
Nadine keluar dari ruang kerjanya Hanan dengan melangkah cepat, matanya tampak berkaca-kaca. Semua isi hatinya telah diluapkannya kepada pemimpin perusahaan tempatnya berkerja.
Hanan terduduk lemas di kursinya, ia membentak Nadine dengan suara keras. Padahal gadis itu tak bersalah. Hanya saja sikap dingin ditunjukkannya karena dirinya belum mampu menerima kenyataan tentang pernikahan Aira dan Aldo.
"Tuan mengusir saya di depan orang-orang banyak. Tapi saya memilih diam dan tak menceritakannya kepada siapapun."
"Tuan menuduh saya yang menyebarkan berita ini, sumpah saya tak pernah melakukannya."
"Tuan menunjukkan rasa ketidaksukaan kepada saya secara terang-terangan seakan saya melakukan kesalahan fatal menyebabkan perusahaan merugi. Apa salah saya, Tuan?"
"Itu karena kamu mengemis kepada Kakak saya untuk mendapatkan proyek ini!" kata Hanan dengan lantang dan marah.
"Saya minta maaf, saya bersedia tak melanjutkan kontrak ini jika memang Tuan tidak menginginkannya. Bahkan perusahaan tak perlu membayarnya."
"Hei, kamu itu hanya artis kelas bawah!" Hanan menghinanya.
"Saya memang bukan artis mahal, tapi saya punya harga diri. Jika Tuan memiliki masalah dengan orang lain, kenapa harus saya yang menjadi sasaran kemarahan, hah?"
"Kamu sudah berani berbicara lantang kepada saya. Pergi dari sini, jangan pernah menunjukkan wajahmu dihadapan saya!" usirnya dengan lantang dan tegas.
"Baiklah, saya juga tidak mau bertemu dengan anda. Saya berharap tak ada lagi kerja sama di antara kita!" kata Nadine kemudian berlalu.
Hanan meraup wajahnya secara kasar, dirinya kini bingung bagaimana jika Nadine merajuk dan malas untuk syuting. Bisa jadi, ia akan mendapatkan omelan dari ayah dan kakaknya.
"Semoga saja dia dapat bersikap profesional!" gumamnya.
Nadine memakai kacamata hitamnya agar orang-orang tak melihat matanya mulai berair.
Di dalam mobil, dirinya memalingkan wajahnya ke arah jendela. Beruntung, ia pergi bersama seorang sopir dan ada penyekat antara dirinya dengan orang yang duduk di bangku depan sehingga tak melihatnya menangis.
Nadine menyeka air matanya yang terus membasahi pipinya. Seandainya, ia datang dengan manajer atau asistennya maka akan banyak pertanyaan dilontarkan dari mulut mereka sehingga menjadi berita gosip lagi.
***
Seminggu berlalu....
Pemotretan di lakukan di studio yang berada di gedung perusahaan, Nadine datang menaiki lift bersama dengan Hanan.
Keduanya berdiri bersebelahan, Nadine melempar senyum untuk menyapa pimpinan perusahaan. Itu dilakukannya agar tidak di cap sombong dan tak ingin ada berita miring dirinya dengannya.
Hanan membalas senyuman gadis di sebelahnya, keduanya tampak tidak memiliki masalah.
Hanan lebih dahulu sampai di lantai tujuannya, sementara Nadine harus melewati 2 lantai lagi.
Nadine memasuki ruang studio melakukan pemotretan, sebelumya dia merias wajahnya agar lebih cantik.
Sejam berlalu, Hanan keluar dari ruangannya dan mengajak Inka untuk ke studio.
Dahi Inka berkerut, tak biasanya atasannya itu mengajaknya melihat pemotretan.
"Tuan yakin?"
"Iya, Kak."
"Baiklah, tunggu sebentar," Inka menutup laptopnya dan beberapa alat tulis yang berantakan.
Keduanya kemudian berjalan menuju ruang studio menggunakan lift.
Sesampainya di sana, seluruh mata tertuju kepada Hanan yang tak biasanya datang berkunjung.
"Kenapa melihat aku seperti itu, Kak?" tanya Hanan pelan pada Inka.
"Mereka heran saja, Tuan."
"Oh," ucap Hanan singkat.
Hanan berdiri memperhatikan Nadine yang sedang berpose menghadap kamera sesuai instruksi fotografer.
Cukup lama Hanan memandangi wajah Nadine meskipun gadis itu terlihat cuek.
Selesai pemotretan, fotografer dan manajer Nadine menghampiri Hanan untuk sekedar mengobrol mengenai hasil pemotretan. Sedangkan Nadine memilih masuk ke ruang ganti.
__ADS_1
Setelah bertukar pakaian, Nadine bergegas keluar dari ruang studio tanpa menyapa atau sekedar berpamitan kepada Hanan yang masih berbincang.
Hanan sempat melirik Nadine yang melewati dirinya begitu saja.
Manajer mengetahui artisnya lebih dahulu pergi meninggalkan studio, melangkah cepat menyusulnya.
"Nadine, kenapa buru-buru?" tanyanya.
"Bukankah kita harus menghadiri talk show di televisi?" Nadine balik bertanya.
"Astaga, aku lupa."
Nadine memasuki mobil dan memilih diam.
"Kenapa kamu tidak menyapa Tuan Hanan?"
"Buat apa."
"Ya, sekedar basa-basi saja."
