
Esok pagi ketika sarapan, Hana masih penasaran apa yang menjadi pembicaraan antara suami, ayahnya dan para pamannya.
"Ayah.." Hana membuka percakapan.
"Ya, Han." Kata Harsya.
"Semalam Ayah membahas apa? Sepertinya sangat serius dan penting," ucap Hana.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Hanya sekedar mengobrol saja, kami 'kan jarang berkumpul seperti semalam," Harsya memberikan alasan.
"Lalu kenapa Dennis ikut juga?" tanya Hana.
"Karena diantara kalian, Dennis paling tua dan pemikirannya juga matang. Kami hanya berbincang masalah perusahaan saja," jawab Harsya.
"Oh, begitu," Hana manggut-manggut.
"Kamu dengarkan sendiri, aku tuh mana mungkin berbohong padamu," ucap Dennis.
"Tidak seperti biasanya," ujar Hana.
"Memang dia bertanya apa, Nis?" tanya Harsya.
"Dia pikir kalau pertemuan kita semalam ada sesuatu rahasia penting yang harus ditutupi," jelas Dennis.
Harsya tertawa kecil.
"Aku hanya ingin tahu, karena biasanya kamu akan cerita padaku," ujar Hana.
"Keinginan tahu kamu telah terjawab, maka jangan curigai suamimu," ucap Harsya.
Hana mengangguk.
Hanan baru saja bergabung, menarik kursi dan duduk. Menikmati sarapan bersama keluarganya.
Baru beberapa menit, Hanan lantas menyudahi sarapannya dan berdiri.
"Mau ke mana? Kenapa terburu-buru?" tanya Anaya.
"Aku mau menjemput seseorang, Bu."
"Jemput siapa?" tanya Hana.
"Temannya Alvan, Bu."
Hana, suaminya dan kedua orang tuanya saling pandang.
"Pria atau wanita?" tanya Anaya.
"Wanita, Bu."
"Kenapa bukan Alvan yang menjemputnya?" tanya Hana.
"Karena dia tidak sempat, Kak. Aku duluan, ya." Hanan menyalim kedua tangan orang tuanya, kakak, dan iparnya lalu bergegas pergi.
"Apa wanita itu calonnya Alvan?" tanya Anaya.
Harsya mengendikkan bahunya.
"Memang kemarin Astrid pernah ngomong kalau anak temannya akan berkunjung ke kota ini," ujar Anaya.
"Mungkin mau dijodohkan dengan Alvan," tebak Hana.
"Paman Darrell meminta Alvan yang akan menjadi suaminya Dayna, tak mungkin wanita yang dijemput Hanan itu calonnya,". sahut Harsya.
"Mungkin kedatangannya untuk liburan saja, tak ada niatan perjodohan," timpal Anaya.
"Dayna dan Alvan saja tak pernah akur," ujar Hana.
"Sama seperti kamu dan Dennis, awalnya tidak pernah damai. Ujungnya nikah juga," singgung Anaya.
Hana yang mendengarnya menjadi malu.
Dennis hanya mengulum senyum.
"Oh, ya Hana. Sementara kalian di sini saja, ya." Kata Harsya.
"Kenapa, Yah?" tanya Hana.
"Ayah ingin mengobrol dengan suamimu," jawab Harsya beralasan.
"Baiklah kalau begitu, aku dan Ibu akan jalan-jalan ke Mall," ujar Hana.
"Kalian boleh pergi, tapi dengan pengawalan ketat," ucap Harsya.
Hana melihat sang ibu yang mengangguk.
"Baiklah, Yah."
Sementara itu, seorang gadis berusia 22 tahun membawa kopernya melihat ke arah kanan dan kiri sembari menelepon.
__ADS_1
"Tante, siapa yang menjemput aku di bandara?" tanya Aira.
"Temannya Alvan, Ra. Namanya Hanan," jawab Astrid.
"Ciri-cirinya bagaimana?" tanya Aira lagi.
"Tante, akan mengirimkan kontak teleponnya," jawab Astrid.
"Baiklah, Tante. Aku tunggu," ucap Aira lalu mematikan panggilan teleponnya.
Tak menunggu lama, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Gegas, Aira membacanya lalu menekan nomor tersebut.
Panggilan kedua, akhirnya dijawab dari kejauhan. "Halo, ini siapa?"
"Halo, Hanan. Aku Aira."
"Oh, kamu."
"Iya, kamu di mana?"
"Tunggu sebentar, aku lagi di parkiran," jawab Hanan.
"Baiklah, aku menggunakan baju berwarna biru dan celana hitam panjang."
Hanan memperhatikan warna yang dipakainya," Jaket cokelat dan celana biru."
