
Hana mengernyitkan keningnya melihat cup es krim yang dipegang Dennis.
"Saya sengaja membelinya untuk Nona!"
Hana menerimanya.
Dennis mengitari mobil dan masuk ke pintu kemudi.
"Kamu tidak sedang menyuap ku, 'kan?" sindir Hana.
"Tidak, Nona. Saya membelinya agar Nona Hana kembali ceria," jelas Dennis.
"Kalau begitu, terima kasih."
"Sama-sama, Nona."
Mereka pun melesat ke rumah Harsya. Sesampainya Dennis turun dan membuka pintu penumpang.
Hana telah keluar dari mobil, Dennis lalu berkata, "Saya akan menepati janji secepatnya."
"Memang seharusnya kamu pergi dari sini secepatnya!" ucap Hana tanpa menatap.
Hana melangkah memasuki rumah dan berkata dalam hati, "Dia pikir dengan es krim ini dapat meluluhkan aku!"
Dennis belum pulang, dia masih mengobrol dengan Alpha.
Selesai mengobrol, Dennis segera mengambil motornya dan hendak pergi namun mobil Dayna menghentikannya.
Gadis berusia 20 tahun itu keluar dari kendaraannya dan menyapa Dennis, "Hai, Kak!"
"Hai, Dayna!" balas Dennis tanpa turun dari motornya.
"Mau ke mana?"
"Mau pulang, Day."
"Kenapa buru-buru? Kita baru bertemu, aku ingin mengajak Kak Dennis mengobrol."
"Lain waktu saja, Day."
Hana memperhatikan kedua orang berbeda jenis kelamin itu dari balkon.
"Tunggu sebentar, Kak. Aku mau memberikan ini kepada Tante Anaya," Dayna menjinjing paper bag berwarna merah. "Kita mengobrol di kafe Melodi," lanjutnya.
"Baiklah, Kakak setuju," ujar Dennis.
Dayna bergegas masuk ke rumah Harsya dan memberikan titipan orang tuanya. Tak lama kemudian, ia keluar dan memasuki mobilnya.
Dennis dan Dayna meninggalkan halaman rumah secara bersamaan.
"Mau kemana mereka?" Hana menggumam dan memperhatikan laju kendaraan Dennis dan Dayna.
"Hana....!"
"Iya, Bu!" Hana lantas menoleh.
"Hana, ini jam tangan buat kamu dari Tante Nayna!" Anaya menyodorkan paper bag.
Hana menerimanya, "Ibu sudah terima?"
"Sudah, Nak."
"Bu!" panggil Hana kepada sang ibu yang hendak turun.
"Bu, Dennis dan Dayna mau ke mana mereka?"
"Ibu tidak tahu, Nak."
"Sepertinya mereka sangat akrab," ucap Hana.
Anaya tertawa kecil.
"Bu.."
"Jelaslah adik-adikmu akrab dengan Dennis, mereka sering bertemu dan mengobrol dengannya."
"Mereka sedekat itu?"
"Iya, bukan hanya dengan Dayna tapi lainnya juga."
Hana terdiam.
"Hanya denganmu dia tak berani mengajak ngobrol."
__ADS_1
"Kenapa, Bu?"
"Kamu tuh dari waktu kecil memang jarang bicara dengannya. Harusnya Ibu bertanya, kenapa kamu memperlakukan dia seperti itu?"
Hana tak menjawab.
"Sudah, ya. Ibu mau menyiapkan makan malam buat ayahmu," Anaya menuruni tangga.
Harsya yang berada di lantai bawah melihat istrinya turun menggunakan tangga.
"Kenapa naik ke atas?" tanya Harsya ketika Anaya di dekatnya.
"Tadi aku memberikan jam tangan dari Nayna pada Hana."
"Kenapa tidak menyuruhnya turun?"
"Dia tak mendengar panggilanku."
"Lain kali suruh pelayan atau telepon memanggilnya. Aku tidak mau kamu kelelahan menaiki tangga."
"Iya, suamiku."
"Sekarang kamu mau apa?" tanya Harsya.
"Mau ke dapur menyiapkan makan malam buat kita."
"Nanti saja, aku ingin bicara denganmu tentang Hana."
"Kenapa dengan Hana?"
"Ikut aku!" Harsya menarik lembut tangan istrinya.
Harsya membawa istrinya ke taman belakang rumah dan menyuruh pelayan untuk membuatkan secangkir teh hangat.
"Ada apa, suamiku? Apa yang telah dilakukan Hana?"
"Aku bingung dengan Hana, Nay."
"Kenapa bingung?"
"Hana itu ketika bersama dengan adik-adiknya sangat ceria. Tetapi ketika berhadapan dengan Dennis berbeda."
"Hana dari kecil dan Dennis tak pernah mengobrol apalagi bercanda."
"Keterlaluan bagaimana?"
"Hana menyuruh Dennis makan mie ayam dengan sambal banyak. Jika tak sanggup dipaksa mengundurkan diri. Apa aku salah menempatkan pemuda itu menjadi sopir pribadi putri kita?"
"Tidak, suamiku. Justru itu dapat mendekatkan mereka."
