Cinta Si Gadis Sombong

Cinta Si Gadis Sombong
Bab 23 - Janji Hana


__ADS_3

Hari ini Hana memang sengaja pulang dari kantor lebih lama karena ingin menghindari kedua orang tuanya.


Pertanyaan yang dilontarkan ayah dan ibunya membuat dirinya bosan.


Hana tak tahu jika Inka telah pulang. Makanya dia berpikir masih ada yang menemaninya.


Pintu ruangannya terbuka, membuat Hana mendongakkan wajahnya. Setelah melihat siapa yang membukanya, dia lantas berdiri dengan cepat dan memundurkan langkahnya.


Dennis melempar senyumnya.


"Siapa yang menyuruhmu masuk?" tanya Hana terbata.


"Ayahmu."


"Pergilah, aku sudah meminta Arya untuk meninggalkan Winny."


Dennis menarik ujung bibirnya.


"Aku janji tidak akan mengganggu hubunganmu lagi," kata Hana gemetaran.


"Apa janjimu dapat dipegang?" tanya Dennis menyeringai.


Hana mengangguk.


"Kenapa sikapmu berubah?"


"A....aku..."


"Ingin menutupi kebusukanmu?" tuding Dennis.


Hana menggelengkan kepalanya.


"Lalu? Sikapmu ini membuat orang-orang bertanya, ingin mencari perhatian mereka?" tuding Dennis lagi.


"Tidak, Nis."


"Aku muak dengan sifat sombong dan aroganmu itu!" Dennis berkata dengan tatapan benci.


Hana menunduk dan menangis.


"Jangan keluarkan air mata palsumu itu!" bentak Dennis.


"Aku minta maaf, caraku salah. Tolong, jangan sakitiku!" Hana memohon dengan bahu gemetar.


Dennis tertawa sinis.


"Aku akan memaksa Arya menceraikan Winny," ucap Hana berjanji.


"Enak sekali kamu ngomong, memangnya pernikahan hanya untuk main-main?" tanya Dennis lantang.


Hana mendekati Dennis dan berlutut, "Apa yang harus aku lakukan?"


"Bersikaplah seperti biasanya, karena aku tidak mau mereka curiga," jawab Dennis.


Hana mengangguk mengiyakan.


"Aku bisa saja menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi. Tentunya, kamu akan disalahkan," ujar Dennis.


"Jangan katakan apapun pada mereka, kumohon!"


"Baiklah," ucap Dennis.


"Terima kasih," Hana masih menunduk dan menangis.


Dennis lalu meninggalkan ruangan Hana.


-


Malam harinya..


Hana mengatakan jika dia akan pulang jam 10 malam, tentunya membuat Harsya bertanya alasannya.


Hana memberikan alasan kalau ada banyak pekerjaan, padahal ia ingin menenangkan diri.


Jarum jam mendekati angka 10, Hana keluar dari ruangan dengan mata sembab. Perutnya terasa lapar namun ditahannya karena tak berselera.


Hana mengendarai mobil dengan pelan, sengaja berkeliling kota agar memperlama waktunya.


Hana tiba di rumah pukul 12 malam, membersihkan diri lalu membaringkan tubuh di ranjang.


Menatap langit-langit kamar, Hana terus berpikir bagaimana caranya agar Dennis tak membencinya.


***

__ADS_1


Esok paginya...


Hana tak ke kantor melainkan ke sebuah kafe menemui Arya.


Hana menyodorkan cek kepada pria itu dan berkata,"Tinggalkan dia!"


Arya menatap cek dengan jumlah yang cukup menggiurkan lalu tersenyum kecil.


"Apa itu cukup?" tanya Hana.


"Tidak, Nona."


"Dia tak mencintaimu, untuk apa bertahan?" tanya Hana lagi.


"Aku sangat mencintainya, Nona."


"Aku bisa memberikannya lebih dari itu," kata Hana tanpa senyuman.


"Maaf, Nona." Arya mendorong cek itu kepada wanita dihadapannya.


"Bagaimana jika kamu menikah denganku? Perusahaan milikku akan menjadi milikmu."


Arya mendengarnya malah tertawa.


"Aku sedang tidak bercanda," ucap Hana.


"Apa Nona sudah gila? Kita itu tidak saling mencintai, kenapa mengorbankan diri hanya untuk pria sepertinya?"


"Karena aku sangat mencintainya, kutak mau dia membenciku."


Arya terdiam.


"Pikirkan lagi rencanaku," ucap Hana.


"Apa kita bisa membangun pernikahan jika sebelumnya tak ada cinta?"


"Kita jalani saja dulu."


Arya menghela napas.


-


-


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Dennis.


"Ini tentang Nona Hana."


"Rencana apa yang ingin kalian lakukan?"


Arya tertawa kecil.


"Nona Hana ingin menikah denganku," jawab Arya.


Dennis tampak terkejut, ia menatap pria yang ada dihadapannya dan berharap tak benar.


