Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 43 - Hana Belajar Memasak dan Curhat


__ADS_3

Seharian ini Dennis dan istrinya menikmati waktu berdua di apartemen karena masih lelah mereka memutuskan untuk ke perusahaan esok harinya.


Hana belajar memasak dengan pelayan yang bertugas sebagai koki.


Menu yang akan dimasak Hana adalah ayam teriyaki, tumis brokoli dan balado kentang sosis.


Tepat jam 12 siang, Hana telah selesai memasak. Bersama pelayan, ia menyajikan makanan di atas meja.


Dennis melihatnya sebelum menarik kursi mengerutkan dahinya.


"Kamu tidak yakin dengan rasa masakan aku?" tanya Hana.


"Bukan begitu, sayang. Tapi, kenapa ini sangat banyak sekali?" jawab Dennis.


"Karena kita tinggal di sini banyak, ada empat karyawan yang harus ikutan makan juga," ujar Hana menjelaskan.


"Oh," ucap Dennis.


"Kita makan sebentar lagi, ya."


"Kenapa ditunda?" tanya Dennis heran.


"Tunggu sebentar, sayang."


Dennis menautkan alisnya.


Suara bel berbunyi membuat Dennis dan Hana menoleh.


"Pasti itu mereka!" tebak Hana.


Dennis mengarah pandangannya kepada sang istri.


Hana gegas berdiri, melangkah dan membuka pintu.


Dennis pun ikutan menyusul istrinya.


Hana memeluk Jenny lalu Kayla, tak lupa bersalaman dengan Felix.


"Ayah, Ibu!" Dennis begitu heran dengan kehadiran keluarganya.


"Hana bilang kamu sakit, makanya kami terbang kemari," ujar Jenny.


"Ayah yang paling khawatir mendengar Kak Dennis sakit," ceplos Kayla.


Felix mendekati Dennis dan memeluknya. "Bagaimana kondisi kesehatanmu, Nak?"


"Lumayan membaik, Yah." Jawab Dennis.


"Kami jauh-jauh ke sini karena Papa ingin mengajak Kak Dennis bermain badminton," celetuk Kayla.


"Kay, kenapa jujur, 'sih?" Felix kini tatapannya ke arah putrinya.


"Kemarin Papa 'kan ngomong begini, Kak Dennis pindah tak ada lagi teman main badmintonku," tutur Kayla.


Semua yang mendengarnya tertawa.


"Selama Ayah di sini kita akan tiap hari bermain badminton," ujar Dennis.


"Tapi, kamu harus sehat terlebih dahulu. Jika tidak, ibumu akan mengomel sepanjang hari," ucap Felix.


Lagi-lagi mereka tertawa bersama.


Hana mengajak keluarga suaminya untuk makan siang bersama.


"Ini semua Hana yang masak," ungkap Dennis.


"Wah, pasti enak!" puji Jenny.


Hana tersenyum nyengir, "Aku hanya merajang bawang dan mengaduk saja, Bu."


"Tak masalah lama-lama juga akan terbiasa," kata Jenny.


"Kamu juga harus belajar memasak, Kay!" nasehat Felix.


"Papa, aku masih muda dan nanti saja kalau belajar memasak," ujar Kayla.


"Kamu ini kalau disuruh belajar pasti ada saja alasannya!" celetuk Jenny.


Kayla tersenyum nyengir.

__ADS_1


Selesai makan siang bersama, mereka lanjut mengobrol di ruang tamu sementara Kayla memilih tidur.


"Kemarin tak sengaja lewat rumah Dennis, di depan pagar ada wanita sebaya dengan ibu berdiri," ujar Jenny.


Dennis dan Hana saling pandang.


"Sepertinya sangat mencurigakan," lanjut Jenny lagi.


"Apa Mama sempat bertanya padanya?" tanya Felix.


"Tidak, Pa."


"Kemarin? Ketika kami berangkat ke sini, Bu?" tanya Dennis.


"Iya," jawab Jenny.


"Apa kita telepon ayah agar dikirim pengawal untuk menjaga rumah kamu?" usul Hana.


"Tidak, usah. Di rumah ada kamera pengawas dan ada penjaga keamanan lingkungan, jika terjadi sesuatu pasti mereka akan memberitahu aku," ujar Dennis.


"Semoga saja, dia bukan orang yang ingin berbuat jahat," harap Felix.


"Semoga saja," ucap Hana dan Jenny serentak.


****


Esok paginya sebelum sarapan, Felix dan Dennis menyempatkan diri untuk berolahraga badminton.


Jenny dan Hana sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan buat para suami mereka. Sementara Kayla, masih tertidur karena semalaman terbangun jadi waktunya dibuat menonton drama di aplikasi televisi berbayar.


"Makanan kesukaan Dennis apa, Han?" tanya Jenny.


"Dennis tidak terlalu suka makanan pedas, Bu."


"Benarkah? Padahal Ibu dan ayah kandungnya suka makanan pedas," ujar Jenny.


"Mungkin neneknya tak pernah memberikan makanan yang sangat pedas, makanya dia tak kuat jika terlalu berlebihan," tutur Hana.


"Mungkin saja," ujar Jenny.


"Aku pernah melakukan kesalahan pada Dennis sebelum kami menikah, Bu."


"Kita belum selesai memasak, Bu."