"Hana itu selalu menyusahkan Dennis bahkan tak segan memarahinya di depan umum," ungkap Harsya.
"Nanti aku akan bicara pada Hana," janji Anaya.
"Aku jadi kasihan dengan Dennis," ucap Harsya.
"Pelan-pelan kita menasehati Hana, kamu tahu 'kan jika dia sedang cemburu?"
Harsya mengangguk mengiyakan.
Hana pernah tak mau sekolah karena tas yang dibeli Anaya tidak sesuai keinginannya. Mereka malah paham tentang kemauan Dennis daripada putrinya.
Belum lagi tentang makanan, Anaya bisa memasak kesukaan Hanan dan Dennis. Sedangkan untuk Hana, istrinya Harsya beralasan jika tak pandai memasakkan jenis makanan yang diinginkan putrinya.
Bukan hanya itu saja membuat Hana begitu cemburu kepada Dennis. Masih banyak lagi yang tak dapat diungkapkan.
-
Selesai makan malam..
Anaya mendatangi kamar putrinya, malam ini Hana tak keluar rumah. Jika pun pergi, tentunya akan ditemani Dennis.
Anaya lebih dahulu mengetuk kamar putrinya.
Tak menunggu lama pintu pun terbuka, "Ibu!"
"Apa Ibu bisa mengobrol denganmu?"
"Tentunya, Bu. Silahkan masuk!"
Anaya memasuki kamar putrinya.
"Ibu ingin bicara apa?" tanya Hana dengan lembut.
__ADS_1
Anaya duduk di pinggir ranjang. "Apa benar tadi Dennis ingin mengundurkan diri?"
"Pasti ayah yang telah memberitahunya," tebak Hana.
Anaya mengiyakan.
"Ibu kemari ingin memarahi aku juga seperti ayah?" Hana menuding.
"Tidak, Nak."
"Lalu?"
"Kenapa kamu begitu sangat membencinya?"
"Bu, dia itu telah mengambil perhatian kalian. Semua menyayanginya, sedangkan aku selalu jadi kedua!"
"Kamu salah, Nak. Kami tidak pernah membeda-bedakan kalian."
"Bu, aku dan Hanan anak kandung kalian bukan dia tapi kenapa semua seolah hanya tertuju padanya? Apa kehebatan dan kelebihannya?"
"Sayang, duduklah. Atur napasmu, Ibu akan menjelaskannya."
"Ibu mau menjelaskan jika Dennis tidak seperti itu?"
"Kamu menyukai Dennis?" tanya Anaya.
Hana tertawa sinis.
"Jangan terlalu membencinya. Bagaimana jika suatu hari kamu jatuh cinta padanya?"
"Aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya, Bu!" jawab Hana menekankan kata-katanya.
"Padahal Dennis itu anaknya baik hati, tampan, pekerja keras dan selalu melindungi. Ibu yakin pasti banyak wanita yang bersedia menjadi istrinya," ujar Anaya.
"Kenapa Ibu jadi membanggakannya?" Hana tak suka.
"Ibu hanya memberitahu kamu, sayang. Siapa tahu hatimu luluh," jawab Anaya.
"Aku ingin dia pergi dari perusahaan ayah, Bu!"
"Jika kamu mengusirnya, perusahaan Paman Randy atau Om Darrell pasti menerimanya."
"Aku tidak mau dia berada di sekitar lingkungan kita, Bu."
"Sayang, Dennis itu masih memiliki hubungan keluarga dengan Paman Alpha. Kamu tahu 'kan jika dia itu pengawal pribadi ayahmu."
"Dia 'kan bisa bekerja di mana saja. Tidak harus dekat dengan kita, Bu."
"Tapi, ayahmu ingin dia ada di lingkungan kita."
"Aku sudah tebak, jika kalian tetap membelanya!"
"Kami tidak membelanya, Nak."
"Kalau bukan membelanya lalu apa, Bu?"
Anaya tak menjawab lagi, karena jika dia melanjutkannya maka putrinya terus mematahkan ucapannya.
Anaya keluar dari kamar putrinya setelah menasehatinya meskipun tak berhasil. Dia berharap jika gadis kecil yang kini telah dewasa bisa berubah.
Harsya menunggu istrinya di kamar. "Bagaimana, sayang?"
Anaya menggelengkan kepalanya.
"Tidak berhasil?"
"Dia selalu menjawabnya. Dia sungguh keras kepala sepertimu," celetuk Anaya.
"Kamu menuduhku jika watak Hana dariku?"
"Kamu 'kan ayahnya, sedikit atau banyak pasti akan menurun sifatmu."
"Iya, tapi...."
"Suamiku, aku sangat mengantuk. Jangan bahas lagi tentang Hana, aku yakin suatu hari dia akan berubah." Anaya naik ke ranjang.
"Kamu sudah menuduhku?" Harsya tak senang.
"Oh, jadi kamu ingin marah padaku?" Anaya menatap tajam suaminya.
Harsya menampilkan senyum manisnya, "Tidak mungkin aku memarahimu, sayang."
"Ayo tidur!" ajak Anaya merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Iya, sayang." Harsya juga merebahkan tubuh dan menarik selimut tak lupa mematikan lampu.