
Makan siang pun tiba...
Para pria masing-masing seperti Harsya, Alpa dan Biom menarik kursi untuk istrinya. Begitu juga dengan Alvan melakukan hal sama buat Dayna.
Dennis hanya diam berdiri karena ingin menarik kursi untuk Dayna tetapi telah dilakukan Alvan.
Hana ingin menarik kursinya sendiri namun segera dicegah Dennis, "Biar saya saja, Nona."
Hana pun membiarkannya.
Semuanya telah duduk, dihadapan mereka berbagai jenis makanan telah tersaji.
"Sebenarnya ini ada acara apa?" tanya Rissa.
"Anaya yang memintanya karena sudah lama tidak mengobrol dengan kalian," jawab Harsya.
"Oh," ucap Rissa.
"Silahkan dimakan!" Harsya mempersilakan.
Dennis masih memperhatikan yang lainnya. Karena dia akan mengambil hidangan setelah semuanya selesai meletakkannya piring.
Hana tanpa diperintah mengambil makanan dan meletakkannya di piring Dennis.
Dan pria itu tampak tercengang atas perlakuan Hana kepadanya.
"Ayo dimakan!" Hana berkata pelan.
Dennis tersenyum tipis karena masih tak percaya.
Mereka menikmati makan siang seraya mengobrol dan Dennis hanya diam.
Hana ingin mengambil buah di sebelah kiri Dennis namun tangannya tak sampai.
Dennis lantas mengambilnya dan memberikannya.
"Terima kasih," Hana tersenyum.
Lagi-lagi Dennis dibuat tak percaya.
Selesai makan siang, mereka kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Kak Dennis antar Kak Hana ke kantornya saja, aku pulang dengan Paman Biom dan Bibi Rissa," ujar Dayna.
Dennis mengiyakan.
Hana duduk di kursi bagian depan penumpang.
"Kenapa Nona duduk di sini?" tanya Dennis.
"Apa tidak boleh, ya?" Hana balik bertanya.
"Biasanya 'kan Nona...."
"Itu biasanya sekarang tidak, ayo jalan!" perintahnya.
"Baik, Nona."
Di perjalanan, Hana bertanya, "Apa kamu dan Winny masih berteman?"
"Iya, Nona. Nanti malam saya diminta untuk menemaninya ke acara ulang tahun temannya," jawab Dennis.
"Lalu kamu mau?" tanyanya.
"Kebetulan jadwal kosong jadi saya terima," jawab Dennis lagi.
"Kenapa mau?" Hana bertanya lagi.
"Memangnya kenapa, Nona? Winny juga wanita baik, apa salahnya membantunya," ujar Dennis.
"Kamu tahu tidak jika sebenarnya Winny itu suka denganmu," ucap Winny.
"Kami belum menikah dan tidak memiliki kekasih. Hal wajar jika saling dekat serta menjalin hubungan," ungkap Dennis.
"Kamu suka dengan Winny?" Hana begitu penasaran.
Dennis menjawabnya dengan senyuman.
"Kalian baru kenal dan belum terlalu dekat bisa saja 'kan dia ada maksud dan tujuan lain," ucap Hana.
"Saya yakin jika Winny wanita jujur dan tulus, Nona."
__ADS_1
Jleb...
Sakit mendengar pujian yang dilontarkan pria yang ada disebelahnya tentang wanita lain.
"Bukankah aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya? Kenapa harus sakit hati?" Hana membatin.
"Saya mau singgah ke toko es krimnya Winny, tidak masalah 'kan, Nona?" Dennis meminta izin.
"Oh, tidak."
Sesampainya, Dennis keluar dan menghampiri Winny yang memegang kantong kertas.
Keduanya begitu akrab dan saling melempar senyum membuat Hana semakin kesal.
Bahkan Winny tak segan mengelap keringat di dahi Dennis.
"Kenapa dia tak menghindar, sih?" Hana menggumam kesal.
Menghilangkan rasa cemburunya, Hana memilih memainkan ponselnya.
Dennis masuk ke mobil dan menyodorkan es krim, "Buat, Nona."
"Tidak," tolak Hana tanpa menatap.
"Ini rasa coklat stroberi kesukaan, Nona."
"Aku bilang tidak!" ucap Hana dengan nada marah.
Dennis terdiam.
"Ayo buruan, pergi dari sini!" titah Hana.
"Baiklah, Nona." Dennis menyalakan mesin mobil dan melesat.
Begitu sampai, Hana lantas turun tanpa mengucapkan terima kasih dan malah menutup pintu dengan kasar.
