
Dua minggu kemudian...
Alvan sudah mulai berjalan tanpa bantuan meskipun harus tertatih hal itu membuat Dayna begitu senang.
Dengan setia, gadis itu terus menemaninya dan menyempatkan waktu walaupun segudang pekerjaan di kantor menumpuk.
Alvan duduk di sebelah kekasihnya lalu membuka ponselnya. Tak lupa Hanan datang menghampiri keduanya.
"Tidak ke kantor?" tanya Alvan kepada Hanan.
"Aku izin pulang lebih awal," jawab Hanan santai.
"Kasihan Kak Dennis selalu jadi alasan dari kemalasan kamu," singgung Dayna.
"Hei, aku baru sekali ini saja bolos kerja," ujar Hanan.
"Iya, baru sekali yang kelihatan biasanya kalau Paman Harsya pergi kamu sering malas masuk kantor," ujar Dayna.
Hanan lebih memilih diam daripada berdebat dengan sepupu jauhnya itu.
"Kemarin acara tunangan Aira, coba lihat fotonya," pinta Dayna.
Alvan lalu membuka media sosialnya dan mencari akun Aira yang memperlihatkan foto dirinya dan calon suaminya yang menunjukkan cincin.
"Aira sangat cantik. Mereka benar-benar cocok," puji Dayna.
"Jika mereka menikah, kita akan ke sana. Kamu mau, 'kan?" tanya Alvan pada kekasihnya.
"Tentunya aku mau, tapi kalau bisa kita terlebih dahulu menikah," jawab Dayna.
"Pastinya, sayang." Kata Alvan.
Hanan mendengus kesal.
"Van, kita jangan bicara pernikahan dan pertunangan dekat Hanan. Kasihan dia belum memiliki kekasih," celetuk Dayna.
"Kalau kalian semua menikah atau apapun aku tidak peduli," ujar Hanan ketus.
Alvan dan Dayna ingin tertawa tapi mereka tahan.
"Tolonglah hargai aku yang belum menikah ini. Jangan bermesraan atau membahas pernikahan itu hanya membuat hatiku ngilu," ucap Hanan.
Seketika tawa Dayna dan Alvan lepas mendengar ucapan Hanan.
"Kalian ini selalu saja mentertawakan aku," gerutunya.
"Aku akan doakan semoga kamu segera menemukan pasangan hidup yang sangat menyayangimu," harap Dayna.
"Semoga saja," ucap Hanan.
"Jika Aira menikah, kamu nanti ikut kami, 'kan?" tanya Alvan pada Hanan.
"Tidak," jawabnya.
"Loh, kenapa? Kan, seru kita ramai-ramai ke sana," ucap Dayna.
"Malas saja," kata Hanan.
Dayna memperhatikan mimik wajah iparnya Dennis itu dengan seksama.
"Kamu harus ikut, lagian kami semuanya berencana akan ke sana," ujar Alvan.
"Jangan bilang kamu tidak sanggup melihat Aira bersama pria lain!" tebak Dayna.
Hanan tertawa kecil.
"Ayolah, Nan. Buka hatimu, katakan jika dirimu menyukainya," desak Dayna.
"Aku tidak menyukainya, Day." Kata Hanan tegas.
"Kamu dan Dayna sama saja, jika suka dengan seseorang tak mau mengakuinya," celetuk Alvan.
__ADS_1
"Kenapa aku disamakan dengan dia?" protes Dayna.
"Kamu 'kan selalu menolak perasaan aku. Sekarang malah, hampir tiap hari menemuiku," singgung Alvan.
"Oh, jadi kamu tidak suka aku datang kemari!" Dayna lantas berdiri dan berkacak pinggang di depan kekasihnya.
"Bukan begitu, Day." Kata Alvan.
"Lalu kenapa mengatakan seperti dia? Cepat ralat ucapan kamu itu!" ucap Dayna kesal.
"Iya, aku minta maaf. Kamu berbeda dengan Hanan yang tak jelas," ujar Alvan.
"Hei, apanya yang tidak jelas?" tanya Hanan ikut protes.
"Hatimu itu yang tidak jelas," jawab Alvan.
Hanan menghela napas pasrah.
Alvan menarik tangan Dayna agar duduk kembali.
-
Hanan yang penasaran dengan foto pertunangan Aira lantas membuka akun media sosial milik gadis itu.
Hanan menatap sinis foto sepasang kekasih yang sedang memamerkan cincin. Lalu menutup ponselnya dan melemparnya ke kursi penumpang tepat di sampingnya.
"Biarkan saja dia menikah, buat apa aku peduli. Lagian, aku tidak menyukainya mengapa harus cemburu?" gumamnya seraya menyetir.
Sesampainya di rumah, Hanan melihat ayahnya sedang memijit lengan ibunya di ruang santai keluarga.
"Dari mana saja kamu?" tanya Harsya menghentikan langkahnya yang hendak menuju kamar.
Hanan membalikkan badannya dan menghampiri kedua orang tuanya, lalu menjawab, "Aku dari rumahnya Alvan."
"Oh," ucap Harsya singkat.
"Nan, katanya Aira sudah bertunangan. Apa benar?" tanya Anaya.