"Nona Hana menyerahkan dirinya dan perusahannya demi kamu," ungkap Arya.


Dennis mengernyitkan dahinya.


"Nona Hana sangat mencintaimu, bahkan mengorbankan hati dan hartanya," ujar Arya.


"Ini pasti akal-akalan dia," tuding Dennis.


Arya malah tertawa.


"Aku tidak percaya dengan semua ucapanmu," ujar Dennis.


Arya lalu mengirimkan rekaman percakapan dirinya dengan Hana.


Dennis menerima pesan tersebut lalu mendengarnya.


Dua menit kemudian, Arya bertanya, "Bagaimana?"


Dennis menutup ponselnya, "Aku tetap tidak percaya."


"Terserah mau percaya atau tidak, aku sudah memberitahumu. Dan asal kamu tahu, kutakkan pernah melepaskan Winny meskipun Hana menyerahkan tubuhnya secara gratis!"


Dennis mengepalkan tangannya mendengar ucapan Arya yang menyebutkan kata tubuh.


Arya bangkit dari duduknya.


Sebelum pergi meninggalkan kafe, Arya berkata, "Nona Hana wanita cantik, pintar dan kaya. Tetapi dia sangat bodoh jika mengenai urusan cinta, menawarkan kerjasama untuk memisahkan kamu dengan Winny. Sekarang dia malah mengemis padaku agar melepaskan istriku untukmu. Terkadang aku bingung dengan cinta yang membuat orang melakukan apapun supaya mendapatkannya. Mungkin itu juga termasuk aku."

__ADS_1


-


Di perjalanan kembali ke kantor, Dennis terus memikirkan ucapan Hana yang mengatakan apapun akan ia lakukan agar dimaafkan.


"Kenapa dia sebodoh itu, sih?" geram Dennis.


Setibanya di kantor, melangkah dengan cepat ke ruangannya. Duduk dan meremas rambutnya.


"Apa yang harus aku lakukan jika Paman Harsya tahu kalau putrinya begitu karena diriku," gumamnya.


Dennis mendengar percakapan jika Hana akan meminta Harsya datang kepada Arya agar menikahinya dan memberikan perusahaan. Bahkan, ia siap apabila Arya menikah lagi dengan wanita lain asal tidak bersama Winny.


Dennis lalu menghubungi ponsel Hana dan mengatakan ingin bertemu.


Hana pun setuju.


Sore harinya, sepulang kerja Hana dan Dennis bertemu di kafe Melodi.


"Hentikan kegilaanmu, Hana!"


Wanita itu hanya diam dan menatap.


"Kamu ingin menyiksa diri?" tanya Dennis.


"Jika itu membuatmu memaafkan aku, kenapa tidak?"


"Bukan begini caranya," ujar Dennis.


"Lalu bagaimana?"


"Hentikan rencana gila yang kamu buat dengan Arya."


"Bukankah kamu menginginkan Winny kembali?"


"Aku memang mencintai Winny tapi tidak merebutnya dari lelaki lain."


"Jika kamu tidak menginginkannya lagi, kenapa membenciku?" tanya Hana kali ini berani menatap dalam.


"Aku hanya tidak suka dengan caramu, ini sungguh keterlaluan."


"Maaf!"


"Aku tidak mau kamu melakukan hal seperti ini lagi."


"Iya, aku janji," kata Hana yakin.


"Baiklah, aku memaafkanmu. Jangan melakukan hal bodoh ini lagi," ucap Dennis.


Hana mengangguk.


***


Beberapa hari kemudian...


Hubungan Hana dan Dennis telah membaik, tak ada rasa sakit serta dendam di antara mereka.


Hana menjaga jarak dan batasan kepada Dennis yang sama sekali tidak mencintainya, karena semakin dekat makanya membuat berharap lebih.


Siang ini, keduanya mendapatkan undangan dari Arya dan mereka setuju.


Keempatnya duduk di meja yang sama, namun wajah Winny tampak tak suka melihat kehadiran Hana.


"Silahkan dimakan!" Arya mempersilakan tamunya.


Dennis dan Hana manggut.


Hana memotong daging lalu menusuknya dengan garpu. Sempat berhenti dan mencium aroma makanannya, namun tetap dimakannya karena tak ingin mengecewakan Arya.


Hana memasukkan kembali potongan daging dengan saos steak ke dalam mulut.


Tiba-tiba Hana meletakkan garpu dan pisau kecil dengan kasar dipinggir piring membuat yang lainnya menoleh ke arahnya.


Hana memegang dadanya yang terasa sesak dan terus menunduk.


"Hana!" panggil Dennis.


"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Arya.


Pandangan gelap dan kesulitan bernapas, akhirnya Hana ambruk.


"Hana!" teriak Dennis.


Bergegas mendekati Hana dan memangku kepalanya. "Hana, bangunlah!"

__ADS_1


__ADS_2