Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 76 - S2 - Berita Pagi


__ADS_3

Tiga hari berlalu....


Hanan sedang memeriksa laporan kerja, pintu ruangan kerjanya diketuk dan ia mempersilakannya masuk.


"Ada apa, Kak?"


"Tuan, hari ini syuting perdana. Apa ingin melihat pengerjaan iklan kita?"


"Aku tidak mau melihat proses iklannya, ku hanya ingin hasilnya saja."


"Baiklah, Tuan Hanan." Inka kemudian pamit meninggalkan ruangan.


"Memangnya aku tidak memiliki pekerjaan harus melihat orang beradu akting," Hanan menggerutu.


Hanan melanjutkan pekerjaannya, ponselnya berdering tertera nama kakaknya.


"Halo, Kak!"


"Kamu tidak datang ke lokasi syuting?"


"Tidak, Kak. Biarkan para karyawan yang bertanggung jawab dengan produk iklan saja ke sana."


"Kamu juga harus ke sana memastikan jalan cerita iklan sesuai yang perusahaan kita minta atau tidak," ucap Hana.


"Aku sangat malas sekali, Kak. Tak ada teman mengobrol di sana," ujar Hanan.


"Kamu mau bekerja atau sekedar mengobrol saja?"


"Tentunya kerja, Kak."


"Cepat ke lokasi syuting, Kakak mau hasilnya seperti yang diinginkan perusahaan!"


"Kakak saja yang ke sana," ucap Hanan.


"Kamu mau ayah dan Kak Dennis memarahimu karena menyuruh Kakak ke tempat lokasi syuting?"


Hanan dengan cepat menjawab, "Iya, aku akan ke sana!"


Hana menutup teleponnya.


Hanan berdecak kesal.


Dengan langkah malas, Hanan meminta Inka menemani dirinya ke lokasi syuting yang tak jauh dari gedung perusahaan.


Sesampainya, salah satu kru menyediakan kursi buat Hanan dan Inka.


Hanan benar-benar malas menyaksikan jalannya syuting, memilih bermain ponsel. Apalagi model pilihan kakaknya bukan seleranya menambah rasa tersebut.


Nadine mengikuti arahan sutradara sesekali matanya melirik Hanan yang tampak ketus.


Hanya Inka dan 2 karyawan dari perusahaan milik Harsya yang memperhatikan proses syuting.


"Tuan Hanan, apa ada yang ingin disampaikan kepada sutradara?" tanya Inka.


"Tidak ada, Kak."


"Mereka sedang beristirahat, kita balik ke kantor atau tetap di sini?"


"Ke kantor."


Inka dan Hanan lantas berdiri bersama-sama.


Inka sempat menyapa Nadine di ruang ganti artis.


Setelah itu menghampiri Hanan yang menunggunya di mobil.


"Pemimpin perusahaan yang baru itu sangat sombong, ya." Kata salah satu kru.


"Biasanya tidak, aku juga heran dengan sikapnya kali ini," ucap yang lainnya.


"Tuan Hanan biasanya sangat ramah dan mudah tersenyum. Aku pernah bekerja di perusahaan milik Tuan Harsya yang sekarang dipimpin Tuan Bryan," timpal lainnya.


Nadine yang sedang berias lantas bertanya dalam hati, "Apa dia memang tak menyukaiku makanya tampangnya ketus dan dingin?"

__ADS_1


"Biarin sajalah, aku di sini di bayar dan harus profesional. Lagian setelah kontrak berakhir, kami tidak akan bertemu lagi," batinnya berkata lagi.


-


Malam harinya selepas syuting, Nadine bersama beberapa timnya menikmati waktu bersantai di salah satu kafe ternama yang biasa menjadi tempat tongkrongan kalangan kelas atas.


Lengan Nadine di senggol salah satu kru-nya kemudian berkata, "Itu bos kita!"


Nadine mengikuti arah pandangan karyawannya itu.


"Kamu tidak ingin menyapanya? Siapa tahu kita dapat proyek baru dari teman-temannya itu?" usul manajer Nadine. Hanan memang datang bersama Bryan, Elra, Ryder dan Alvan serta Dayna dan Alana.


Nadine berpikir sejenak lalu mengiyakan usulan manajernya.


Dengan percaya diri Nadine menghampiri Hanan dan lainnya. "Malam, Tuan!"


Hanan menoleh begitu juga dengan lainnya.


"Nadine!" Alana tampak senang melihat ada model yang sedang naik daun menyapa.


Alana berdiri dan terlihat salah tingkah berada di dekat Nadine.


Dayna berdiri di sebelah Nadine. "Nona di sini juga, mari duduk bersama kami!" ajaknya.


"Aku tidak mau dia di sini, suruh pergi!" ucap Hanan tanpa menatap dengan suara dingin.


Dayna dan lainnya mengarahkan pandangannya kepada Hanan.


Alana tak peduli dengan ucapan Hanan. "Kak Nadine, ayo kita foto!" mengeluarkan ponselnya lalu keduanya saling dekat dan berpose.


Nadine berusaha tersenyum meskipun hatinya sakit dengan pengusiran dirinya.


"Kak Nadine, kapan-kapan aku-" ucapan Alana terjeda.