"Baiklah, Hanan."
Keduanya sama-sama mematikan ponselnya.
Selang 10 menit kemudian, Hanan muncul dihadapan Aira.
Keduanya tampak terdiam dan terpesona.
"Hanan!" tebak Aira.
Hanan mengangguk.
Aira tersenyum lega. "Huh, akhirnya aku kita bertemu."
"Mari kopernya aku bawa!" Hanan menawarkan diri.
Aira menyerahkannya.
Sembari berjalan menuju parkiran, Aira lantas bertanya, "Kenapa bukan Alvan yang menjemputku?"
"Katanya lagi sibuk."
"Aku tidak tahu."
Kini keduanya telah berada di dalam mobil dan memakai safety belt.
Hanan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
"Kamu temannya Alvan sekolah?" tanya Aira.
"Ya, begitu."
"Begitu bagaimana?"
"Aku dan Alvan kenal dari balita. Ayahnya pengawal pribadi keluarga kami," jawab Hanan.
Aira lalu menoleh ke belakang dan samping kirinya.
"Mencari siapa?" tanya Hana sembari menyetir.
"Kamu bawa pengawal?" tanya Aira balik.
"Aku tidak memakai pengawal hanya kakak, ayah dan ibu."
"Oh, kenapa?"
"Tidak nyaman saja, padahal kedua orang tuaku menginginkannya."
Aira manggut-manggut paham.
Hanan mengantarkan Aira ke rumah Astrid, sesampainya di sana Alvan tak berada di rumah.
"Hanan, terima kasih banyak sudah mau menjemput Aira," kata Astrid.
"Sama-sama, Bi."
"Ayo masuk dulu," ajak Astrid.
"Tidak, Tante. Lain waktu saja, aku harus pergi," ujar Hanan.
"Hmm, baiklah." Kata Astrid.
"Hanan, makasih ya. Karena sudah merepotkanmu," ucap Aira.
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Aku pamit, permisi!" Hanan menyalim tangan Astrid kemudian berlalu.
"Tante..."
"Iya, Aira."
"Alvan ke mana?"
"Katanya ada urusan mendadak mengenai kantor," jawab Astrid.
"Oh," ucap Aira.
"Kamar tamu ada di bawah, nanti jika butuh apa-apa minta tolong pada Alvan atau Alana."
"Iya, Tante."
"Tante mau ke dapur, menyiapkan makan siang. Nanti kita makan bersama," ujar Astrid.
Aira mengangguk.
Tepat jam 12 siang, semuanya telah berkumpul di meja makan.
Alvan muncul paling terakhir, menarik kursi dan melemparkan senyuman kepada Aira yang duduk di samping adiknya. "Maaf, tak sempat menjemputmu!"
Aira hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.
Astrid lalu mempersilakan mereka makan.
Selesai makan siang, Aira menghampiri Alvan yang sedang membaca buku.
"Van.." Aira duduk di sebelahnya Alvan.
"Ya."
"Apa Hanan sudah memiliki kekasih?" tanya Aira.
"Belum."
"Oh, pantas dia yang menjemputku." Kata Aira.
Alvan hanya tersenyum tipis.
"Kalau kamu?"
"Aku?"
"Iya."
"Aku mencintai seorang gadis tapi dia sudah memiliki kekasih."
"Kamu berharap mereka putus?" tanya Aira.
Alvan hanya tertawa kecil.
"Pasti gadis itu sangat cantik?" tanya Aira lagi.
"Kami berteman dari kecil, aku sudah menyukainya sejak dulu."
"Pasti Hanan mengenalnya?"
"Tentunya, nanti sore kami akan kumpul di salah satu kafe. Kamu mau ikut?" ajak Alvan.
Aira mengangguk cepat.
"Baiklah, nanti sore aku akan mengajakmu dan Alana juga," janji Alvan.
"Baiklah kalau begitu, aku mau tidur. Di pesawat tadi tak dapat memejamkan mata," ujar Aira.
"Iya, pergilah tidur. Jika nanti mau pergi, aku akan menyuruh Alana membangunkanmu," ucap Alvan.
Aira lantas berdiri dan mengangguk, kemudian melangkah ke kamar tamu.
Alana datang duduk di sebelah Alvan, "Kakak jadi 'kan mengajakku ngumpul dengan mereka?"
"Iya, Alana. Nanti kita pergi bareng dengan Kak Aira."
"Baiklah."
"Nanti kamu bangunkan dia, sekitar jam empat," ujar Alvan.
Alana mengiyakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Mampir ke Karyaku Lainnya....
- Penculik Hati
- Dijodohkan Dengan Musuh
__ADS_1
- Dikejar Cinta Putri Atasan
- Pesona Ayahku