"Ibu dapat kabar itu dari mana?" Hanan balik bertanya.
"Iya, Bu. Aira sudah bertunangan, rencananya dua bulan lagi mereka menikah," jelas Hanan.
"Ibu berharap kamu dengan dia, tapi kalau memang Aira berjodoh bersama pria itu semoga pernikahannya langgeng," ucap Anaya.
Hanan membalas ucapan sang ibu dengan senyuman tipis.
"Tapi kalau kamu mau, Ayah akan berusaha agar dia menjadi milikmu," sahut Harsya.
Anaya memukul pelan lengan suaminya. "Kenapa menyuruh anakmu menjadi pencuri?" omelnya.
"Sayang, aku tak menyuruh anakku menjadi pencuri," Harsya berkilah.
"Buktinya tadi apa, kenapa menawarkan diri mau bantu Hanan merebut Aira dari calonnya?" Alis kedua mata Anaya sudah terangkat.
"Aku hanya ingin tahu saja, sayang. Apakah Hanan menyukai dia atau tidak," jelas Harsya.
"Kalau anak kita suka tapi Aira tidak mau, tak mungkin dipaksakan," Anaya berkata sedikit marah.
"Sayang, aku minta maaf. Bukan begitu..."
"Cukup, suamiku. Jangan ajarkan anakmu merebut yang bukan miliknya!" nasehat Anaya.
Harsya manggut-manggut.
Anaya mengecup pipi suaminya, "Pintar!"
"Astaga, kenapa hari ini aku harus melihat kemesraan orang-orang?" batin Hanan.
-
Malam harinya...
__ADS_1
Hanan menikmati makan malam bersama orang tuanya dan juga Hana beserta suaminya.
"Dennis, apa kamu jadi pergi ke kota sebelah?" tanya Harsya.
"Jadi, Yah."
"Kamu mau pergi ke luar kota, berapa lama?" tanya Hana.
"Seminggu," jawab Dennis.
"Kenapa lama sekali?" tanya Hana lagi.
"Memang seharusnya begitu, Han. Itu pun paling cepat," jawab Dennis.
Hana lalu mengarahkan pandangannya kepada ayahnya. "Apa tidak ada orang yang dapat menggantikan Dennis ke sana, Yah?"
Harsya menarik napas dengan pelan lalu menjawabnya, "Sebenarnya ada, tapi Ayah tidak yakin dia mampu." Melirik putranya.
Hanan yang merasa, lantas memperhatikan kakak dan ayahnya.
"Ya sudah, kalau begitu Hanan saja yang pergi," ucap Hana.
"Kenapa harus aku 'sih, Kak?" tanya Hanan.
"Adikku, kamu tuh belum menikah. Lihatlah Kakakmu ini sedang mengandung keponakanmu. Jika aku jauh dari suamiku terlalu lama, pasti calon bayi kami akan merindukannya," jawab Hana.
Hanan menarik ujung bibirnya mendengar jawaban kakaknya.
"Apa yang dikatakan Kakak kamu benar, Nan." Sahut Anaya.
"Kandungan Hana memasuki usia tujuh bulan, jadi Dennis harus selalu berada di sisi istrinya," lanjut Anaya.
"Ini 'kan hanya seminggu," ujar Hanan.
"Memang hanya seminggu, tapi Kakak butuh suami yang menjaga bagaimana jika terjadi sesuatu," ucap Hana.
"Sayang, kenapa berkata begitu? Jangan membuat aku khawatir," kata Dennis.
Tatapan Hana kini ke arah suaminya. "Oh, sayang. Aku hanya tidak ingin jauh darimu!" mencubit pipi Dennis dengan lembut.
"Ciih, lagi-lagi sikap berlebihan yang ditunjukkan mereka," batin Hanan.
"Hanan takkan mengerti, dia belum menikah," singgung Anaya.
"Apa hubungannya, Bu?" tanya Hanan.
"Jelas ada, sayang. Jika kamu menikah pasti akan tahu bagaimana paniknya seorang suami meninggalkan istri yang sedang hamil meskipun hanya dalam beberapa hari saja," jawab Anaya.
"Kenapa jadi bahas menikah, Bu?" protes Hanan.
"Ibu hanya memberitahu kamu saja," ucap Anaya.
Selesai makan malam, Hanan yang tak dapat tidur lantas menuju balkon. Begitu tiba, ia melihat Hana sedang berdiri sembari memegang pembatas pagar dengan kepala di bahu Dennis.
Bahkan, kakak iparnya itu merangkul pinggang Hana.
"Di mana-mana aku melihat seperti ini? Apa tidak ada tontonan yang lainnya?"
Hana dan Dennis lantas menoleh ke belakang.
"Hanan!" ucap Dennis.
"Aku belum bisa tidur, makanya kemari," ujar Hanan.
"Oh," ucap Dennis dan Hana singkat.
"Kenapa kalian tidak tidur?" tanya Hanan mensejajarkan posisi berdirinya dengan Hana dan suaminya.
"Kak Hana belum mau tidur, katanya ingin melihat bintang," jawab Dennis.
"Terlalu berlebihan!" gumam Hanan.
__ADS_1
"Apa kamu bilang tadi?" tanya Hana.
"Tidak ada, Kak."