"Tidak ada yang boleh datang ke lokasi syuting sekedar meminta ata berfoto," kata Hanan dingin menatap Alana.


Seketika Alana memanyunkan bibirnya dan duduk.


"Kalau begitu saya pamit, permisi!" Nadine mencoba tersenyum.


Nadine mengangguk pelan dan tersenyum.


Setelah sang artis pergi, Dayna lantas memarahi sepupunya itu. "Kamu kenapa, 'sih?"


"Kak Hanan jahat. Lagi senangnya bertemu artis idola aku, malah di usir," Alana protes.


"Lain waktu saja kalian kalau ingin bertemu dengannya setelah kontraknya berakhir," kata Hanan.


"Nan, sikapmu tadi sangat keterlaluan. Bagaimana jika dia tak senang lalu menuntutmu?" ucap Ryder.


"Aku tidak peduli," ujar Hanan enteng.


"Semoga saja tidak ada wartawan atau orang iseng yang mendengar. Kalau tidak namamu akan muncul di media cetak dan online," ucap Bryan.


****


Keesokan harinya ketika sarapan, salah satu pengawal memberitahu Harsya bahwa ada berita yang menyinggung salah satu anggota keluarga.


Harsya membaca sekilas judul berita online yang mengatakan bahwa bos besar pemilik Cantika Fashion mengusir Nadine di sebuah kafe ternama.


Harsya menarik napas lalu menyuruh pengawal pribadinya pergi dengan gerakan tangan.


"Hanan, kemarin malam ke mana?" tanya Harsya.


"Ke kafe Melodi."


"Apa kamu bertemu dengan salah satu model perusahaan?" tanya Harsya.


Hanan diam.


"Kamu bertemu dengan Nadine?" tanya Harsya lagi.


"Iya, Yah."

__ADS_1


"Apa yang telah kamu lakukan sehingga berita itu muncul pagi ini?"


Hah.


Bukan Hanan saja yang terkejut tapi Anaya, Dennis dan Hana juga.


"Hanan, jelaskan!" pinta Harsya.


"Kemarin malam aku dan lainnya memang sempat bertemu dengan Nadine," tutur Hanan.


"Kamu mengusirnya dari kafe?" tanya Harsya.


"Tidak, Yah. Itu tak benar," sangkal Hanan.


"Lalu berita pagi ini bilang kamu mengusirnya," ujar Harsya.


"Itu semua bohong, Yah. Dia memang datang ke meja kami, tapi kutak mengusirnya," jelas Hanan.


"Kenapa ada berita ini?" tanya Harsya.


Hanan mengingat ucapan Bryan semalam.


"Ayah ingin kamu menjelaskannya secara jujur dan lengkap tanpa dikurangi," ucap Harsya.


"Aku hanya menyuruh Dayna mengusirnya karena tak suka dia bergabung dan ikutan mengobrol dengan kami," jelas Hanan.


"Dayna melakukannya?" tanya Harsya.


"Tidak, Yah. Hanya dia sadar diri saja kemudian pergi," jawab Hanan.


"Kenapa kamu kasar sekali?" Anaya tak suka dengan sikap putranya.


"Aku tidak suka saja melihatnya, Bu." Hanan membela diri.


"Memangnya dia melakukan kesalahan besar denganmu sehingga sangat membencinya?" tanya Hana.


Hanan tak menjawab.


"Kamu harus minta maaf kepada Nadine agar dia mengklarifikasi berita ini. Ayah tak mau nama buruk perusahaan kita tercoreng karena sikap aroganmu," kata Harsya.


"Kenapa aku harus yang minta maaf, Yah?" tanya Hanan.


"Jika kamu ingin menjelaskannya kepada wartawan. Silahkan!" jawab Harsya.


"Aku tidak mau bertemu wartawan," ucap Hanan.


"Makanya segera temui dan minta maaf," sahut Hana.


"Oh, sial. Kenapa aku harus bertemu dia lagi?" batin Hanan kesal.


Dengan bantuan Inka akhirnya Hanan bertemu dengan Nadine di ruang kerjanya.


"Ada gerangan apa Tuan memanggil saya kemari?"


"Saya yakin berita pagi ini pasti akal-akalan kamu!" tudingnya.


Nadine terkejut mendengar tudingan Hanan.


"Kamu sengaja 'kan ingin membuat saya malu dan menaikkan popularitas kamu di dunia hiburan dengan berita murah seperti ini," tukasnya.


Nadine geleng-geleng kepala.


"Saya ingin kamu meluruskan berita pagi ini. Jika ingin kontrak di perpanjang," ancamnya.


"Dengan senang hati kontrak tidak perlu diperpanjang," kata Nadine.


"Ingat, kontrak kamu di sini setahun," ucap Hanan.


"Saya tidak peduli, jangan mengancam saya dengan kontrak itu!"


"Hei, saya tidak mengancam kamu. Saya hanya ingin nama baik perusahaan bersih dari berita itu!"


"Ternyata Tuan sangat risih juga dengan berita itu!"

__ADS_1


"Ya, sangat merugikan saya."


"Apa Tuan memikirkan perasaan saya kemarin malam?"


__ADS_2