsel saya ketinggalan di meja makan, Paman," kata Dennis.


"Oh," ucap Harsya.


Dennis bergegas ke ruang makan, sengaja ia memperlama aktivitasnya agar dapat mendengar percakapan mereka.


"Kami serahkan sepenuhnya kepada Hana, karena dia yang akan menjalankan kehidupan rumah tangga," ujar Harsya.


"Bagaimana, Hana? Apa kamu menerima Rafael menjadi calon suami?" tanya Anaya.


Hana belum menjawab karena masih bingung.


"Hana, aku tidak minta jawabanmu hari ini," kata Rafael.


"Aku belum berpikiran menikah dalam waktu dekat. Kumau kembali ke sana," ucap Hana.


"Kenapa harus balik lagi ke sana?" tanya Anaya.


"Aku baru merintis perusahaan di sana, tidak mungkin ditinggalkan begitu saja, Bu." Hana memberikan alasan.


Dennis mendengarnya tersenyum, ia pun segera pergi dari ruang dapur.


"Biar Hanan yang mengurusnya," ujar Harsya.


"Tidak, Yah. Hanan baru saja pulang ke sini, bagaimana mungkin kalian tega mengirimkannya ke luar negeri lagi," ucap Hana.


"Apa yang dikatakan Hana benar, Paman." Sahut Dennis. "Maaf, memotong pembicaraan," lanjutnya.


Hana mengernyitkan keningnya, kala Dennis menyela.


"Hanan biarkan dulu belajar di perusahaan Paman Darrell atau Bibi Astrid," ujar Dennis.


Harsya tampak berpikir.


"Perusahaan baru menanjak naik sejak di pegang Hana, bagaimana mungkin dialihkan kepada Hanan yang baru saja selesai sekolah," jelas Dennis.


"Saya setuju dengan pendapat Dennis, Hana biarkan kembali ke sana," ucap Harsya.


Dennis tersenyum ke arah Hana, membuat wanita itu sedikit heran.


"Baiklah, tidak masalah," ucap Rafael.


-


-


Selesai makan malam, Hana datang seorang diri ke rumah Dennis.


Kedatangannya tanpa diketahui pria itu.


Sesampainya di sana, Hana lantas mengetuk pintu berulang kali namun tak ada jawaban.


Hendak membalikkan badannya, pintu pun terbuka tampak jelas tubuh Dennis yang hanya dibalut handuk.


Dengan cepat Hana menutup mata dengan telapak tangannya dan berbalik.


Dennis yang sadar segera menutup pintu separuh dan hanya menonjolkan kepalanya, "Aku pikir Alvan, Han."


"Lekas pakai bajumu, aku ingin bicara!" titah Hana tanpa menatap lawan bicaranya.


"Baiklah, tunggu sebentar." Dennis segera berlari ke kamar memakai pakaiannya.


Setelah itu Dennis kembali membuka pintu dan mempersilakan Hana masuk.


"Siapa yang menyuruhmu berbicara?" tanya Hana tanpa basa-basi dengan mimik wajah angkuh.


Dennis bukan menjawab malah tersenyum.

__ADS_1


"Aku sedang berbicara padamu," ujar Hana.


"Aku senang kamu kembali seperti dulu," kata Dennis.


Mimik wajah Hana yang tadinya di kesal kini berubah datar.


"Apa kabar Nona Hana?" ledek Dennis.


"Aku bukan Nonamu!" Hana berkata dingin.


"Kamu ke sini hanya untuk bertanya itu?"


"Iya."


"Aku hanya ingin menyelamatkanmu saja."


Hana menautkan alisnya.


"Kamu tidak mencintainya, 'kan?" tebaknya.


Hana tertawa sinis.


"Bersyukurlah, aku menolongmu," ucap Dennis.


"Kalau aku memang mencintainya, memangnya kenapa?"


Kali ini Dennis terdiam.


"Bisa saja aku menikah dengannya, lalu tinggal di luar negeri bersama-sama membangun perusahaan," ujar Hana.


"Tapi, kenapa kamu tidak mengatakannya?"


"Apa hakmu?" Hana balik bertanya. "Aku bebas memberikan alasan dan tak perlu bantuan apapun darimu!" Hana menekankan kata-katanya.


"Apa kamu membenciku?"


"Tidak."


"Kenapa sikapmu dingin?"


"Apa yang aku minta?"


"Bukankah kamu menginginkan aku jauh?"


Dennis lagi-lagi bibirnya terbungkam.