Dennis menghela napas dan geleng-geleng kepala.
-
Malam harinya, Dennis telah bersiap-siap berangkat ke rumah Winny tiba-tiba ponselnya berdering dan melihat nama si penelepon bergegas dijawabnya, "Halo, Nona."
"Kamu di mana?" tanya Hana diujung telepon.
"Bisa tidak temani aku malam ini," pintanya.
"Maaf, Nona. Saya sudah memiliki janji dengan Winny."
"Dennis, aku ini....." perkataan Hana terjeda.
"Nona, maaf saya akhiri obrolannya. Selamat malam," Dennis lantas menutup teleponnya.
Hana menghentakkan kakinya berulang kali sangking kesalnya.
Dennis menggunakan motornya menuju kediaman Winny sesampainya di sana ia berganti kendaraan menaiki mobil.
Keduanya pun berangkat ke tempat acara.
Sesampainya di sana, Winny menggenggam jemari Dennis dan pria itu tak menolaknya.
"Hai, Win. Siapa dia?" tanya seorang wanita yang merupakan temannya Winny.
"Perkenalkan ini temanku, Dennis," jawab Winny.
"Hai, tampan!" sapa teman-teman Winny menggoda.
Dennis hanya memberikan senyuman saja.
"Hm, aku ke sana dulu, ya!" Winny berpamitan kepada teman-temannya.
"Iya, Win. Silahkan!" ucap salah satu diantaranya.
"Ayo!" Winny menarik tangan Dennis.
Sementara, Hana sedari tadi mondar-mandir di dalam kamarnya. Mendengar Dennis pergi bersama Winny membuatnya semakin tak karuan.
Hana meraih kunci dan bergegas menuju mobilnya.
Harsya dan Anaya yang di balkon mendengar suara mobil lantas saling memandang.
"Bukankah itu mobilnya Hana?" tanya Anaya.
__ADS_1
"Iya."
"Mau ke mana dia?" tanya Anaya lagi.
"Aku akan meneleponnya," jawab Harsya.
Harsya meletakkan ponselnya di meja.
"Tidak dapat dihubungi?" tebak Anaya.
"Ponselnya aktif tapi dia tak menjawabnya," jawab Harsya.
"Mungkin saja dia lagi fokus menyetir," ucap Anaya.
"Mungkin."
Hana tak tahu ingin menemui Dennis di mana, ia lantas mendatangi rumah pria itu.
Sesampainya di sana, Hana memperhatikan rumah Dennis yang tidak terlalu besar dari dalam mobil.
Setelah cukup lama mengamati, Hana berniat ingin menghubungi Dennis namun ponselnya tak ia temukan.
Hana lalu keluar dari mobil dan duduk di lantai teras. Berkali-kali ia menepuk nyamuk yang menggigiti kulitnya.
Karena tak tahan akhirnya Hana memutuskan menunggu di mobil.
Dua jam berlalu Hana pun tertidur.
Dennis tiba di rumahnya pukul 12 malam, ia begitu terkejut ketika melihat mobil Hana terparkir di halamannya.
Dennis mematikan mesin motornya, turun kemudian berjalan mendekati mobil Hana dan mengetuk kaca jendela.
Mendengar suara ketukan, Hana tersentak. Mengucek matanya, ia lalu menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Kenapa Nona malam-malam ke sini?" tanya Dennis heran.
"A.... aku...tadi.... kebetulan pulang dari rumah teman," Hana menjawabnya gugup.
"Nona, ke rumah teman menggunakan gaun tidur?" tanya Dennis memperhatikan pakaian yang dikenakan Hana sedikit transparan.
Hana segera merapikan gaun tidurnya agar tak kelihatan dadanya.
"Lalu kenapa singgah ke sini? Bukankah Nona tahu kalau saya sedang diluar?"
...----------------...
Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Yang Lainnya...
- Mengejar Cinta si Tampan
- Jangan Mengejarku, Cantik!
- Pesona Ayahku
- Dikejar Cinta Putri Atasan
- Ibu Pilihan Aku
- Bertahan Walau Terluka
- Terjerat Cinta si Penipu Hati
- Fall in Love From The Sky
- Marsha, Milik Bara
- Marry The Star
- Salah Jatuh Cinta
- Calon Istriku Musuhku
- Penculik Hati
- Dijodohkan Dengan Musuh
- Melupakan Sang Mantan
- Pria Kejam Dan Gadis Jujur
- Cinta Asisten Dingin
__ADS_1
- Bisnis, Benci dan Cinta
- Menikahi Putri Konglomerat