"Sudah beres, tinggal dihidangkan saja," kata Jenny.


Hana lantas menyuruh para pelayannya untuk menyajikan sarapan di meja.


Jenny dan Hana melepaskan apron lalu melangkah ke ruang tamu.


"Kesalahan apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Jenny.


"Ibu jangan memarahiku, ya. Jika dahulu pernah menyakiti Dennis," ucap Hana.


Jenny mengangguk mengiyakan.


"Kami berteman dari kecil, karena Paman Alpha sering membawanya ke rumah. Tapi, hubungan aku dan Dennis tak begitu akrab. Malah aku sangat membencinya, alasannya semua menyayanginya."


Jenny tampak tersenyum mendengarnya.


"Beberapa tahun lalu, Dennis datang ke perusahaan dan bekerja menjadi sopirku. Perlakuan aku padanya sangat buruk, aku pernah memaksanya makan mie ayam dengan sambal banyak. Tujuan aku agar dia mau menyerah dan mengundurkan diri."


"Apa dia marah?"


"Dia hanya mengajukan pengunduran diri tapi ditolak ayahku. Eh, malah aku yang dimarahi," jawab Hana tersenyum mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


"Makanya dari situ paham kalau Dennis tak suka makan pedas?"


"Iya, Bu."


"Bagaimana akhirnya kamu menyukainya?"


"Dennis selalu ada untukku, Bu. Kami sering bertemu karena ayah menyuruhnya sebagai pengawal sekaligus sopir pribadi. Maklum, kalau menyetir suka tak tahu aturan," kata Hana tertawa kecil.


"Karena itu kamu menyukainya?"


"Iya, Bu. Tapi, karena gengsi dan terlalu banyak salah makanya tak berani mengatakan perasaan."


"Kapan Dennis menyukaimu?"

__ADS_1


"Sejak aku memutuskan menerima hukuman dari ayah pindah ke negara ini," jawab Hana.


"Hukuman?" Jenny mengerutkan keningnya.


"Aku telah membuat Dennis berpisah dengan mantan kekasihnya." Hana menundukkan kepalanya.


Jenny tak menyela, malah menunggu menantunya berbicara lagi.


"Padahal Dennis sangat mencintai wanita itu, Bu. Aku melakukan cara licik merebut hatinya," ujar Hana.


"Lalu?"


"Dennis marah besar padaku, bahkan dia sangat membenciku. Aku mencoba berkata jujur dan mengatakan jika mencintainya, tetapi tetap tak mengubah perasaannya."


"Apa dia sampai memukul atau menyakitimu?" tanya Jenny.


"Sikap yang ditunjukkan Dennis membuat hatiku sakit, Bu. Seiring berjalannya waktu dia mulai memaafkanku. Sejak kejadian itu, aku belajar mandiri jauh dari orang tua."


Jenny memeluk menantunya, "Maafkan sikapnya Dennis, ya.


"Aku yang bersalah merusak kebahagiaannya hanya untuk kepentinganku sendiri, Bu."


"Apa kamu begitu sangat mencintai Dennis?"


Hana mengangguk.


Tanpa disadari Hana, suaminya memeluk tubuhnya dari belakang.


Hana menoleh.


Dennis melepaskan pelukannya dan tersenyum.


"Dennis..."


"Aku sudah mendengarnya," ucap Dennis.


"Ibu ke kamar, ya." Jenny lantas berdiri lalu menyusul suaminya.


"Aku sangat mencintaimu, suamiku!" Hana memeluk Dennis.


"Aku juga, jangan ceritakan yang lalu. Tataplah masa depan kita," ujarnya.


Hana mengiyakan.


"Aku sangat lapar, apa kamu sudah membuatkan sarapan?"


"Mandilah, kita sarapan bersama. Aku mau siap-siap berangkat ke kantor," jawab Hana.


"Aku juga akan ke kantor bersamamu," ujar Dennis.


-


Di kantor, Hana memperkenalkan suaminya yang akan membantu dirinya mengurusi perusahaan tentunya atas perintah Harsya.


Meskipun berbeda ruangan kerjanya tak membuat masalah, Hana dan Harsya mencoba bersikap profesional karena di perusahaan itu hanya beberapa bulan saja.


Dennis yang satu ruangan dengan beberapa staf perempuan dan laki-laki tetap sikapnya seperti karyawan biasa meskipun dia adalah suami pemimpin perusahaan.


Seorang staf perempuan mendekati Dennis dan berpura-pura menanyakan sesuatu. Dengan sengaja terus memepet Dennis yang sedang menggunakan laptop.


"Bisakah kamu memberikan jarak diantara kita?" tanya Dennis menatap staf perempuan itu.


"Saya tidak terlalu mendengar penjelasan anda, makanya mendekat," ucapnya memberikan alasan.


"Ingat, ini kantor!" kata Dennis tegas.


"Jika diluar itu, apakah Tuan mau dekat dengan saya?"


"Saya sudah memiliki istri, lebih baik cari pemuda yang belum menikah," jawab Dennis.


"Kan..."


"Kamu mau dipecat?" ancam Dennis.


"Tidak, Tuan."


"Bekerjalah dengan jujur dan bertanggung jawab!"


"Baik, Tuan. Maaf!"

__ADS_1


Dennis menyerahkan dokumen lalu menyuruh staf tersebut untuk kembali bekerja.


__ADS_2