"Untuk apa aku di sini sedangkan kamu sendiri tidak mencintaiku? Apa kamu ingin aku melihat dirimu menjalin hubungan dengan wanita lain dan mentertawakanku?"


Dennis bergeming.


"Aku memang pernah membuat kesalahan besar memisahkan kalian, tapi kumohon jangan berikan lagi harapan padaku. Izinkan diriku tenang sejenak agar melupakanmu. Temukan kebahagiaanmu sendiri, Nis!" Hana berkata dengan mata berkaca-kaca.


"Kumohon jangan hukum aku lagi," lanjutnya berkata.


"Aku tidak menghukummu, ku ingin kita berteman seperti dulu. Aku rindu dengan sikap arogan dan sombongmu," ujar Dennis.


Air mata Hana akhirnya jatuh, "Tidak, Nis. Jangan berteman denganku!"


"Kenapa?"


"Semakin kita dekat, aku semakin terluka."


Dennis menarik napas.


"Menjauhlah, Nis. Dan cari pengganti Winny secepatnya agar aku bisa menebus rasa bersalahku kepadanya," ujar Hana kemudian berlalu.


Tenggorokan Dennis tercekat, rasanya ia ingin mengatakan kalau tak mampu menemukan wanita seperti Winny.


Hana menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia menumpahkan air matanya sebanyak-banyaknya.


Keputusannya ke luar negeri karena permintaan Winny dan kini semuanya telah tenang Dennis malah muncul.


Hana memukuli setir mobil berkali-kali, "Kenapa aku sulit sekali membencimu?"

__ADS_1


****


Hana dan Rafael kembali bertemu di sebuah kafe, keduanya saling mengobrol.


"Kapan kamu akan kembali ke sana?"


"Mungkin tiga hari lagi."


"Apa perlu aku antar ke bandara?"


"Tidak perlu, El."


"Kenapa?"


"Kamu bilang akan ke rumah nenekmu."


"Astaga, kenapa aku lupa, ya!" Rafael menepuk jidatnya.


Hana menggelengkan kepalanya, melihat tingkah temannya.


Tak lama mereka mengobrol, William datang menghampirinya.


"Rafael, kenalkan ini temanku kuliah. Namanya William," ujar Hana.


"Hai," sapa Rafael.


"Hai juga," balas William menyapa.


Pandangan William kini kepada Hana, ia lalu bertanya, "Kenapa baru mengabariku kalau kamu pulang?"


"Maaf, aku belum sempat mengabarimu," jawab Hana.


"Kamu tidak ke sana lagi, 'kan?" tanya William.


"Beberapa hari lagi aku akan berangkat lagi."


"Kenapa tidak di sini saja? Tumben, kamu betah bertahan berjauhan dengan orang tua?" tanya William lagi.


"Aku juga heran," sahut Rafael. "Waktu sekolah saja, pernah menginap semalam di sana. Jam sebelas malam, dia malah menangis ingin pulang," lanjutnya.


"Iya, sekarang dia mulai berubah," ujar William.


Hana tertawa lalu kemudian berkata, "Aku sudah dewasa, ku hanya ingin mandiri."


"Benarkah? Bukan karena seseorang yang membuatmu pergi ke luar negeri?" singgung William.


Hana tersenyum lalu menjawab tidak.


"Waktu setahun cukup lama, Han," ucap William.


"Ayah dan ibu selalu mengunjungi aku, jadi tak terlalu bersedih," ungkap Hana.


"Tapi, menurutku aneh saja dengan perubahan sikapmu," ujar William.


"Terima kasih sudah perhatian denganku, tapi perubahan aku hanya mendewasakan diri," Hana memberikan alasan. Padahal dia melakukan itu agar jauh dari Dennis.


"Semoga bukan karena hal lain," celetuk William.


"Kamu tuh selalu saja curiga dengan temanmu ini," ujar Hana.


"Bagaimana aku tidak curiga? Setiap kita melakukan panggilan video, matamu seperti habis menangis," tutur William.


"Benarkah?" tanya Rafael.


"Aku hanya rindu padamu," jawab Hana berbohong.


Ponsel Rafael tiba-tiba berdering, ia meminta izin pada 2 orang di hadapannya untuk menjawabnya.


Tak sampai 30 detik, Rafael menutup teleponnya. Ia lalu berkata kepada Hana, "Aku duluan, ya. Ada keluarga dari luar kota datang."


"Iya, El. Lain waktu kita mengobrol lagi," ucap Hana.


Rafael kemudian berlalu.

__ADS_1


Kini tinggal William dan Hana duduk bersebelahan, pria itu menatap serius dirinya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Hana.


__ADS_2