"Tidak perlu, lagian aku sudah menjalankan pekerjaan dengan tanggung jawab."
-
Hanan menikmati makan siang bersama dengan teman-temannya namun tanpa Alvan dan istrinya.
"Hanan, apa Nadine Riska Putri masih menjadi model di perusahaan kalian?" tanya Ryder.
"Masih," jawabnya.
"Boleh Alana meminta tanda tangan dan fotonya," ucap Bryan.
"Bukankah kemarin sudah?" Hanan mengingatnya.
"Tapi, Alana ingin bertemu dan berfoto dengannya," kata Bryan.
"Hubungi saja manajernya," ucap Hanan.
"Aku tidak memiliki kontak manajernya," ujar Bryan.
"Kira-kira Nadine memiliki waktu atau tidak 'ya jika di ajak bertemu?" tanya Bryan.
Hanan mengendikkan bahunya.
"Bertemu dengannya di lokasi syuting, bolehlah," pinta Ryder.
"Tak boleh, itu hanya mengganggu jalannya syuting," kata Hanan.
"Baiklah, aku akan menghubungi Kak Inka," ujar Bryan.
***
Dua hari kemudian....
Bryan akhirnya mendapatkan nomor kontak manajernya Nadine dan sang artis bersedia menemui mereka.
Kebetulan Bryan sedang berulang tahun ke 24, jadi ia mengundang beberapa teman dekatnya untuk makan malam.
Tanpa sepengetahuan Hanan, Nadine datang sebagai tamu khusus. Itu semua atas permintaan Alana, Binar dan Kayla.
Begitu Nadine hadir di restoran khusus VVIP, sontak membuat ketiga gadis belia riang.
Ketiganya memeluk Nadine yang hadir seorang diri.
"Kak Nadine sangat cantik sekali hari ini!" puji Alana.
"Iya, Kak. Sangat cantik!" timpal Binar.
Keempatnya berfoto bersama dan Elra sebagai fotografer.
Bryan mempersilakan duduk diapit Alana dan Binar tepat dihadapannya Hanan yang sedari tadi diam dan tercengang melihat penampilan Nadine malam ini.
__ADS_1
Makanan telah tersaji di meja, semuanya menikmati sembari mengobrol. Hanan tampak diam sesekali tersenyum ketika namanya di singgung.
Hampir 3 jam berlalu, akhirnya acara pun berakhir setelah mereka asyik bernyanyi bersama-sama.
Bryan, Ryder, Alana dan Binar satu mobil. Sementara Elra, Rana dan Kayla pulang bersama.
Tinggal Hanan dan Nadine di ruangan. Terlihat gadis itu mencoba menghubungi seseorang.
"Kenapa tidak memberitahu aku kalau kalian sedang di luar kota?"
"Maaf, Nadine. Kami pikir sopir yang mengantar kamu akan datang menjemput."
"Tiba-tiba dia izin karena putranya harus dilarikan ke rumah sakit. Lalu aku harus pulang dengan siapa?"
"Pakai taksi saja."
"Kalian tuh kalau bicara asal saja," Nadine yang kesal lantas menutup teleponnya.
Nadine beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar ruang karena sangat malas harus bersama Hanan.
"Mau ke mana?"
Nadine menghentikan langkahnya dan berbalik, "Pulang."
"Apa sudah ada yang menjemput?"
Nadine menggelengkan kepalanya pelan.
"Biar saya antar pulang," ucap Hanan.
"Tidak, terima kasih." Nadine berbalik lanjut melangkah.
Hanan mengejar langkah artis perusahannya. "Nadine, tunggu!"
Nadine tak menggubrisnya lanjut melangkah.
"Nadine, saya minta maaf!"
Langkah Nadine kembali terhenti.
"Maaf, ucapan saya beberapa waktu lalu di kantor," kata Hanan.
Berbalik, Nadine lalu berkata, "Saya sudah memaafkan anda. Jangan khawatir, saya tetap profesional menjalankan kontrak."
"Nadine-"
Pintu lift terbuka, Hanan dengan cepat ikut menyusul Nadine ke dalam.
Hanan melirik gadis disebelahnya yang berdiri dengan wajah datar.
"Saya tahu -"
"Cukup. Jangan membahas yang lalu, saya sudah terbiasa dihina, dimaki dan dihujat. Karena saya hanya orang biasa yang kebetulan memiliki keberuntungan menjadi seorang bintang." Kata Nadine tanpa menatap.
Hanan pun terdiam.
Ditengah keheningan diantara keduanya, tiba-tiba lift berhenti dan gelap.
Nadine yang kaget lantas menjerit ketakutan.
Hanan yang berada di sebelahnya lantas memeluknya dan mengeluarkan ponselnya menghidupkan senter.
Nadine membenamkan wajahnya di dada Hanan dengan tubuh gemetaran.
"Tenanglah!"
Nadine mendongakkan wajahnya melihat Hanan sedang bertelepon.
Tak lama kemudian, lampu menyala. Lift pun bergerak. Nadine melepaskan pelukannya dan mundur selangkah. Wajahnya sedikit ditundukkannya karena takut kalau Hanan marah sekaligus malu telah berani menyentuh pimpinan perusahaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mohon Maaf Cerita Ini Tidak Dapat Dilanjutkan 🙏🏼
Terima Kasih Sudah Memberikan Like, Komentar, Poin dan Vote...